disisi lain
"mengapa aku terlibat semua ini, sangat merepotkan" ucapan Aleandra sudah terbiasa ditelinga Adrian, pria itu hanya menggeleng kan kepalanya sambil bergumam dalam hati "Aleandraku kembali jutek".
"jika tidak mau membantu, kamu bisa pergi sekarang" ucapan dingin itu datang dari mulut Helena, sambil berjalan disamping Gabriel, diikuti Aleandra dan Adrian dibelakangnya.
kesamaan mereka berdua adalah ucapan yang pedas melebihi Caecilia, dan interaksi mereka juga tidak banyak karena sama-sama dingin.
"ayo, Adrian kita kembali pulang" tak mau kalah gadis sejarawan itu menghentikan langkah semua orang.
"Al, kita sudah didalam kampusnya, tanggung banget, ayo kita bantu saja ya" ujar Adrian dengan lembut.
"kalian kembar tapi membenci satu sama lain?" tanya Gabriel.
dengan serentak dua gadis dingin itu menjawab
"hanya dia"
ya Aleandra dan Helena saling membenci dan kembaran lain tidak menyadarinya.
"ayolah, bahas perasaan kalian setelah kita mengambil barang bukti" ucapan Gabriel dituruti dengan berat hati oleh dua kembar itu.
tak lama mereka berempat sampai didepan kelas Helena Ternyata didalam kelas itu banyak orang sedang menghapus bukti dan terlihat juga dosen b******n itu sedang mengobrol santai kepada leader polisi yang dibayar.
mereka berempat mengintip dari jendela
"kurang lebih 10 orang" ucap Aleandra dingin
"12 orang sama yang dipojok," ucapan Helena membuat mereka bertiga menatap pojok kelas ada dua orang membahas bisnis kotor siapa lagi kalau bukan dosen dan leader polisi.
"barang bukti dimeja guru, bagaimana kita mengambilnya kedalam" ujar Adrian sambil melihat meja ada beberapa barang bukti.
"buat pengalihan untuk 10 orang agar keluar dari ruang kelas ini" ucapan Gabriel disetujui ketiganya.
"2 orang sisanya seperti nya bisa kalian atasi karena kulihat itu hanya orangtua Bangka" ujar Adrian.
semuanya pun setuju
tak lama Gabriel berlari kearah ruangan tempat membuat pengumuman yang akan terdengar keseluruhan speaker.
"selamat malam pak arito kau sudah tertangkap sekarang kami tau semuanya" ujar Gabriel didepan mic, dosen b******n itu mendengar nya dengan amarah yang memuncak.
"beraninya dosen baru itu mencari masalah denganku" ucapan dosen b******n itu sambil menyuruh 5 orang buat keruangan pengumuman.
melihat ada yang keluar mereka bertiga masuk keruangan kelas sebelah agar tidak ketahuan jika mereka daritadi mengintip dari jendela.
"sepertinya kalian memang harus berdua untuk mengatasi si tua Bangka itu, aku harus mengajak keluar 5 lagi suruhannya". ucapan Adrian terdengar khawatir.
"jangan khawatir aku saja yang mengambil barang bukti itu, dia akan menunggu disini" ucap Helena dingin, dia tak mau merepotkan Aleandra si mulut pedas.
"kalau begitu hati-hati" ujar Adrian sambil keluar kelas dan melakukan tugasnya.
"bisakah lebih pintar lagi melakukan kejahatan " teriakan Adrian membuat 7 orang didalam kelas melihat ke pintu, Adrian sambil merekam dengan handphone nya, setelah semua melihatnya dia berlari, 5 orang suruhan pun mengejar pria sejarawan itu.
"mengapa banyak yang mau merusak rencanaku" ujar dosen itu sudah ketakutan perbuatannya akan ketahuan.
"tenang kami akan menyelesaikan nya" ujar leader polisi itu dengan sigap.
tiba-tiba terdengar suara kursi disamping dimeja guru bergeser, membuat dua orang disana langsung melihat kearah sumber suara ternyata Helena sudah memegang barang bukti.
leader polisi itu langsung menarik pelatuk pistol di balik jas nya, Helena pun berjongkok berlindung dibalik meja.
karena tidak pernah memikirkan kejadian ini leader polisi itu hanya punya satu peluru di pistolnya.
leader polisi itu pun berlari ke arah Helena, gadis itu tentu saja berlari keluar sekuatnya tapi gadis itu tak cukup cepat, kerah bajunya tertangkap.
kedua tangan Helena pun dipegang erat kebelakang, leader polisi itu memaksa helena berjalan ke arah dosen m***m itu.
"Ternyata si bisu kelas ini yang akan menjadi pahlawan" ucapan remeh itu datang dari mulut dosen tersebut.
Helena hanya diam dengan tatapan tajam sambil berusaha melepaskan tangannya yang dipegang erat.
"dilihat dari dekat kau cantik juga" ujar dosen itu sambil meraih beberapa helai rambut Helena.
tanpa disadari mereka bertiga, Aleandra mengendap-endap kedalam kelas dengan merangkak, karena gelapnya ruangan kelas itu, tidak ada yang sadar Aleandra sudah dibawah kaki polisi itu.
'PLAK' suara itu berasal dari bawah kaki polisi yang dipukul sekuat tenaga menggunakan batu oleh Aleandra, polisi itu pun langsung berjongkok berhadapan dengan Aleandra dan melepas tangan Helena, tentu saja gadis itu langsung menjauhi tangan kotor dosen yang sedang memegang rambutnya tadi.
Aleandra langsung berdiri dari jongkoknya itu, Helena langsung memukul kepala polisi itu memakai rotan yang selalu terletak dipojok ruangan itu, polisi itu langsung tak sadarkan diri tanpa melihat dua kembar, sedangkan dosen itu sedikit bingung karena kesamaan wajah pada dua gadis itu.
tapi dosen tersebut dengan sigap langsung menarik kuat rambut Aleandra sampai gadis itu meringis kesakitan.
"walaupun kau tua kau masih kuat, awww lepaskan bodoh" ucap Aleandra dengan kasar menatap tajam dosen itu sambil berusaha melepaskan jambakan tersebut.
Helena ingin menolong tapi kakinya ditendang kuat oleh dosen itu sampai gadis itu terduduk dilantai.
Helena menahan rasa sakit kakinya dengan tangannya dia mengikuti yang dilakukan Aleandra yaitu memukul dengan sekuat tenaga kaki dosen itu sampai ada kesempatan Aleandra untuk lepas dari jambakan tersebut, dan menendang dengan dengkulnya perut dosen tua itu lalu memukul dengan sikut dia memukul kepala dosen itu hingga pingsan.
setelah menumbangkan dua pria itu dia memapah Helena keluar kelas sambil membawa barang bukti.
dua gadis itu berjalan dengan pelan dalan diam dan keheningan malam menuju mobil Gabriel yang ada didepan pagar kampus itu.
ternyata di mobil sudah ada Gabriel dan Adrian yang babak belur karena melawan anak buah polisi itu, yang paling buruk Adrian karena memar diwajahnya sangat banyak sedangkan Gabriel hanya memar di kening.
"kalian tidak ada yang terluka serius kan?" tanya Gabriel kepada Helena yang duduk disamping nya.
Helena hanya menggeleng, begitu juga dengan Aleandra yang langsung memeriksa keadaan Adrian.
"yan, mengapa hidungmu berdarah, mengapa kau terluka parah seperti ini?" tanya Aleandra panik, sambil mengelap darah" diwajah Adrian dengan tisunya.
"ayo kita kembali dulu, aku ingin pingsan Al" ujar Adrian lemah.
"jangan pingsan dulu, jazlyn akan mengobati mu, sabar tetap lah sadar yan" ujar Aleandra tegas.
pria itu hanya mengangguk patuh sambil menyenderkan kepalanya ke bahu Aleandra, walaupun sakit pasti ada rasa senang melihat kecemasan Aleandra.
Gabriel pun menjalankan mobilnya setelah Helena sudah memberikan kabar Pada cae dan lainnya untuk tidak menyusul mereka karena barang bukti sudah didapatkan, Helena menyuruh semuanya berkumpul dirumah nenek Valerie.
Disana sudah ada Jeremy yang sedang mengobrol dengan Rexana dan Quella.
yang sampai duluan adalah Caecilia, Valerie, James, Jazelyn dan Andreas yang dipapah oleh James.
lalu beberapa detik kemudian datang lah mobil Gabriel.
Jeremy sudah tau semua ceritanya dan sekarang dia membantu Jazelyn mengobati yang terluka, untung saja mereka berdua selalu membawa p3k di mobil, Rexana juga menolong sebisanya.