Hari Yang Menyebalkan

1249 Words
Padahal hidup ini harus berjalan terus. Tapi, kadang masalah muncul bagai batu besar di jalanan. °°° Meja makan yang digunakan oleh Kakek Anjas dan nenek Sarah sudah dibereskan. Beberapa pembeli juga ada yang datang setelah itu. Ririn merasa hari ini cuaca begitu panas. Ia mengelap peluh yang menetes di kening. Rasanya pengap sekali, apalagi ia harus berduaan saja dengan kompor di dapur kedai. ‘Kadang aku mikir, mau sampai kapan aku kerja kayak gini. Pengen banget punya usaha sendiri. Tapi apa? Duit dari mana?’ batin Ririn berbicara sendiri. Ririn jadi ingat dengan Ariel. Pria itu dilihat dari sisi manapun. Tampak jelas kalau dia anak orang kaya. Ririn kira hidupnya pasti bahagia dan sejahtera, bergelimang harta, tak punya masalah hidup dan lainnya yang mungkin berbanding terbalik dengan diri seorang Ririn. "Anak seperti itu mana ngerti masalah hidup. Makanya dia juga seenaknya sendiri kalau sama orang lain." Ririn masih berbicara sendiri saat berada di dapur kedai. Sementara itu, Mita ternyata dapat pesanan lagi. Ia segera datang menghampiri Ririn dan berjalan cepat dari meja pemesan. “Woy, ngelamun aja, nih ada pesenan dua porsi,” ucap Mita. Ririn menerima kertas catatan dari Mita. Ia melihat gadis itu, kemudian kembali ke depan untuk membereskan meja makan yang baru digunakan pembeli yang baru selesai. “Mita ceria banget ya,” gumam Ririn. "Padahal hidupnya sama aja kayak aku. Tapi, dia kayak nggak ada beban. Apa aku yang kurang bersyukur ya." Ririn kembali melakukan aktivitas dapurnya. Ia kembali harus memanaskan wajan penggorengan. Lamunannya ternyata juga masih berlanjut. Hatinya yang suka berbicara sendiri, memulai percakapan tentang kehidupan yang rumit. Sebuah potongan daging bebek dimasukkan ke dalam wajan. Suara jatuhnya bebek ke dalam minyak goreng yang panas seperti menjadi irama sendiri di dalam dapur. Ririn yang masih melamun tapi tetap beraktivitas, hanya bisa melanjutkan pekerjaan dengan sedikit memaksa. Hingga tanpa sadar, bagian lengannya tersentuh pinggiran wajan. Nyess “Auw!” Ririn terkejut. Ia seperti mendapat sengatan listrik dan langsung memegangi tangan. Sontak ia juga memanggil Mita. “Mita! Tolongin dong!” panggil Ririn dengan sedikit berteriak. Mita mendengar panggilan dari teman kerjanya itu. Ia menoleh sebentar dan melihat Ririn seperti tidak ada di depan kompornya. “Mana Ririn?” tanya Mita bingung sambil melihat-lihat dari tempatnya berdiri yang jauh dari dapur. Karena kebetulan tugasnya untuk membersihkan meja sudah selesai, Mita pun dengan cepat menghampiri temannya. Ternyata Ririn sedang terduduk di lantai dan Mita juga mendapati wajan yang terlalu panas sehingga ada asap yang mengepul di atasnya. Tampaknya Ririn yang melamun tidak ingat untuk menggunakan api kecil. Pantas saja ada aroma gosong yang tercium karena potongan bebek yang hitam terlalu cepat, padahal belum matang sempurna. “Ya ampun Ririn, kamu kenapa?” tanya Mita. Ia langsung mematikan kompor dan mendapati potongan bebek goreng di wajan yang bisa dikatakan hitam dan tak layak konsumsi. “Sakit!” keluh Ririn sambil memegangi tangannya yang cekot cekot karena tersentuh wajan yang panas. Sialnya hari itu, istri pak Bos sedang datang berkunjung dan melakukan sidak sesuka hatinya. Ia mendapati keteledoran Ririn yang pasti diperhitungkan rugi untungnya bagi kedai, atau lebih tepatnya bagi dirinya sendiri, keuangannya atau isi dompetnya, karena bebek yang digoreng oleh Ririn sudah pasti tidak layak untuk dijual. “Kamu itu kenapa sih Rin …! Masih muda kok kerjanya udah nggak bener gini. Emangnya kamu mikirin apa sih! Kalau kerja itu yang fokus, jangan bikin rugi,” omel istri Pak Bos. Ririn seketika merasa takut. Ia melihat wajah suram dari istri pak bos. “Maaf Bu, saya nggak sengaja. Saya juga nggak tahu kalau apinya kegedean, wajannya panas banget dan langsung kena tangan saya.” Ririn coba menjelaskan, berharap bu Bos tidak marah. Tapi, bu bos memang terkenal garang. Ia merasa dirugikan sekali dengan perbuatan Ririn. "Gimana bisa nggak tahu. Kerja di sini berapa lama kamu, kok bisa nggak tahu." Bu Bos kembali meluncurkan kata-kata kejamnya. Ririn sedikit terisak, baru kali ini ia melakukan kesalahan. Tapi, dampaknya sungguh melukai batin. "Saya minta maaf Bu," ucap Ririn agar ia mendapatkan kesempatan memperbaiki keadaan. "Saya pokoknya, nggak mau tahu. Bebek yang udah kamu gosongin itu, kudu kamu beli. Dua-duanya!" Bu bos mendelik tepat dengan mengarahkan pupil matanya pada Ririn. Nada suaranya juga meninggi membuat tubuh Ririn gemetar. Seketika Ririn menciut. Nyalinya mengecil bersamaan dengan melejitnya kata-kata bu bos yang memekakkan telinganya. "Ba-baik Bu!" Bu bos akhirnya pergi dari tempatnya mengomeli Ririn tadi. Ia pergi dengan meninggalkan pengalaman pahit pada Ririn. Gadis itu semakin lemah tak berdaya. Hatinya menjerit sakit dan menangis karena kecerobohan yang tidak sengaja. "Kamu nggak papa Rin?" tanya Mita mendekat. Ia kemudian mengusap-usap pundak Ririn menguatkannya. "Huaaaa." Ririn menangis perlahan. "Gini amat sih hidupku Mit …!" "Sabar ya, sekarang kamu goreng bebek lagi ya. Udah ditungguin pembeli tuh!" "Ya Allah Rin, sekali-kali kamu aja dong yang goreng," ucap Ririn merasa semakin tak berdaya. "Kamu kan tahu sendiri. Aku juga ahli gosongin bebek." "Huhhhh! Ngeselin juga kamu." "Udah, jangan nangis dulu. Nanti aja nangisnya. Kerja dulu. Tuh! Lihat ada pembeli lagi yang datang," ucap Mita. Lalu kabur dari tempatnya menenangkan Ririn. ** Hari hampir gelap. Ririn baru selesai membersihkan dapur tempatnya bekerja. Bu Bos kembali datang. Ia ingin menghitung hasil penjualan hari ini. Termasuk menagih uang pada Ririn karena gadis itu sudah membuat rugi kedainya. Ririn berpikir untuk menghadapi saja istri bosnya dan akan mengatakan yang sebenarnya. Kalau ia tak memiliki uang sepeserpun. Jadi, tak mungkin dirinya bisa membayar. "Gimana ini Mita? Aku pasti dimarahi lagi." Ririn merasa khawatir sekali. Mencoba yakin kalau semua akan baik-baik saja, rasanya seperti hal yang mustahil. "Andai aku punya uang Rin, aku pasti mau bantuin kamu." Mita kembali mengusap pundak temannya. "Ya udah, aku akan tanggung semua resikonya." Ririn akhirnya menghampiri Bu bos. "Permisi Bu!" Bu bos melirik sekilas. Sepasang matanya kembali memandang ke arah segepok uang yang sedang dihitung berapa nominal jumlahnya. "Iya, ada apa? Apa kamu mau bayar bebek gosong dua potong tadi?" "Sa-ya nggak punya uang Bu." "Hah, yang bener aja. Masak kamu nggak punya uang. Ehm …, saya tau. Pasti uangnya udah kamu belikan kuota. Aduh! Jadi anak muda jangan boros kuota dong. Giliran suruh bayar ganti rugi. Jadi, nggak punya uang kan!" Ririn hanya tersenyum kecut. Ia merasa jatuh dan sangat jatuh. Jatuh di jurang paling dalam. Sudah dimarahi, disuruh bayar ganti rugi, tangan terkena wajan panas, dan sekarang dituduh tidak punya uang karena uang habis untuk beli kuota. "Maaf Bu. Tapi, saya beneran nggak punya uang. Apalagi kalau sampai buat beli kuota." Ririn meraih sesuatu di saku celananya yang dalam dan rasanya benda yang akan ia ambil terhimpit dan sesak. Hingga sulit untuk dikeluarkan. Bu bos menatap sinis. "Halah …. Nggak percaya aku. Kalau kamu nggak mau ganti rugi. Mending pecat aja. Daripada kamu ngulangin kesalahan yang sama." Mita yang menguping pembicaraan rasanya ikut terkejut. Ia tak mau berpisah dengan Ririn. Ingin rasanya muncul jadi penyelamat, tapi ia pasti mati kutu karena tak tahu juga harus berbuat apa. "Tapi Bu, saya emang nggak pernah beli kuota. Uang saya, saya kasihkan ke ibu buat tambahan bayar sekolah Adek saya. Lagian hape saya nggak butuh kuota." Ririn coba menjelaskan sambil tetap berusaha mengambil benda di dalam saku celananya. "Nah, ini hape saya Bu!" ucap Ririn sambil menunjukkan hape keluaran lama yang layarnya separuh, karena yang separuh digunakan untuk tempat tombol. Bu bos memandang tidak percaya. "Hah, nggak salah. Ini zaman milenial. Tapi kamu pakai itu." Bu bos menunjukan sebuah ponsel lawas yang irama nadanya tulit-tulit. Ririn mengangguk. Ia berharap Bu bos akan iba dan tak jadi meminta uang untuk ganti rugi pada dirinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD