"Jadi, selama ini kamu pikir aku ini istrinya, Al?" tanya Alana tanpa bisa berhenti tertawa.
Anneta tersenyum konyol sembari menggaruk keningnya yang tidak gatal. Dia baru saja menceritakan apa yang terjadi kemarin. Dan menanyakan apa sebenarnya hubungan wanita ini dengan Alfian. Dia juga sedang mencari kesempatan untuk mencari tahu tentang masa lalu Alfian. Semoga berhasil.
"Soalnya waktu itu Moza manggil Pak Alfiannya, Papa," jelas Anneta sembari mengaduk lemon tea dalam gelasnya, lalu menyeruputnya sedikit. Mereka memang sedang makan siang di salah satu kafe yang tidak terlalu jauh dengan butik.
Alana nampak tersenyum, lalu seperti menerawang kisah lalu. Terlihat dari caranya mengalihkan pandangannya lurus ke depan.
"Suamiku meninggal waktu Moza berusia satu tahun, sejak saat itulah Al selalu berusaha menjadi sosok ayah untuk putriku. Maka dari itu, dia minta Moza untuk memanggilnya, Papa," ujar Alana dengan senyum tipisnya, lalu menoleh ke arah Anneta. Bisa Anneta lihat guratan kesedihan di mata wanita itu.
"Banyak juga yang terkecoh, dan mengira aku ini istrinya. Dan Al juga nggak pernah mau menjelaskan fakta yang sebenarnya. Dia itu sangat dingin sama perempuan. Kadang aku khawatir sama sikapnya yang seperti itu," lirih Alana di ujung kalimatnya.
Anneta hanya mengerjapkan matanya, tidak berusaha mencela sedikit pun. Berharap aka nada fakta yang terungkap dari cerita Alana selanjutnya.
"Dulu waktu masih SMA, dia pernah jatuh cinta sama seorang gadis. Dia itu kalau udah suka sama satu orang yang satu itu aja, nggak mau ngelirik yang lain. Tapi, sampai akhirnya pacarnya itu ketahuan selingkuh sama sahabatnya sendiri. Dari situlah sikap Al jadi dingin sama perempuan."
Anneta mencoba mencerna setiap kalimat yang meluncur dari bibir tipis Alana, apa gadis itu Naira? Fokus Anneta kembali pada wanita yang kini duduk di hadapannya, karena ternyata ceritanya belum selesai.
"Sampai pada akhirnya, setelah bertahun-tahun dia kembali jatuh cinta." Alana tersenyum, seolah sedang membayangkan masa itu.
Jantung Anneta perlahan berdebar, berharap nama Naira akandisebut dalam cerita ini. Yah, semoga saja.
"Tapi lagi dan lagi, dia dibuat kecewa," kata Alana sembari menatap Anneta yang kini sedang sangat serius menatap wajahnya.
"Dia ... diselingkuhin lagi?" tanya Anneta hati-hati. Dan berusaha agar tidak terdengar terlalu ingin tahu. Meski hatinya sudah lagi tak sabar mendengar nama Naira disebut.
Alana nampak menggeleng, "Aku nggak tahu kalau yang ini, soalnya Al udah nggak pernah lagi cerita. Mungkin karena waktu itu kita udah sama-sama dewasa, jadinya dia udah nggak lagi terbuka. Tapi sejak putus dari yang terakhir ini, aku lihatnya Al makin bersikap dingin sama perempuan."
Anneta menggaruk pelipisnya, mencoba mencari-cari pertanyaan yang tepat agar tidak terlalu terlihat jika dia sedang mencari info soal Alfian.
"Apa ... Kakak mengenal pacarnya yang terakhir ini?"
Alana menganggukan kepalanya, "Iya, dia udah beberapa kali di ajak ke rumah. Bahkan udah dikenalin sama mama. Aku pikir, mereka bakalan naik ke pelaminan. Tapi takdir berkata lain, mungkin mereka nggak berjodoh," jelas Alana dengan senyum di akhir kalimatnya.
Anneta semakin gelisah, dia bingung bagaimana memancing Alana agar mau menyebutkan nama kekasih Alfian ini.
"Kakak dekat dong sama pacar Pak Alfi?" tanya Anneta sembari membasahi tenggorokannya. Semoga dia tidak terlihat gugup. Alana tertawa kecil lalu mencolek dagu Anneta.
"Kamu naksir sama Al, ya?"
Hampir saja Anneta tersedak minumannya, lalu menatap Alana dengan kening berkerut. Kemudian meringis tak enak.
Aduh! Kenapa dikira naksir si.
Alana kembali tertawa kecil melihat sikap Anneta yang sedang salah tingkah. "Tenang saja, aku setuju, kok."
"Hah? Maksudnya?"
Kali ini Alana tersenyum lembut, "Aku setuju kalau kamu mau jadi calon adik ipar aku, aku yakin kamu gadis yang baik."
Anneta kembali meringis bingung. Kenapa Alana malah membicarakan ini? Bukan ini yang Anneta mau, bahkan membayangkan untuk menjadi kekasih Alfian tidak pernah masuk dalam daftar rencananya.
"Nggak lah, Kak. Aku malah nggak mikir sampai situ," kata Anneta dengan senyum canggungnya.
"Kenapa?"
"Aku sedang berusaha menata hati, aku sama dengan Pak Alfi. Aku juga baru saja dikhianati," lirih Anneta sembari tertunduk. Tapi langsung mengangkat kepala saat Alana meluncurkan kalimat itu.
"Pas dong, kalian sama-sama habis terluka. Jadi kalau kalian bersatu, kalian akan saling setia. Karena pernah mengalami hal yang sama."
Anneta hanya bisa tersenyum garing. Dia bingung harus membantah dengan kalimat apa lagi.
"Oya, Kak. Waktu itu aku pernah lihat ada kiriman bunga dari Al untuk Alana. Jadi bunga itu bukan dari Pak Alfian buat Kak Alana?”
Alana tampak tersenyum, “Itu dari Alta untuk aku.”
“Oh, aku sempat bingung, kok Pak Al ngirim bunga buat calon istrinya. Tapi kenapa kalian udah punya anak. Tapi sekarang udah terjawab.”
"Tuh, kan. Aku yakin kamu itu ...." Alana tidak melanjutkan kalimatnya karena wajah Anneta sungguh sudah memerah.
Alana berdeham sebelum akhirnya melanjutkan penjelasannya.
“Tapi kadang-kadang Al juga suka ngirim-ngirim bunga fiktif gitu.”
“Maksudnya?” tanya Anneta dengan kening berkerut.
“Kadang dia suka membuat seolah-olah kalau dia itu sudah punya calon istri. Pernah beberapa kali dia pesen bunga terus di kertas ucapannya tertulis nama aku, nama mama, nama Moza juga pernah,” ujar Alana dengan kekehan geli.
Dan kening Anneta makin mengerut karena bingung. “Untuk apa?”
Kali ini Alana menggerdikan bahu, “Entahlah, aku juga suka nggak ngerti dengan apa yang dia lakukan. Tapi memang dia itu suka bersikap aneh semenjak putus dari Naira.”
Sontak mata Anneta menatap ke arah Alana yang kini sedang tersenyum sedih. Apa karena menyebut nama, Naira?
"Na-Naira?"
Alana mengangguk, ekspresinya masih sama. "Itu kekasih Al yang terakhir, yang tadi aku ceritakan."
Anneta mengerjapkan matanya, mencoba mencerna kalimat itu dengan sangat baik. Jadi benar? Alfian adalah kekasih Naira? Dia benar-benar menemukan orang yang ia cari? Ah, entah kenapa dia senang sekali. Seperti baru saja menemukan sebuah berlian di tengah laut, seperti menemukan secuil intan di dalam pasir. Seperti ....
"Eh, kok jadi ngomongin Al mulu, si! Kita balik ke butik, yuk. Udah abis jam makan siangnya. Hari ini kita ada sesi pemotretan, kamu udah siap?"
Anneta sedikit terperanjat, sebenarnya fokusnya sedang tidak berada di tempat ini. Dia sedang memikirkan cara untuk menyampaikan maaf Naira pada Alfian. Dan lagi, dia harus tahu, apa sebenarnya yang membuat kedua orang itu terpisah.
***
Anneta mencari-cari alasan yang tepat untuk datang ke rumah Alfian. Dan maafkan dia yang mungkin akan menjadikan Moza alat untuk memperlancar aksinya ini. Dia membeli sebuah hadiah untuk gadis kecil itu, sebagai ganti karena Moza sudah memberinya sebuah hadiah kecil yang kini Anneta pakai pada ransel kecilnya.
"Tante kok tahu aku suka boneka minnie?" tanya gadis kecil itu saat Anneta datang dan memberikan sebuah bingkisan yang cukup besar.
Anneta hanya tersenyum. Sebenarnya dia hanya asal tebak, tapi syukurlah kalau gadis kecil ini menyukai boneka pilihannya.
"Tahu dong, kan Tante peramal," katanya.
"Pelamal itu apa, Tante?"
Anneta meringis, dia lupa jika anak seumuran Moza ini memang sedang kritis-kritisnya. Dan tidak boleh asal bicara.
"Jangan modusin keponakan saya! Saya tahu kamu punya maksud lain."
Anneta pun menoleh ke arah sumber suara. Orang yang memang sedang ia tunggu-tunggu kehadirannya. Dia sudah mengumpulkan stok sabar sebanyak-banyaknya, karena sudah yakin situasi seperti apa yang akan dia terima. Dan juga, dia sudah menyiapkan seribu satu alasan kenapa dia harus datang ke rumah ini.
"Memang, Pak! Soalnya saya bingung mau ngambil motor saya ke mana? Kan kemarin yang bawa Pak Alta. Kalau saya menghubungi Pak Alta, nanti saya di tuduh macem-macem sama seseorang," cengirnya.
Alfian terlihat tidak berkutik di tempatnya. Lalu memilih untuk masuk ke dalam rumah tanpa bersuara. Anneta pikir, laki-laki itu tidak memperdulikannya. Tapi ternyata ia salah, tak berapa lama laki-laki itu keluar dengan penampilan segar dan juga baju santainya.
"Ayo!"
"Ke mana, Pak?" tanya Anneta dengan ekspresi bodoh. Lalu menepuk dahinya saat melihat tatapan datar nan horor itu melesat ke arahnya.
"Bapak mau nganterin saya ngambil motor?"
Alfian tidak menjawab, dia memilih melangkah kembali ke arah luar. Dan diamnya itu akan Anneta artikan 'iya'. Dia pun melangkah mengikuti laki-laki itu setelah menyerahkan Moza pada pengasuhnya.
***
Sesekali mata Anneta melirik wajah Alfian dari samping. Sebenarnya wajah itu tidak terlalu cocok memiliki sikap dingin dan juga ketus. Apalagi saat mengetahui jika Alfian ini adalah Alfian yang sering Naira puji-puji dalam buku hariannya. Tentu saja Alfian dalam bayangan Anneta adalah Alfian yang lemah lembut, murah senyum, dan tidak bermulut pedas. Sangat cocok dengan wajahnya yang memang terlihat ramah itu.
Lalu Anneta mengingat kembali cerita Alana, tengang sosok adiknya yang berubah dingin semenjak dikhianati. Dan sekarang malah terlihat antipati pada wanita setelah dia kembali dikecewakan oleh Naira. Dan rasa penasaran itu kembali melintas di kepalanya. Apa sebenarnya masalah antara Alfian dan Naira?
Tidak berapa lama mereka pun sampai di bengkel langganan Alta. Semua biaya sudah dibayarkan oleh laki-laki yang tak lain adalah calon suami Alana itu.
"Makasih ya, Pak! Udah ngenterin saya," kata Anneta saat sudah berhasil duduk di atas motornya. Alfian hanya bergumam dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Anneta memilih untuk tidak peduli dengan sikap dingin itu. Karena mau bagaimana pun dia harus membiasakan diri untuk diperlakukan seperti ini. Dan beberapa waktu ke depan dia harus menyusun rencana untuk memulai aksinya menyampaikan maaf Naira pada laki-laki itu.
Waktu sudah menjelang malam saat Anneta meninggalkan bengkel. Sebenarnya ada perasaan waswas dalam hatinya. Takut jika tiba-tiba saja Ryan muncul dan kembali menganggunya. Berkali-kali Anneta merapalkan doa agar cowok gila itu tidak datang.
Anneta melirik kaca spion motor, saat merasa ada yang mengikutinya. Dan secuil senyum terbit di bibir manis itu saat melihat mobil Alfian ada di belakangnya. Ah, dia makin semangat mendekati laki-laki itu. Jangan salah paham! Anneta hanya sedang menjalankan misi untuk Naira.