Theodore duduk di kursi kebesaran ruang kantor. Di hadapannya, tersebar dokumen penting tentang perkembangan perusahaan kontruksi miliknya. Sebelah tangan Theodore mengapit map yang menunjukkan grafik tahunan, sementara tangan lain ia jadikan tumpuan dagu. Mata cokelat gelapnya menyipit, memahami data demi data yang disajikan.
Di depannya, duduk seorang lelaki bernama John Brown. Dia adalah CEO dari RCD Corporation, sebuah perusahaan kawakan yang bergerak dalam bidang kontruksi dan telah menancapkan akar utamanya sejak empat puluh tahun yang lalu. Theodore adalah pemilik generasi kedua dari perusahaan ini. Di bawah naungannya, RCD Corporation berhasil menembus pasar internasional dan mampu melakukan ekspansi hingga ke pasar Eropa dan Asia. Banyak perusahaan cabang yang telah lahir di bawah pimpinan Theodore.
John menatap wajah serius Theodore dengan keringat dingin. Meskipun usianya tak berbeda jauh dengan lelaki di hadapannya, tetapi aura dan kekuatan yang dimiliki Theodore jelas lebih dominan dan tak bisa dibandingkan dengan orang lain begitu saja. Bukan hanya John. Para karyawan lain jika dihadapkan pada Theodore, mereka seperti ikan yang dipaksa naik ke daratan. Megap-megap menyedihkan.
"Tidak buruk!" Theodore meletakkan laporan yang sedang ia genggam, dan menatap John yang kini telah pucat pasi. Sebagai pemilik utama perusahaan, Theodore sering kali melakukan pemeriksaan pada perusahaan-perusahaannya secara langsung. Jika didapati ada kesalahan fatal dari laporan yang dusuguhkan, bisa dipastikan setiap karyawan yang terlibat akan menderita kritikan tajam tanpa ujung. Terutama jika kesalahan tersebut berimbas pada banyak hal, seperti keuntungan tahunan, Theodore bisa menendang orang yang bertanggung jawab tanpa berpikir dua kali.
Dalam dunia bisnis, Theodore dikenal sebagai malaikat maut. Dia membantai musuhnya tanpa kenal ampun, mengambil apa pun yang ia inginkan, dan menghancurkan siapa pun yang ia kehendaki. Sementara dengan karyawannya, sikap kerasnya tak berbeda jauh. Dia menuntut dedikasi yang tinggi, tidak mudah menoleransi kesalahan, dan menghukum siapa pun yang berani sembrono bekerja di bawahnya. Namun, dia memiliki sisi lain juga sebagai pengimbang. Theodore tak segan-segan memberi reward kepada setiap pegawai yang berprestasi. Baik berupa materiil, maupun kenaikan jabatan. Karena itulah hampir semua karyawan berlomba-lomba memberikan yang terbaik, tanpa sedikit pun memberikan celah. Jelas profesionalisme dijunjung tinggi di sini.
Dengan strategi ini, bisa dikatakan Theodore berhasil membentuk dinasti bisnis yang kuat. Namanya melambung tinggi, reputasinya meroket naik, membuat orang lain berhati-hati dalam berurusan dengannya.
"Pertahankan terus kinerja ini. Satu minggu lagi akan ada tender besar dari proyek pemerintah. Aku ingin kau memenangkannya!" Theodore menyuarakan keinginannya.
John mengangguk dengan cepat, dalam hati tak sabar untuk segera keluar dari ruangan ini. Sialan. Punggungnya sudah penuh dengan keringat dingin. Kemeja John yang ia kenakan rasanya sudah sangat tak nyaman karena bercampur dengan keringat. Setiap kali ia berhadapan dengan Theodore, John selalu merasa terintimidasi dengan cara paling buruk.
"Saya pasti akan berusaha keras, Sir!" janji John dengan serius.
Theodore melambaikan tangannya dengan ringan, membiarkan John keluar dari ruangan. Dengan sigap, John menunduk dan berbalik pergi. Dia akhirnya mengembuskan napas lega. Rasanya beban satu ton di pundaknya telah berhasil diangkat.
Setelah kepergian John, ponsel Theodore berdering nyaring. Dia menyambar benda pipih kecil tersebut di sudut meja, menatap identitas pemanggil, kemudian ekspresi ketidaksukaan tampak jelas di wajahnya yang menawan.
"Ya?" jawabnya dingin.
"Theo, apakah nanti malam kau memiliki waktu luang? Bagaimana jika kita makan malam di restoran Itali?" Suara seorang wanita dengan aksen manja menyentuh pendengarannya.
Wanita itu adalah Sea Collin, putri tunggal seorang senator yang sudah menjabat selama dua periode.
"Aku sibuk!" Theodore menjawab sekenanya, membiarkan nada dingin dalam suaranya tersampaikan.
"Apakah ada hal penting yang ingin kausampaikan?" Theodore bertanya dengan nada tak sabar.
"Theo … aku .…" Sea terdengar canggung. Dua malam yang lalu mereka baik-baik saja. Bahkan, mereka menghabiskan malam bersama di penthouse milik Theodore. Sekarang entah bagaimana, lelaki ini memiliki suasana hati yang tidak baik.
"Jangan hubungi aku lagi, Sea! Aku tak terlalu berminat dengan asmara jangka panjang! Jangan sia-siakan tenagamu untuk mengejarku!"
Klik.
Theodore menyimpan ponsel tersebut ke dalam sakunya, tak lagi peduli pada reaksi apa yang Sea miliki saat ini.
Bagi Theodore, wanita hanyalah tempat hiburan sementara. Cinthya, ibu Theodore dengan moralnya yang rendah telah membuktikan penilaiannya. Senyum Theodore tampak masam, semakin merendahkan nilai kaum wanita.
Theodore bangkit berdiri, berjalan meninggalkan ruangan. Kunjungannya untuk menganalisis laporan telah usai. Dia tak lagi memiliki jadwal pertemuan bisnis hingga sore nanti. Setidaknya, sisa hari ini ia bebas. Sesuatu yang jarang ia dapatkan. Biasanya, agendanya cukup ketat setiap hari, kecuali akhir pekan.
Leon, sopir pribadi Theodore, segera bersiap saat melihat majikannya turun ke lantai parkir. Dia dengan sigap membuka pintu penumpang untuk Theodore, dan menutupnya kembali dengan suara klek pelan.
"Kembali ke rumah!" Suara Theodore yang dalam memberi intruksi.
"Baik, Sir!" Leon menekan pedal gas, meluncurkan cadillac merah keluar dari area parkir dengan mulus.
Sepanjang perjalanan, suasana terasa hening. Theodore memilih diam, memantau harga saham-saham yang menjadi miliknya melalui sebuah aplikasi. Pikirannya sibuk berkelana pada banyak hal. Sementara itu, Leon, sang sopir, terlalu pintar untuk tidak berbicara omong kosong. Lelaki itu sudah hapal kebiasaan majikannya. Jika tidak memiliki topik penting, maka diam lebih baik. Hal yang paling dibenci Theodore adalah omong kosong. Setidaknya, Leon memahami hal dasar ini.
Setengah jam kemudian, Leon memasuki sebuah kawasan elit perumahan di pusat Manhattan. Dia melewati gerbang utama, melambai ke arah petugas keamanan yang telah mengenalnya, dan langsung menuju rumah nomor dua belas.
Gerbang rumah terbuka secara otomatis setelah Leon melakukan pindai sidik jari. Dia mengendarai cadillac merah dan berhenti persis di depan teras rumah, membiarkan Theodore turun, kemudian berbalik memutar untuk memarkirkan mobil di area bassement.
"Daddy! Daddy! Daddy!" Seorang anak lelaki berusia empat tahun berlari cepat menyambut kehadiran Theodore. Anak itu membawa lego di tangan, memamerkan permainannya dengan wajah bulat kemerah-merahan.
"Hei, Jagoan Kecil! Apa yang sedang kau lakukan?" Wajah kaku Theodore sedikit mencair melihat putranya. Bibir yang biasanya kaku dan sinis, kini tampak melengkung sempurna. Kedua netra cokelat Theodore menghangat secara tiba-tiba.
Di dunia yang kejam ini, hanya anak itulah satu-satunya sosok yang mampu membuat Theodore tersenyum. Satu-satunya sosok yang mampu mencairkan kebekuan hatinya yang mendalam. Satu-satunya yang memiliki arti dalam.
"Aku sedang membuat kereta. Lihat! Lihat! Keren 'kan?" Neil memamerkan hasil karyanya, menunjuk pada lego yang tersambung dengan berantakan di tangannya. Alih-alih kereta, benda itu lebih cocok disebut tak berbentuk sama sekali.
"Bagus! Siapa yang mengajarimu?" Kening Theodore mengernyit, menyadari ia tak bisa tidak berbohong pada anak tersebut. Meskipun Neil membawa sampah, Theodore tetap akan memujinya tanpa ragu.
"Aunty Mia!" Neil menunjuk pada sosok wanita yang kini berjalan ke arah mereka, terkekeh kecil.
"Theo! Kau sudah pulang? Kupikir kau akan pulang larut lagi seperti biasanya!"
Mia, wanita setengah latin dengan rambut tebal dan mata hitam kelam, adalah satu-satunya adik kandung Theodore. Selisih mereka cukup banyak, sepuluh tahun. Meski begitu, wajah mereka tak jauh berbeda. Seolah-olah jarak usia mereka hanya satu atau dua tahun saja. Theodore entah bagaimana seperti didesain dengan wajah yang lambat menua.
"Tidak! Aku memiliki waktu bebas sisa hari ini. Terimakasih, Mia. Kau sudah menjaga Neil untukku!"
"Tidak masalah! Putramu sangat menyenangkan. Karena kau memiliki waktu luang hari ini, bagaimana jika nanti malam kita makan malam di luar? Lama-lama membosankan juga tetap berada di rumah ini!"
Theodore terdiam beberapa detik, kemudian mengangguk kecil. "Baiklah!"
Tidak masalah menghabiskan makan malam dengan adiknya. Neil juga perlu keluar sesekali.
Sepertinya Theodore memang ditakdirkan untuk keluar. Padahal tadi ia baru saja menolak tawaran Sea untuk makan malam. Setidaknya, keluar dengan Mia jelas lebih baik daripada dengan Sea.
…