Save the witness

934 Words
tak terasa jam menunjukkan pukul 11 malam, mereka begitu menikmati pertemuan dan obrolan malam itu. tiba-tiba ponsel Valerie berdering, ternyata Andreas meneleponnya, ya mereka sempat bertukar nomor saat itu. tapi Valerie mempunyai firasat tidak enak jadi gadis itu langsung mengangkat panggilan tersebut. "halo" sapa Valerie. "halo hel, aku dijebak si b******k itu, ceritanya panjang, cepatlah datang ke kampus disana kameraku tertinggal dan buktinya semua ada di kamera itu" ujar pria itu sedikit berbisik. "kau dimana sekarang?" tanya Valerie cemas membuat orang lain sekitarnya menatap penasaran tentang apa yang membuat gadis detektif itu tampak khawatir. "aku terkurung, aku baru sadar dan langsung sudah ada di tempat yang tidak kukenal ini" ujar Andreas terburu-buru. "di mana tepatnya kamera mu?" tanya Valerie. "di TKP, kampus pasti sudah terkunci, kau harus menghubungi dosen apapun yang pasti jangan si dosen gila itu untuk bisa masuk ke dalam" ujar Andreas. "baiklah tunggu aku" ujar Valerie. "hel, jangan datang sendirian" ucapan itu adalah penutup dari pembicaraan mereka berdua. "kenapa?" tanya Helena datar. "saksi pembunuhan ingin disingkirkan oleh pelaku" ujar Valerie serius pada Helena. "kita harus menyelamatkannya" ujar Rexana cemas. "barang bukti juga harus diselamatkan, di TKP lah barang itu tertinggal" ujar Valerie. "siapa saksinya?" tanya Helena penasaran. "Andreas" jawab Valerie, Helena pun mengangguk mengerti. "bukan kah kampus Helena sudah tutup sekarang? " tanya Rexana. "tentu saja makanya aku butuh nomor dosenmu yang lain hel untuk masuk ke kampus" ujar Valerie. Helena pun berpikir keras sampai ia teringat sesuatu. "oh iya kata almarhum nenekmu, Gabriel dosen di kampusku" ujar Helena membuat Valerie lega. "hubungi dia dan suruh datang kemari sekarang" ujar Valerie. "baiklah" jawab patuh Helena. "bukankah kita juga harus menyelamatkan saksi?" tanya Adrian. "makanya sekarang aku ingin melacak lokasi nya dia tak sadarkan diri ditempat asing" ujar Valerie bergegas masuk ke dalam rumah mengambil laptop nya lalu keluar lagi langsung saja ia melacak ponsel Andreas. "kurasa kau perlu bantuan kami" ujar Caecilia tersenyum miring. "aku benci mengakuinya tapi kau benar cae aku butuh bantuan kalian semua" ujar Valerie. "sepertinya masalah ini sangat serius, baiklah aku akan membantu" ujar James. tak lama Gabriel datang dengan mobilnya tentu saja ia datang dengan raut wajah yang cemas. tapi saat pria itu melihat ke teras betapa terkejutnya melihat 7 kembaran disana. "kami butuh bantuanmu, bisakah kau ikut duduk disini" tanya Valerie. Gabriel pun duduk dan mereka semua menceritakan tentang 7 kembaran serta pertukaran tempat. "jadi itu nyata ya?" tanya Gabriel dengan nada tak percaya. "mata mu tidak rabun kan?" tanya Ale memutarkan bola matanya malas melihat Gabriel masih tak percaya. "udah sekarang waktu nya serius kita harus menolong saksi itu" ujar Jazelyn sopan. "maksudnya?" tanya Gabriel. "bukti dan saksi pembunuhan di kampusku dalam bahaya" ujar Helena singkat. " kau ada akses untuk masuk ke kampus itu sekarang kan?" tanya Valerie pada Gabriel. pria itu pun mengangguk. "oke Rexana dan Quella tetaplah disini" ujar Valerie. "yah Quella mau ikut" ujar Quella memelas. "jangan kau nanti merepotkan" sarkas Caecilia. "iya Quella kita disini saja ya" ujar Rexana, gadis itu tentu saja takut pasti berbahaya jika ikut dengan mereka. "Jaz, aku, James dan Cae akan menyelamatkan Andreas" ujar Valerie. "sudah dapat lokasinya?" tanya James, Valerie pun mengangguk. "Ale, Adrian, Gabriel, Helena, kalian ambil barang bukti di TKP" ujar Valerie mantap. "semuanya izin dulu pada orang rumah katakan alasan yang kuat dan dipercaya, karena kita takkan tahu jam berapa kembali kerumah masing-masing" ujar Jazelyn memperingati. semuanya pun menuruti Valerie dan Jazelyn. tim yang menyelamatkan Andreas menggunakan mobil James. sedangkan yang ke kampus menggunakan mobil Gabriel. sesampainya di lokasi Andreas disekap mereka langsung membuka ruangan dari tepas itu tapi ditengah hutan, James mendobraknya dengan mudah. hanya ada Andreas di dalam tapi kaki pria itu berdarah begitu juga wajahnya yang sudah lebam-lebam, pria itu terlihat lemah bersender di tembok. "Andreas" panggil Valerie, mereka semua menghampiri Andreas. "loh hel mengapa kemari, sudah diambil kameranya?" tanya Andreas hanya menatap Valerie. "sudah diurus yang lainnya" ujar Valerie. "yang lainnya?" tanya Andreas, pria itu mulai menatap ke sekitar dan melihat 3 kembaran. "hel kurasa aku mau pingsan sehingga melihat 3 bayanganmu" ujar pria itu dengan terkekeh pelan. mereka pun langsung tersadar . "oh kami kembar bukan bayangan" ujar Valerie sambil membantu pria itu berdiri. "kita harus cepat keluar dari sini" ujar James. mereka semua pun bergegas keluar tapi saat masih didalam hutan ada beberapa orang, dan Andreas mengatakan itu adalah suruhan dosen gila tersebut. "8 orang tak masalah" ujar Caecilia bersiap-siap untuk baku hantam. "Jaz, tolong Andreas, aku akan membereskan para s****h itu" ujar Valerie . Jazelyn pun bergantian memapah Andreas yang lemah. "kalian yakin" tanya James menatap dua gadis disampingnya. "lihat saja" ujar Caecilia dengan menyeringai ke arah James. perkelahian pun tak terhindarkan, bela diri Caecilia dan Valerie membuat James dan Andreas terpukau. sampai tinggal 2 suruhan lagi tapi mereka langsung kabur mungkin takut dengan nasib suruhan lainnya yaitu patah beberapa bagian tubuhnya. "hah pengecut" ujar Caecilia terduduk bersender di pohon, James pun ikut duduk disampingnya. sedangkan Valerie mendekat ke arah Andreas yang tengah di bersihkan luka kaki nya oleh Jazelyn bahkan untuk menghentikan darahnya Jazelyn mengikat kan sapu tangan di kaki pria tersebut. "kita harus ke kampus, disana ada dosen gila dengan para suruhan yang lebih banyak" ucapan Andreas membuat mereka semua terkejut. "kenapa tidak bilang daritadi" ujar caecilia Ngegas. "sudah lebih baik kita bergegas" ujar James menghentikan langkah gadis itu yang ingin menghampiri Andreas. akhirnya mereka berlima ke kampus untuk membantu yang lainnya. "abangku ingin menyusul" ujar Jazelyn sambil melihat ponsel yang ada pesan dari abangnya. "suruh saja kerumah nenek ku dulu" ujar Valerie menghela napas pasrah. "maaf ya, abangku memang selalu seperti ini" ujar Jazelyn tak enak. "posesif" ucap Caecilia datar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD