7~Pembawa Arah

1136 Words
Hemera tidak bisa tidur dengan nyenyak malam ini meskipun perutnya telah kenyang dan tubuhnya yang kini berada dalam kondisi baik tak dapat menjamin kedua kelopak matanya untuk menutup, membantunya beristrahat. Dirinya takut dengan kehadiran Crius juga Ulzana yang mungkin akan datang secara tiba - tiba untuk melukainya lagi, sayangnya setelah cukup berjam - jam dirinya berbaring ketakutan di atas ranjang dengan menutup seluruh tubuhnya menggunakan selimut ia tidak menemukan sesosok kehadiran siapapun yang terlihat akan masuk kedalam ruangan. Ini membuat hatinya menjadi sedikit lebih tenang begitu melihat tidak adanya tanda - tanda tersebut, membuat matanyapun ikut memberat tanpa sadar saat merasakan posisinya yang begitu nyaman di atas ranjang empuk dan bantal yang begitu empuk untuk menopang kepalanya yang memberat, tanpa sadar Hemera menurunkan kewaspadaannya dan bersiap masuk kedalam alam mimpi. Tidak butuh waktu lama untuk menandakan bahwa gadis tersebut telah masuk kedalam alam mimpinya saat nafasnya mulai berjalan teratur dan begitu tenang. Tanpa di ketahui oleh Hemera pada akhirnya pintu besar dari ruangannya tersebut telah di buka membiarkan sesosok tubuh kecil mengintip sedikit di balik pintu besar untuk memastikan keberadaan dirinya. Kedua mata bulat itu hanya menatap lurus tanpa berkedip pada seosok gadis yang tertidur dengan nyenyak di atas ranjang tanpa mengetahui kehadirannya. Untuk beberapa saat makhluk itu masih saja terdiam di ujung pintu untuk menatapnya sebelum pada akhirnya memberanikan dirinya berjalan masuk dengan pelan ke arah ranjang besar disana, begitu berhati - hati di bantu dengan kaki kecil miliknya yang tidak menimbulkan suara berarti. Saat dirinya telah tiba di samping ranjang besar tersebut ia hanya kembali diam dan memperhatikan tubuh berbalut selimut itu dari atas ke bawah, baru kali ini dirinya melihat secara lebih dekat tubuh dari seorang manusia yang lahir untuk menjadi tumbal bagi Amorist. Sedikit penasaran bercampur tertarik ia kemudian naik ke atas ranjang hanya untuk melihat wajah Hemera lebih dekat meninggalkan sejengkal saja jarak di antara wajah mereka, mencoba memahami struktur wajah manusia yang ternyata tidak jauh berbeda dengan struktur wajah para makhluk lain, membedakan mereka hanyalah gadis itu tidak akan punya tanduk ataupun sayap ataupun setengah tubuh hewan, ia hanya dengan tubuh biasanya tanpa adanya sihir dan kekuatan di dalam tubuh itu. Hanya itu yang di rasakannya saat jari kecil dan kurusnya itu disentuhkannya pada dahi hangat Hemera. Masih bertanya - tanya dan begitu penasaran dengan gadis manusia yang menjadi pembicaraan hangat di negeri Keaton itu, membuatnya tidak tahu jika pergerakan dari kelopak mata yang menutup itu adalah tanda - tanda untuk beralih membuka matanya karena terusik dengan kelakuannya. Dengan pelan kedua manik mata menutup tersebut membuka secara perlahan, menatap lurus langsung pada manik hitam pekat yang berada di atas tubuhnya dengan jarak yang dekat. Tidak butuh waktu lama bagi Hemera untuk membulatkan manik mata birunya dengan terkejut dan ketakutan saat melihat makhluk siang tadi kini berada di atas tubuhnya. Saat Hemera spontan menarik dirinya menjauh dari sosok makhluk bertubuh kurus itu hal yang sama juga di lakukan oleh makhluk di depannya yang spontan melompat mundur, kini menjauhinya pula. Terlihat bahwa mereka sama - sama terkejut dengan kehadirannsatu sama lain di antara mereka sehingga hanya diam saling menatap, mencoba menganalisa masing - masing. Hemera mengenali makhluk di depannya sebagai salah satu bagian dari makhluk yang dikatakan oleh Ulzana sebagai setengah peri dan iblis yang bekerja menjadi pelayan. Namun makhluk dengan sebutan imp di depannya ini sedikit berbeda dikarenakan ia mempunya tanduk di kepalanya, sayap pada punggungnya yang cukup besar begitupula dengan adanya ekornya yang memanjang. Tubuhnya sama dengan para imp pelayan tapi, mereka juga berbeda pada 3 sisi bagian tersebut. “Siapa kau ? Apa yang kau inginkan ?” Selesai memindai objek di depannya Hemera kemudian membuka suaranya untuk bertanya pada makhluk di depannya yang hanya terdiam beberapa saat sebelum mengingat sesuatu mengapa ia berada disini, sebelum melompat turun dari ranjang. “Hei. Kau akan kemana ?” Sambungnya kembali memanggil imp tersebut yang mulai berjalan pergi meninggalkannya tanpa menjawabnya. Imp tersebut hanya berbalik dan menatapnya dengan mata hitam besarnya lagi untuk beberapa saat sebelum kembali berjalan pergi dari sana, keluar melalui pintu besar yang tidak di tutupnya tadi dan itu semua tidak lepas dari pandangan Hemera. Gadis tersebut melihat bagaimana imp pergi dan membiarkan pintu besar yang tidak pernah di biarkan terbuka dengan sembrono itu kini terbuka untuknya tanpa, di tutup kembali. Dengan rasa pensaran ia pun memilih untuk menyingkap selimut miliknya dan berjalan turun dari ranjang, membiarkan gaun putih polos pada tubuhnya tersapu oleh karpet pada lantai. Dirinya berjalan dengan pelan menuju kearah pintu sebelum memberanikan dirinya sendiri melewati pintu tersebut dengan tenang. Tidak ada siapapun di lorong kastil tersebut hanya ada lilin pencahayaan yang temaram, membuatnya menengok kesana kemari mencoba menari sesosok tubuh kecil yang berhasil memancingnya keluar. Di sana imp yang juga tengah menunggunya keluar dari ruangan itu kembali melanjutkan jalannya dengan cukup cepat setelah memastikan bahwa Hemera telah mengikutinya keluar dari ruangannya. “Hei tunggu.” Panggil Hemera mencoba menghentikan makhluk tersebut dari pelariannya yang membuatnya kini mengikutinya tanpa ragu. Dirinya terus mengikuti imp di depannya yang entah kemana membawanya namun, tidak ada waktu untuk berpikir sampai disitu karena di kepalanya hanyalah ia harus menangkap imp tersebut dan memaksanya untuk menjawab berbagai pertanyaan di kepalanya. Sesosok makhluk yang harusnya di takutinya sama seperti makhluk yang lainnya kini membuatnya yakin bahwa hanya makhluk itu yang akan membantunya sekarang. Semakin jauh ia menelusuri lorong kastil membuatnya kini kehilangan jejak imp tersebut di tengah penerangan yang semakin gelap dan cahaya lilin yang semakin berkurang di dinding, membuatnya berbolak - balik mencoba mencari jejak makhluk itu di sekitarnya. Hemera kini berada di perbatasan antara cahaya lilin dan di depannya adalah lorong gelap gulita tidak adanya pencahayaan sehingga mata telanjangnya tidak dapat melihat apa yang berada di dalam kegelapan itu namun, ia juga tidak berani untuk berjalan masuk berbaur dalam kegelapan tersebut. Sampai 2 buah lilin yang tertempel di dinding tiba - tiba saja menyala membuatnya tersentak kaget. Ternyata ia telah mencapai lorong yang buntu hanya saja itu tidak bisa di katakan bahwa itu benar - benar buntu saat ia menyipitkan matanya dan menangkap dalam keremangan cahaya di ujung lorong terdapat sebuh pintu. Dengan pelan di langkahkan kakinya maju mencoba mendekati pintu di ujung sana bersamaan sebuah langkah kaki yang menggema di sekitarnya, menandakan seseorang tengah berada di sekitarnya. Hemera spontan menghentikan langkahnya dan berbalik menatap kebelakangnya saat lampu lorong yang tadinya menerangi lorong buntu itu kembali padam dengan cepat mendengar sebuh step kaki mendekati mereka. Ia tidak tahu harus berbuat seperti apa saat langkah kaki itu terdengar semakin dekat sementara dirinya tidak tahu harus kemana, yang pastinya bunyi langkah yang keras dan kuat itu bukan milik imp yang di carinya, kemungkinan itu adalah kartakan. Sampai sebuh tangan kecil yang tiba - tiba saja menyentuh dan menarik tangannya membuatnya terkejut merasakan tangan kecil yang begitu kurus sampai tulangnya terasa itu kini menariknya untuk bersembunyi, menghindari suara langkah kaki dari Kartakan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD