“Terima kasih.” Ungkap Chacha dengan lirih pada Rayyan. Suaranya terdengar sumbang, khas orang habis menangis. Ditemani Rayyan. Sungguh melegakan. Rasanya sesak itu sedikit berkurang. Gadis itu berkali-kali terlihat menarik nafas panjang, dan menghembuskannya perlahan. “Sama-sama.” Jawab Rayyan singkat. Malam itu, bukan untuk yang pertama kali Rayyan menemani Chacha menangis. Cowok itu tampak mengusap lembut puncak kepala Chacha. Menenangkan. Mencoba membuat gadis itu merasa nyaman, berada disamping Rayyan. Pun Cahcha membalasnya dengan senyuman ramah. Gadis itu menarik kedua sudut bibirnya. Menciptakan yang senyum begitu manis, membuat jantung Rayyan berdebar lebih cepat dua kali lipat dari biasanya. Pun selanjutnya, gadis itu terkekeh. Menertawakan dirinya sendiri, yang begitu menye

