Mas Irfan Tengah Menutupi Sesuatu Dariku

762 Words
Aku mendekati mas Irfan, menatap lamat wajahnya yang sudah sangat memucat. "Kamu telepon siapa, mas?" "Ah, ini sayang tadi, barusan aku telepon Ria, terus ibu mertuanya nanyain keadaan ibu," jawabnya gugup, Ria adalah adik pertama suamiku. "Tengah malam begini? Seperti tidak ada waktu lain? Lagi pula, setahuku Ria tidak tinggal dengan mertuanya?" Tanyaku, aku masih sangat penasaran. "Seharian ini, mas sibuk sayang. Gak sempat pegang ponsel. Jadi barusan aku hubungi Ria. Kebetulan, mertuanya sedang menginap. " ujarnya, seraya menggaruk tengkuknya. Aku merasa, mas Irfan tengah menutupi sesuatu dariku. Terlihat dari gelagatnya yang aneh. "Yasudah yuk, istirahat. Mas ngantuk banget ini," ia meraih jemari ini, menggenggamnya kemudian membawa tubuh ini ke peraduan. Perlakuan mas Irfan, seketika membuat hatiku luluh, melupakan kejadian barusan. ____ Pagi ini aku berniat untuk mengunjungi kediaman orang tuaku, merasa jenuh berada dirumah. Tak ada tempat berbagi cerita, karena mertuapun tak mau bertemu denganku. "Mas, nanti aku kerumah mama ya," ujarku. "Berapa lama, sayang?" "Ya, paling nanti sore sebelum kamu pulang, aku sudah dirumah." "Kenapa tidak menginap saja?" "Sebenarnya sih maunya gitu, tapi memang ga apa-apa?" Tanyaku "Ya gak apa-apa dong, kamu pasti bosan kalau terus-terusan dirumah aja. Nginap saja, nanti aku yang jemput." "Hm, tapi, ibu?" "Kan ada bik Minah." "Memang sebenarnya ibu sakit apa? Kenapa benar-benar gak keluar dari kamar?" Aku mulai membahas sesuatu yang mengganjal dihatiku. "Hm, ibu sebenarnya akhir-akhir ini suka marah tidak jelas sayang, seperti ketakutan. Makanya mas biarkan ibu di kamar. Aku merasa tak puas dengan jawaban mas Irfan. "Mas, jujur saja. Apa ibu sangat tak suka denganku?" "Bukan sayang, sudah kamu jangan berfikir aneh-aneh ya," ia mengelus jemariku. Sebenarnya aku sengaja, pura-pura menginap, nanti malam aku akan datang tanpa sepengetahuan mas Irfan. Mungkin dengan begitu aku akan tahu, apa yang sebenarnya terjadi dengan mertuaku. ____ Aku sudah sampai dirumah orangtuaku, karena rumah yang kutinggali saat ini, tidak terlalu jauh dari kediaman orangtuaku. Hanya butuh waktu 40 menit. "Kamu kesini sendiri? Gak sama Irfan?" Tanya mama, sembari celingukan mencari sosok mas Irfan. "Hm, anaknya baru sampe juga. Bukannya disuruh masuk dulu," aku mengerucutkan bibir. "Hehe, iya, yasudah yuk masuk, kebetulan nanti sore Fahri akan datang," ujar mama. Fahri--adalah kakakku satu-satunya, ia bekerja diluar kota, pulang kerumah pun jarang, bahkan saat aku menikah ia tak bisa datang. Ia juga tak keberatan saat aku memutuskan untuk melangkahinya, menikah duluan. Katanya, ia belum ada niatan untuk menikah. Papaku sudah meninggal saat aku lulus SMP, dan kak Fahri lah yang membanting tulang untuk menyekolahkan ku, dan membiayai kehidupan sehari-hari, aku dan mama saat itu. Ia adalah pria pekerja keras, tak pernah mengenal lelah, hidupnya hanya ia gunakan untuk kerja, dan kerja. Sampai-sampai diusianya yang sudah menginjak kepala tiga pun, ia tak berfikir untuk menikah. "Apa kak Fahri akan menginap, ma?" Tanyaku. "Sepertinya, iya. Kamu juga menginap ya? Nanti mama akan kabari kakakmu, pasti dia senang." mama meraih ponsel dari sakunya. "Ah, gak usah bilang kak Fahri dulu lah ma, biar surprise." Mama menghentikan gerakan tangannya, kemudian kembali memasukan ponsel ke sakunya. Aku mengobrol bersama mama, bercerita banyak hal. Sebenarnya, ingin sekali aku menceritakan apa yang kualami saat ini. Tapi, aku pun belum tahu yang sebenarnya, kalau aku langsung bercerita pada mama. Yang ada nanti mama malah salah paham, dan semuanya akan jadi rumit. Lebih baik, aku selidiki terlebih dahulu semuanya. ____ Sore harinya, kak Fahri sudah sampai dirumah mama. Ia banyak membelikan oleh-oleh untuk mama. "Loh, aku kok gak ada, kak?" "Yee, lagian kamu gak bilang kalau hari ini kerumah mama. Jadi aku cuma beliin untuk mama aja," ledeknya. "Ah, nggak asik." "Besok deh, kakak bakal traktir kamu belanja sepuasnya." "Bener, ya?" Kak Fahri mengacungkan jempolnya, kemudian mencubit pipiku. Dia memang selalu seperti itu, menganggapku masih seperti adik kecilnya. Kasih sayangnya, membuatku merasa sosok papa masih ada. Setelah banyak berbincang dengan kak Fahri, aku memintanya untuk mengantarkan aku pulang. Awalnya, mama, dan kak Fahri menyuruhku untuk menginap saja. Tapi aku tetap bersikeras ingin pulang, sampai akhirnya kak Fahri mau mengantarku. ___ Sampai dirumah, keadaan rumah nampak sepi, pintu juga terkunci. Aku segera mengambil kunci cadangan yang aku bawa kemudian membukanya, aku menyuruh kak Fahri untuk pulang. Tapi kak Fahri menolak. "Sepertinya suamimu tidak ada dirumah." Aku mencoba mencari sosok suamiku, tapi tak kutemui, sampai didepan pintu kamar mertuaku, aku berniat mengetuknya. Tapi, pintunya sedikit terbuka. "Tumben sekali, apa bik Minah, lupa menguncinya," gumamku. Aku melangkahkan kaki, menuju masuk ke dalam kamar, kak Fahri ku biarkan menunggu diruang tengah. Alangkah terkejutnya aku, saat melihat kamar mertuaku berantakan, bantal berserakan, sprei yang sudah tak berada diatas kasur, belum lagi barang-barang lainnya. Tapi, tak kutemukan mertuaku di kamarnya. Kemana perginya mertuaku?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD