Sebenarnya, Apa Tujuanmu?

748 Words
Lima hari berlalu setelah pertempuran melawan kelompok Ale, akhirnya Gio dan yang lainnya mulai sadar. "Hey, Fian bangunlah, Kuro, Yuki, Elias, Gio, kalian semua bangunlah, kalian belum mati kan." Kata Siti membangunkan yang lainnya. Perlahan-lahan semuanya mulai sadar dan kembali berdiri. "Aduhhdududu, arrgghh, badan ku sakit semua." Kata Yuki mencoba untuk bangun. "Kita masih hidup?" Tanya Fian dengan suara pelan. Elias dan Kuro mulai sadar. Tempat pingsan mereka berdekatan. "Dimana aku, apa aku sudah di surgaa". Ujar Elias sambil melihat kearah Kuro. "Siaaall, sakit sekali!!!." Kuro kesakitan. "Hey, kenapa kau ada disini? Ini surga bukankah tempatmu dineraka." Ujar Elias sambil menunjuk Kuro. "Kaauuu!!!! Masih saja mengejekku, akan ku bunn.... addduhhhh, duh, duh." Kuro kesakitan. "Sudahlah, kalian nanti saja bertengkarnya, kita terluka cukup parah. kita harus mencari dokter terlebih dahulu." Ujar Siti. "Hey Gio sepertinya belum siuman, cepat bangunkan dia." Pinta Yuki. Fian mendekati Gio dan Coba untuk membangunkannya. Tapi Gio masih tak bergerak, dan blm sadar. "Sebaiknya kita gendong saja Gio, lukanya lebih parah dari kita. Biarkan dia seperti itu dulu." Ujar Siti. "Apa yang membuatnya terluka separah itu.?" Tanya Fian. "Entah, mungkin dia bertemu kelompok lain seperti Ale, dan menghadapinya sendirian." Jawab Siti. "Hebat jika dia mengalahkan kelompok seperti Ale sendirian." Ujar Yuki. "Tidak juga, mungkin dia disiksa dan berhasil melarikan diri." Sahut Elias. "Tidak, dari cara dia datang tiba-tiba membantu kita, dia tidak terlihat seperti orang yang sedang melarikan diri. Dia bukan orang biasa, siapa sebenarnya dia." Ujar Kuro. "Aku masih penasaran apa yang dilakukannya sehingga bisa mengalahkan monster itu, kecepatannya bahkan melebihiku, padahal aku adalah salah satu keturunan Suku Sain." Ujar Kuro lagi. Siti langsung melihat ke arah Kuro. Memperhatikan Kuro seperti ada ketertarikan dengan apa yang dikatakan kuro barusan. "Aku lapar, sebaiknya kita makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan." Ujar Yuki. "Ohh ya kebetulan aku membawah beberapa makanan." Kata Fian sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Membesarlah." Fian membacakan mantra dari jurusnya. Sebuah lemari penghangat penuh dengan makanan telah muncul dihadapan mereka. "Hey kau hebat Fian, ini sangat berguna." Ujar Yuki. "Bagaimana kau melakukannya?" Tanya Elias. "Kemampuan Pusaka ku adalah membesarkan dan mengecilkan Ukuran suatu benda. Lemari ini aku bawa sewaktu masih di Ilir World dan aku kecilkan, ayo makanlah kalian semua." Jawab Fian. Mereka pun mengisi tenaga mereka dengan makanan yang dibawa oleh Fian. "Sisakan makanan sedikit untuk Gio." Ujar Yuki. "Jangan sebaiknya kita habiskan saja, sepertinya makanan ini sudah hampir basi." Ujar Siti. "Basi? padahal kita baru satu hari berada disini, tidak mungkin basi secepat itu, makanan ini seharusnya tahan sampai lima hari." Bantah Fian. "Yaaaa, kau tidak salah mengenai makanan itu, makanan itu memang seharusnya tahan sampai lima hari. begitu juga dengan kita, sepertinya kita sudah pingsan selama lima hari." Ujar Siti dengan yakin. "Aaaappppaaaaaaaa!!!!!!" Semua dengan serentak. "Cepat habiskan makanannya, kita harus mencari dokter untuk mengobati luka kita, terutama Gio, aku khawatir jika tidak cepat menemukan dokter, Gio bisa mati." Ujar siti dengan tegas. Semua pun bergegas menghabiskan makanan dan memulihkan tenaga. "Baiklah, Fian tolong gendong Gio. Kita akan segera berangkat." Pinta Siti. Fian pun menggendong Gio dibelakang punggungnya. "Tunggu sebentar Siti, apa kau yakin kita bisa menemukan dokter dan dia mau mengobati kita?? kita sedang berada di Ulu World tidak akan ada orang yang akan berbaik hati disini. kita bisa saja bertarung lagi setelah ini." Ujar Ujar Elias. "Ya sebaiknya kita merawat Gio sendiri saja disini." Ujar Yuki. Siti terdiam dan berfikir. Disamping itu Gio tiba-tiba Siuman saat digendong Fian. "Gio kau sudah sadar?" Tanya Fian. "Kiiii.. taaaaaa... ssseee.. baaaaai... ikkknyaa. mel... ann. juttt. kan perjalanan." Ujar Gio terbata-bata. "Aku bertemu seseorang yang mmuu.... ngggg.. kinnn... daaaaaapppaat meeee.. noo.. looongg.. kittt.. taaaa... hosh hosh hosh. masih adaaaa ooo rraaaaannngg baik disini." Ujar Gio lagi. "Benarkahh Gio, kalau begitu kami akan membawamu kesana." Ujar siti. "Dii depa.. nnn adaaaaaa see.... buuah pemukiman... rumaaah limmm.. a*s lainyaaa.. addaaaaa tempaaat makan yang bernama tekwan ma.. ng aaaa. teng.. disaaannaaaa kiiitttaaa bisss. ssaaa menemuinya." Kata Gio dengan lemas. "Baiklah kau istirahat saja kami sekarang akan membawamu kesana." Kata Fian sambil memulai perjalanan. Gio dan yang lainnya melanjutkan perjalanan untuk menemui Ateng. Siti dan Kuro masih tertinggal dibelakang, membahas sesuatu yang cukup rahasia. Hanya mereka berdua. "Apa yang ingin kau tanyakan?" Ujar Kuro dengan tatapan serius. "Ini sesuatu yang sangat penting dan rahasia, tapi sebelumnya kau harus menjawab dengan jujur dan jangan berbohong!!!!!!." Pinta Siti ke Kuro. "Baiklah, aku akan menjawab jujur sebisaku.." Jawab Kuro. Tanpa berlama-lama Siti langsung bertanya. "Mengenai yang kau katakan tadi, tentang asalmu, sebenarnya apa tujuanmu terbuang di Ulu World ini?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD