Makan Malam

1301 Words
"Zilka?" Diaz Russel menghubungi Zilka saat hari menjelang sore. "Ya?" Zilka bertanya penasaran. Diaz adalah teman, sekaligus dermawan Zilka yang paling baik pasca kejatuhan yang nenimpanya. Dulu, saat Felipe masih hidup, hubungan Felipe dan Diaz layaknya saudara. Saling mengolok-olok dan memuji dengan penuh rasa sayang. Kini, meski Felipe tak lagi ada di antara mereka, komunikasi Diaz dan Zilka masih berlangsung baik. Ini adalah salah satu hal yang Zilka syukuri. Nilai teman lebih mahal dari apa pun juga. Terutama teman yang tidak pergi saat kita jatuh terpuruk dalam tragedi dan nyaris tidak menyisakan apa pun juga untuk bertahan hidup. "Aku dan Rory sudah bertunangan." Zilka memutar kedua matanya dengan frustasi. Diaz telah mengungkapkan fakta ini seratus kali dalam satu bulan. Bahwa dia telah menemukan wanita istimewa, cantik, baik, dan sempurna. Bahwa Diaz telah menemukan belahan hatinya dan bersiap membawa wanita luar biasa ini ke dalam pernikahan. Bahwa Diaz telah menemukan permata tersembunyi dan berencana untuk berbahagia selama-lamanya. Zilka sudah kenyang dengan semua informasi tersebut. "Kau sudah menyebut fakta itu ratusan kali. Apakah kau menghubungiku hanya untuk memuji Si Rory ini? Aku tahu dia wanita yang sungguh istimewa untukmu. Hanya … bisakah kau tidak menyebutnya terlalu sering? Aku sedang bekerja, Diaz." Diaz bisa bersikap seenaknya dengan bergosip tentang tunangan barunya dengan Zilka. Toh, lelaki itu tak perlu terlalu serius bekerja lagi. Bank swasta milik Diaz sudah seperti mata air uang yang memenuhi semua kebutuhan primernya, bahkan hingga sekunder. Sangat berbeda dengan keadaan Zilka sekarang. Sulit bagi wanita itu untuk bersantai. Semenjak tragedi menimpanya setahun lalu, ia berubah menjadi wanita pekerja keras yang tak mengenal waktu. Terlalu sayang menghabiskan waktu untuk bergosip tak penting membicarakan kehidupan pribadi Diaz. "Aku menghubungimu bukan untuk menyampaikan fakta itu!" Diaz terkekeh kecil, mendengar suara galak Zilka yang familier. Janda Felipe semakin mirip landak saja seiring berjalannya waktu. Sama sekali tak mudah didekati. "Oh. Benarkah? Kupikir untuk membahas Si Rory lagi!" Zilka menebak dengan akurat. Akhir-akhir ini, setiap kali Diaz menghubungi Zilka, sebagian besar topiknya adalah Rory. Wanita itu yang begini …. wanita itu yang begitu …. Wanita itu yang melakukan ini …. Wanita itu yang melakukan itu. Bukannya Zilka tidak suka melakukan percakapan tersebut. Namun, rasanya sungguh aneh mendengar seorang lelaki memuji dan mendeskripsikan wanita secara menyeluruh di depan wanita lain. Itu terasa … agak ganjil. "Sepertinya kau terganggu aku membicarakan Rory!" Terdengar tawa Diaz yang hangat. "Tidak masalah jika kau membicarakan Rory-mu seminggu sekali. Tapi kau hampir dua hari sekali membicarakan Rory padaku. Aku curiga jangan-jangan kau menganggap aku memiliki peran sebagai ibumu!" Zilka menggeleng tak berdaya. "Benarkah aku sesering itu membicarakannya?! Hahaha. Bagaimana bisa aku tidak menyadari itu? Zilka. Aku menghubungimu untuk makan malam bersama!" "Makan malam? Apakah selain Rory, kau mulai mengembangkan niat khusus padaku?!" tanya Zilka mulai curiga. "Sial! Pikiranmu terlalu liar! Aku mengajakmu makan malam karena Rory penasaran ingin bertemu denganmu!" "Uh. Apa? Rory? Penasaran?" Zilka hampir menyemburkan jus wortel yang diminumnya saat ini. "Iya. Aku berkali-kali menyebut namamu di depannya. Aku mengatakan bahwa kau adalah teman sekaligus seseorang yang kini aku anggap sebagai adik. Jadi, sebagai tunanganku, dia ingin bertemu denganmu nanti malam. Bagaimana jika di restoran langganan kita? Restoran yang dulu kita gunakan untuk merayakan sesuatu?" Nada Diaz berubah menjadi persuasif. Dulu, saat kehidupan Felipe dan Zilka masih cukup sukses, mereka memiliki restoran langganan di pusat Manhattan yang sering kali digunakan untuk sekadar bertemu dengan rekan kerja atau berbincang santai dengan Diaz. Namun, sejak kehidupan Zilka mengalami pasang surut, ia hampir tak penah melakukan kebiasaan lamanya. Baik mengunjungi restoran langganan, boutiqe terkenal, atau pun sekadar berbincang santai dengan kaum elite melalui kegiatan amal dan sejenisnya. Bisa dikatakan, setahun ini hidup Zilka benar-benar berubah. Dan Zilka tidak menyesali itu. Dengan hidupnya yang kini lebih sederhana, ia mulai memahami banyak hal yang dulu tidak ia pahami. Tentang ketenangan batin, kenyamanan, dan kesederhanaan. "Diaz! Apakah kau lupa aku memiliki kafe? Kafe yang aku buka dengan pinjaman modal darimu!" "Lantas?" "Reagan Cafe', alias kafe milikku buka hingga jam sembilan malam!" "Lantas?" "Tidak masuk akal rasanya aku makan malam di restoran lain padahal aku memiliki kafe sendiri. Kenapa kau tidak membawa Rory-mu ke sini? Ke tempatku? Kafe-ku memang sederhana, tetapi seharusnya cukup nyaman untuk dikunjungi tunanganmu. Bagaimana?" Zilka mengusulkan. Akan lebih praktis jika Diaz makan malam di sini. Untuk apa membuang-buang uang hanya demi makan malam yang sebenarnya bisa dilakukan di tempat ini. "Zilka. Berhentilah bersikap seperti perawan tua. Kau butuh keluar. Kau butuh menghirup udara segar. Kau butuh suasana baru! Aku akan membawa Rory untuk mengunjungi kafemu, tetapi bukan nanti malam. Nanti malam, sekali-kali kita keluar bersama, lupakan pekerjaanmu, dan menikmati waktu. Oke?" Diaz tak mengerti dengan sistem yang diterapkan oleh Zilka untuk hidupnya sendiri. Semakin ke sini, Diaz menyadari Zilka semakin menarik diri dari kehidupan sosial dan bertindak layaknya perawan tua. Teman nyata yang wanita itu miliki hanya dia, Dean, dan Marrisa. Jika tetap dibiarkan saja, Diaz yakin kehidupan Zilka akan tampak seperti biarawati. "Kau gila. Aku punya kafe. Kenapa aku harus makan ke tempat lain dan membuang uang demi menggendutkan perut orang lain?!" Zilka masih saja mengkritik ide temannya dengan tajam. "Dengarkan, Zilka. Kita perlu keluar bersama sebagai teman. Dan itu tidak di kafemu. Aku dan Rory pasti hanya akan diabaikan sementara kau sibuk melayani pengunjung lain jika kita bertemu di kafemu!" "Eh. Hehehe!" Zilka terkekeh kecil, mengakui tebakan Diaz yang tepat sasaran. "Nanti! Jam tujuh! Aku akan mengirim sopir ke rumahmu!" "Diaz! Sepertinya bukan ide yang bagus!" "Aku tidak menerima penolakan!" Sambungan terputus, membiarkan Zilka merenung seorang diri. Ah. Sial. Diaz k*****t itu mulai bertindak sesula hati. … Zilka memasuki ruang utama restoran yang didesain dengan mengusung interior klasik. Lampu-lampu besar di atas ruangan di gantung dengan gaya anggun. Cahaya remang-remang samar memberikan efek lembut dan romantis. Di atas meja, tampak lilin beraroma khusus menyala, membuat suasana semakin menawan. Zilka menatap sekeliling, dengan percaya diri mencari meja nomor dua puluh. Jika penataan restoran belum berubah, seharusnya meja itu berada di bagian utara, dekat dengan pohon buatan yang dipasang di tengah ruangan dengan apik. Malam ini Zilka mengenakan gaun sutra dengan bawahan lebar dan memberikan efek menyapu setiap kali ia bergerak. Meskipun potongan gaun ini sederhana, setidaknya masih sanggup membungkus tubuh indah Zilka dengan sempurna. Bahu Zilka dibiarkan terbuka, memamerkan sebagian kulitnya yang sewarna madu. Sepasang anting imitasi menghiasi telinganya dengan sempurna. Keadaan ekonomi Zilka kurang baik. Semua mutiara dan logam mulia yang ia miliki telah ia lelang setahun yang lalu untuk menutup hutang yang diwariskan Felipe. Sebagai satu-satunya kerabat Felipe yang masih hidup, Zilka jelas memiliki beban moral menyelesaikan semua tanggungan Felipe dengan tuntas. Felipe adalah orang yang sangat baik. Sangat disayangkan jika ia pergi dari dunia dengan nama buruk dan tanggungan yang tak selesai. Karena itulah Zilka memilih menghabiskan semua asetnya demi menutup semua hutang Felipe. Selain itu, aset yang diagunkan juga aset bersama. Otomatis hutang tersebut menjadi beban bersama. Zilka memejamkan matanya saat teringat kenangan ini, merasa kepedihan merasuk ke dalam relung hatinya. Saat Zilka membuka matanya kembali, netra birunya yang bening tampak berkaca-kaca. Setiap kenangan Felipe menghantam dirinya, Zilka merasa luar biasa lemah. Apalagi mengingat kehancuran hidup Felipe di akhir hidupnya. "Zilka!" Sebuah suara yang sangat familier menyapa indera pendengarannya. Berjarak tiga meja darinya, Diaz melambaikan tangan, menarik perhatian Zilka yang baru datang. Tangan lelaki itu melambai-lambai, seolah mengatakan "Aku di sini! Aku di sini!" Zilka tersenyum kecil, menyimpan kembali semua kenangan tentang Felipe, dan berjalan mendekat ke arah Diaz. Tapi baru saja ia mengambil satu langkah, sesosok yang sangat ia kenal masuk ke dalam garis pandangnya. Seorang lelaki berdarah setengah latin duduk angkuh di kursi restoran. Auranya membawa hawa penindasan yang sangat kuat. Mata gelapnya yang tajam menyipit, bersirobok dengan tatapan Zilka sangat cepat. Saat itu, rasanya jantung Zilka mencelos. Dari semua orang yang ada di dunia ini, ia tak pernah mengira akan bertemu sosok yang sangat ia benci hingga ke tulang-tulangnya. Theodore Richardson. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD