Arman membuka pintu rumah dengan langkah lelah setelah seharian bekerja. Kemeja yang dipakainya sudah kusut, dasinya dilepas dan menggantung di saku celana. Ia menutup pintu dengan pelan, lalu meletakkan tas kerjanya di meja dekat pintu. Suaranya terdengar lantang saat memanggil, "Santi! Kamu di mana? Aku pulang." Rumah terlihat rapi, tapi suasana terasa sepi. Ia melangkah ke ruang tamu sambil mengintip ke dapur. Namun, tak ada tanda-tanda keberadaan Santi. "Santi?" panggilnya lagi, kali ini lebih pelan. Ia mulai merasa sedikit aneh. Arman lalu berjalan menuju kamar mereka. Ia membuka pintu perlahan, berharap menemukan istrinya di sana. Tapi kamar itu juga kosong. Hanya aroma lembut parfum Santi yang masih tersisa di udara. Sambil menghela napas, ia mencoba menelepon Santi

