Lembar Baru

1472 Words
Setahun kemudian. Senin siang selalu menjadi hari sibuk bagi Zilka. Ia duduk di mesin belakang kasir, menerima pembayaran, dan ikut mengantarkan pesanan kepada para pengunjung kafe. "Zilka! Tambahkan limun dingin untukku lagi! Tolong, bawakan juga burger dan kentang goreng dengan saus ekstra!" Suara Nicos menggelegar dari meja paling ujung, tangannya melambai untuk menarik perhatian Zilka. Nicos adalah pegawai marketting di kantor konveksi yang tak jauh dari sini. Dia adalah lelaki gemuk berbobot lebih dari dua ratus pound dengan perut buncit dan pipi gembul yang tampak semakin besar setiap hari. "Pantas saja kau semakin besar setiap hari. Kau perlu diet kalori, Nicos!" Zilka memperingatkan pelanggan yang berwajah ramah tersebut. "Hah? Yang benar saja! Untuk apa menyiksa diri. Dengan atau pun tanpa kalori berlebih, aku tetap akan hidup lama. Hidup hanya sekali. Terlalu sayang jika tidak dinikmati!" Nicos terkekeh kecil, sama sekali tak terpengatuh oleh nasihat Zilka. "Kau ini. Pantas tubuhmu semakin melebar setiap detik!" Zilka berjalan ke belakang dan memberikan secarik kertas tentang tambahan menu pada Marissa. Marissa adalah wanita mungil yang ia pekerjakan sebagai koki. Kinerjanya sangat rajin dan cekatan. Dia juga merupakan gadis ramah dengan rambut pirang sebahu bermata cokelat. "Huh. Jika Nicos selalu menggandakan porsi makannya dengan menu berkalori setiap hari, tubuhnya akan membengkak sebesar gajah!" Marissa mengomentari saat membaca menu tambahan yang diberikan oleh Zilka. "Buatkan saja, Mar! Nicos lelaki yang keras kepala. Sudah kuperingatkan ia untuk melakukan diet. Tetapi saranku hanya dianggap angin lalu belaka!" Zilka menggeleng lemah, putus asa untuk membujuk lelaki berusia akhir empat puluhan itu. "Zilka! Satu porsi spaghetti bolognaise, lemon tea, dan butter croissant!" Seorang wanita muda dengan gincu merah merona melakukan pesanan. Zilka tersenyum kecil, memberikan tampilan ramah. "Ione. Kau sudah kembali dari perjalanan bulan madu? Hei! Lihat itu! Kulitmu semakin tampak cokelat menawan!" Zilka menatap Ione seksama, pelanggan yang sudah dua minggu ini tidak dilihatnya. Ione tersipu malu oleh pujian Zilka dan menjawab pelan. "Benarkah? Aku banyak menghabiskan bulan maduku untuk berjemur di pantai!" "Oh. Sangat hebat. Baiklah. Aku akan mengulangi pesananmu. Spaghetti bolognaise, lemon tea, dan butter croissant!" Zilka menatap kertas pesanan yang baru saja ia buat. "Ya." Ione mengangguk kecil. Ione adalah petugas resepsionis hotel yang letaknya satu blok dari sini. Ia adalah salah satu pelanggan tetap dengan karakter lembut dan menyenangkan. "Sebagai kado bulan madu untukmu dariku yang terlambat, hari ini, aku memberimu diskon lima puluh persen!" "Sungguh?" "Yups!" "Bagus. Aku semakin mencintaimu, Zilka! Kau semakin cantik saja setiap hari." "Ya. Aku tahu, aku memang cantik!" Zilka mengedipkan sebelah matanya, menggoda Ione yang kini pergi ke salah satu meja dan menyapa beberapa pengunjung yang ia kenal. "Americano coffee dan honey cake!" Lohan, pegawai magang dengan senyum menawan, membuat pesanan. "Deane! Americano coffee!" Zilka setengah berteriak pada Deane, sang barista yang kini berdiri di balik bar counter. Lelaki itu mengangguk kecil, langsung cepat tanggap. Begitulah aktifitas siang ini berlangsung. Pengunjung berdatangan silih berganti. Hampir tak ada waktu bagi Zilka untuk duduk duduk nyaman selama satu menit. Setelah satu setengah jam berlalu, Zilka baru bisa menghela napas tenang. "Kalian! Ambillah istirahat satu jam bergantian! Siang selalu melelahkan!" Zilka menatap Deane dan Marissa bergantian yang kini duduk tak jauh darinya. "Tapi siang ini cukup menyenangkan juga. Tidak ada pelanggan yang rewel!" Marissa tersenyum kecil. Ada lesung pipi yang terbentuk di dekat ujung bibirnya yang mungil. Zilka mengangguk, membenarkan ucapan Marrisa. Dia menatap meja kursi yang berantakan bekas pengunjung, kedua matanya menyiratkan kepuasan. Semenjak tragedi yang hadir dalam hidupnya setahun lalu, banyak guncangan yang memporak-porandakan kehidupan Zilka. Ia ditinggal mati Felipe, suaminya, dengan banyak riwayat hutang dan aset yang minim. Bahkan, satu-satunya rumah terakhir milik mereka dijadikan agunan. Dalam keadaan depresi—tanpa suami, tanpa anak, dan tanpa harta—Zilka nyaris terpuruk dalam keputusasaan. Semua aset terpaksa ia jual untuk menutupi semua riwayat hutang mendiang suaminya. Di tengah badai yang mengamuk ini, untung ada Diaz yang mengulurkan tangan padanya. Diaz adalah salah satu sahabat dekat Felipe. Dia mengetahui semua seluk beluk kisah Felip dan Zilka. Sebagai teman, dia memberikan pinjaman yang cukup bagi Zilka untuk bangkit dari keterpurukan. Dan di sinilah Zilka sekarang berada. Membuka bisnis kafe sederhana di daerah Manhhattan, dan mengambil cicilan rumah yang jauh lebih sederhana, berjarak dua blok dari kafe miliknya. Marrisa dan Dean adalah dua orang yang ia pekerjakan dari awal. Mereka saling memiliki koneksi khusus dan langsung merasa cocok dari awal. Jika Marrisa adalah wanita mungil dengan mata cokelat menyenangkan, maka Dean adalah lelaki kekar dengan tato naga di lengan kiri, bertindik, dan penyuka lagu rock. Sangat jauh dengan kepribadian Marrisa yang mungil dan manis. Meski begitu, Dean yang usianya tak berbeda jauh dengan Marrisa adalah sosok menyenangkan dengan senyum menawan. Sebuah senyum yang mampu meluluhkan banyak wanita dengan mudah. Posturnya yang kekar dan wajah setengah latinnya menjadi daya tarik tersendiri. Banyak pelanggan wanita yang menatap Dean lama dan mengerling penuh arti padanya. Zilka yakin di belakangnya, Dean pasti mengencani beberapa pelanggan wanita dari kafe ini. Zilka memyaksikan beberapa kali Dean saling bertukar kontak dengan para wanita pengunjung kafe. Semua hal itu membuat hati Zilka menghangat. Setidaknya, hidup Zilka telah berangsur-angsur pulih. Zilka memejamkan mata, mengingat berapa lama waktu yang telah berlalu dari tragedi paling menjatuhkan dalam hidupnya. Setahun. Itulah waktu yang ia butuhkan untuk kembali merasa normal. Menerima semua kenyataan dengan baik, membuka lembaran baru, dan menciptakan titik nol dari dirinya sendiri. Akhirnya, Tuhan berbaik hati untuk membantunya bangkit. Membantu Zilka mengumpulkan kembali serpihan hidupnya yang terpecah menjadi ribuan keping. Membantu Zilka membuka mata dan merasakan lagi kehangatan sinar mentari setelah sebelumnya mengalami kebekuan hati paling menyakitkan. "…, bahan-bahan di kulkas juga mulai habis. Sepertinya kau perlu berbelanja untuk semua bahan yang tadi kusebutkan!" Marrisa menatap wanita yang kini tampak melamun. "Zilka! Apakah kau mendengar semua yang baru saja kukatakan?" Marrisa menyentuh bahu majikan sekaligus temannya itu dengan tiba-tiba. Meskipun hubungan mereka adalah atasan-bawahan, Zilka sudah menghapuskan jarak itu dari awal. Bagi Zilka, Marrisa dan Dean sudah dianggap sebagai teman dalam segala hal. Tak ada lagi jarak yang membuat komunikasi mereka kaku layaknya atasan-bawahan pada umumnya. Semenjak Zilka mengalami kebangkrutan hebat setahun yang lalu, tidak banyak teman yang ia miliki. Semua orang hampir meninggalkannya, tak lagi sudi menolong keluarga Morales yang tersisa. Bahkan, ayah Zilka sendiri dengan munafik menolak keberadaan putrinya. Saat itulah Zilka merasa kehadiran Marrisa dan Dean terasa sangat kuat dan nilai mereka lebih dari sekadar pegawai. Mereka berdua adalah orang yang Diaz bawa dan sedikit banyak tahu semua riwayat kehidupan Zilka. Dua orang ini menjadi tumpuan Zilka pasca tragedi hidupnya yang mengenaskan. "Zilka!" Marrisa mulai berang. "Ya? Apa? Ada apa?" tanya Zilka, terkejut. "Kau benar-benar tidak mendengarkan kata-kataku?" Marrisa menggelengkan kepala, menyadari pikiran Zilka pasti mengembara. "Maaf. Apa yang tadi kau sampaikan?" tanya Zilka mulai bersalah. "Lupakan. Aku akan membuat daftarnya saja nanti. Kau bisa membeli bahan-bahan yang habisi!" Marrisa melambaikan tangannya, berbalik pergi untuk naik ke lantai dua, terus menuju rooftop. Zilka telah mendesain rofftop dengan desain indah dan nyaman sehingga sering digunakan Marrisa dan Dean untuk beristirahat sebentar dari aktifitas kafe. Bangunan kafe ini meskipun kecil, didesain dengan sangat baik. Interiornya sebagian besar dari material kayu dengan hiasan dinding goresan tangan berbentuk kata-kata dan motif abstrak. Di beberapa sudut, Zilka menempatkan lukisan dengan warna-warna cerah. "Kau masih saja sering melamun. Sudah kusarankan berkali-kali kau butuh teman kencan, Zilka. Bagaimana jika aku menjadi Mr. cupid-mu?" tawar Dean, menyadari sejak setahun yang lalu ia bekerja pada Zilka, wanita itu tidak pernah melakukan kencan sama sekali. Harus digarisbawahi lagi. Tidak melakukan kencan sama sekali. Zilka mirip biarawati sejati. "Aku tidak membutuhkan lelaki! No man no cry!" Zilka mengambil sebuah tabloid baru, kemudian membukanya secara acak untuk mengisi waktu. "Kata siapa? Suatu saat kau pasti butuh pendamping lagi. Ayolah. Jangan terlalu tertutup!" "Tidak. Aku baik-baik saja tanpa lelaki." Zilka mendesah panjang, tak ingin mengungkit hal ini lagi. Dia pernah memiliki suami. Dan dia kehilangan dengan cara paling buruk. Zilka tak ingin merasakan kepedihan yang sama lagi. Zilka tak ingin merasakan kehilangan lagi. Semua itu sangat menghancurkan hatinya. Akan lebih baik baginya tidak mengenal lelaki. Akan lebih baik baginya tidak mengenal cinta.Ya. Itu yang lebih baik. Itu pasti yang terbaik. Bagi dirinya, bagi jiwanya. Zilka tiba-tiba menegang saat ia membalik halaman tabloid yang ke-26. Di sana, tampak foto lelaki dengan rambut bergelombang, mata biru pucat, dan senyum setengah hati yang entah kenapa tampak menawan diabadikan. Lelaki itu tengah menggandeng putri seorang senator ternama, memamerkan kemesraan di hadapan publik. Tanpa repot-repot membaca judul artikel, Zilka melemparkan tabloid tersebut ke tong sampah terdekat, dan mulai bersumpah serapah. Sial. Setahun telah berlalu. Meskipun hidupnya mulai membaik dan stabil, tetapi emosinya tak pernah membaik pada lelaki yang bernama Theodore Richardson. Kebencian yang dirasakan Zilka masih mendarah daging. Setiap kali teringat sosok itu, rasanya tragedi lama yang telah coba ia kubur dalam-dalam kembali naik ke permukaan, menjebaknya dengan kepedihan lagi. Theodore Richardson. Sungguh terkutuk. Sayangnya, sosok itu mudah sekali muncul di tabloid gosip dan di tabloid bisnis. …
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD