Anneta - Bab 11

1523 Words
Alfian tahu apa yang ia lakukan saat ini sangatlah konyol. Bagaimana tidak? Dia mengkhawatirkan seorang gadis, yang baru saja ia kenal. Dan sialnya, gadis itu adalah alasan yang membuat dia tidak bisa tidur nyenyak akhir-akhir ini. Jangan salah paham! Ini tentu saja bukan seperti yang kalian pikirkan. Meskipun Alfian akui, gadis ini sangat manis. Bahkan, okelah ... dia itu gadis yang cukup cantik dengan rambut lurus sepunggungnya itu. Kecantikan alami tanpa banyak polesan, kesederhanaan yang mengingatkan Alfian pada ... stop! Tidak, tidak. Alfian enggan mengingat masa lalunya. Masa lalu yang bahkan selalu coba ia kubur. Masa lalu yang hanya menyisakan sebuah kepedihan. Karena dia tidak bisa berbagi kesedihan itu pada siapapun. Karena saat dia membuka mulut, dan menceritakan fakta yang selalu saja menyiksa batinnya. Maka akan ada banyak hati yang terluka. Dan dia tidak mau itu terjadi, cukup dia, Tuhan, dan orang itu yang tahu. Yah, dia akan menyimpan rapat semua ini sampai ... mungkin selama-lamanya. Alfian terus mengikuti motor matic itu. Entah gadis itu tahu atau tidak, tapi tak dapat dipungkiri, Alfian memang sangat mencemaskannya. Bukan cemas seperti itu, bukan ... tentu saja ini jenis rasa khawatir yang berbeda. Laki-laki itu hanya tidak mau Anneta mengalami hal yang tidak diinginkan. Apalagi kalau bukan tentang cowok yang waktu itu mengganggunya. Entah apa hubungan kedua orang itu. Tapi jika Alfian boleh menebak, seperti ada bau-bau mantan dan juga pengkhianatan. Alfian terus mengemudikan mobilnya di belakang motor Anneta. Hanya sampai depan pintu komplek perumahan gadis itu saja, setelah itu dia akan memutar mobilnya untuk pulang. Karena jelas, arah rumah mereka sangat berlawanan dari bengkel tempat motor Anneta diperbaiki. Tapi niat itu urung saat mata Alfian menangkap sebuah motor besar menghadang laju motor Anneta. Bahkan gadis itu nyaris terperosok ke dalam parit. Jangan sampai terjadi sesuatu pada Anneta. Dia bersyukur dalam hati karena memutuskan untuk mengikuti gadis itu. *** Anneta mengerem mendadak motornya yang sudah akan berbelok pada pintu gerbang rumahnya. Hampir saja dia terjatuh dan terperosok ke dalam parit kalau saja tidak sigap menjaga keseimbangan. Dia menggeram kesal pada cowok yang kini turun dari motor besar yang dengan sengaja menghadang jalannya itu. "Tara! Kamu mau bikin aku nyungsep ke got!" teriaknya yang hanya dibalas gelak tawa tanpa dosa sepupunya itu. "Sori, sori, tapi nggak nyungsep, kan?" katanya tanpa bisa berhenti tertawa. Anneta turun dan memukul lengan cowok itu dengan sekuat tenaga. "Itu mukul apa ngelus si, Ta?" Anneta hanya mendengkus kesal lalu mengalihkan perhatiannya saat sebuah mobil berhenti tak jauh dari tempat mereka berdiri. Seorang laki-laki turun dengan wajah panik dan mendekati kedua orang yang kini sedang mematung menatap kehadirannya. "Anneta, kamu nggak apa-apa?" Anneta mengerutkan kening, melirik ke arah Tara yang kini menautkan kedua alisnya. Kemudian mengarahkan kembali matanya pada laki-laki di depannya. Lalu satu cengiran lolos dari bibirnya saat menyadari apa hal yang bisa membuat seorang Alfian panik. "Tenang, Pak. Dia Tara, sepupu saya. Bukan penjahat," katanya dengan senyum mengembang. Ada helaan napas lega yang keluar dari bibir laki-laki itu, tapi segera ia gantikan dengan sebuah dehaman. Karena gadis itu kini menatapnya dengan tatapan lain. Dan jangan lupakan senyuman yang