1% Harapan

1110 Words
Detik-detik sebelum Ale dan Kelompoknya melakukan eksekusi. Siti, Kuro, Yuki, Fian, dan Elias masih memikirkan bagaimana bisa keluar dari kurungan. “Hephephehep, Kalian memang bocah yang tidak sayang dengan nyawa.” Ujar Ale. “Izinkan aku yang mengeksekusi mereka pecong, sudah lama aku tidak menggunakan s*****a terkuat yang aku buat ini, hayhayhay.” Ujar Lukman sambil mengeluarkan s*****a seperti senapan mesin otomatis. “Hayhayhayhayhay, s*****a ini terbuat dari baja dengan menggunakan kunang-kunang peledak sebagai pelurunya. Ketika kunang-kunangnya mengenai kalian, tubuh kalian akan hancur berkeping-keping, hayhayhay.” Jelas lukman. Ale, Ali, dan Albet tersenyum. “Huufftt, itu s*****a yang mengerikan.” Ujar Yuki. “Matilah kita, senang bisa mengenal kalian Siti, Fian, Yuki.” Kata Elias sambil mengambil posisi duduk dan pasrah. “Kau ini memang sangat menyebalkan, lagi-lagi kau tidak menyebutkan namaku. Tapi tenang saja, kalian semua akan aku selamatkan. Akan ku potong kurungan ini dengan sejataku.” Kata Kuro dengan sok keren. “Bukankah itu senjatamu Kuro dan busur panah Yuki juga? Yang digantung didekat pintu.” Ujar Fian sambil menunjuk keluar kurungan. “Haaahhhh!!! Tas ku juga ada disana.” Lanjut Fian. Suasana tegang hilang, hening seketika. “Hhahahahahahahaha, untung saja senjatamu tidak ada, jika saja ada aku pasti akan menyesal seumur hidup, melihat tingkahmu yang sok keren itu terlalu lama.” Ejek Elias dengan santai. “Aaaghhhhhh, oiii s****n kembalikan senjataku.” Teriak Kuro. “Aku belum mau mati.” Kata Yuki. “Tenang lah kalian. Kemungkinan bertahan 2%, kemungkinan melarikan diri 2%, kemungkinan mati 95%.” Ujar Siti ingin menenangkan. “Kau malah lebih menakut-nakuti kami Siti.” Jawab Kuro dengan emosi. “Hahahahahahaha.” Elias tertawa terbahak-bahak. Suasana semakin tegang, kematian sudah didepan mata mereka. “Matilah kalian, rasakan ini . . . . tembakan meledak !!!!!!!! hiaaaaaaaaahhhhhh.” Teriak Lukman sambil menembaki kearah mereka secara beruntun. Cuf, Cuf, Cuf, Cuf, CufCufCuf !!!!! Duarrr, Duaarrrr, Duaarrr !!!!! Gelantum, gelantum, gelantum !!!! (Suara dari s*****a Lukman dan ledakan) Lukman menembak tanpa henti, dan ratusan ledakan tepat mengenai kurungan yang Siti, Kuro, Elias, Yuki, dan Fian tempati. “Hayhayhayhay, tidak akan ada yang lolos dari tembakan meledakku, Hosh hosh hosh.” Ujar lukman kelelahan dan kehabisan peluru. Tempat dimana Siti, Yuki, Elias, Kuro, dan Fian dipenuhi oleh puing-puing, asap dan debu-debu. Sehingga Ale dan anak buah sulit untuk memastikan apa mereka masih hidup atau tidak. Tidak ada tanda-tanda dan suara dari Siti, Yuki, Elias, Kuro, dan Fian. “Kerja yang bagus Lukman, senjatamu semakin lama semakin hebat.” Puji Ale. Perlahan-lahan asap dan debu ditempat Siti dan yang lainnya dikurung mulai menghilang. Kurungan mulai bisa dilihat Ale dan anak buahnya. “Seharusnya bocah-bocah itu menuruti saja permintaan kita, sayang sekali hephephephep.” “Apaaaaaaaa!!!!!!” Ale terkejut. Ale dan anak buahnya sangat terkejut karena Siti dan lainnya masih hidup tanpa goresan sedikit pun. Kurungannya hancur hanya dibagian depan saja, bagian belakang ikut terlindungi oleh kekuatan Siti. “Hosh hosh hosh hosh, Untung saja mereka tidak mengambil Tanggaiku.” Kata Siti sambil kelelahan dengan posisi tangan mengangkat kedepan. “Kita selamat.” Ucap Yuki masih tidak percaya. “Aku menyukai wanita ini.” Ucap Elias dengan santai ditujukan untuk siti. Mereka memasang posisi siap untuk bertarung dengan Siti diposisi depan dan diikuti oleh yang lainnya. “Tidak mungkin !!!! tidak mungkin tembakan meledakku gagal.. siaaall!!!” Ucap Lukman kesal. “Tembakan meledak? Nama yang sangat jelek untuk sejata mengerikan seperti itu, hahaha.” Ejek Elias. “Yahh kali ini aku setuju denganmu, suara saat s*****a itu menembak juga sangat lucu.” Tambah Kuro. “Apa katamu, kalian semua pasti akan kubunuh!!!” ancam Lukman. “Tidak, tidak, tidak… sekarang giliranku menunjukkan kehebatan senjataku.” Kata Kuro dengan sombong hendak berjalan mengambil senjatanya. “Hephephephep.” Ale tertawa seperti merencanakan sesuatu. Siaaallll.!!! Apa ini? Kakiku tidak bisa bergerak. Ucap Kuro gugup. Dibawah pijakan mereka sudah dipenuhi oleh cairan kental putih yang sangat lengket. Kuro dan lainnya tidak bisa bergerak kemana-mana karena terkena cairan lengket itu. “Hephephephep, ternyata beberapa diantara kalian adalah pengguna pusaka.” Kata Ale dengan senyum jahatnya. Kuro dan yang lain langsung melihat kearah Ale seperti punya firasat yang sama. Mereka terkejut melihat Ale, disekujur tubuh Ale sudah dipenuhi cairan putih seperti cairan yang mereka pijak. Ale terlihat sangat menyeramkan, terlihat seperti manusia lendir. “Kauu, hosh hosh hosh !!!" ujar Siti sambil mengerutkan dahi masih kelelahan. “Huephephephephep, yaa benar.. Aku juga pengguna Pusaka, Pusaka Kemben Pelangi dengan kekuatan Getah Para, hephephephep.” Ujar Ale. Pusaka Kemben Pelangi merupakan sehelai kain panjang yang memiliki macam-macam warna. Kemben Pelangi akan memberikan sebuah kekuatan bagi penggunanya, yaitu Getah Para yang lengket dan dapat mengunci pergerakan musuh jika terkena Getah Parah tersebut. “Kau benar-benar sudah mengunci mereka kan Pecong?” Albet sambil membawa Kapak besarnya. “Hey Kuro, jika aku membawakan senjatamu, apa kau bisa membebaskan kita dari getah ini.” Tanya Elias . “Huhh, tentu saja. akan ku tebas semua getah lengket ini.” Jawab Kuro. “Baiklah kalau begitu, sekarang giliranku." (Membuka tangannya untuk mengeluarkan kekuatannya). Namun ditahan oleh Ale dengan cara menahan dan menutup tangan Elias dengan getah paranya. “Tidak semudah itu bocah, hephephep.. baiklah albet sekarang aku serahkan padamu. Bunuh mereka dan jangan gagal seperti Lukman.” Perintah Ale kepada Albet. Albet semakin mendekat kearah Siti dan yang lainnya. Dengan kapak yang besar dan mengerikan. “Hosh hosh hosh, 2% bertahan dan 2% melarikan diri kita mungkin hanya sebatas ini, aku tidak bisa menggunakan kekuatanku lagi. Ratusan ledakan tadi sangat menguras tenagaku, sial.” kata Siti kepada yang lainnya. “Apa kita akan mati?” Tanya Yuki. Fian mengangkat jarinya seperti sedang berhitung. “Siti, katamu tadi kita punya kesempatan 2% bertahan, 2% melarikan diri, dan 95% mati. Bukankah masih ada 1% lagi? Kau kemanakan 1%nya lagi itu?” Tanya Fian kepada Siti. Belum sempat Siti menjawab, Albet langsung berlari hendak mengayunkan kapak besarnya ke arah mereka. Tiba-tiba asap muncul ditengah antara Albet dan Siti. “Bom asap?” Tanya Albet kebingungan. Melihat Asap sudah mulai menutupi areah sekitar Albet langsung mengayunkan Kapaknya untuk segera membunuh Siti dan yang lainnya. Namun keberuntungan masih berpihak pada Siti dan kawan-kawan. Serangan Albet ditepis dengan cara menendang tangan Albet sehingga kapak yang besar dan berat itu terlepas dan terpental. “Hosh hosh hosh, kau lihat Fian? 1% lagi sudah datang untuk kita.” Kata siti sambil tersenyum. “Apa aku terlambat? Aku membawa sesuatu untuk kalian, hosh hosh hosh.” Tersenyum kelelahan sambil melempar s*****a, busur panah, dan tas. Asap disekitar perlahan hilang. Siti, Kuro, Elias, Fian, dan Yuki terkejut. Gio akhirnya datang dengan tubuh terluka dan penuh darah. “Oii oiiii, apa-apaan dengan semua luka dan darah itu.” Ujar Kuro Khawatir.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD