setelah yang terluka diobatin, mereka pun membahas tentang kasus pembunuhan itu yang harus cepat dilaporkan pada kepolisian jujur.
tak butuh waktu lama Valerie menelpon ayahnya, dan kasus itu sudah ditangani anggota kepolisian ayah Valeri langsung Pada malam itu.
"hoaaam, apakah sudah selesai" tanya Quella sambil menguap karena sangat mengantuk.
mereka semua pun melihat jam yang menunjukkan pukul 2 malam
"sudah jam 2 nih aku balik kerumah dulu ya" ujar Jazelyn dengan ramah, "ayo Rexa aku antar kamu dulu" sambung gadis dokter itu lagi dibalas anggukan oleh Rexana.
Jazelyn dan Rexana pun bergerak dari tempatnya mulai berpamitan pada semuanya, Jeremy juga ikut berpamitan walaupun masih kaku karena baru kenal dengan mereka semua.
"eh tunggu, Quella ikut Jazelyn juga boleh ya?" ucapan gadis polos itu pun membuat semua orang yang ada disana menatap heran Quella dan James bergantian.
"kenapa tidak pulang bersama James?" tanya Valerie penasaran.
"Quella takut, tidak pernah selarut ini bersama pria dewasa" jawab polos gadis itu.
"iya Quella, boleh kok aku antar kamu juga" ujar Jazelyn tersenyum lembut.
"yaudah kalian hati-hati ya" ujar Valerie, terimakasih untuk malam ini.
3 kembar pun langsung menuju mobil Jazelyn setelah mengucapkan salam perpisahan pada yang lainnya.
Jeremy naik mobil nya sendiri, dia akan mengawasi adiknya mengantar dua temannya sampai kembali kerumah bersama nya.
Helena pun kembali kerumahnya diantar oleh Gabriel dengan senang hati dengan mobilnya.
begitu juga dengan Adrian dan Ale kembali bersama naik motor.
sekarang yang berada disana hanya Andreas, dia ingin menemani Valerie lebih lama dan juga ingin mengenalnya lebih dalam.
sedangkan Caecilia tadi sudah buru-buru kembali dengan motor sport nya setelah ada telepon dari teman se geng nya, sebenarnya Valerie khawatir karena dia berpikir Caecilia akan membuat onar dijalanan, tetapi setelah James menyusul nya Valerie mulai lega.
sesampainya Caecilia disebuah markas, yang ternyata itu tempat perkumpulan geng motor nya, tempat itu sudah kacau dan banyak teman-temannya yang terluka.
"ada apa ini, siapa yang melakukannya kepada kalian" tanya Caecilia barbar.
"aku" jawab musuh bebuyutan cae, ya pria itu bernama Xavier.
Caecilia langsung menatap tajam kearah Xavier "kenapa kau lagi, tidak cukup kah kekalahanmu dalam balapan yang sudah belasan kali itu?".
ya cae selalu memenangkan balapan dengan rivalnya itu.
"kali ini aku pasti menang cae, ayo lakukan sekali lagi, jika ini kalah aku akan menghilang dari pandanganmu selamanya" ujar Xavier menantang.
"kau minta maaf dulu kepada teman-temanku yang sudah kau lukai, berlutut lalu menghilang, itu taruhannya, bagaimana?kau setuju?"
cae balik menantang.
"tapi jika aku menang, kau jadi milikku cae" ucap Xavier membuat cae heran karena pria itu tidak pernah bertaruh seperti ini sebelumnya.
tapi geng motor masing-masing rival abadi itu memang mengharapkan hal itu.
ya dulu geng motor mereka satu dan diketuai oleh Xavier dan cae , dulu mereka sepasang kekasih saat SMA dan membentuk sebuah geng motor.
tetapi saat tamat sekolah cae tiba-tiba menjadi dingin dan cuek terhadap Xavier, padahal walaupun barbar cae gadis yang humoris saat dia San Xavier adalah sepasang kekasih.
Xavier tidak terima dengan perubahan sikap cae, membuatnya menjadi kacau karena ditambah lagi saat itu ibunya meninggal, dua wanita yang dicintainya hilang disaat bersamaan.
makanya sekarang Xavier berusaha dengan caranya yaitu mencari perhatian dan membuat kacau didepan cae, gadis itu yang dingin dan cuek menjadi gadis emosian saat di hadapi dengan Xavier, semenjak itu mereka adalah rival.
James mengawasi keributan itu dari kejauhan, walaupun tidak dengar dengan jelas apa yang cae dan pria bersamanya bicarakan.
beberapa menit setelah adu mulut itu, James melihat cae bersiap-siap dengan motornya begitu juga dengan pria itu, James sudah tau apa yang ingin dilakukan mereka "balapan" gumam James pelan tetap mengawasi dari jauh.
tidak seperti balapan sebelumnya, kali ini cae dalama kondisi lelah karena insiden bersama kembarannya menguras banyak tenaga.
tapi gadis itu tetap percaya diri dia bakal menang.
balapan sengit pun sudah dimulai, James takjub dengan skill cae, baru kali ini dia melihat wanita se barbar itu sangat jago balapan dan bertarung seperti pria.
tetapi lelah cae sangat berpengaruh untuk balapan nya kali ini, ditambah lagi Xavier baru memodifikasi motornya menjadi lebih cepat, kekalahan pertama kali cae tentu saja akan terjadi malam ini.
di sepanjang balapan cae melawan rasa lelah dan ngantuknya, "aku harus mengalahkan nya dan membuatnya berhenti berharap seperti dulu lagi" gumamnya dalam hati di sepanjang jalan.
tetapi untuk pertama kali nya di malam itu disaksikan James dari kejauhan, cae gagal dalam balapannya.
kedua motor itu berhenti di garis final yang sudah ditunggu anggota geng motor antara dua kubu.
tentu saja kekalahan cae menimbulkan kekhawatiran Xavier walaupun dia sedikit senang akhirnya bisa menang melawan gadis itu dengan berbagai upaya memodifikasi motornya dan juga latihan yang banyak.
"cae, are you okay?" tanya Xavier sambil menghampiri cae yang masih duduk di motornya membuka helm.
cae hanya diam dan memikirkan cara untuk mengelak dari taruhan pria itu.
"Xavier, aku tidak mau jadi milikmu, tidak ada hukuman yang lain untuk orang kalah?" tanya cae lemas tidak seperti biasanya.
"tidak ada" jawab pria itu.
"Xavier , kita tidak bisa kembali seperti dulu lagi, bisakah kau mengerti?" kali ini ucapan cae sangat frustasi dengan nada tinggi sambil turun dari motornya dan berjalan menjauhi kerumunan geng motor lainnya, gadis itu bermaksud negoisasi dengan pria yang pernah menyentuh hatinya.
anggota geng motor lainnya hanya saling menatap mengerti membiarkan dua ketua itu bicara empat mata didalam markas yang sempat dikacaukan Xavier.
"kenapa cae? kenapa kau bertindak semau mu saja, kau tidak memikirkan orang lain?" bentakan tak kalah keras dari Xavier sambil mengikis jarak Antara dia dan cae.
adu mulut yang kasar itu memenuhi keheningan dalam ruangan.
"kau yang kenapa Xavier, semenjak ibu mu meninggal emosi mu tidak terkendali, kau menjadi orang yang kasar dan semena-mena" ucap cae.
"padahal kau tau jika aku bisa dikendalikan hanya olehmu, kau tau bisa mengontrol emosi ku, kau tau caranya menghadapi ku, aku juga selalu menurut denganmu sebelum kau menjadi dingin dan tak pernah peduli lagi dengan keberadaan ku, kau juga memecah geng yang kita bangun dari sekolah menjadi dua kubu"
Xavier mencurahkan semuanya di ruangan itu.
"apakah memang sebenci itu kau denganku?, Karena hal itu kan? " tanya Xavier mengintimidasi.
ada suatu hal yang diketahui oleh cae yang membuat gadis barbar itu bersikap dingin.
"ya, aku sudah memberitahumu berulang kali, hal itu yang membuat kita tidak bisa dekat lagi" jawab cae.
"itukan hanya keluargaku, aku tidak ikut dalam hal semacam itu cae, kenapa kau tidak percaya padaku?" ujar Xavier
"aku tidak peduli kau sama seperti keluargamu atau tidak, terserah padamu, aku sungguh tidak peduli Xavier" ucap cae dengan sangat kasar membuat Xavier jalan mendekat lalu mendorong cae ke dinding, gadis itu sudah terpojok.
"cae dengarkan aku, hanya keluargaku yang memimpin organisasi mafia itu" ucapan Xavier sangat menekan, wajah mereka berdua juga sangat dekat, sehingga cae merasakan napas Xavier seperti asap emosi.
"aku tidak peduli Xavier aku tidak peduliii!!!" cae pun berteriak mendorong Xavier yang menahannnya didinding lalu ingin diciumnya gadis itu.
cae menahan sangat keras agar ada jarak antara Xavier dan dia, mencoba mendorong terus menerus agar pria itu menjauh.
tiba-tiba James datang langsung mendorong kuat Xavier hingga pria itu terduduk dilantai.
"kau tidak mendengar nya? dia menolak mu bodoh!!" u*****n James membuat Xavier semakin marah.
"siapa kau?" tanya Xavier menarik kerah baju James secara kasar, pria keturunan bangsawan itu tak kalah kasar menghempaskan tangan Xavier dari bajunya.
tanpa menjawab pertanyaan itu, James langsung menarik tangan Caecilia untuk mengantarnya pulang, tetapi tertahan karena Caecilia tidak tergerak sedikit pun dan menatap heran ke arah James yang tiba-tiba muncul
"jauhkan tangan kotormu dari cae, b******n" ujar Xavier, tinjuan melayang pada wajah tampan James.
James pun membalasnya, baku hantam terjadi antara Xavier dan James, tidak ada yang memisahkan karena anggota geng lainnya sudah kembali dari tadi makanya James bisa langsung masuk keruangan itu karena perasaan nya tak enak.
"STOP!!" teriakan dari cae tidak dipedulikan oleh 2 orang yang sedang berkelahi sengit itu.
"hiks hiks stop please" akhirnya cae menangis.