Pagi Yang kacau

1165 Words
Apa rencana yang tuhan inginkan, padahal susah payah hati dan pikiran ingin melupakan. Tapi, nyatanya seperti jodoh saja. Atau mungkin ini menjadi tanda kala akan berjodoh. ^^ Rasanya Ririn ingin kabur saja. Ia mengetuk-ngetukkan kepala ke dinding yang ia gunakan untuk mengintip. Mungkin saja setelah itu, ia bisa mendapatkan petunjuk untuk menyelesaikan masalah yang muncul tiba-tiba. “Ayolah, padahal aku udah nggak mau ketemu orang itu,” gumam Ririn. Ia kemudian memperhatikan sekitar. Tak ada yang bisa digunakan untuk menutupi jati dirinya. Ya, sebenarnya tak penting juga siapa dirinya yang sebenarnya. Kecuali kalau Ririn adalah putri tunggal pengusaha kaya raya yang jadi incaran pria tak bertanggung jawab. Tapi, dia cuma Ririn, anak desa yang ingin bekerja dan memiliki hari-hari yang tenang. Ririn sontak menghadap tembok, dinding yang ia gunakan untuk menyembunyikan diri dan mengintip apa yang terjadi di dalam kedai tempatnya bekerja. Ternyata, Ariel yang tahu dan tanpa sengaja melihat ke arahnya bersembunyi menjadi penasaran dan mendekat ke arah Ririn berada. “Kamu mau apa di sini?” tanya Ariel. Ia melihat bagian belakang tubuh Ririn yang pasti sudah dikenal dengan baik. Apalagi antara dirinya dengan Ririn sudah bertemu berkali-kali dan sempat satu mobil juga. ‘Apa! Jadi Ariel ingat sama aku. Wah …! hariku yang cerah ceria pasti setelah ini, dengan seketika akan diliputi awan gelap,’ batin Ririn berteriak. Ia kemudian dengan terpaksa membalikkan tubuhnya dan kemudian menatap ke arah Ariel yang seperti akan mengintimidasinya. “Hay!” sapa Ririn dengan tersenyum. Ariek masih diam. Ia melihat penampilan gadis di depannya sungguh mengerikan. Ia langsung menunduk mencari pemandangan yang lain. Ariel melihat Ririn begitu acak-acakan. Rambutnya yang diikat dengan sembarangan. Sandal yang satu dengan yang lain tak sama. Entah itu tertukar atau Ririn yang salah menggunakannya tadi, dan Ririn ternyata tak menyadari. Mungkin karena buru-buru. “Penampilan kamu beneran merusak pemandangan. Kamu mending jangan beli makanan di sini. Orang kalau lihat kamu pasti langsung ilfeel, kasihan pembeli di kedai makanan ini bisa kabur gara-gara lihat kamu,” ucap Ariel. ia kemudian berlalu secepatnya karena perutnya merasa mual dan ingin muntah. Ririn mendengar perkataan Ariel dengan detail. Hatinya sudah pasti merasa teriris. Apalagi ia melihat Ariel muntah-muntah usai melihat ke arah dirinya. “Hah! Dasar pria sombong. Dikira dia yang paling cakep apa di dunia ini. Kenapa dia sok-sokan muntah lihat aku.” Ririn tak percaya melihat Ariel yang tega melakukan itu tepat di depannya. Pria itu melihatnya dengan begitu jijik. Apa sejelek itu dirinya, atau wajahnya tak bisa disamakan dengan manusia pada umumnya. Dalam kekesalan yang tak bisa diungkapkan, karena Ririn sendiri sebenarnya sudah malas berurusan dengan Ariel. Padahal hatinya sangat ingin mengadili sikap Ariel yang tidak manusiawi. Ternyata Mita datang dengan bergumam sendiri. Menyesal pagi ini, di hari yang masih awal. Sudah datang pembeli, tapi temannya seprofesinya tidak muncul-muncul. Lalu saat ia berjalan ingin memanggil Ririn di rumahnya. Ia justru melihat Ririn ada di bagian depan kedai dan sedang mematung dengan asyiknya. “Oeeee, Ririn Clarissa. Yang bener aja kamu. Udah ditungguin bos malah diam di sini. Tempat kamu kerja ada di sana. Bukan di sini. Kamu mau jadi yang penyangga. Kali aja nanti temboknya rubuh,” ucap Mita emosi. Mita kemudian melihat Ririn yang aduhai menyebalkan sekali penampilannya. Sampai-sampai ia menggeleng heran. “Kamu abis kena angin p****g beliung. Itu rambut dirapikan dikit dong. Kamu itu koki harusnya jaga standard kerapian, kebersihan, dan kecantikan.” Ririn mendelik. “Standar apa itu. Itu standar pria idaman kamu.” Ririn lalu segera melangkah masuk dan mendekat ke arah bos pemilik kedai. Ia pun langsung bertemu dengan Kakek nenek Ariel yang pagi ini menjadi pembeli pertama yang di kedai. Sayangnya, mereka sedikit agak kecewa karena koki yang ditunggu-tunggu tidak segera datang. “Maaf pak! Saya tadi abis jatuh. Ini kepala saya juga rasanya masih mumet Pak,” ungkap Ririn coba menjelaskan, sambil berpikir mungkin saja ia bisa mengambil hati sang bos dan mau memaafkan keterlambatannya. Karena jujur ia benar-benar pening sekali, dicampur rasa lapar dan kesal karena kemunculan Ariel yang bagai awan gelap. Pak Bos melihat Ririn dengan teliti. “Ya udah kamu rapikan penampilan kamu, atau mandi dulu sana. Saya nggak mau kamu masak dengan penampilan seperti ini.” “Baik Pak!” ucap Ririn merasa senang. Atau lebih tepatnya terselamatkan karena Pak Bos tidak memarahi dirinya, malah menyuruhnya untuk mandi dan merapikan diri. “Maaf ya Kakek Nenek, atas yang barusan terjadi. Dia sebenarnya anak yang rajin. Tapi, iya ..., mungkin saja, hari ini dia benar-benar dapat musibah di jalan,” terang pak bos pada kakek Anjas dan nenek Sarah. “Tapi, gimana, apa Kakek dan nenek masih bersedia makan di sini. Cuma, harus menunggu koki saya membersihkan, maksud saya merapikan dirinya biar lebih enak dipandang.” Nenek Sarah berpikir, kemudian tersenyum. “Kami mau kok nungguin. Asal kedai ini beneran buka, dan makanan yang saya pesan akan bener-bener disiapkan, karena kedai ini rekomedasi dari cucu saya. Dia itu paling bisa ngerasain makanan yang enak.” Pak Bos tersenyum mendengar penuturan Nenek Sarah. “Kalau gitu, biar nanti saya diskon sepuluh persen untuk makanan yang kakek nenek beli." “No no no no. Saya masih bisa bayar. Lebih baik suruh cewek tadi cepet. Saya udah lapar.” Bersamaan dengan itu, Ariel muncul dan menyela pembicaraan mereka. “Lho Nek makanannya belum siap?” “Belum, kokinya baru datang, Mending kita duduk dulu!” terang Nenek. “Oh iya, silahkan duduk lebih dahulu.” Pak Bos pun ikut mempersilahkan. Tak lama kemudian Ririn muncul dengan begitu rapi. Beruntung kali ini Ariel tidak menyadari, kalau Ririn adalah kokinya. Sehingga Ririn bisa fokus dan bekerja dengan baik. Lagipula ia juga sama, tidak menyadari kehadiran Ariel. Karena itu, ia bisa mengolah masakannya dengan begitu terampil. Aroma potongan bebek goreng yang sedang dimasak, benar-benar menggugah selera. Para pembeli merasa sangat tidak sabar. Mereka bisa merasakan aroma masakan yang begitu harum dan pastinya membuat perut lapar. “Selama di sini, kita nggak pernah ya Nek, ketemu masakan yang harumnya enak banget gini,” ucap Kakek. Nenek Sarah mendadak melirik Kakek dengan kesal. “Gimana bisa ketemu aroma masakan. Kakek aja, nggak pernah mau diajak makan keluar, ngajak jalan nenek aja juga enggak sama sekali. Kakek kan takut asam urat kambuh kalau makan di kedai kaya ginian. Iyakan!” "Nenek, kakek kan nggak mau nenek sampai kerepotan kalau terjadi sesuatu sama Kakek." "Ih …, Kakek emang sadar umur banget sih. Ya, tapi tetep aja, istrikan pengen jalan-jalan." "Kenapa bertengkar lagi sih?" tanya Ariel melihat tanda-tanda kakek neneknya akan berselisih. Ririn yang sudah menyiapkan makanannya tak jauh dari meja tempat kakek dan nenek berada, dan akan menghilangkannya mendengar suara Ariel. Ia langsung berhenti beraktivitas dan berusaha menoleh dengan perlahan-lahan agar tidak ketahuan. "Ya Allah, itu Ariel ngapain muncul lagi," gumam Ririn. Tiba-tiba Ririn takut kalau dia sampai muncul mengantar makanan pesanan mereka. Ariel yang ada di meja itu merasa ilfeel dan kembali muntah-muntah. Lalu bisa saja ia membatalkan pesanan makanan, dan imbasnya, Ririn tidak berhasil mendapatkan uang. “Haduh!!! Di saat seperti ini, kenapa Mita nggak balik-balik.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD