Kejadian Tak Diharapkan

1328 Words
Mungkin ini adalah naluri seorang wanita. Mungkin ini adalah sisa kemanusiaan yang masih tersisa di hati Zilka. Atau mungkin, ini hanya tindakan spontan yang ia lakukan dari reaksi kilat atas informasi yang ditaransfer otaknya. Dengan cepat, Zilka setengah berlari ke arah japan raya, mendorong orang yang menghalangi. Kakinya bergerak secara otomatis, jantungnya mulai berdegup kencang. Di mata Zilka, anak itu tampak murni dan hanya membawa nilai dirinya sendiri. Latar belakangnya sebagai putra Theodore dan bagian dari Theodore seolah tak lagi penting. "Stop! Stop! Stop!" Zilka berjalan semakin ke tengah jalan raya, membuat kendaraan berhenti dan menciptakan celah bagi dirinya sendiri serta anak asing yang kini masih saja tertawa lembut, merasa nyaman oleh apa yang tengah anak itu lakukan. Seolah-olah jiwa kecilnya tak menyadari betapa ia berada dalam suasana yang berbahaya. Klakson mulai terdengar bersahut-sahutan. Gerutuan mulai terdengar di mana-mana. Adanya anak kecil yang berjalan sembarangan dan seorang wanita muda yang mengejarnya berhasil menarik kekesalan banyak orang. "Tidak bisakah kau mengurus anakmu dengan baik?" "Apakah kau tahu yang anakmu lakukan itu berbahaya, Miss?" "Perhatikanlah lebih baik putramu!" Teguran demi teguran telah Zilka dapatkan. Beberapa pengemudi mobil sengaja melongokkan kepalanya keluar, hanya untuk memberikan kritik. Rata-rata, mereka berspekulasi anak laki-laki nakal itu adalah milik Zilka. Menyadari kesalahpahaman ini, Zilka tak memiliki waktu untuk mengonfirmasi. Dia hanya meringis kecil dan mengangguk pada semua orang yang kesal. Jarak Zilka dan anak itu semakin dekat. Dengan gerakan cepat, Zilka meraih lengan kecil, menariknya kuat, dan menggendong sosok bocah dalam rengkuhannya. Sial. Zilka sebenarnya tak terlalu suka aksi heroik yang dilakukannya. Dia pasti tampak bodoh mengambil tindakan pada anak yang terkait dengan Theodore. Namun, di relung hati Zilka yang terdalam, semenjak ia kehilangan bayinya dalam kecelakaan mobil setahun lalu, ia dipenuhi kepedihan mendalam dan ketidakberdayaan. Anak adalah sesuatu yang sangat murni. Anak adalah titipan Tuhan yang paling rapuh dan paling berhak atas perlindungan. Tak peduli latar belakang, tak peduli status yang mereka bawa, tak peduli identitas yang orang tuanya miliki. Sebagai seorang ibu yang pernah kehilangan anak, sudut hatinya yang rapuh memberontak hebat setiap kali ia melihat situasi yang sama terulang. Seolah-olah alam bawah sadarnya mendorong Zilka agar kejadian serupa tak terulang kembali. Selama ia memiliki kekuatan, selama ia memiliki kemampuan, ia jelas tak akan berdiam diri melihat anak sekecil itu ada dalam situasi berbahaya. Tidak. Nuraninya tak mengijinkannya. "Apakah kau tahu berjalan di tengah-tengah jalan raya itu sangat berbahaya?" Zilka menatap anak dalam gendongannya, merasa kesal atas kecerobohan anak ini. Anak itu tak membalas kata-kata Zilka. Dia memgerutkan kening, merasa tak nyaman berada dalam gendongan orang asing. Tubuh kecilnya bergerak, mencoba memberontak. Tangan-tangan mungilnya memukul d**a Zilka. "Diamlah! Bersikaplah baik, oke? Kau sudah membawa banyak keributan!" Zilka menenangkan anak itu, menepuk-nepuk kepalanya keibuan. "Neil! Oh Nei! Apa kau baik-baik saja?" Wanita yang tadi sibuk menghubungi seseorang, kini tampak was-was menatap pada mereka berdua yang masih berada di tengah jalan. Zilka masih sibuk mencari celah untuk berbalik kembali dengan melambaikan tangan kanannya agar beberapa kendaraan yang lewat berhenti dan memberikan jalan untuk mereka. "Neil. Ya Tuhan!" Wanita itu tampak khawatir, menatap Zilka dan anak itu bergantian. Bagus. Dia sekarang menunjukkan kekhawatiran. Lantas, di mana saja ia sebelumnya saat anak kecil itu sibuk berlarian ke jalan? Hebat. Wanita itu sungguh tak memiliki integritas untuk menjaga anak sama sekali. Kesibukannya pada diri sendiri jauh lebih penting daripada mengawasi anak kecil yang tak berdosa. Zilka tersenyum kecut, memiliki niat untuk mengutuk wanita itu habis-habisan. Jika perlu, delapan generasi sekaligus. Baru saja Zilka bermaksud membuka mulutnya untuk mengrkritik tajam, anak yang ada dalam pangkuannya memberontak hebat. Anak ini agaknya tak suka disentuh wanita asing. Dia berteriak-teriak keras, memukulkan tangan untuk membebaskan diri. Karena gerakan anak ini yang kain tak terkendali, gendongan tangan Zilka jadi renggang, sehingga memberikan anak itu kesempatan untuk turun. Kejadian ini rasanya terjadi dalam hitungan detik. Zilka hampir tak bisa menahan semuanya. Ketika anak itu berhasil turun dan menapakkan kakinya ke aspal, ia segera mundur, menjauh dari Zilka. Gurunya selalu mengatakan agar ia berhati-hati dan waspada dengan orang asing. Tidak bagus membiarkan orang asing yang tidak dikenal membawanya begitu saja. Dengan pemikiran polos, anak itu semakin menjauh saat Zilka berusaha meraih tangan mungilnya. Dia justru berlari cepat berbalik arah, mencoba menghindari Zilka. Di mata anak kecil itu, sosok Zilka justru dianggap sebagai ancaman. Tapi, alih-alih berlari ke sisi jalan, anak tersebut justru berlari ke tengah lagi, mengacaukan lalu lintas jalanan untuk kedua kalinya. "Neil!" Wanita yang seharusnya menjaga anak itu semakin tampak khawatir. Dia mengejar anak yang ia panggil Neil dengan gerakan terburu-buru. Melihat situasi yang mulai di luar kendali, Zilka juga mengejar ulang Neil dengan suasana hati yang kian memburuk. Tidak bisakah semuanya berjalan normal? Kenapa anak ceroboh itu justru melarikan diri dan berlarian ke segala arah di jalanan? Ya Tuhan. Tempat ini bukan tempat yang bagus untuk melakukan permainan anak-anak. Tiiiin! Tiiiin! Suara klaksok yang nyaring tiba-tiba membuyarkan kekesalan Zilka. Dia melihat sebuah SUV hitam nyaris menabrak anak itu, tetapi dalam detik-detik terakhir Neil menghindar dan berlari ke arah selatan. Hati Zilka yang mencelos rasanya dipermainkan oleh adegan ini. Dia memegang dadanya sendiri, berusaha menenangkan diri. Namun, belum hilang ketakutannya, hal yang sangat besar telah terjadi. Ada sebuah mobil merah dari jalur lain berjalan dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Neil-atau siapa pun nama anak itu-dengan bodohnya berlari ke arah mobil. Hati Zilka rasanya dicengkeram dengan beban ribuan kilo. Adegan di mana ia mengalami kecelakaan setahun yang lalu kembali berputar di kepalanya. Bayangan bayi mungilnya yang tanpa nyawa kembali menggedor hatinya dengan kejam. Ingatan akan tubuh kecil Reagan yang dingin di peti mati membuat tulang-tulangnya terasa dilolosi. Dengan cepat, Zilka berlari kesetanan ke arah Neil. Zilka seolah berkejaran dengan waktu. Satu nano detik rasanya mampu mengubah segalanya. Gerakan sekecil apa pun yang ia lakukan rasanya mampu membalikkan keadaan yang kini terasa di ujung tanduk. Degup jantung Zilka berdentam tak beraturan, menggedor-gedor tulang rusuknya secara menyakitkan. Ya Tuhan. Jangan biarkan ia menyaksikan kecelakaan anak kecil tanpa dosa lagi. Siapa pun Neil, Zilka tak mampu menanggung rasa sakit yang sama ketika melihat anak tak berdosa jatuh dalam genangan darah dan terenggut nyawanya begitu saja. Jiwa keibuannya yang dulu pernah terpupuk dalam, kini hadir dengan cara menggila. Menjadi kekuatan terakhirnya untuk bergerak di luar kemampuan. Mobil merah itu semakin mendekat. Tak ada tanda-tanda berhenti. Jarak antara Zilka dan Neil kini hanya dua meter. Saat kecepatan mobil itu terasa menakutkan, Zilka dengan gila mencoba meraih anak itu. Namun, takdir tak mengijinkan. Suara decitan rem yang terlambat tak lagi mampu menghentikan apa yang terjadi. Mungkin pengemudi itu akhirnya sadar ada yang tidak beres. Mungkin pengemudi itu akhirnya menerima fakta jika ia akan menabrak bocah mungil tal berdosa. Apa pun itu, ia mencoba menghentikan mobil pada detik-detik yang menegangkan, tetapi tampaknya sudah terlambat. Perlahan, bagian depan mobil mendekat ke arah Neil, siap menghancurkan fisik rapuh anak itu. Semua orang membeku. Bahkan, para pengemudi lain yang melihat peristiwa ini tak bisa berbuat apa-apa untuk menghentikan apa yang akan terjadi. Mereka seperti terjebak dalam adegan slow motion yang sangat menegangkan. Namun, kejadian lain justru terjadi. Pada detik-detik terakhir yang menentukan, Zilka mendorong anak itu ke arah trotoar dengan tenaganya yang tersisa, dan memejamkan mata saat ia sendiri tak bisa menghindari hal buruk yang akan terjadi atas tindakan spontannya. Anak itu aman. Tetapi tidak dengan Zilka. Ujung mobil merah menghantamnya dengan kekuatan besar, membuat Zilka tersentak seperti kain rapuh yang dikendalikan, dan berguling mengenaskan di aspal. Tubuh ringkih itu berguling terus seperti pegas yang kehilangan kendali, kemudian berhenti saat bagian punggungnya menabrak pembatas jalan. Rasa sakit luar biasa menghantam Zilka dalam kesadarannya yang terakhir. Sebelum ia akhirnya memejamkan mata dalam keburaman, sebuah pikiran kecil melintas di hati Zilka. Mungkinkah ini adalah waktunya ia berkumpul bersama dengan suami dan putranya? Senyum kecil tersungging di wajah yang baru saja bergesekan dengan aspal. Tidak apa-apa. Sakit yang Zilka rasakan sepadan. Jika ini adalah jalan baginya untuk bertemu lagi bersama keluarganya, ia tak keberatan. Sama sekali tak keberatan. Semua rasa sakit di dunia ini, sepadan untuk dijadikan penebusan bagi kebersamaannya kembali dengan orang-orang yang ia cintai. … 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD