Zilka menatap langit-langit kamar rawat rumah sakit dengan pandangan nyalang. Dia memejamkan matanya selama beberapa detik, kemudian membukanya lagi dengan lemah. Sinar matanya kian redup, bercampur dengan perasaan tak berdaya yang sangat kuat.
Saat ia berpikir hidupnya berakhir tadi malam, tampaknya pikiran itu hanya sekadar miliknya saja. Faktanya, alih-alih menemui jiwa putra dan mendiang suaminya yang telah tiada, Zilka berakhir di rumah sakit terdekat dan menjalani perawatan insentif.
Lengan kirinya mengalami patah tulang tertutup, tulang rusuk cedera, dan kaki kirinya juga mengalami patah tulang lumayan parah sehingga dilakukan tindakan operasi dan pemasangan pen. Luka-luka lain seperti lebam, gesekan aspal, dan retak kuku juga melengkapi penderitaan Zilka. Pagi ini, seluruh tubuhnya nyeri. Semua sendinya berteriak mendemonstrasikan rasa sakit. Satu gerakan saja, membuat Zilka meringis pilu. Dia harus ekstra hati-hati. Sangat hati-hati. Saat ia melirik lengannya yang diinfus, desah lirih keluar dari bibirnya. Ia sangat benci jarum. Terutama jarum infus yang dipaksa masuk ke nadinya.
Zilka termenung lama, memikirkan beberapa hal. Dia tak pernah menyangka makan malam yang ia lakukan akan berakhir seperti ini. Siapa yang bisa menebak hal-hal buruk akan terjadi?
Saat Zilka masih sibuk dengam pikirannya, tiba-tiba ruang rawat terbuka perlahan. Zilka menoleh secepat kilat, tetapi kemudian nyeri tajam ia rasakan di tulang rusuknya. Ah. Sial. Tubuh ini semakin ringkih saja. Zilka meringis kecil.
"Zilka? Oh,Ya Tuhan!" Wajah yang sangat familier masuk ke dalam garis pandang Zilka. Dengan raut terkejut, Zilka menatap Diaz yang kini menunjukkan penampilan kacau. Bagaimana mungkin ada Diaz saat ini?
"Kau … bagaimana bisa … ada di sini?" Zilka menaikkan salah satu alisnya dengan keheranan. Suaranya tampak serak.
"Tentu saja ada di sini. Apa kecelakaan bisa membuatmu jadi bodoh? Kau pikir, ke mana lagi aku harus pergi?" Komentar tajam Diaz tak sesuai dengan raut khawatirnya. Dia segera menyeret kursi yang berada di ujung ruangan ke sisi ranjang dan duduk mengamati Zilka dengan raut muka khawatir.
Dalam ingatan terakhir Zilka, Diaz tak ada di tempat kejadian perkara saat kecelakaan itu terjadi. Jadi bagaimana bisa Diaz ada di sini sekarang? Zilka juga tak memasukkan nomor ponsel lelaki itu dalam kontak informasi darurat. Mustahil rumah sakit ini menghubunginya, bukan?
"Aku sedang sibuk mengambil mobil di tempat parkir restoran saat kejadian itu. Ketika keluar menuju jalan raya, aku melihat kerumunan orang banyak. Siapa yang mengira kerumunan itu berpusat padamu. Kau tergeletak di pinggir pembatas jalan, wajahmu mengalami banyak luka gores, dan … ah. Pemandangan yang sangat tak menyenangkan."
"Jadi … kau mengikutiku ke rumah sakit?" tanya Zilka, nada suaranya lemah. Sepertinya sedikit saja ia mengeluarkan tenaga, dibutuhkan tenaga dua kali lebih besar daripada biasanya.
"Tentu saja. Apa lagi yang kau harapkan?"
"Rory …."
"Dia kuminta pulang dulu dengan taxi. Apakah kau merasa sangat buruk? Aku sebenarnya ingin menjengukmu semalam setelah dokter mengambil tindakan pertama padamu, tetapi katanya kau lebih baik dibiarkan sendiri. Kondisimu masih kurang stabil. Jadi aku baru bisa melihatmu sekarang! Selain itu, efek obat juga membuatmu mengantuk malam tadi katanya."
Diaz mengamati keadaan Zilka yang mengenaskan. Meskipun dokter sudah memastikan luka Zilka hanya sejauh patah tulang dan tak mengalami luka internal yang serius, tetap saja membuat Diaz merasa empati. Penampilan Zilka saat ini sangat tak menyenangkan untuk dilihat. Kakinya terbalut perban dari ujung jari hingga paha, lengan kirinya juga tak jauh berbeda. Wajahnya bengkak di beberapa sisi, efek bergesekan dengan aspal. Rusuknya cedera sehingga harus mengenakan korset khusus. Untuk beberapa waktu ke depan, dokter sudah mengintruksikan kakinya perlu alat bantu hingga tulangnya normal kembali dan mampu menahan beban tubuh.
Selain itu, ada goresan memanjang di sisi wajah sebelah kiri Zilka yang membuat Diaz semakin simpati. Dokter berkata luka-luka di wajahnya hanya luka luar dan tidak menembus lapisan kulit dalam sehingga perlahan akan membaik dengan beberapa obat, tetapi itu tetap saja membuat Diaz meratap sedih.
Zilka sudah melampaui posisi sebagai teman. Dalam hati, Diaz sudah menganggap Zilka bagian dari dirinya. Tak ubahnya adik kandung. Tak ubahnya keluarga. Kini, wanita itu terbaring lemah tak berdaya dengan perban, layaknya makhluk setengah mumi. Apalagi yang bisa Diaz rasakan selain kepedihan dan rasa sakit?
"Apa … penampilanku seburuk itu?" Zilka melihat mimik tertekan di wajah sahabatnya dan mulai menebak alasannya. Pasti saat ini ia tampak buruk. "Sejelek apa pun penampilanku saat ini, yah … setidaknya … aku selamat. Di detik-detik terakhir kecelakaan, Kupikir aku akan bangun di alam lain dan tak lagi menatap dunia ini."
Zilka tersenyum miris. Kecelakaan itu memiliki dua efek yang berbeda. Ada syok dan rasa takut, terapi juga ada harapan tersembunyi. Harapan terlarang. Saat harapan tipis itu datang, membuka kesempatan bersama lagi dengan sosok-sosok yang ia cinta, garis takdir membuatnya menelan kenyataan lain. Kesempatan itu tertutup rapat, masih tak mengijinkan Zilka memasuki dimensi lain. Kini, Zilka dibiarkan kembali ke dunia yang ia kenal, dunia yang kini terasa monoton dan menyesakkan.
Diaz melihat fluktuasi batin yang terjadi di hati Zilka, kemudian bertanya lembut.
"Apakah semua ini pantas?" tanya Diaz, menatap netra Zilka yang kini hampir tak memiliki sinar semangat lagi.
"Pantas?" Zilka mengulangi pertanyaan Diaz. Ada nada kebingungan dari suaranya.
"Kau menyelamatkan putra Theodore sampai sebegitu rupa." Diaz menunduk dalam, menatap lantai dengan ekspresi yang sulit terbaca.
Dari semua anak di dunia ini, kenapa harus anak Theodore yang bersimpangan dengan hidup Zilka. Apa dunia sedang membuat lelucon kejam?
Untuk waktu yang lama, Zilka memilih diam. Dia memejamkan mata, luar biasa lelah. Pertanyaan Diaz adalah pertanyaan yang enggan ia jawab.
Theodore bukanlah orang yang ingin ia berikan manfaat. Itu bukanlah rahasia lagi. Namun, pada kenyataannya, putra Theodore bukanlah sosok yang bisa dibenci Zilka begitu saja karena dosa yang telah Theodore lakukan dalam hidup Zilka. Terutama saat Zilka melihat anak itu dalam bahaya, respon naluriahnya untuk menyelematkan lebih besar dari kebencian Zilka pada Theodore. Jiwa kemanusiaan Zilka setidaknya masih terjaga hingga detik ini.
"Kau tahu aku menyelamatkan putra Theodore?" Bukan jawaban yang Zilka berikan, justru pertanyaan lain.
"Kecelakaan itu sudah diketahui secara publik. Bagaimana bisa aku tak tahu kronologis kejadian dan penyebab utama masalah?" Diaz menghela napas panjang, menggeleng lemah. "Selain itu, dia menunggumu dari tadi malam. Bagaimana bisa kaupikir aku masih tak bisa menghubungakn semua kejadian dengan baik?"
"Dia?" Kernyitan di dahi Zilka semakin dalam. Dia tak mampu menangkap fakta yang baru saja disampaikan Zilka dengan serius.
"Theodore."
Zilka mengedipkan matanya, semakin linglung.
"Tadi malam, Neil, putra Theodore, berada di depan restoran sementara Theodore mengambil mobil di area parkir. Neil sedikit rewel sehingga ia ditenangkan oleh Mia, adik Theodore."
"Mia?"
"Iya. Adik Theodore. Setidaknya, itulah nama yabg aku dengar dari pengakuannya. Wanita itu adalah wanita yang bersama dengan Theodore tandi malam! Dia adiknya. Aku baru tahu kenyataan ini."
"Oh Tuhan!"
"Jadi, saat mereka sedang berada di depan restoran, Mia mendapat panggilan yang … emh … bisa dikatakan serius sehingga ia melupakan keberadaan Neil dan membiarkan anak itu berkeliaran di jalan. Kejadian selanjutnya bisa kautebak sendiri. Setelah kecelakaan itu terjadi, Theodore dan aku tiba hampir bersamaan di tempat kejadian. Jadi … emh … yah … emh!" Diaz menatap langit-langit ruangan, merasa sulit untuk melanjutkan kalimatnya.
"Jadi?" Zilka tak sabar ingin tahu.
"Mia membawa putra Theodore pulang. Tetapi Theodore. Emh … dia mengikutimu ke rumah sakit dan menunggumu dari tadi malam. Sekarang dia ada di luar ruangan ini!"
"Apa?" Zilka tersentak, membuat lengan kirinya tertarik secara otomatis. Rasa sakit menyerangnya secara tiba-tiba, membuat Zilka menyadari keadaannya yang mengenaskan. Zilka lupa dirinya menjadi setengah mumi sekarang.
"Mungkin dia masih memiliki sisa nurani. Dia menunggu semua proses penangananmu dari tadi malam. Dan … dia … uhm … ingin berbincang denganmu setelah ini. Jika kau baik-baik saja … mungkin—"
"Tidak! Usir dia!" sahut Zilka tegas.
"Tidak mudah untuk mengusir Theodore. Dia sendiri investor utama rumah sakit ini." Bagaimana caranya mengusir "tamu kehormatan" ini secara langsung? Diaz sendiri sudah berusaha mencoba, dan hasilnya, gagal.
"Pindahkan aku ke rumah sakit lain!" Zilka menyuarakan protesnya.
"Zilka! Bisakah kau bersikap masuk akal? Setidaknya, tunggu hingga keadaanmu lebih stabil untuk pindah."
"Kalau begitu, usir lelaki tak bermoral itu!"
Diaz meradang dalam hati. Ia telah berdebat dengan Theodore lama tadi malam, dan lelaki itu bagaikan kutub es yang tak tergoyahkan. Andai mengusir Theodore semudah itu, sudah pasti Diaz lakukan jauh sebelum ini.
"Dia bukan orang yang bisa kuusir begitu saja. Meski aku memiliki kekuatan, tetapi aku tak bisa dibandingkan dengan Theodore, Zilka. Dia hanya ingin bertemu sebentar denganmu. Kurasa dia pasti akan memberikan semacam rasa terimakasihnya!"
"Dia bukan makhluk yang bisa memiliki rasa terimakasih pada orang lain!"
"Begini … daripada dia terus merecoki kita, lebih baik biarkan dia bertemu denganmu sebentar dan usir dia secara langsung. Bagaimana dengan itu? Aku yakin dia hanya akan menyemburkan omong kosong saja! Jika kau tetap menolak, dia hanya akan terus mengganggu lebih banyak!"
Zilka menggemeretakkan gigi, kemudian bersumpah serapah pelan sebelum akhirnya mengangguk lemah. "Biarkan dia datang dan aku akan mengusirnya!"
"Ide yang bagus!"
…