Bertemu Lagi

1010 Words
Sunyi sekali di lapangan. Ririn hanya mendengar suara angin. Selebihnya, adalah suara jantungnya sendiri. Ia merasa degup anggota tubuh yang bertugas memompa darah itu sedang berpacu. Ariel sudah meletakkan kalengnya di tanah batako dan bersiap akan menendang. Ancang-ancang sudah dilakukan. Tampak bibirnya menarik senyum di salah satu sisi. "Bersiap!" pinta Ariel memberi aba-aba. Rika yang melihat terpaksa menutup mata dengan sepasang tangannya. Ia tidak tega melihat kakaknya disakiti. Rasanya ada penyesalan mengapa ia ditolong pria itu. Lalu, dalam hitungan tiga detik dihitung mundur. Ariel sudah akan menendang. Akan tetapi, sesuatu yang tidak disangka terjadi. Ariel urung menendang kalengnya. Ia malah meraihnya dan berjalan mendekat ke salah satu tempat sampah. "Klontang Klang." Suara kaleng masuk ke dalam tong. Rika menarik telapak tangannya perlahan. Ia sebenarnya juga mengintip dari lubang di antara jari jemarinya, dan ia melihat Ariel tidak jadi menendang kaleng kosong tersebut. Rika tersenyum. "Kak Ariel emang orang baik. Aku tahu kakak nggak mungkin nyakitin Kakaknya Rika," ucap Rika sambil berlari kecil menghampiri Ariel. Ia lalu menatap pria itu dengan wajah yang menggemaskan. Mendengar pernyataan Rika, Ririn sendiri ikut membuka sepasang matanya. Awalnya ia mengintip dengan sedikit membuka mata. Lalu makin lama, kedua matanya semakin terbuka. "Hah! Ya Allah, Alhamdulillah. Terimakasih ya Allah. Aku terselamatkan,' batin Ririn yang tahu Ariel tidak jadi menendang kaleng ke arahnya. Ririn pun berjalan mendekat. Ia merasa harus berterimakasih. "Ternyata kamu nggak beneran mau nimpuk aku ya. Makasih banyak!" ucap Ririn dengan senang dan memang tulus. Ariel menatap dingin. "Awas aja, kalau kita ketemu lagi dan terjadi hal yang merepotkan." Ririn merasa pernyataannya dianggap tak bernilai baik. Padahal ia sudah dengan sangat sukarela melempar senyum pada Ariel. Akan tetapi, Ariel justru mengeluarkan ultimatum. Padahal, ia sendiri juga tidak mau bertemu pria tersebut. "Sombong banget sih!" sahut Ririn. Ariel tidak peduli. Ia sudah cukup sakit kepalanya terkena tendangan kaleng tadi pagi oleh Ririn. Ia pun berjalan begitu saja, meninggalkan Ririn dan adiknya di sana. ** "Emang beneran tengil itu cowok. Masak aku sama Rika dibiarin gitu aja di lapangan. Udah hari mau malem lagi." Ririn mengeluh. Ia melihat Rika sudah sangat lelah berjalan kaki. Maklum lapangan yang mereka datangi cukup jauh jaraknya dari tempat mereka tinggal. "Kakak gendong ya!" Ririn menawarkan punggungnya. Ia duduk berjongkok dan membiarkan adiknya naik ke sana. "Udah ayo! Nggak papa. Kakak nggak akan bikin kamu jatuh kok!" Rika ragu, tapi ia tersenyum kecil dan mau digendong kakaknya. Karena memang sudah lelah untuk berjalan. "Ayo Ririn! Kamu pasti kuat gendong Rika.' Ririn menyemangati dirinya sendiri. Ia harus memastikan dirinya dan sang adik, bisa segera sampai di rumah. ** Ririn terlambat bangun pagi ini. Ia merasa tulang belulangnya rontok. Punggungnya sakit dan sulit merasa lega. "Haduh, badanku sakit semua, gara-gara ngotot buat gendong Rika sampe rumah. Aku jadi yang capek sendiri. Mana harus kerja lagi." Ia berusaha melupakan rasa pegal. Air dingin di kamar mandi, ia siramkan begitu saja di tubuh. "Hahhh, dinginnnnn!" Ririn memekikkan suaranya. Rasanya terlalu lebay untuknya yang harus menjerit hanya karena air dingin. Padahal air itu benar-benar membuat dirinya terkejut. Sudah tidak ada banyak waktu. Mandi secepat kilat, berpakaian tanpa pilih-pilih baju. Karena tidak ada banyak baju juga yang bisa dipilih. Lalu merapikan rambutnya dengan beberapa sisiran dari sisir yang berlubang. "Ternyata, nggak cuma gigi aja yang berlubang ya!" ucap Ririn melihat sisirnya yang sudah tidak utuh lagi. Melihat jam beker berbentuk hati di atas nakas. Ia pun terkejut bukan main. Seakan jam itu mengecohnya. Padahal ia sudah berusaha cepat-cepat. Tapi, ternyata sudah sangat terlambat jika ia harus menyisir rambutnya lagi. Ririn langsung mengambil Ika rambut. Mengikatnya dengan sedikit helai yang tampak tidak berbaris. Ada yang terjuntai dan ada yang tertekuk karena buru-buru. "Udahlah, aku kan cuma tukang masak. Bukan model," gurau Ririn sendiri. Ia pun segera melesat ke dapur untuk mengisi kekosongan perutnya. ** Mengayuh sepeda onthel dengan kekuatan yang terbatas, terpaksa dilakukan Ririn pagi hari ini. Ia mengayuh dan terus mengayuh. Perutnya hanya terisi air putih. Ia tidak menemukan apapun di atas meja dapur di rumahnya. Kecuali tumpukan piring kotor milik sang ibu dan Rika. "Ayo, sebentar lagi sampai. Aku bisa bikin teh hangat biar perutku kenyang nanti di kedai." Ririn berbicara sendiri. Menyemangati dirinya yang seperti ini, sudah biasa ia lakukan. Kayuh sepedanya mulai melambat. Ia harus memastikan kakinya siap untuk mengerem. Ririn mulai menghentikan laju sepeda dan turun. Dilihat kedai tempat dirinya bekerja sudah dibuka. Tampaknya temannya sudah datang. Memang sangat terlambat dirinya untuk masuk. "Semoga nggak kena omel." Ririn berjalan perlahan, sambil mendorong sepedanya. Diperhatikan sekeliling. Ririn merasakan firasat buruk. Pemandangan tidak biasa tampak di halaman kecil untuk parkir di depan kedai tempat ia bekerja. Kedua matanya memicing tajam. Menatap sesuatu yang mendorong dirinya berfirasat buruk. "Mo-mobil ini. Bukannya ini mobil yang tadi malam dipakai orang yang namanya Ariel itu ya. Allahu, gini amat sih hidupku. Jangan-jangan dia, ada di dalam kedai lagi. Oh tidak! Gimana ini. Dia bisa tahu tempat persembunyianku. Maksudku tempat kerjaku,' batin Ririn. Gadis itu, mulai berjalan dengan perlahan-lahan. Ia dalam kode siap siaga. Matanya menyoroti ke depan, meneliti apa yang bisa mengancam hidupnya. "Yang bener aja." Ririn melihat siapa yang ada di dalam kedai. Rasanya Ririn ingin pingsan. Yang mengancam hidupnya benar-benar ada di sana. Berdiri tegak dengan pandangan datar dan rak bereksperimen. Rasanya seperti melihat baju yang baru diseterika rata dan datar. Ia ingin mendengar apa yang mereka bicarakan. Samar-samar terdengar di telinga Ririn. "Begini, mungkin tukang masak kami sedang berhalangan. Jadi, agak datang terlambat. Tapi, sudah dicoba untuk ditelpon kok!" terang si pemilik kedai. Sedangkan, Mita, teman kerja Ririn, juga sibuk menggunakan ponsel pipihnya. Ia berharap bisa menelpon Ririn. Tapi nihil, tak diangkat oleh gadis itu. "Gimana Mita, sudah bisa dihubungi Ririn nya?" "Belum Pak!" Ririn sadar dirinya sedang ditunggu. Ia melihat lagi ke dalam kedai. Memang ada sepasang orang tua di sana. Sedang duduk dalam satu meja dengan Ariel. "Gimana ini? Aku harus secepatnya masuk kerja. Tapi, ada Ariel. Tapi, ada pembeli. Tapi ada Ariel. Pengen pingsan tapi jangan." Ariel menyadari kehadiran seseorang yang mengintip ke arah kedai. Ia pun memicingkan matanya dan berusaha melihatnya sampai jelas. "Gadis itu!" ucap Ariel yang masih berdiri di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD