Drama Di Kedai

1065 Words
Sambil tetap berlindung di balik pembatas papan kayu, Ririn berdiam diri sejenak. Ia menenangkan dirinya. Berpikir cepat, bagaimana caranya supaya bisa memindahkan makanan yang sudah disiapkan ke meja pembeli. Otaknya sudah berpikir ala profesor yang bisa berdenyut cukup keras. Tapi, bukan ide yang muncul. Malah kepalanya terasa mendadak pusing. "Ya Allah, kasih aku keajaiban dong. Aku pengen Ariel pergi dari meja. Aku cuma mau anterin makanan ini ke pelanggggan." Ririn berharap sekali Ariel pergi dari meja itu. Meja di mana ada kakek dan nenek yang memesan makanannya. Ya, sepertinya satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah berdoa, meminta keajaiban atau keberuntungan. Rasanya Ririn ingin menangis. Karena selama hidupnya, ia tidak pernah beruntung. Hiks, mengingat itu, Ririn ingin menangis. Gadis itu akhirnya pasrah. Ia merasa keberuntungan memang amat jauh dari garis hidupnya. Dengan kekuatan yang tinggal separuh, ia melangkah lemas. Separuh kekuatannya sudah digunakan untuk memantapkan hatinya biar bisa membuat tameng. Tameng untuk hatinya yang rapuh karena bertemu Ariel yang menyebalkan dan mungkin akan segera berkata-kata hal buruk tentang dirinya. 'Tamat aku abis ini,' batin Ririn yang sebenarnya tak siap dengan hal buruk. Padahal ia ingin sekali ketenangan mewarnai hari-harinya. Sementara itu, Ariel masih asyik berbicara, ia terlihat berubah ekspresinya tiba-tiba, manakala fokus melihat nenek Sarah yang tampak sedikit agak berbeda. "Lho Nek! Bukannya Nenek tadi bawa tas?" tanya Ariel yang meneliti bawaan nenek Sarah. Nenek Sarah coba mengingat, ia juga lupa tadi bawa tas atau tidak. "Aduh, emang Nenek bawa tas ya? Kok Nenek nggak ingat!" sambung Nenek sambil mengecek tempat di sekitar meja. "Kayak gini kok minta jalan-jalan, yang ada malah lupa lagi kalau bawa Kakek," celetuk Kakek, sambil menatap istrinya. Nenek Sarah melirik tajam. "Emang Kakek mau aku tenteng-tenteng. Gimana sih, itu tas apa orange. Ya beda lah, ceritanya. Lagian Nenek juga nggak sengaja lupa. Kayaknya harus olahraga otak nih biar nggak pikun kayak Kakek." "Kakek Nenek, jangan berantem lah. Nenek, gimana udah ada tasnya?" Ariel coba menenangkan keadaan. Entah mengapa akhir-akhir ini, kakek neneknya sering sekali bertengkar dan membuat keributan hanya karena masalah kecil, dan sekarang keributan itu malah terjadi di tempat umum. Nenek Sarah masih coba mengingat-ingat. "Lho Ariel, emang Nenek tadi bawa tas ya?" Ariel menggigit bibir bawahnya menahan diri agar tidak berkata panjang seperti jalan kereta api. Ya, seperti jalan kereta api, bukan lagi seperti kereta api. "Ya udah Nek, biar aku cek di dalam mobil. Kalau di dalam mobil nggak ada, berarti ya ketinggalan di rumah. Dari tadi aku nggak lihat Nenek bawa tas soalnya." Ariel akhirnya bangun dan berjalan sendiri ke arah mobil yang terparkir di depan kedai. Bersamaan dengan itu, Ririn sudah membawa hidangan yang akan diantarkan ke meja pembeli. Ia terus-menerus berharap keberuntungan menyertai langkahnya. Meski itu hal mustahil. Apalagi semenjak bertemu Ariel. Rasanya hidupnya semakin mencekam. Dan saat Ririn sudah menatap meja Nenek Sarah. Sepasang matanya terkejut melihat di meja itu ternyata tidak ada Ariel. Sontak hatinya berbunga-bunga, hari-hari yang gelap seperti menjadi cerah ceria, senyum bisa terlukis di bibir Ririn. Kali ini ia merasakan keberuntungan. 'Ya Allah, makasih …!' batin Ririn. Gadis itu pun segera meletakkan makanan yang dipesan. Masih ada lagi satu porsi untuk diantar. Ririn pun melesat cepat menuju bagian belakang dan mengambil makanan untuk diantar lagi. "Ini Nenek, Kakek, semua pesanan sudah saya antar. Selamat menikmati ya!" Ririn tersenyum dan segera berbalik sebelum Ariel muncul sebagai mendung hitam yang akan menggelapkan harinya yang mendadak cerah. "Wahhh, kamu cepet banget Cantik!" puji Nenek yang sepasang matanya langsung tertuju pada hidangan. Setelah Ririn pergi, Ariel balik dari mobil dan berjalan menghampiri Nenek. Ia membawa tas yang seharusnya Nenek yang bawa. Dengan sedikit kesal, sambil menenangkan hatinya, ia pun duduk lagi dan menemani Nenek dan Kakek. Diletakkan tas hitam berbahan kulit asli di atas meja. "Lho, inikan tas Nenek!" seru Kakek Anjas. Kali ini, perdebatan terjadi lagi. Tapi, Ariel tak mau berkata apa-apa. Karena ia sudah ingin fokus menikmati makanannya. Tak bisa mengerti mengapa kakek nenek terus saja ribut. Ariel pasrah kali ini dan berusaha bertahan di meja makan. Pemandangan di meja makan, bagaimana kondisinya dan siapa saja yang ada di sana sedang diintip dan diperhatikan oleh Ririn. Hatinya yang jedak jeduk karena takut ketahuan Ariel, kalau dia ternyata koki di sini, sedikit demi sedikit mulai merasa tenang. Ia sudah lega semua pesanan sudah diantar. "Entah hubungannya apa, Ariel sama Kakek dan Nenek itu. Yang penting, semua tugasku pagi ini selesai." Ririn merasa senang. Bersamaan dengan itu, Mita baru muncul dengan wajah yang tak merasa bersalah. Temannya itu datang sambil asyik bernyanyi. Ia memasang wajah ceria, seperti anak TK baru selesai bermain di taman bermain. Ririn menatap kesal. Ia mengingat kembali hatinya yang kacau karena tidak adanya Mita saat dirinya dibutuhkan. "Dari mana aja sih?" tanya Ririn. "Perasaan kamu sering banget ngilang di saat yang dibutuhkan." Mita melirik dengan senyum yang dibuat-buat. "Aku abis beli pulsa bebeb, Sayang banget kan Bebeb, kalau hape canggih nggak ada pulsanya. Eh pulsa, kuota," sambung Mita. "Ih …., lain kali jangan gini lagi. Tuh lihat cowok yang lagi makan sama sepasang kakek dan nenek itu. Dia yang kemarin aku ceritakan muncul lagi, bikin grogi aja. Kalau dia nggak jadi beli gara-gara lihat aku gimana? Kan kita juga yang rugi." Mita masih tersenyum."Ya nggak mungkin lah. Kalau beli ya beli aja." "Ya mungkin aja Mitaaaa. Dia cowok paling nggak bertanggung jawab di dunia ini." "Hah! Bertanggung jawab. Emang dia abis ngapain kamu?" Mendengar keterkejutan Mita, Ririn rasanya ingin meremas mulut temannya itu yang suka menanggapi sesuatu seenaknya sendiri. "Kamu pikir aku diapain. Semalam itu, dia pengen nimpuk kepalaku dan pas di lapangan, pas mau pulang, dia malah ninggalin aku sama Rika gitu aja. Padahal kan jarak dari lapangan sama rumah kan jauh banget. Pake Rika kecapekan, terus aku gendong deh." "Aduh, kamu emang kakak yang baik," ucap Mita sambil menepuk pelan bahu Ririn. Ia harap Ririn lupa kalau dia sempat kesal. "Ya iyalah, emangnya aku kayak cowok itu. Ngeselin dan suka seenaknya sendiri. Coba aja dengerin. Kakek sama neneknya berantem, dia malah asyik makan makanannya," sambung Ririn sambil melihat ke meja pembeli. "Eh, iya kalau itu kakek sama neneknya. Mungkin aja si Ariel itu cuma sopir. Sopir milenial yang ganteng abis." Ririn mulai merasa Mita kambuh penyakitnya karena cowok tampan. Jika sudah begini. Mita pasti terus menerus memuji ketampanan Ariel yang bagi Ririn tak tampak karena tertutup awan gelap. Karena Ririn rasa Ariel adalah gumpalan awan gelap yang hitam pekat dan tak ada sinar yang mampu menyentuhnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD