setelah menjalani kehidupan yang berbeda selama satu hari mereka tertidur di malam harinya karena hari yang melelahkan itu.
Rexana bermimpi dalam tidurnya yaitu sebuah kebakaran besar melahap beberapa toko dan grosir juga rumah, ia melihat banyak orang terjebak di dalamnya bahkan ada seorang wanita hamil menjadi salah satu korban jiwa.
gadis itu teringat tentang pasiennya waktu dirumah sakit.
"apakah ini kebakaran yang dimaksud mereka?" gumam gadis itu melihat maraknya api dihadapannya tapi ia heran tak ada rasa panas yang menyentuh kulitnya padahal ia sangat dekat dengan api itu.
tiba-tiba ia mengalami set perubahan tempat sekarang gadis itu berada di sebuah perpustakaan tempat bertemunya 7 kembaran.
Rexana masuk ke dalam ia tak melihat satu pun orang, rasa takut menjalar ke hati nya tapi suara buku yang jatuh mengundang perhatian gadis cantik itu ia pun langsung menghampiri suara tersebut.
"buku apa itu" gumamnya sambil berhenti melangkah di depan buku kuno berwarna kecoklatan yang terjatuh tepat di depan kakinya.
Rexana melihat buku itu terbuka tepat di halaman 77 terlihat gambar sebuah pemandangan klasik, gambar itu membuat Rexana tertarik untuk mengambil buku itu dan duduk di salah satu kursi.
"mitos terjadi akan menjadi malapetaka" gumamnya sambil membaca buku itu, terdapat di bawah gambar tersebut.
gambar pemandangan itu adalah sebuah gunung berdampingan dengan hutan dan ada aliran sungai yang dikunjungi seorang yang sudah tua membawa ember, bahkan langit cerah dan api unggun juga ada digambaran yang terlihat tua tersebut.
"apa maksudnya ini?" gumamnya bertanya pada diri sendiri sambil menatap lekat pemandangan itu.
tak lama perpustakaan bergetar membuat banyak barang berjatuhan, Rexana yang ketakutan langsung lari keluar tapi terhalangi dengan barang-barang yang berjatuhan, seketika gadis itu panik bahkan hampir menangis tapi terdengar samar suara Jeremy abangnya Jazelyn.
"Jazelyn!" panggilan itu membuat Rexana langsung membuka matanya dan tersadar dari mimpi misterius itu.
"kamu kenapa Jaze?" tanya sang Abang saat sang adik akhirnya membuka mata disaat ia mengigau dengan lirih.
"ha Abang kok dikamarku?" tanya Rexana dengan penasaran, walaupun ia baru sadar dari mimpi itu tapi kebingungan melandanya saat melihat Jeremy dikamarnya.
"hm ta tadi Abang mau periksa kamu udah tidur atau belum aja, tapi pas Abang datang ternyata kamu mengigau" jawab Jeremy sedikit gugup.
Rexana pun curiga karena ia melihat jam di dinding menunjukkan pukul 2 dini hari, untuk apa sepagi itu Jeremy memeriksanya.
"jam 2 dini hari? apakah Abang selalu melakukannya?" tanya Rexana penasaran.
sedangkan Jeremy terheran karena biasanya Jazelyn tak banyak tanya bahkan langsung tidur lagi jika terbangun dan melihatnya dikamar gadis itu.
"hm i iya" jawab Jeremy gugup.
"oh baiklah terimakasih" ujar Rexana dengan senyuman manis membuat Jeremy terpukau dengan wajah ceria itu.
gadis itu mencoba untuk tak menanyai pria itu lebih lanjut karena takut dicurigai kalau ia sebenarnya bukan Jazelyn.
tapi kecurigaan gadis itu tentang Jeremy masih sangat kental di dalam hati Rexana, ia memiliki perasaan tak enak tentang Jeremy dan Jazelyn.
akhirnya setelah mengucapkan selamat tidur pria itu kembali kekamarnya lagi dengan jantung berdegup kencang karena kali ini gadis itu mulai mencurigai tentang perasaannya.
keesokan paginya mereka berencana mengadakan pertemuan di tempat biasa karena Rexana mau menceritakan mimpinya.
akhirnya mereka semua mengosongkan jadwal di hari itu untuk berkumpul di perpustakaan di pagi hari agar mereka tidak dicurigai karena masih sepi.
tepat 10 pagi Helena yang pertama sampai dengan topi dan rambut dicepol asal.
dilanjut kedatangan Caecilia yang kini berpakaian sopan memakai rok panjang juga baju lengan panjang tapi rambutnya tetap terlihat seperti caecilia biasanya yaitu berantakan tapi gadis itu memakai masker agar tidak dicurigai.
kedatangan selanjutnya adalah gadis yang ingin menceritakan mimpinya yaitu Rexana dengan jas putih dan rok selutut tentu saja memakai masker juga.
sedangkan Valerie orang yang selanjutnya datang, gadis itu memakai style nya seperti biasa, rambut diikat kebelakang juga topi dan masker hitam diwajahnya.
selanjutnya Quella yang datang dengan pakaian tertutup sama seperti saat baru pulang dari mall, syall putih dilehernya menutupi mulutnya sehingga tak perlu memakai masker.
selanjutnya Jazelyn dan Aleandra datang bersamaan tapi Jazelyn memakai kacamata hitamnya sangat cocok dengan style coklat muda pada pakainnya.
sedangkan Aleandra terpaksa memakai celana sobek di lutut juga kaos dibaluti jaket kulit berwarna hitam tak lupa masker yang menutupi mulutnya tapi rambut Aleandra tertata rapi tak seperti Caecilia.
"karena semuanya sudah berkumpul, sekarang Rexana apa yang mau kamu sampaikan" tanya Jazelyn saat mereka bertujuh berkumpul dipojok perpustakaan sambil berpura-pura mengambil buku untuk dibaca agar tak dicurigai.
akhirnya gadis paling ceria diantara tujuh kembaran itu menceritakan tentang mimpinya.
"sudah kuduga pasti hal yang buruk akan terjadi" ujar Helena dengan nada datar.
"mitos yang terjadi memang menjadi malapetaka tapi apakah tujuh kembaran mitos?" tanya Aleandra pada mereka semua dengan wajah serius.
"aku pernah melihat dirumah sakit seorang wanita melahirkan 7 anak kembar tapi hanya dua bayi yang selamat bahkan ibunya juga meregang nyawa" ujar Jazelyn memberikan informasi yang mungkin bisa membantu hal ini.
"jadi apa kaitannya mimpi Rexana dengan kita semua?" tanya Quella polos membuat Caecilia kesal.
"dasar bodoh, kebakaran itu adalah malapetakanya Quella" ujar Caecilia mengejutkan semua kembarannya karena mereka tak berpikir seperti itu, mereka tak menyangkut-pautkan kebakaran dengan buku kuno tapi ya g dibilang Caecilia mungkin saja benar.
"mengapa kau berpikir seperti itu?" tanya Aleandra penasaran menatap serius ke wajah Caecilia.
"entahlah cuman kesimpulan ku ya seperti itu" ujar Caecilia dengan santai.
"sebaiknya kita kembali ke kehidupan masing-masing" ujar Valerie membuat keputusan.
"memangnya pembunuhan itu sudah terpecahkan?" tanya Helena dengan datar.
"sudah tinggal dilaporkan pada polisi yang tak kotor saja" tentu saja ucapan itu dimengerti oleh semuanya.
"ayolah jika kembali normal bukankah terlalu cepat" ucapan santai itu datang dari Caecilia yang sangat menikmati permainan bertukar kehidupan ini.
"terserah pada kalian, aku dan Helena akan kembali ke tempat masing-masing, bukankah kau juga seperti itu hel?" tanya Valerie cuek pada gadis datar itu.
Helena sebenarnya masih mau menjalani kehidupan Valerie tapi ia tak mau memaksa jadi gadis itu hanya mengangguk pasrah.
tak lama Valerie keluar perpustakaan pertama dan langsung pulang kerumah neneknya disusul oleh Helena yang pulang kerumahnya.
di perpustakaan mereka sedang bingung harus melakukan apa.
"cae, Jaz, misiku sudah selesai ternyata tak ada lukisan palsu hanya pengunjung dengan kata palsu yang datang ke museum itu, aku juga mau kembali ke kehidupan normal ku" ujar Aleandra dengan serius.
"ha baiklah" ucap Jazelyn pasrah
"kalian sangat percaya pada mimpi" ujar gadis barbar itu beranjak pergi dari sana.
nb
"yah Quella gak bebas lagi dong" ujar gadis polos itu dengan lesu.
"tak apa Quella nanti kita bermain bersama ya jika ada waktu luang" bujuk Rexana lembut, ia merasa bersalah karena menceritakan mimpinya.
"kalau begitu aku kembali ya, jaga diri kalian baik-baik" ujar Aleandra sopan berlalu pergi keluar perpustakaan.
Jazelyn pun dengan wajah sedih mengajak Quella dan Rexana keluar dari perpustakaan itu dan saling berpamitan kembali ke tempat masing-masing.
sebenarnya Valerie memiliki firasat buruk makanya ia memutuskan untuk kembali ke kehidupannya, ia tak menduga semua kembaran kembali ke kehidupan masing-masing terlihat dari pesan yang dikirim Rexana ke grup chat berisi "maaf karena mimpiku memperburuknya" begitulah pesan Rexana semua membalasnya dengan baik seperti mengatakan ini bukan kesalahan Rexana bahkan Caecilia yang barbar dan Helena yang dingin membalas pesan itu dengan sopan bahwa ini bukan kesalahan gadis itu.
hanya satu yang tak muncul di grup chat yaitu Valerie yang hanya membaca pesan dari kembarannya itu dengan firasat buruk tak menentu.