Zilka mengambil kemeja kecil untuk ia pakaikan pada bayinya. Matanya yang indah memancarkan kepedihan. Senyum miris menghiasi bibirnya.
"Kau adalah putraku yang paling tampan. Di dunia ini, di kehidupan selanjutnya, kau akan tetap menjadi putraku yang terbaik!" Jari jemari lentik Zilka mengusap lembut sesosok wajah bayi yang berpipi gembil. Mata bayi tersebut terpejam. Sekilas, dia seperti tertidur. Tetapi jika ada yang memperhatikan lebih detail, bayi itu telah berubah pucat. Bahkan kulit wajahnya mulai terlihat hijau tak sehat. Suhu tubuhnya tak lagi hangat. Dia juga tak bernafas.
Dengan sabar, Zilka merapikan kemeja kecil pada putranya. Dia memadukan kemeja tersebut dengan celana mungil berbahan lembut. Setelah selesai, Zilka mengangkat putranya dan membawanya pelan ke lantai bawah.
Pearl, pelayan setia keluarga Morales, mengikuti langkah Zilka dengan air mata berlinang. Tubuh tuanya yang telah menanggung banyak beban hidup, terasa lebih lemah dan rapuh dari pada biasanya. Jari jemari tangannya bergetar hebat. Dia memandang majikan perempuannya yang pagi tadi masih mengenakan selang infus di tangan dengan beberapa luka lebam di tubuhnya. Tetapi dengan acuh tak acuh, Zilka melepas infus tersebut tanpa peduli resikonya. Sekarang, wajah cantiknya tampak pucat dan rapuh.
Semalam telah terjadi kecelakaan. Zilka beruntung hanya mengalami luka luar yang tak seberapa. Tetapi bayinya mengalami benturan di kepala dan kerusakan otak belakang. Reagan tak bisa diselamatkan. Satu jam dari kecelakaan, Raegan meninggal.
Zilka berjalan melewati tangga utama. Putranya ia genggam erat-erat dalam pelukan. Wajah Reagan tampak damai, sangat berbeda dengan Zilka yang dipenuhi kepedihan mendalam. Perlahan, dengan suara indah miliknya, Zilka mulai menyenandungkan lagu minor. Sebuah lagu yang ia gunakan untuk menidurkan Reagan selama ini. Di belakangnya, isakan Pearl terdengar semakin menyayat hati. Tangan tuanya mencengkeram ujung-ujung kemejanya dengan kepedihan. Wanita mana yang kuasa mendengar seorang ibu menyanyikan lagi sedih untuk bayinya yang tak lagi bernyawa. Sebuah lagu yang biasanya menjadi pengantar tidur, kini dinyanyikan sebagai pengantar kematian.
"Pearl, lihat putrakul!. Dia tampan, bukan? Dia putra yang paling tampan di dunia ini. Kau lihat? Aku dan Felipe selalu memuja hidungnya. Seperti paruh elang. Bibirnya, kupikir seperti buah ceri matang. Matanya, sewarna laut. Mata ini … seharusnya bisa bangun lagi dan tidak terus tertidur, bukan?" Zilka mengusap wajah pucat bayinya, suaranya terdengar putus asa. Tetapi hebatnya, tak ada air mata sama sekali di pipinya. Dia setegar batu karang. Menghadapi semua tragedi tanpa sudi tertunduk kalah.
"Ya. Ya. Dia putra yang paling tampan!" Pearl menutup mulutnya, berusaha menghentikan tangis menyesakkan yang sayangnya tak kunjung berhenti.
Bayi itu telah meninggal. Tidak bisakah nyonyanya segera melakukan pemakaman dan menghentikan semua tragedi ini? Pearl tak bisa melihat kehancuran yang lebih parah lagi. Keluarga Morales telah mengalami kekacauan besar akhir-akhir ini.
"Bayiku … putraku ... jantung hatiku ... Reagan-ku," lirih Zilka, wajahnya sepucat putranya sendiri. Dia masih terus saja berjalan, tiba di lantai bawah. Orang-orang telah banyak berkumpul di sini. Keluarga, kerabat, dan kenalan.
Kabar kematian keluarga Morales dihembuskan dengan cepat. Banyak di antara mereka yang tak percaya dan segera datang untuk menunjukkan bela sungkawa. Sekarang, saat mereka semua melihat Zilka yang berjalan dengan memeluk seorang bayi di tangan, tak ada di antara mereka yang tak terbawa suasana. Mereka semua terdiam. Semua pembicaraan terhenti begitu saja. Bahkan bisik-bisik pun tak terdengar sama sekali.
Saat Zilka berjalan, kerumunan orang menyebar dan memberi jalan. Memberi pandangan rumit dan kasihan padanya.
"Oh Ya Tuhan," seorang wanita, yang tak kuasa menahan kesedihan akhirnya bersuara. Dia meneteskan air mata, melihat bayi dalam gendongan Zilka. Wanita itu memiliki bayi juga berusia empat bulan. Dia tahu dengan benar bagaimana rasanya jika ditinggalkan pergi putranya.
Di belakangnya, Pearl masih terisak pilu. Dia seperti orang linglung yang hanya bisa membuntuti majikan perempuannya. Situasi ini membuat banyak orang merasa tak berdaya. Banyak air mata yang mulai turun dari kaum ibu. Seolah kepedihan ini adalah milik mereka juga.
Zilka berhenti tepat di depan peti suaminya. Dini hari tadi, polisi mengantarkan jenazah Felipe yang tak bernyawa dengan luka tembak di beberapa tempat. Kasus ini menghebohkan banyak orang. Felipe jelas terbunuh. Pihak medis akan melakukan otopsi lebih dalam, tetapi Zilka menolak. Dia lebih dari tahu siapa pelaku sesungguhnya atas terbunuhnya sang suami. Tetapi, dalam detik-detik terakhir, Felipe telah melontarkan permintaan terakhir untuk tidak menguak kasus ini. Dia ingin Zilka melepaskan kasus ini dan tidak melakukan pembalasan apa pun.
Dari sinilah, dengan kemampuan koneksi keluarga Morales yang masih tersisa, Zilka menutup kasus ini rapat-rapat dan meminta pihak berwenang untuk tak menyelidiki lebih dalam. Zilka pikir semuanya pasti akan sulit karena pembunuhan biasanya akan dikuak secara tuntas, tetapi yang mengherankan, pihak polisi setuju. Mereka berjanji akan menutup kasus ini rapat-rapat. Zilka tak tahu kenapa semuanya bisa berjalan seperti ini. Dari penjelasan singkat salah satu oknum pihak berwenang, mereka mengatakan bukti-bukti terlalu acak sehingga andai pun kasus ini diangkat, hanya akan menemui jalan buntu.
Zilka berdiri di sisi peti suami. Tak jauh darinya, ada peti lain dengan ukuran lebih kecil. Sebuah peti yang disiapkan untuk Reagan.
"Nyonya, tolong letakkan putra anda di peti. Biar upacara pemakaman segera diadakan!" Pearl memohon dengan pilu. Pemakaman mungkin akan diadakan siang nanti, tetapi demi menutup kepedihan, Pearl berpikir akan lebih baik majikannya segera melepaskan Reagan dari pelukan. Bagaimana bisa seorang ibu mampu memeluk jenazah putranya sendiri berlama-lama?
Zilka tak menggubris permohonan Pearl. Dia mengusap lembut wajah putranya dan menyenandungkan lagi sebuah lagu. Suasana menjadi berubah semakin pilu. Tak ada seorang pun ibu yang tak ikut sedih. Beberapa kaum wanita mencengkeram dadanya, menahan kepiluan.
Setelah seperempat jam berlalu, Zilka berhenti menyenandungkan lagu dan berkata lirih.
"Kau dan ayahmu adalah hal terindah dalam hidupku. Felipe, lihatlah putra kita. Dia memilih untuk menemanimu dalam keabadian. Dia lebih menyayangimu dari pada diriku. Bagaimana aku tak cemburu denganmu? Bahkan saat kau pergi, kau masih membawa putra kita bersama. Meninggalkanku seorang diri." Suara Zilka mulai gemetar. Dia mendekatkan putranya pada jasad Felipe, seolah ingin menunjukkan pada dunia betapa suami dan putranya memilih bersama.
Suara tangisan mulai terdengar intens. Beberapa orang di antara mereka yang sebelumnya diam, kini mulai ditarik oleh kepedihan mendalam.
"Kau selalu bilang padaku putra ini akan selalu mengikuti jejakmu. Lihatlah ia sekarang! Dia mengikutimu ke dalam keabadian. Tetapi kenapa kalian meninggalkanku seorang diri? Tidakkah kalian melihat aku mudah tersesat?" Air bening mulai mengalir deras di wajah Zilka. Dia memeluk putranya sepenuh hati, seolah ingin melindunginya dari dunia yang kejam. Akhirnya, pertahanannya runtuh. Zilka jatuh dalam tangis.
"Felipe. Tidakkah kau ingat dulu kita berjanji akan bersama selamanya? Dalam sehat dan sakit. Dalam bahagia dan pedih. Dalam keadaan mudah dan sulit. Kau lihat kan? Aku tak pernah sekalipun mengeluh menemanimu. Saat kau jaya dan sulit. Saat kau kaya dan miskin. Bahkan saat kesulitan menghadang, aku masih tetap tegak berdiri tanpa gentar. Aku tidak takut menghadapi dunia. Bersamamu, kepedihan akan tetap terasa manis. Tetapi, bagaimana bisa sekarang kau pergi tanpa membawaku? Bagaimana bisa aku tetap berdiri tegak sementara kau tak lagi ada? Bagaimana bisa aku tetap menatap dunia sementara putraku tiada? Di mana nilaiku?"
Zilka meluruh pilu. Dia jatuh terduduk, masih erat memeluk putra semata wayangnya. Kepedihan yang ia rasakan semakin tajam. Seolah-olah dunia sengaja menyudutkannya.
"Nyonya," panggil Pearl, tak kuasa menahan kepedihan. "Biarkan putramu tenang." Pearl berinisiatif untuk mengambil jenazah Reagan dari pelukan Zilka, tetapi wanita itu malah semakin histeris.
"Jangan sentuh putraku. Dia adalah milikku. Jangan rebut dia dariku!" Zilka menatap wajah putranya dengan penuh rasa sayang. Dia mencium dahi bayinya dan berkata lirih dalam tangis. "Sayang, aku akan melindungimu. Sekeras apa pun dunia ini menentangmu, seburuk apa pun nasib memperlakukanmu, aku akan berdiri untukmu. Tidak akan ada yang menyakitimu. Mommy berjanji. Itu adalah sumpahku!" Zilka mulai meracau tak masuk akal.
Pearl semakin tenggelam dalam tangis keputusasaan. Dia tak pernah melihat Zilka sekacau ini. Fakta kematian Felipe dan Reagan yang terjadi dalam waktu bersamaan telah memukulnya terlalu dalam. Siapa yang cukup kuat menghadapi kematian suami dan putranya sendiri yang mendadak?
"Nyonya, berikan Reagan padaku. Aku tidak akan menyakitinya!" Pearl berkata pelan. Jika Zilka tidak dipaksa melepaskan putranya, kapan upacara pemakaman bisa dilaksanankan? Situasi ini telah cukup menarik kesedihan banyak orang.
"Jangan ambil putraku. Aku tak lagi memiliki apa pun di dunia ini selain dia. Kau lihat kan Felipe telah tiada? Jika kau mengambil putraku, bagaimana hidupku akan berlangsung, Pearl?" Tatapan mata Zilka tampak linglung. Dia seperti kehilangan logikanya. Dia memperlakukan seolah-olah Reagan masih hidup.
Pearl tersenyum sedih. Fakta kematian Felipe dan Reagan pasti cukup mengguncang Zilka sehingga akhirnya mempengaruhi psikisnya. Pearl berkata pelan, membujuk secara persuasif.
"Nyonya. Ini adalah waktunya Reagan tidur. Biarkan saya membawanya tidur. Kau lihat kan, tubuhmu sudah cukup lelah?" Pearl tersenyum miris, air mata masih mengalir deras. Beberapa wanita di sisi Zilka mulai mendekatinya, membujuk dengan penuh kelembutan.
Akhirnya, dengan pendekatan lembut, Reagan berhasil diambil dari Zilka. Bayi itu ditempatkan di peti tak jauh dari Felipe dan segera diurus kemudian. Zilka dibawa menuju lantai atas. Psikisnya mulai terguncang lagi. Perl tak ingin hal-hal buruk terjadi pada majikannya. Sudah cukup tragedi Felips dan Reagan menimpa keluarga ini. Jangan sampai Zilka terperosok juga.
Pearl yakin seiring berjalannya waktu, Zilka pasti mampu menerima kenyataan ini. Wanita itu cukup kuat dan akan baik-baik saja. Tetapi, Pearl tak pernah memperhitungkan tragedi ini akan menjadi luka berdarah yang akan diingat Zilka selamanya. Sebuah luka yang tak akan pernah kering bekasnya.
…