"Apa perlu kita pindah meja? Aku akan meminta pelayan mencarikan meja lain untuk kita!" Diaz berkata dengan khawatir, menyadari Zilka baru saja berpapasan dengan Theodore.
Siapa yang mengira malam ini akan menjadi "reuni tidak langsung" Zilka dengan lelaki yang sangat ia benci. Jika Diaz tahu akan begini jadinya, ia tak akan memilih meja ini. Siapa yang tahu takdir buruk sedang terjadi saat ini.
"Tidak. Tidak perlu. Aku baik-baik saja!" Zilka tersenyum kecil, mencoba menenangkan Diaz yang kini menatap Zilka dengan kecemasan melalui dua matanya yang berwarna biru muda seperti langit musim semi.
"Kau yakin?"
Diaz tahu dengan jelas siapa identitas Theodore bagi Zilka. Pasti tak menyenangkan bagi wanita itu untuk berpapasan secara langsung. Lelaki itu sudah mengamati interaksi mereka berdua yang tampaknya tak bisa dibilang baik.
"Yakin." Berlari menghindar dari Theodore dan mencari meja lain hanya menunjukkan kelemahan diri. Theodore pasti akan tertawa oleh sikap pengecut yang dilakukan Zilka. Jelas Zilka tak bersedia melakukan langkah ini.
"Apakah kau masih tetap tidak akan memperkenalkanku dengan tunanganmu?" Zilka mengalihkan topik pembicaraan, menatap wanita mungil di sisi Diaz dengan rambut merah menantang seperti milik Zilka. Wanita itu menatap Zilka dan Diaz bergantian, menebak-nebak topik yang sedang mereka bicarakan.
"Oh. Aku hampir lupa. Zilka, ini tunanganku, Rory Fieston. Rory, ini Zilka Craigh, teman baik yang selama ini aku ceritakan padamu!" Diaz segera mengendalikan situasi, mencoba menormalkan suasana yang sempat tegang.
"Kau bisa memanggilku Zilka!" Senyum Zilka terkembang dengan sempurna, menatap wanita mungil yang kini masih menunjukkan ekspresi bingung.
"Terimakasih, Zilka. Kau bisa manggilku Rory. Emh … apakah semuanya baik-baik saja? Lelaki yang baru saja kau temui tadi … apakah mengganggu atau semacamnya?" Wajah ekspresif Rory menunjukkan simpati yang tulus. Dia jelas merasakan situasi yang tidak bersahabat untuk sesaat.
"Tidak. Tidak apa-apa. Semuanya baik-baik saja!" Zilka tersenyum, merasa hangat oleh perhatian dan ketulusan yang Rory tunjukkan. Diaz benar. Wanita ini adalah wanita baik yang sensitif dan mampu merasakan simpati besar.
"Kau yakin?" Rory ingin memastikan.
"Yakin. Semuanya baik-baik saja!" sinar mata Zilka penuh dengan persahabatan. Sekacau apa pun emosi Zilka saat ini, ia bersumpah tak akan menghancurkan makan malamnya bersama tunangan Diaz yang menawan. Theodore tak pantas menghancurkan momen Zilka. Lelaki itu sudah terlalu jauh memberi efek buruk pada Zilka dan Zilka tak ingin memperbesar nilai lelaki itu dalam hidupnya dengan memperbesar akibat negatif yang ia terima.
"Baguslah." Rory mengulum senyum. Tak berapa lama kemudian, pramusaji membawakan buku menu pada mereka. Zilka memesan menu secara acak. Selera makannya telah hilang semenjak ia bertemu dengan Theodore. Andai ia tak teringat akan sopan santun dasar yang seharusnya diberikan pada Rory, Zilka pasti akan menolak untuk makan apa pun malam ini.
"Zilka. Diaz telah banyak menceritakan profilmu padaku. Aku senang akhirnya kita mampu bertemu!" Rory menatap Zilka secara seksama, diam-diam mengagumi wanita itu yang tampil amat menawan.
"Oh. Kuharap Diaz menceritakan hal-hal baik tentangku. Ngomong-ngomong, tunanganmu juga sering membicarakanmu padaku! Setiap kali dia menghubungiku, hal yang selalu ia pamerkan adalah dirimu yang amat sangat luar biasa. Sepertinya kali ini Diaz tidak membual!" Zilka terkekeh kecil, menatap wajah lembut Rory yang mempesona. Mata Rory sungguh ekspresif. Rory menuangkan semua emosi melalui tatapannya sehingga Zilka mampu menangkap kehangatan dan niat pertemanan darinya dengan mudah.
Melihat ketulusan nyata dari Rory, suasana hati Zilka jadi membaik secara bertahap. Dia berhasil menyingkirkan masalah pertemuan buruknya dengan Theodore.
"Ah. Diaz memang lelaki penggosip. Bukankah begitu?" Rory tertawa kecil, memukul pelan bahu Diaz di sisinya secara main-main.
"Aku tidak menggosip. Aku hanya menyampaikan kebenaran!" Diaz mencoba melindungi diri dengan baik.
"Diaz memang selalu bermulut besar! Rory, kudengar kau seorang desainer. Sungguh prestasi yang luar biasa!" Zilka teringat akan latar belakang Rory yang sudah disampaikan Diaz ratusan kali.
"Karirku masih merangkak. Jangan terlalu dengarkan mulut besar Diaz. Terkadang dia sering memuji dengan sangat berlebihan." Rory mengedipkan salah satu alisnya, seolah-olah memberikan isyarat sendiri untuk mereka semua akan bakat membual Diaz.
Percakapan ringan ini terus berlanjut, membuat simpul-simpul ketegangan yang dirasakam Zilka mengendur secara perlahan. Kini ia mulai santai. Obrolan yang terbentuk sebagian besar dipancing dari pihak Rory. Zilka hanya meneruskan topik dan sesekali berinisiatif mengangkat topik lain.
Selain tragedi tak sengaja yang terjadi di awal kedatangan Zilka, semuanya baik-baik saja. Tak ada kejadian buruk apa pun. Baik dari makanan, suasana hati, maupun hal-hal lainnya.
Satu jam berlalu tanpa terasa. Karena Diaz termasuk salah seorang yang memiliki kartu keanggotaan restoran ekslusif, dia bebas menghabiskan banyak waktu di meja miliknya tanpa batas waktu dan ditawari beberapa menu istimewa terbatas yang tidak dihidangkan secara masal. Selain itu, kartu anggota juga mampu memberikan potongan hingga dua puluh persen . Pelayanan ini cukup menyenangkan juga. Setidaknya, secara teorirtis.
"Zilka. Kau sungguh wanita yang sangat menyenangkan. Kuharap kita akan sering bertemu lagi seperti ini. Diaz sungguh beruntung memiliki teman sepertimu!" Rory menatap Zilka dengan serius, meraih tangan wanita itu dan mengusapnya lembut.
"Kau juga wanita yang menyenangkan, Rory. Aku sangat bahagia bertemu denganmu!" Zilka menunjukkan ketulusan serupa. "Aku memiliki kafe sederhana. Yah. Sangat jauh berbeda dengan restoran ini pastinya!" Zilka melirik interior restoran ini yang berkelas, dan mulai skeptis. "tapi jika kau mau, kau bisa mengunjungiku sewaktu-waktu!"
"Hei! Jangan terlalu pesimis pada dirimu sendiri. Bagaimanapun juga, kafe itu adalah buah hasil dari tanganmu dan kerja kerasmu! Kau wanita yang hebat, Zilka. Aku pasti akan mengunjungi kafemu. Di mana alamatnya?" Rory menanggapinya dengan antusias. Zilka segera menyebutkan alamatnya dan langsung segera dihapalkan Rory dengan cepat. Dari tanggapan Rory, jelas wanita itu bukan jenis wanita manja yang hanya suka kemewahan. Dia mampu menghargai proses dan kerja keras seseorang. Dia juga tak mengkerdilkan nilai orang lain begitu saja.
Diaz sangat beruntung mendapatkan wanita ini. Pantas dia tergila-gila pada Rory habis-habisan. Nilai wanita itu bukan hanya memiliki kecantikan fisik, tetapi juga hati.
"Andai aku tahu kau memiliki kafe, aku lebih suka malam ini kita mengunjungi tempatmu!" Rory mendesah panjang.
"Ya. Dan membiarkan Zilka mengabaikan kita karena dia pasti akan sibuk melayani pelanggan lainnya!" Diaz memprotes tak terima. Makan malam ini, selain sebagai pengenalan antara Zilka dan Rory, juga sebagai suatu hadiah kesenangan bagi Zilka. Setidaknya, Diaz bisa sedikit lega melihat Zilka benar-benar melepaskan diri dari kesibukannya untuk sejenak.
Setelah merasa cukup menghabiskan waktu, mereka bertiga akhirnya mengakhiri makan malam dengan berat hati.
Diaz dan Rory langsung berjalan terpisah dengan Zilka setelah keluar dari restoran. Mereka berdua menuju area parkir, sementata Zilka sibuk mencari taxi. Zilka memutuskan untuk menggunakan transportasi umum daripada menerima tawaran Diaz diantar pulang suka rela. Diaz sudah terlalu baik baginya. Zilka kini enggan menerima banyak bantuan lain lagi yang sebenarnya bisa ia lakukan sendiri tanpa lelaki itu.
Zilka mengamati keadaan sekitar, mencari-cari taxi yang tersedia. Saat dia hampir menemukan taxi, tiba-tiba pandangannya bersirobok dengan sosok yang sangat familier.
Anak lelaki kecil berusia empat tahun dengan kaos biru. Pipi gembil, tangan aktif, dan mata ekspresif. Wajahnya seperti replika kedua Theodore versi kecil. Tak perlu ditanyakan lagi. Itu pasti putranya. Hati Zilka jadi mencelos melihat anak itu. Seolah-olah ingatannya akan Theodore mulai diaduk-aduk kembali.
Saat Zilka ingin menoleh ke sisi lain, dia melihat anak itu berjalan ke arah jalan raya seorang diri. Zilka mengernyitkan kening. Di trotoar, tampak wanita yang tadi menjadi pasangan Theodore tengah sibuk melakukan panggilan telepon dengan seseorang. Wajah wanita itu menggelap dengan cara tak menyenangkan. Sepertinya pembicaraan yang sedang ia lakukan teramat serius sehingga membuatnya melupakan keberadaan anak Theodore yang seharusnya ada dalam pengawasannya. Zilka berasumsi wanita itu memiliki peran sebagai penjaga, mengingat keberadaan Theodore tak bisa ditemukan saat ini.
Zilka mulai merasa tak nyaman. Beberapa orang menunjuk-nunjuk pada anak kecil tersebut yang kini berani berjalan dengan riang ke arah jalan. Lalu lintas padat. Gerakan anak itu sulit dideteksi dan semaunya sendiri.
Zilka menatap anak kecil itu dan wanita pasangan Theodore secara bergantian. Tak ada perubahan sikap dari sang wanita. Dia masih sibuk dengan ponselnya sendiri. Saat ini, entah kenapa Zilka merasa tak nyaman. Sangat tak nayman.
…