Setelah Reza meninggalkan rumah, suasana masih terasa sangat tegang. Parno masih dipenuhi dengan amarah yang tidak bisa ia redam. Hatinya terasa hancur melihat kenyataan bahwa Santi, putri yang selama ini ia sayangi, telah terlibat dalam masalah yang begitu rumit dan penuh skandal. Nindi, meskipun berusaha menenangkan diri, air matanya tidak henti-hentinya mengalir. Ia merasa kecewa, tidak percaya bahwa semua ini bisa terjadi. Arman berdiri di sudut ruangan, wajahnya tampak kusut. Ia tahu bahwa posisinya saat ini tidak kuat. Semua orang menentangnya, dan ia tidak tahu bagaimana harus keluar dari situasi ini tanpa memperburuk keadaan. Namun, sebelum Arman bisa berkata apa-apa, Parno tiba-tiba berdiri, menunjuk ke arah pintu. “Kau, keluar dari rumahku sekarang juga!” Parno membentak, suar