terus mengembang di bibir manisnya itu. Entah apa artinya senyuman itu. Alfian kembali berdeham sebelum berkata, "Oke, kalau gitu saya pamit. Permisi." "Tunggu, Pak! Nggak mampir dulu? Seenggaknya, biarkan saya berterimakasih karena Bapak sudah mengantar saya pulang, secangkir kopi mungkin?" kata Anneta. Alfian sempat tertegun dan mencoba mengabaikan rasa terkejutnya. Bodoh! Tentu saja Anneta tahu jika dia mengikutinya. Apalagi dengan konyolnya dia membelokkan mobil ke arah rumah gadis itu. Dan menunjukkan rasa panik yang rasanya terlalu berlebihan. "Ayo, Pak!" Dan satu kebodohan lagi, karena Alfian menyetujui permintaan gadis itu untuk masuk ke dalam rumahnya. *** "Waktu itu ada cowok yang mengganggu Anneta, itu kenapa tadi saya sedikit khawatir waktu lihat ada motor yang menghadangnya," jelas Alfian tanpa ditanya. Karena ia tahu, cowok yang Anneta bilang sepupunya ini sedang menatapnya dengan menyimpan seribu satu pertanyaan. Tara nampak mengernyitkan dahi, "Cowok? Ganggu Anneta?" Alfian mengangguk, "Sepertinya mereka punya masalah, dan ...  saya rasa, cowok itu cukup berbahaya. Karena beberapa kali dia selalu mengancam Anneta." "Ryan," gumam Tara dengan tangan mengepal. "Yah, nama itulah yang Anneta sebut," kata Alfian sembari mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru rumah. Tempat ini terlihat sangat sepi. "Terimakasih untuk informasinya, saya akan lebih menjaga Anneta lagi," kata Tara tulus. Sesekali matanya melongok ke arah dapur. Di mana Anneta baru saja pamit untuk membuat minuman. Dan setelah beberapa menit, gadis itu belum juga kembali. "Jadi, apa dia tinggal sendiri? Rumah ini sangat sepi," tanya Alfian. Sekali lagi mengedarkan pandangan ke rumah yang tidak terlalu besar ini. Tapi dia tidak menemukan apa pun selain kesunyian. "Yah, dia anak tunggal. Dan orang tuanya sudah meninggal beberapa bulan yang lalu." Mata Alfian sontak menatap ke arah Tara. Laki-laki itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya. "Jadi ... apa itu tidak terlalu berbahaya?" Tara tampak menggerdikkan bahunya, "Saya sudah berulang kali membujuknya untuk tinggal di rumah saya. Setidaknya di sana ada mama papa saya yang bisa menjaganya. Tapi Anneta selalu menolak." Alfian menautkan kedua alisnya. Gadis itu sangat mandiri dan juga tegar. Entah kenapa ada rasa khawatir yang semakin menyeruak dalam hatinya. Seharusnya dia tidak boleh memiliki rasa seperti ini. Bahkan dia masih menyimpan kecurigaan tentang apa tujuan Anneta mendekatinya. Entah kenapa dia yakin, gadis itu memiliki misi tertentu  untuk mendekatinya. Bukan sekedar karena kekaguman, ataupun sebuah obsesi yang selalu gadis-gadis lain perlihatkan saat mendekatinya. Karena faktanya, gadis itu tak pernah terlihat terpesona ataupun tertarik dengan ketampanannya. Bukannya sombong, tapi itulah yang selalu wanita lain tunjukkan jika melihatnya. Tapi Anneta berbeda, dan itu yang selalu membuat dia bertanya-tanya. Apa tujuan gadis itu mendekatinya? Bahkan rela menguntitnya selama ini? Dan entah kenapa sepertinya alam pun seolah mempermudah aksinya, terbukti dari Tuhan yang mengatur pertemuan Anneta dengan kakaknya, Alana. "Kok malah pada bengong? Maaf lama, tadi dari kamar mandi sebentar," kata Anneta yang mengambil alih fokus kedua laki-laki itu. Dia meletakkan dua cangkir kopi di hadapan mereka, lalu duduk di sofa single yang ada di antara Alfian dan Tara setelah menyimpan nampan di bawah meja. "Jadi, apa sebenarnya hubungan kalian berdua?" Pertanyaan itu akhirnya muncul dari bibir Tara. Hal yang seharusnya ia tanyakan sejak tadi. Anneta dan Alfian saling melempar pandang satu sama lain. Lalu menoleh ke arah Tara yang kini menaikkan kedua alisnya, penasaran. “Ada yang bisa menjelaskan?” kata Tara lagi karena dua orang itu tidak juga membuka suara. Alfian berdeham, “Sepertinya sepupu kamu lebih punya hak untuk menjawab, yang pasti tidak ada hubungan istimewa di antara kami.” Mata Tara kini memicing ke arah Anneta yang terlihat salah tingkah. “Ta? Jadi apa hubungan kamu dengan ….” “Aku kerja di kantor Pak Alfian,” potong Anneta cepat, menyesal karena mempertemukan kedua laki-laki ini. Seharusnya tadi dia membiarkan Alfian pergi, bukan malah memintanya mampir untuk minum kopi. Kalau sudah seperti ini kan dia sendiri yang bingung. “Kerja? Kerja apa?” “Office girl,” cicit Anneta nyaris tak terdengar. Tapi sepertinya telinga Tara dalam keadaan waspada. Hingga cicitan itu terdengar seperti suara speaker di telinganya.  "Office girl?" ucap Tara dengan kerutan di dahinya, benar-benar terkejut dengan jawaban yang Anneta luncurkan dari bibirnya. Dia menatap bingung ke arah Anneta yang saat ini sedang menggaruk keningnya yang tidak gatal. Dia hanya tidak mengerti dengan tingkah sepupunya ini. Dia selalu pamit memiliki urusan penting. Bahkan Tara tidak pernah tahu apa urusan penting itu. Dia pikir, Anneta sedang mengurus skripsinya yang gagal. Tapi fakta yang baru saja dia dengar sungguh mengejutkan. Anneta meringis tak enak dan mengisyaratkan dengan mata, bahwa dia akan menceritakan semuanya nanti. "Tapi sekarang dia bekerja di butik kakak saya," lanjut Alfian setelah sukses membuat Tara syok di tempatnya. Cowok itu mengabaikan kalimat Alfian, lebih memilih menatap bingung ke arah Anneta. "Jadi, kamu mengabaikan Toko Bunga sama skripsi kamu hanya untuk itu, Ta?" Anneta tak menjawab, hanya berdecap kesal karena Tara seolah tidak mengindahkan isyarat matanya agar tidak lagi membahas hal ini. “Aku bener-bener bingung sama kelakuan kamu ini,” lanjut Tara sambil menggeleng sedih. Dia pikir Anneta terlalu frustasi dengan keadaannya. Mungkin apa yang ia lakukan kini sebagai bentuk pelarian karena rasa kecewanya yang tak lagi dapat terbendung. Tapi bukankah akhir-akhir ini sepupunya itu sudah terlihat move on? Lalu apa penjelasan yang lebih masuk akal dari kelakuan yang Anneta lakukan saat ini, jika bukan karena pikirannya yang sedang tertekan. Sementara di sudut lain, Alfian terlihat memicing curiga ke arah Anneta. Aura tak menyenangkan tiba-tiba saja terasa mencekam, dan ini sangat tidak menguntungkan untuk gadis itu. Ingin rasanya Anneta kabur saat ini juga. Atau kalau bisa ia akan mengusir dua sosok manusia yang kini menatapnya dengan ekspresi yang paling tidak ingin dia lihat. Untung saja selanjutnya Tara pamit karena ada hal penting yang harus ia urus. Tapi tentu saja dia akan kembali dengan meminta penjelasan gadis itu. Dan Anneta harus menyiapkan penjelasan yang masuk akal. Mungkin dia bisa bercerita jujur pada Tara, walaupun dia yakin akan dianggap konyol. Sekarang, hanya tinggal dia dan Alfian di sofa ruang tamu rumah itu. "Jadi, sepertinya saya butuh penjelasan. Apa sebenarnya yang membuat kamu mendekati bahkan menguntit saya selama ini? Jangan pikir saya lupa dengan semua hal itu." Anneta meringis bingung, jawaban apa yang akan dia berikan?    
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD