Mengapa kamar ibu mertuaku begitu berantakan?

788 Words
Aku keluar kamar dengan perasaan bingung, kemana perginya mertuaku, juga mas Irfan. Apa mereka pergi bersamaan, tapi kenapa kamar ibu mertuaku begitu berantakan. "Kamu, kenapa?" Kak Fahri menghampiriku, aku baru sadar, kalau masih ada kak Fahri disini. "Ah, nggak. Sebaiknya kakak pulang saja, mungkin suamiku sebentar lagi pulang," ujarku, berusaha bersikap biasa saja. "Kamu sudah telepon?" Kenapa aku tak kefikiran menelepon suamiku, ah bodoh sekali. Aku segera merogoh tas yang masih menggantung dibahuku, kemudian meraih ponsel, mencoba menghubungi nomor mas Irfan. Tapi, nomornya tak bisa dihubungi. "Gimana?" Aku menggeleng lemah. "Apa nggak sebaiknya kamu balik saja kerumah mama, nanti kalau ponsel suamimu sudah bisa dihubungi, kakak akan antar kamu lagi." Mengingat keadaan kamar ibu yang berantakan, mas Irfan yang belum juga pulang, aku jadi khawatir. Apa mungkin ibu diculik? Ah fikiran ku jadi menerka-nerka. Ditengah kebingungan yang melanda, suara deru mobil memecah keheningan. "Itu mas Irfan," ujarku. Ia melangkah malas menuju rumah, nampaknya ia sangat kelelahan, entah karena pekerjaan atau karena hal lain. Yang pasti, aku harus segera menanyakan perihal keadaan ibu. "Mas," panggilku. "Loh, kenapa kamu pulang?" Ia seperti terkejut dengan kepulanganku, terlebih saat netranya menatap kak Fahri, seperti ada rasa tak suka. "Iya mas, perasaanku gak enak. Benar saja, ibu gak ada dikamarnya mas, kamarnya juga terlihat berantakan," tukasku. Tapi mas Irfan tidak terkejut dengan apa yang ku katakan, ia nampak biasa saja. "Aku sudah mengantar ibu kerumah Ria tadi," jawabnya datar. Sepertinya kak Fahri merasa tak enak berada disini, apa lagi mas Irfan yang tidak menegurnya sama sekali, ia justru memasang wajah tak suka. Kak Fahri langsung izin pulang, padaku juga suamiku. Tapi, mas Irfan tak menjawab apapun, ia justru berlalu begitu saja. "Kak, maafkan sikap suamiku ya." Aku yang merasa tak enak, berusaha memberi pengertian pada kakakku. "Gak apa, mungkin suamimu sedang lelah. Kakak pulang dulu ya, kalau ada apa-apa kabari Kakak," ujarnya, kemudian melenggang pergi. Aku segera menghampiri mas Irfan dikamar, tapi ia sedang berada dikamar mandi. Sambil menunggunya, aku meraih ponsel mas Irfan yang berada diatas nakas. Aneh sekali, ponselnya dikunci, biasanya ia tak pernah menguncinya. "Mas, kenapa ponselmu dikunci?" Tanyaku, saat melihatnya keluar dari kamar mandi. Dia hanya menghela nafas tanpa menjawab pertanyaanku, mencurigakan sekali. "Mas, jawab pertanyaanku!" Bentakku. "Hanya karena ponsel ku kunci, kamu sampai berani membentak suamimu, Dania?" Tanyanya, masih dengan suara datar. Mas Irfan kelihatan berbeda dari yang sebelumnya, malam ini sikapnya begitu dingin. "Bukan begitu, tapi kenapa mas? Biasanya tidak pernah di kunci?" "Kamu juga biasanya tak pernah mau tahu isi ponselku? Ada apa?" "Ya, aku hanya ingin lihat-lihat saja." "Kamu kan bisa minta password-nya, tanpa membentak." "Ya, maafkan aku, mas," ujarku berusaha mengatur perasaan. "Ya." "Mas, kenapa kamu bersikap begitu pada kak Fahri?" "Begitu bagaimana?" "Ya, kamu seperti tak suka dengan kakakku?" "Aku hanya tak suka kamu diantar siapapun, aku kan sudah bilang akan menjemputmu besok. Kenapa kamu malah pulang dengan orang lain?" "Apa? Orang lain? Kak Fahri itu kakak kandungku mas, bukan orang lain. Kamu gak pantas cemburu dengannya!" "Yaa, tetap saja! Aku gak suka. Bagiku, selain aku suamimu, semuanya adalah orang lain!" Kenapa mas Irfan jadi seperti ini, kemana mas Irfan yang selalu berkata mesra, tuturnya yang lembut. "Tapi tetap saja, tidak pantas kamu cemburu dengan kakak kandungku, mas!" Mas Irfan tak menjawab, ia justru tidur dengan posisi memunggungiku, tak perduli walaupun aku terisak dibelakangnya. "Ada apa, sebenarnya denganmu, mas," batinku. ___ Pagi harinya, mas Irfan membangunkan ku, meminta maaf atas semua yang terjadi tadi malam. Ia juga berkata bahwa dirinya begitu lelah, karena pekerjaan. Aku berusaha memakluminya, aku mengajaknya untuk berkunjung kerumah Ria, melihat kondisi ibu. "Lain kali, saja. Sekarang aku ada kejutan untukmu," ujarnya. "Apa?" Mas Irfan menyuruhku untuk menutup mata, saat aku membuka mata, didepanku sudah ada kalung dengan liontin yang indah. "Mas." "Ini untukmu, sayang. Maafkan mas ya, karena mas sudah membuatmu sedih semalam," ujarnya. Kemudian memasangkan kalung itu dileherku. Seketika kekesalanku lenyap, berganti kebahagiaan. Mungkin, memang aku saja yang berfikiran buruk pada suamiku, padahal nyatanya ia hanya lelah dengan pekerjaannya, harusnya aku bisa lebih mengerti, dan tidak kekanakan. "Makasih, ya, mas." Aku memeluknya erat, mas Irfan mencium pucuk kepalaku mesra. "Sayang, mas hari ini ada urusan keluar kota. Kamu ga apa-apa kan, mas tinggal selama tiga hari?" "Oh, jadi memberikan kalung ini, ada tujuannya," ledekku. "Nggak lah sayang, ini tulus hadiah untukmu." "Yasudah, kamu hati-hati ya. Jaga diri baik-baik, jangan lupa selalu kabari aku," pesanku. "Siap bos." Aku menyiapkan pakaian mas Irfan, memasukannya ke dalam koper. Semua keperluannya sudah kubereskan, ia pamit untuk segera berangkat. Aku mengantarnya sampai didepan rumah. ___ Aku membereskan kamar ibu yang sangat berantakan, aku tertegun saat melihat beberapa pakaian yang berada di keranjang kotor, pakaian ini seperti milik wanita muda. Bukan, pakaian yang biasa ibu mertuaku gunakan, ukurannya juga lebih kecil dari badan mertuaku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD