Terlihat Nesrin yang langsung saja menarik nafas sedalam - dalamnya sesaat setelah tangan Amorist menjauh dari lehernya. Ini adalah percobaan pembunuhan pertama yang di lakukan oleh pria berambut putih tersebut padanya.
Dirinya sudah berkali - kali bertarung dan melawan setiap orang yang memang ingin membunuh dirinya, sayangnya pria bermanik merah itu bukanlah lawan yang sepadan baginya. Dirinya tidak akan bisa mengalahkan pemimpin dari Keaton tersebut.
Rasa perih dan sakit yang begitu menderanya membuatnya menyentuh lehernya sendiri sembari terus mengambil udara agar paru - paru miliknya dapat memompanya. Meskipun begitu rasa panas yang mendera dadanya jelas masih terasa begitu juga dengan lehernya yang hampir saja di remukan oleh tangan besar Amorist.
Disaat dirinya telah merasa sedikit lebih baik Nesrin perlahan bangkit dari posisi telentangnya dan mulai duduk dengan kedua tangannya yang masih saja memegang area lehernya tersebut, mencoba menghalau rasa sakit yang di rasanya.
Ridak ada yang berniat mengulurkan tangan padanya untuk membantu dirinya bahkan kedua pria tersebut hanya menatapnya tanpa belas kasih dan adanya empati disana.
Nesrin tidak dapat berharap apapun kepada mereka berdua di saat kedua pria tersebut justru bagian dari iblis murni.
“Jika kau berani mengulangi hal seperti ini lagi. Akan kupastikan kau tidak dapat membuka matamu lagi.” Tarikan keras pada rambut lebat milik wanita bermata kuning tersebut terasa begitu menyakitkan, membuatnya mengeluarkan suara sebagai respon akan apa yang tengah di rasakan olehnya. “Kau mengerti ?” Desis Amorist.
Manik merah di atasnya menatapnya dengan tatapan yang benar - benar akan bersiap untuk membunuh musuhnya. Tanpa sadar membuat Nesrin menelan ludahnya ketakutan.
Nesrin menganggukan kepalanya dengan gemetar ketakutan pada sekujur tubuhnya. “M-Me-Mengerti.”
Barulah saat itu Amorist melepaskan tarikan pada rambutnya dengan begitu kasar hingga wajah cantik tersebut terbuang ke samping dengan kasar.
Kali ini atensi dari pria bermanik merah tersebut beralih kepada Crius yang sedari tadi hanya diam memperhatikan mereka tanpa adanya peleraian dari adiknya itu.
“Bereskan dia.” Hanya itu yang di katakan oleh Amorist sebelum, berjalan pergi meninggalkan aula dengan gema sepatunya yang mengintimidasi.
“Seharusnya kau tidak melakukannya tadi. Jangan terus memprovokasi nya, kau tidak akan bisa.” Ucap Crous terus menatap dingin pada tubuh di bawah yang kini terlihat mengepalkan kedua tangannya.
“Diam !. Kau pikir aku ingin melakukannya ? Aku hanya melakukan apa yang benar. Kau bahkan tahu jika kelakuan Amorist terus seperti ini aka berbahaya.” Teriak Nesrin menjawab pada Crius yang membuatnya harus mendongak menatap pria bermata hitam itu. Rasa kesal jelas tengah menumbuhi dirinya dan sekarang mendengar nasihat yang jelas tidak di butuhkan olehnya membuat wanita tersebut mengeluarkan kekesalannya. “
Saat Nesrin kembali fokus menyentuh lehernya karena rasa sakit yang masih menderanya tersebut sampai ia terus terbatuk - batuk. Tidak menyadari Crius yang telah melangkah mendekat pada dirinya dan kini berjongkok tepat di depannya.
Dengan kening berkerut Nesrin berbalik menatap ke arah depan hingga kedua sepasang manik mata berwarna hitam bersinar licik padanya, membuat raut wajah kesal miliknya seketika menghilang.
Crius tersenyum sinis menatap pada Nesrin yang kimi tidak menampakan raut wajah apapun dan hanya terus terdiam, bahkan suara batuk dari wanita itu langsung berhenti begitupula dengan deru nafasnya. Melihat hal tersebut jelas membertihakan pada dirinya bahwa wanita tersebut tengah menahan napas.
“Jadi sebenarnya kau tidak ingin melakukannya, Benarkah ?. Nesrin aku tahu kau siapa dan begitu jelas aku tahu apa isi dari kepalamu.” Jari telunjuk Crius menunjuk - nunjuk pelan dahi dari Nesrin dengan terus berbicara.
Membuat wanita di depannya akhirnya tersadar hingga manik kuning tersebut kini mulai bersinar. Menunjukan perlawanan.
“Menjauh dariku.” Ucap Nesrin sembari menepis tangan Crius dengan kasar agar menjauhd dari wajahnya.
Sementara Crius yang melihat hal tersebut tersenyum di sudut bibirnya dengan manik hitamnya yang semakin menggelap menatap manik kuning dari kaum Lilith itu.
“Sebaiknya kau berhati - hati sekarang. Apa kau pikir hanya Amorist yang dapat meremukan lehermu ? Apa kau lupa bahwa aku dapat melakukan hal yang sama Nesrin ?.” Crius menyentuhkan pelan tangannya pada area leher pemilik dari manik kuning tersebut, meraba pelan bekas merah dari cekikan ganas kakaknya.
Begitu jelas bahwa ancaman tersebut di lemparkan padanya dan Nesrin tahu meskipun Amorist dan Crius tidak begitu sebanding namun, mereka masih memiliki darah yang sama. Artinya kekuatan dari pria berambut putih itu jelas masih di atasnya.
Di gigitnya bibir merah miliknya lalu mulai memalingkan wajahnya dari hadapan Crius, tidak ingin bertatapan lebih lama pada penyebar ancaman kematiannya. “Apa yang ingin kau katakan ?”
Tidak nyaman saat tangan dingin dari pemilik darah sama yang telah mencekiknya tadi itu kembali menyentuh lehernya. Gelenyar ketakutan secara nyata masih ada dalam dirinya.
Jadi dengan cepat dirinya menjauhkan lehernya dari tangan dingin iblis di depannya juga dari tatapan mata yang masih terus menjelajahi sekitar leher miliknya tersebut, dengan cepat di tutupinya kembali menggunakan sebelah tangannya.
Saat Nesrin telah kembali bertanya dan sudah paham akan posisinya maka hal ini berhasil membuat Crius menaikan sebelah alisnya sebelum, berdiri dari posisi jongkok miliknya. Menatap wanita tersebut dari atas.
“Jangan mencoba untuk melakukan hal yang jelas tidak dapat kau menangkan. Tepatnya adalah jangan bertingkah selama kau masih ingin memimpin kaum mu. Diam dan patuhlah, jadilah ular yang jinak selama bisamu tidak dapat membunuh.”
Hanya itu yang di katakan oleh Crius sebelum melangkah pergi melewati Nesrin yang masih saja terdiam di tempatnya san semakin kuat mengepalkan kedua tangan miliknya. Ini adalah penghinaan yang tidak dapat di terima olehnya.
Meskipun begitu seberapa kalipun dirinya merasa terhina Nesrin tidak akan bisa melakukan apapun pada pria berambut putih tersebut.
Rasa benci dan penuh akan gelora ingin membalas dendam membuatnya memilih bangkit dari posisi duduknya dengan sedikit sempoyongan tetapi, pda akhirnya dirinya berhasil berdiri dengan tenang.
Kedua manik mata penuh akan penghinaan itu menatap pada singgasana di atas sana yang berkilau menggoda untuknya.
Dirinya berjanji bahwa suatu saat dirinya yang akan duduk disana dan memerintah dari atas, membalaskan penghinaan yang di rasakannya hari ini. Dirinya tidak dapat membuat hal tersebut berlalu begitu saja sementara, amarah akn pembalasan dendam dan perasaan penuh akan ketamakan semakin memuncak di dalam.
“Jika aku tidak bisa membalasnya maka aku harus mendapatkan bayaran setimpal dengan apa yang kudapatkan hari ini