Aku segera memesan taksi online, tempat yang akan aku datangi saat ini adalah rumah Ria--adik suamiku.
Setelah memakan perjalanan hampir satu jam, karena macet, aku sampai juga dirumah adik iparku, nampak mobil suamiku terparkir didepannya.
Apa suamiku sedang berbohong, kenapa ia berada dirumah adiknya, padahal ia tadi sangat terburu-buru, atau ia memang ingin menemui ibunya terlebih dahulu.
Aku turun dari mobil kemudian berjalan memasuki rumah Ria. Tapi, baru saja aku ingin mengetuk pintu, terdengar obrolan dari dalam.
"Fan, apa kamu yakin? Bunga akan segera sembuh?" Ibu mertuaku berbicara.
Aku mengurungkan niat mengetuk pintu, akan ku dengarkan obrolan mereka di dalam. Bunga, seingatku Bunga adalah adik bungsu mas Irfan yang kuliah diluar kota, ia juga tak hadir saat acara pernikahanku, karena sibuk dengan kuliahnya, begitu kata suamiku. Tapi, kenapa ibu bilang seperti itu. Apa Bunga sedang sakit.
"Ya mas, aku juga tak yakin," Ria menyahut lemah.
"Sudahlah, kalian percaya saja. Aku yakin, Bunga bisa sembuh, bisa kembali seperti dulu!" Ucap mas Irfan, dengan sedikit membentak.
Rasa penasaranku semakin besar, dari pada aku terus-terusan menguping tanpa tahu masalah yang sebenarnya, lebih baik langsung kutemui mereka. Mendengar langsung penjelasannya. Aku segera menarik handle pintu yang tak dikunci, semua yang berada di dalam terkejut melihat kedatanganku. Tidak terkecuali suamiku sendiri.
"Dania," pekik mas Irfan.
Netraku tertuju pada wanita muda, yang tengah bersandar dipundak ibu mertua. Dia seperti tak menyadari kehadiranku, keadaanya sangat memprihatinkan, tubuhnya yang kurus, rambut yang acak-acakan.
"Mas, siapa wanita ini?" Tanyaku.
"Kita bisa bicarakan dirumah saja, sekarang aku buru-buru."
"Jangan bilang, dia adalah selingkuhanmu mas! Dan baju wanita yang kutemukan di kamar ibu dirumah, adalah miliknya!" Teriakku, tanpa memperdulikan ibu mertua yang menatapku sinis.
"Jangan kurang ajar kamu! Bunga ini adiku! Kamu tahu kan, aku memiliki dua adik perempuan, ini Bunga adik bungsuku!" Ucapnya lantang.
Jujur saja aku merasa bersalah, karena telah menuduh suamiku berselingkuh, tapi kenapa dia tidak pernah memberitahuku tentang keadaan Bunga.
Melihat aku, dan mas Irfan bersitegang, Bunga nampak ketakutan, ia berteriak, kemudian melemparkan semua benda yang ada disekitarnya, kemudian meringkuk disudut ruangan sembari merintih.
Ia seperti orang kesurupan.
"Gara-gara kamu, anakku jadi seperti ini!" Ibu mertua melotot kearah ku, kemudian menghampiri Bunga, memeluknya seolah memberi perlindungan.
"Sudahlah mas, lebih baik kamu bawa istrimu pulang! Dari pada keadaan Bunga semakin memburuk!" Ujar Ria.
Aku tidak terima disudutkan seperti ini, apa salahku, seharusnya mas Irfan yang pantas disalahkan karena dia tak berkata jujur, dan membuatku curiga. Lantas kenapa saat ini aku yang disalahkan.
"Dania, lebih baik kamu pulang! Aku akan menjelaskan semuanya, sekarang aku akan bawa Bunga keluar kota untuk berobat, setelah itu kita bisa bicarakan masalah ini."
"Tidak, mas. Aku ikut," tolakku.
"Kenapa harus ikut?"
"Karena aku istrimu!"
"Baiklah, kamu ikut. Ayo kita tidak punya banyak waktu, aku harus segera mengobati Bunga."
____
Aku terpaksa harus egois, dan menolak keinginan suamiku yang memaksaku untuk pulang kerumah. Aku ingin tahu, apa penyebab Bunga seperti ini, kalau menunggu sampai mas Irfan pulang, belum tentu ia akan segera pulang, dan menjelaskan semuanya padaku. Bisa saja ia mengelak.
Setelah perjalanan yang memakan waktu hampir seharian, kami sampai juga dikediaman seseorang yang suamiku bilang bisa mengobati Bunga. Kami disambut dengan baik disana. Bunga dibawa oleh dua orang wanita yang kuperkirakan adalah seorang perawat.
"Mas, sebenarnya Bunga sakit apa?"
"Dia mengalami trauma berat, hingga depresi," jawabnya datar.
"Kenapa tidak dibawa kerumah sakit jiwa, atau psikiater?"
"Sudah berbagai cara dilakukan, tapi belum juga ada hasil. Disini banyak yang sudah berhasil."
"Tapi, mas. Apa penyebab Bunga seperti ini?"
"Aku tidak bisa menjelaskannya sekarang."
Ia kemudian berlalu meninggalkanku. Suamiku, kenapa sikapnya selalu berubah.