Jazelyn sedang istirahat dikamarnya, gadis itu tampak murung karena kehidupannya kembali seperti semula lagi, jam di dindingnya menunjukkan pukul 9 malam, ia menunggu chat di grup 7 kembaran.
lama menunggu akhirnya notifikasi itu berbunyi tapi gadis itu terkejut dengan pesan yang dikirim oleh salah satu kembarannya.
"nenekku meninggal" begitulah pesan dari gadis detektif yang bernama Valerie.
diantara mereka ada yang mengucapkan bela sungkawa, turut berduka cita dan ada juga yang menyemangati gadis itu, hanya satu orang yang tak menjawab yaitu Helena.
ternyata Helena menghampiri langsung rumah nenek Valerie dengan masker dan kacamata sebagai penyamaran, rambutnya juga tergerai ditutupi topi hodie nya.
Helena melihat banyak tamu berbaju hitam dirumah itu dan mungkin keluarga Valerie juga banyak disana bahkan Gabriel dan neneknya datang, Valerie duduk dipojok dekat dengan mayat neneknya yang akan dimakamkan keesokan paginya.
Valerie hanya berwajah pucat, gadis itu tegar tak mengeluarkan setetes air mata pun, sedangkan Helena Mata nya mulai berkaca-kaca tanpa disadari satu orang pun, bahkan Helena pelan-pelan melangkah menghampiri Valerie.
"val, maafkan aku" gumam pelan Helena setelah duduk disamping Valerie.
ucapan itu membuat Valerie mengerutkan dahinya heran.
"mengapa kamu meminta maaf?" tanya nya.
"aku tidak becus menjaga nenekmu" ujar gadis itu dengan kepala menunduk.
"dia meninggal saat aku yang menjaganya hel, bukan salahmu ini memang takdir dari yang maha kuasa" ujar Valerie pelan.
tiba-tiba Gabriel menghampiri Valerie,
"aku turut berduka cita ya val, nenekku tak bisa berlama-lama takut kelelahan karena dia pun masih sakit" ujar pria itu menatap iba ke arah Valerie yang pucat dan rambutnya diikat asal berantakan.
Valerie mendengar ucapan pria asing itu bingung, gadis itu menatap Helena yang ada di belakang Gabriel, dari tatapannya seperti bertanya "kamu kenal pria ini?" .
Helena langsung mengangguk, Valerie pun terus berakting pura-pura kenal dengan pria tersebut.
"terimakasih, semoga nenekmu cepat sembuh ya" ujar Valerie berusaha lembut agar tak ketahuan tentang 7 kembaran.
akhirnya Gabriel berpamitan dan melangkah pergi bersama neneknya tanpa curiga tentang seorang gadis yang bersama Valerie tadi, lagian pakaian Helena sangat tertutup.
Helena tetap disana menemani Valerie hingga malam, orang-orang mulai kembali ke rumahnya masing-masing sehingga hanya mereka berdua dirumah sederhana milik nenek gadis detektif itu.
di grup chat ada sebuah pesan dari Valerie untuk datang ke alamat rumah neneknya.
tentu saja kembaran lainnya langsung bergegas termasuk Caecilia yang mau balapan.
"maaf guys aku ada urusan" ujar gadis pembalap itu dengan santai menghidupkan mesin motornya.
"kau pasti takut" ujar seorang pria yang menjadi lawannya saat balapan.
"haha ayolah kau pasti tak mau kutinggalkan" ujar gadis itu membuat lawannya terdiam, Caecilia tersenyum miring lalu memakai helmnya dan mulai menjalankan motornya dengan kecepatan penuh ke alamat yang diberikan oleh Valerie di grup chat.
Jazelyn juga langsung mengendarai mobilnya ke alamat tersebut, untung saja gadis itu sudah selesai dengan pasiennya.
Rexana memesan taksi padahal ia dan kakaknya baru healing bersama, jadi kakaknya ditinggal sendiri di apartemen, dia beralasan mau menemui teman sesama model agar diberikan izin oleh kakak nya.
Quella juga keluar dari hotel tempat keluarganya berlibur tapi sampai depan dihalangi oleh James yang datang tiba-tiba.
"mau kemana?" tanya pria itu penasaran.
"Quella harus ke rumah nenek Valerie" ujar gadis itu keceplosan karena frustasi dihalangi terus jalannya oleh pria itu.
Quella langsung menyadari kecerobohannya, gadis itu refleks menutup mulutnya dan menatap James takut jika pria itu bertanya lebih lanjut.
"aku antar, ini sudah malam" ujar James dengan datar, sebenarnya sedikit heran dengan refleks gadis ini yang berlebihan memangnya kenapa dengan rumah neneknya Valerie.
"tidak perlu, Quella naik taksi aja" ujar gadis itu baru kali ini ia bertatapan langsung dengan James, biasanya hanya dari foto yang diberikan oleh sang ibu.
"ku antar atau kulaporkan ke orang tua mu, pasti kau mengendap-endap kan keluar dari hotel karena kalau bilang pasti tak diizinkan" tebakan itu semuanya benar membuat Quella terdiam.
James pun malas berlama-lama akhirnya menarik paksa tangan Quella membawanya masuk ke dalam mobil, gadis itu akhirnya pasrah pasti sampai sana para kembaran akan memarahinya terutama Caecilia yang mungkin akan menjadikannya polisi tidur di tengah jalan.
Aleandra memiliki nasib buruk, gadis itu sedang bersama Adrian di markas mereka, gadis itu bingung bilang apa kepada pria tersebut.
"hm Adrian aku pergi dulu ya" ujar gadis itu keluar kamar dengan tas Selempang ya.
Adrian langsung curiga karena gadis itu tak pernah keluar malam selama di kota ini.
"mau kemana? mau kutemani nggak?" tanya pria itu.
"ada urusan sebentar aku naik taksi saja" ujar Aleandra mencoba bersikap santai, coba saja ia ke kota ini bawa mobil kesayangannya pasti takkan sudah mau kemana-mana.
"aku temani, ini sudah malam" ujar pria itu sambil langsung bersiap-siap menghiraukan penolakan gadis itu yang tengah kebingungan.
sedangkan Helena dan Valerie duduk di teras yang lumayan luas itu sambil menatap kegelapan hutan lebat di depannya.
suara deru motor membuat mereka berdua yang lagi melamun terkesiap, bahkan Helena memutarkan bola matanya malas karena pasti itu gadis barbar yang bernama caecilia.
"hai, aku turut berduka cita ya val" ujar gadis itu santai sambil menghampiri kedua gadis yang bersantai di teras dengan beberapa cemilan dan teh.
"iya terimakasih" ujar Valerie.
tiba-tiba sebuah taksi pun berhenti di halaman luas rumah itu, setelah Rexana membayarnya taxi itu langsung pergi, begitu juga dengan Rexana yang langsung menghampiri ketiga kembarannya.
"maaf ya kalau aku telat, macet tadi jalan raya" ujar gadis itu dengan wajah merasa bersalah.
"tidak apa-apa lagian Jaz, Ale, Que belum datang juga kok" ujar Valerie dengan senyuman tipisnya.
"kalian sudah memastikan tak ada yang mengikuti kan" tanya Helena pada cae dan Rex.
mereka berdua mengangguk, karena memang tak ada yang mengikuti.