Apa yang Kauinginkan?

1180 Words
Dua menit setelah Diaz meninggalkan ruang rawat, seorang lelaki masuk dengan gerakan pelan. Hanya dengan satu lirikan saja, Zilka tahu siapa orang tersebut. Aura mengintimidasi dari lelaki itu terasa kuat dan mendominasi. Membuat Zilka tanpa sadar menahan napas untuk sejenak. Lelaki itu berdiri beberapa saat, menatap sosok Zilka yang mengenaskan. Zilka merasa sangat rentan dan lemah saat pandangan lelaki itu menyapunya secara sekilas. Dia tahu saat ini pasti penampilannya tak bisa dikatakan baik. Jauh dari baik, malah. Dia tak ada bedanya dengan kain lusuh. Suara kursi terdengar nyaring saat lelaki itu menyeret benda tersebut ke sisi yang ia inginkan. Dia menaikkan pergelangan kaki kanannya ke atas kaki kiri, dan menopangkan tangan ke dagunya dengan gerakan anggun. Hening. Masing-masing dari mereka memilih menjadi pengamat, dan enggan membuka perbincangan lebih jauh. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar dalam ruang enam kali lima meter ini. Detak jam yang lama-lama terasa membosankan. "Bagaimana keadaanmu?" Suara bariton Theodore terdengar dalam dan barat, memecahkan keheningan setelah beberaoa menit yang menegangkan. Hanya dengan mendengar suara saja, sudah berhasil membuat Zilka tersentak untuk sesaat. Rasa nyeri hebat kemudian melanda lengan kirinya. Sial. Luka ini sungguh merepotkan. "Aku sedang tak berminat melakukan basa-basi. Bisakah kau sampaikan maksudmu dan segera pergi?" Zilka menggemeretakkan gigi-giginya, ingin sekali menggilas Theodore dengan membabi buta. Lelaki itu sudah menjadi lelaki yang sangat b******k. Tidak bisakah ia jangan menjadi munafik juga? Di mana integritasnya? Demi Tuhan. Throdore tak perlu berpura-pura prihatin atas keadaan Zilka. Dengan karakter Theodore yang tak jauh berbeda dengan induk iblis, mustahil baginya untuk tersentuh secara emosional atas kejadian apa pun dalam hidup ini. Bahkan, Zilka menebak Theodore pasti bisa tetap tenang meski dunia kiamat saat ini. Untuk apa sekarang ia berpura-pura menanyakan kondisi Zilka. Sungguh sandiwara yang buruk. "Terlepas dari hubungan kita yang tak bisa dikatakan baik—" "Jelas tidak. Kita adalah musuh. Tak akan pernah ada definisi baik untuk hubungan kita. Tak akan pernah ada!" Zilka menatap wajah Theodore yang memiliki ekspresi dingin dan berdecih pelan. Mendengar kata-kata provokator dari Zilka, tak ada orang di dunia ini yang sanggup tetap rendah hati setelah dipukul oleh kritikan secara langsung. Namun, setidaknya tidak begitu dengan Theodore. Lelaki itu masih bersikap seperti biasanya, seolah-olah penolakan Zilka sama sekali tak pernah terjadi. Hebat juga harga dirinya yang tersisa. "Apa pun yang kau katakan, pada dasarnya, aku hanya ingin mengungkapkan rasa terimakasih!" Theodore mengangguk kecil, menatap perban-perban yang membuatnya tak berdaya dan terjebak dengan keterbatasan yang Zilka miliki untuk saat ini. Sudah bukan rahasia lagi melihat emosi kebencian antara Zilka dan Theodore karena apa yang terjadi di masa lalu. Di antara mereka, Zilka telah membentuk dendam tersembunyi meski pada kenyataannya belum pernah menyerang Theodore secara langsung pasca kematian Felipe yang mengenaskan. Emosi yang Zilka miliki hanya sebatas kebencian, tak lebih. Sepertinya ada batas kuat yang tercipta dari mereka agar bisa berdiri di balik batas dan tidak saling menyerang secara langsung. "Aku tulus kali ini, Zilka! Aku berterimakasih karena kau telah menempatkan diri pada situasi yang sangat berbahaya untuk menyelamatkan putraku!" Theodore mengangguk serius, sama sekali tak pernah menyangka akan ada hari di mana ia akhirnya mengungkapkan hal-hal sejauh ini. Sungguh … ini semua di luar nalar. Setelah penghancuran Theodore yang brutal dan tak manusiawi pada Felipe yang mengarah kehancuran Zilka juga, ia sudah dibenci oleh Zilka sejak lama atas fakta tersebut. Theodore tak bermaksud untuk menjernihkan semua fakta yang ada dan membiarkan semuanya dalam keadaan kacau. Dia tahu Zilka tak memiliki kartu truf di tangan sehingga betapa pun bencinya Zilka pada Theodore, ia tak bisa menggertak Theodore langsung. Setidaknya, begitulah persepsi lelaki tersebut pada awalnya. Kini, siapa yang tahu Zilka telah menjadi wanita yang justru menyelamatkan putranya, satu-satunya darah daging yang Theodore miliki. Dari semua orang yang mampu Theodore pikirkan untuk menyelamatkan anaknya, jelas Zilka tak akan pernah masuk dalam bayangannya. "Pergilah! Aku tak membutuhkan omong kosongmu!" Zilka mengusir Theodore dengan kejam. Dia sudah mendengarkan niat Theodore dan entah kenapa rasanya Zilka semakin enggan menghadapinya. Terimakasih? Tulus? Yang benar saja. Sejak kapan seorang Richardson serius dengan ucapannya. Dan sejak kapan juga seorang Richardson memiliki ketulusan murni pada seseorang? Rasanya Zilka ingin muntah dengan drama murahan ini. "Aku serius dengan apa yang aku katakan. Aku berterimakasih atas tindakanmu tadi malam. Aku akan menanggung seluruh biaya perawatan, menanggung pemulihanmu, dan semua hal yang kau butuhkan untuk itu. Aku juga akan menyiapkan kompensasi yang menjanjikan karena ini. Jika kau memiliki permintaan tertentu, kau bisa menyampaikannya secara langsung!" Theodore menawarkan kebaikannya. Dia tak pernah pelit pada orang-orang yang membantunya dalam kesulitan. Bagi Theodore, apa yang telah Zilka lakukan adalah sesuatu yang sudah sewajarnya ia bayar dengan sikap ini. "Mr. Richardson yang terhornat, kau pernah masuk ke dalam hidupku dan menghancurkan segala yang kupunya. Kini, kau datang dan menawarkan apa yang kau punya padaku seolah-olah semua hal di dunia ini mampu dibayar dengan mudah." Suara Zilka terdengar sinis. "Jika kau tidak menerima proposalku, kau bisa mengajukan hal lain yang kauinginkan. Selama ada dalam kemampuanku, aku pasti akan mengabulkannya. Katakan saja!" Kali ini kemurahan Theodore sedang tak main-main. Dia membuka tangannya lebar, mempersilakan orang lain untuk memanfaatkan dirinya sebegitu rupa. Sesuatu yang pastinya jarang terjadi. Sangat jarang. "Pergilah, Theodore! Aku selamanya tidak akan pernah menerima apa pun darimu. Tidak satu dollar pun. Tidak satu sen pun." Zilka menutup matanya, menahan kebencian dalam yang kini terasa menggedor-gedor, ingin memberontak hebat dan merobek-robek wajah angkuh Theodore. "Saat ini kau pasti dalam keadaan labil. Kuberikan waktu untuk berpikir. Setelah kau stabil, kau bisa membicarakan apa pun yang kau inginkan padaku atau pengacaraku! Percayalah! Aku sanggup membayar jasamu dengan baik!" "Sialan, kau! Aku bukan pelacurmu! Simpan saja uang yang kau punya pada wanita lain yang bersedia!" Zilka berkomentar dengan sinis. "Tidak. Tentu saja tidak. Aku tak pernah menyewa wanita bermulut tajam sepertimu sebagai p*****r pribadiku!" Theodore menjawabnya dengan nada tajam serupa. "Jika begitu, simpan tenagamu dan tak perlu repot-repot membayarku!" "Karaktermu terlalu arogan. Meski begitu, saat ini keadaanmu pasti kurang baik. Emosimu naik turun dengan cepat. Kau butuh waktu khusus untuk memikirkan tawaranku. Bagaimanapun juga, kau adalah penyelamat putraku! Pikirkan semua ini dengan baik, jika kau enggan, aku bisa mengirim pengacaraku untuk membahas permintaanmu nanti!" Theodore berdiri dengan cekatan, kemudian berbalik pergi meninggalkan Zilka dengan emosi kacau. Dengan sudut matanya, Zilka menatap punggung lebar dan bahu kuat yang kini menjauh pergi. Ruangan kembali normal tanpa aura mematikan saat lelaki tersebut hilang dari pandangan, tak lagi mengintimidasi Zilka. Uang. Material. Kekayaan. Itulah hal-hal yang selalu melekat dalam identitas Theodore. Itu juga yang akan ia transaksikan pada orang lain. Hidup Theodore selalu seputar itu. Bahkan, alih-alih dia menghargai apa pun dengan tulus, ia justru memasang harga atas semuanya. Bilang saja apa yang Zilka inginkan dan Theodore akan kabulkan. Itulah hadiah dari misi suci penyelamatan Zilka pada putra sang taipan kaya. Rasanya, semakin Zilka memahami fakta ini lebih dalam, semakin ia ingin mencekik Theodore dengan tangan kosong dan mengirimnya pada kematian yang sangat sulit. Cara Theodore memperlakukan orang lain sangat tercela. Benar-benar tak tahu malu. Zilka mengerutkan bibirnya, mulai mengutuk lelaki kejam seperti Theodore yang entah kenapa masih saja diberi kehidupan oleh Tuhan. Orang-orang seperti itu seharusnya digiling oleh jaman dan direduksi menjadi ribuan bagian. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD