Lelaki itu masih tak berbeda jauh dengan satu setengah tahun yang lalu. Mata cokelat gelapnya masih sedingin dan seangkuh dulu. Caranya menatap dunia, seolah-olah sengaja terbiasa merendahkan dan meremehkan yang lain. Rambut hitam bergelombangnya sewarna malam dengan sentuhan yang entah kenapa, terkesan lembut dan mengundang. Tulang wajahnya kokoh, ditopang rahang kuat dan tinggi. Hidungnya mancung dan proporsional.
Dia seperti perwujudan Poseidon. Kuat, tampan, dilengkapi kulit tembaga menawan. Perawakannya kokoh. Setelan mahal yang membalut tubuhnya semakin menonjolkan sosoknya. Tulang bahunya lebar, dan otot di lehernya tampak memamerkan kemaskulinan.
Theodore.
Sebuah nama yang berhasil merasuk ke dalam kesadaran Zilka, menjadi satu-satunya orang yang ia benci dalam kehidupan ini.
Theodore.
Sosok yang kini hadir nyata di depan Zilka, dan menatapnya dengan sombong. Lelaki itu masih menyimpan karakter memuakkan.
Di sisi Theodore, duduk seorang wanita setengah latin dengan rambut hitam kelam sebahu. Mata gelapnya tampak memukau. Wajah wanita ini memiliki kemiripan hampir delapan puluh persen dengan Throdore. Wajah berbentuk hatinya dilengkapi dengan bibir sensual dan bulu mata lentik. Kulit wanita ini berwarna kocekelatan alami, sangat eksotis. Lekuk tubuhnya bisa dikatakan menyerupai gitar spanyol. Gaun merahnya yang menggoda sengaja ditarik ke bawah sehingga berhasil memamerkan sebagian dadanya yang terbuka.
Di tengah-tengah mereka, duduk seorang anak kecil berbaju biru laut berusia sekitar empat tahun. Wajahnya tak berbeda jauh dengan Theodore. Dia adalah versi kecil dari Tuan Iblis tersebut. Bedanya, jika tatapan mata Theodore angkuh, tatapan anak ini dipenuhi rasa ingin tahu. Kedua pipi gembilnya sangat menggemaskan. Rambutnya juga ikal, seperti Theodore. Orang bodoh saja bisa menebak jika anak itu adalah putranya. Tak perlu tes DNA untuk menyatakan hal tersebut. Kemiripan di antara mereka sudah berbicara banyak.
Zilka menyipitkan mata, setengah mati menahan aura kebencian yang ia miliki. Sangat tak bermoral jika ia mulai memgutuk Tuan Besar Theodore Richardson di tempat umum. Hasilnya pasti tak akan baik.
Sementara Zilka setengah mati menahan kebencian, Theodore justru menggunakan kesempatan ini untuk mengamati Zilka secara menyeluruh.
Zilka Illianate Craigh. Janda Fellipe.
Tentu saja Theodore masih ingat nama wanita itu. Sulit melupakan sosok yang sangat menonjol seperti Zilka. Dalam sebuah ruangan, meskipun ada seratus wanita berpenampilan menawan, Zilka tetap memiliki efek magis dan punya daya magnet tersendiri. Dia adalah wanita Amerika. Kulit putihnya bak pualam. Jenis kulit rapuh yang akan mudah meninggalkan jejak setelah percintaan. Rambut merahnya bergelombang sepingggang. Tidak. Sekarang bahkan rambut itu melampaui pinggang. Jatuh lembut seperti sutra paling murni. Retinanya yang berwarna biru gelap, seperti warna laut dalam yang menawarkam sejuta janji.
Tatapan Theodore turun, terkesan dengan tubuh wanita tersebut yang menawan. Zilka tidak memiliki tubuh dengan leluk seperti Mia. Dia adalah wanita ramping dengan tinggi 170 cm dilengkapi kaki jenjang yang Theodore pikir pasti sangat sempurna. Namun, meski langsing, Zilka memiliki lekuk-lekuk di bagian tubuh yang pas. Selain itu, aset besar lain yang Theodore sanjung darinya adalah wajahnya yang tampak seperti arsiktokrat sejati, dengan bibir penuh dan bulu mata yang sangat lentik. Luar biasa lentik. Theodore ingat dia dulu pernah mengamati bagian ini dengan baik.
Terlepas dari fisiknya yang menawan, daya tarik Zilka yang paling kuat sebenarnya ada pada cara ia menatap sesuatu. Dengan mata birunya yang dalam, seolah ia memiliki kemampuan menghipnotis orang dengan mudah.
"Miss Craigh!" Theodore mengangguk kecil, menyapa layaknya orang yang bernartabat.
Setelah Zilka menjadi janda, ia mengubah kembali namanya seperti saat ia masih gadis. Tak ada lagi embel-embel Morales. Bukan karena Zilka tak ingin menghargai Felipe dan semua kenangan lelaki tersebut, tetapi lebih karena ia tak bisa mendengar bagian dari Felipe disebut-sebut. Setiap kali mendengar nama keluarga Morales, rasanya Zilka diingatkan kembali tragedi yang menimpanya. Perusahaan keluarga diakuisisi, Felipe terbunuh, dan bayinya kecelakaan.
Sungguh. Hal-hal ini membuat Zilka tercekik sendiri. Rasanya ia dipaksa memutar waktu dan merasakan kembali duka paling buruk dalam hidupnya.
Sayangnya, dari semua kebetulan yang terjadi, kini ia ditemukan dengan "Biang Kerok" atas kehancuran hidupnya.
Hidup Zilka berantakan. Sementara Theodore, lelaki kejam yang telah meminjamkan tangan iblis, justru duduk angkuh dalam kemenangan. Dinasti bisnisnya semakin besar. Kerajaan dan kekuasaannya mengakar dalam. Dewi keadilan sungguh tak memiliki mata kali ini.
"Lama tak bertemu." Theodore mengangguk kecil, sama sekali tak terganggu dengan reaksi tolakan yang dilakukan Zilka terhadapnya.
Theodore masih ingat dengan jelas satu setengah tahun yang lalu, saat ia bertemu pertama kali dengan Zilka, tubuh wanita itu lebih berisi dan lebih hidup dengan cahaya cinta. Sangat berbeda sekali dengan Zilka yang tampak di hadapannya. Agaknya wanita itu mengalami penurunan berat badan beberapa kilo dari waktu itu. Wajar sebenarnya, mengingat Theodore sendiri telah menghancurkan Felipe dan menyeret Zilka dalam banyak kesulitan.
Sebenarnya, sayang juga wanita seperti Zilka dihancurkan. Tetapi terkadang, untuk menghancurkan objek, kita perlu menghancurkan variabel lain juga yang ada di sekelilingnya. Theodore jelas tak menyesal telah melakukan semua ini. Dalam hidup, kita perlu realistis dan tegas pada setiap pilihan yang kita ambil. Tak peduli resikonya.
Zilka menarik bibirnya menjadi senyum sinis, dan bergegas pergi. Theodore bisa berpura-pura beradab dan menyapanya penuh sopan santun. Namun, jangan harap Zilka melakukan hal serupa. Ia jelas tak sudi harus berpura-pura baik di hadapan orang yang menjadi sebab runtuhnya keluarganya sendiri.
Silahkan jika Theodore berpura-pura sopan. Zilka lebih memilih memukul lelaki itu secara fisik daripada tersenyum palsu padanya. Jangan harap. Jangan pernah berharap.
"Siapa dia?" Kening Mia berkerut, menatap wanita cantik yang pergi meninggalkan Theodore tanpa membalas sapaan sama sekali.
Di dunia ini, wanita yang bisa mengabaikan Theodore sepenuhnya bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan para wanita seperti ngengat yang mengelilingi Theodore, bertindak menghisap dan merayu tanpa kenal ampun. Mia hampir jijik dengan mereka semua. Sungguh ironi lelaki sebrengsek kakaknya masih mampu menarik minat lawan jenis dengan mudahnya.
Namun, wanita yang baru saja disapa kakaknya tampak penuh kebencian dan niat membunuh. Mata biru gelapnya berubah seperti mata iblis yang siap membakar dupa demi kematian musuhnya sendiri.
"Zilka Craigh!" Theodore menjawab masam.
"Nama yang bagus. Setidaknya, dia adalah wanita pertama yang memiliki niat membunuh untukmu alih-alih memburu dan menerjangmu dengan penuh cinta seperti yang terjadi pada wanita bodohmu yang lain!" Mia menyesap red wine dalam gelas kristal, menikmati rasanya pelan-pelan. Tidak menyesal juga mereka makan malam di restoran ini. Setidaknya, wine di sini luar biasa.
Theodore tak membalas sindiran adiknya, dan justru sibuk menawari Neil beberapa menu yang direkomendasikan oleh pihak pramusaji.
"Theo?" Mia tak puas karena merasa diabaikan.
"Apa kau pernah terlibat masalah dengan wanita itu? Melihat matanya, aku yakin dia bersiap membunuhmu melalui tatapannya. Seharusnya kau sudah mati beku di bawah mata sedingin itu!" Mia terkekeh kecil, teringat akan kebencian dalam yang wanita asing tersebut berikan.
Menarik juga mengetahui ada wanita yang membenci kakaknya sampai taraf tinggi seperti itu.
"Bisa dibilang begitu!"
"Oh. Apa yang sudah kaulakukan?" tanya Mia penasaran. Alis kirinya ia angkat, membuat wajah cantiknya tampak memiliki sentuhan sinis. "Kutebak kau memainkan hatinya. Ah. Bakat playboymu itu sungguh merepotkan!"
"Tidak."
"Lantas? Apa yang sudah kau lakukan?"
"Mengakuisisi perusahaan mendiang suaminya, menghancurkan hidup kecilnya, membunuh suaminya, dan … mungkin …," Wajah Theodore menggelap. "menjadi penyebab tak langsung atas kematian bayinya!"
"Benarkah?"
"Dan mengambil lahan warisan keluarga suaminya yang ada di Maryland!"
"Maryland?" Sebuah kesimpulan mulai terbentuk di kepala Mia. "Apakah suaminya seorang Morales?"
"Ya. Itulah kenapa aku menghancurkannya!"
…