Clara mengetuk pintu ruangan Lestari dengan hati-hati sebelum masuk. Wajahnya terlihat sedikit cemas, seolah ada sesuatu yang penting yang ingin ia sampaikan. Lestari, yang sedang sibuk menatap layar laptopnya, mengangkat kepala dan mempersilahkan Clara masuk. “Bu Lestari, maaf mengganggu. Saya ingin bicara sebentar soal perusahaan,” ucap Clara dengan nada ragu. Lestari menatap Clara dengan tatapan serius. Ia tahu, setelah seminggu tanpa kehadiran Arman, pasti banyak hal yang mulai tidak terkendali di perusahaan. Namun, ia berusaha terlihat tenang. “Apa yang ingin kamu sampaikan, Clara?” tanya Lestari, mencoba menjaga suaranya tetap stabil. Clara menarik napas sejenak sebelum melanjutkan, “Sejak Pak Arman tidak hadir di kantor, beberapa proyek besar mulai mengalami keterlambatan. Be

