"Dania, kakakmu kecelakaan tolong segera datang kerumah sakit Medika Satria,"

680 Words
Bunga harus berada disini paling tidak 3-4 hari, agar kondisinya bisa cepat membaik. "Malam ini aku bermalam disini, tapi besok pagi, aku harus pulang. Karena banyak yang harus kuurus," Ujar Ria. "Besok kamu pulang sama siapa?" "Aku bisa naik bus." "Beneran?" "Iya, yang penting mas, sama ibu, temani Bunga ya." "Pasti lah, aku juga sudah izin cuti," ujar mas Irfan. Saat tengah berbincang, ponselku berdering, aku meminta izin untuk menerima telepon dari mama. "Hallo, ma. Iya ma, ada apa?" "Dania, kakakmu kecelakaan tolong segera datang kerumah sakit Medika Satria," ujar mama dengan suara lirih. Seketika lututku lemas, mendengar kabar ini. Aku segera mematikan sambungan telepon kemudian menghampiri mas Irfan. "Mas, kita harus pulang malam ini, kak Fahri kecelakaan." "Loh gimana sih? Aku gak bisa kalau ninggalin Bunga." "Mas, kan ada Ibu. Aku mohon mas," aku terisak. "Ibu bilang juga apa, gak usah diajak. Ngerepotin begini kan akhirnya," gerutu ibu. Tega sekali, apa tidak ada sedikitpun rasa khawatir, mendengar kakakku kecelakaan, kenapa mereka seakan acuh tak perduli. "Harusnya memang kamu nggak usah ikut, mbak. Jadi bikin susah, memang dekat apa. Mana sudah malam begini," Ria menimpali. "Ya benar, ini sudah malam. Aku juga lelah menyetir seharian. Besok saja." "Mas, tapi aku khawatir dengan kak Fahri." "Kamu hubungi mama, bilang padanya kalau kita ini sedang jauh. Dan tidak memungkinkan untuk datang malam ini juga, jangan menyusahkan, Dania!" Dengan perasaan tak menentu, aku segera menghubungi mama, mengabarkan kondisiku yang sedang jauh diluar kota. Mama mengerti, mama juga bilang kak Fahri sudah ditangani dokter, semoga saja keadaannya baik-baik saja. ____ Aku tak bisa memejamkan mata, perasaan gelisah karena belum tahu kondisi kak Fahri, membuatku ingin cepat-cepat pulang. Apa lagi mama hanya sendiri menunggui kakakku, pasti ia lelah, tak ada yang menggantikan. Apa lagi kata mama, orang yang menabrak kak Fahri kabur begitu saja, tanpa mempertanggungjawabkan perbuatannya. "Kamu kenapa belum tidur?" "Aku tidak mengantuk," jawabku malas. Kami menginap dipenginapan yang tak jauh dari tempat Bunga yang sedang melakukan pengobatan, penginapan ini memang disediakan untuk keluarga pasien yang melakukan perjalanan jauh. "Kamu memikirkan keadaan kakakmu?" "Iya, bagaimana tidak. Orang yang menabrak kak Fahri bahkan kabur, tanpa tanggung jawab." "Maafkan aku ya, saat ini aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku. Aku lelah sekali, Dania," ujarnya lemah. "Aku mengerti, tapi kenapa kamu dan keluargamu justru menyudutkan ku? Apa salahku, mas?" "Aku, ibu, dan Ria. Hanya lelah, kamu saja yang berfikir bahwa kami menyudutkanmu." "Itu bukan hanya fikiranku, mas. Tapi memang benar. Bahkan, saat aku memberitahu kakakku kecelakaan, kalian tidak ada yang bersimpati. Semuanya acuh, menganggap seolah itu hal biasa!" Mas Irfan hanya bergeming, aku tahu ia lelah, tapi tidak seharusnya ia dan keluarganya menjadikanku pelampiasannya. "Berarti selama beberapa hari ini, Bunga yang berada dirumah kita?" Mas Irfan mengangguk. "Suara Rintihan itu, suara Bunga? Tapi apa alasannya kamu menutupi semua itu dariku, mas? Kenapa tidak jujur, aku tidak masalah, kalau ibu, dan Bunga harus tinggal bersama kita. Jadi kamu tak perlu membohongiku, dengan menyewa orang untuk mengurus Bunga!" "Maaf." "Aku tidak butuh kata maaf, mas. Aku hanya butuh penjelasan. Kenapa kamu sampai menutupi keadaan adikmu? Bukankah kamu sendiri yang bilang, bunga kuliah diluar kota. Ada apa sebenarnya mas?" "Dania, kita bisa bahas ini dirumah. Paling tidak sepulang dari sini, biar disini kita fokus dulu pada kondisi Bunga," pintanya. "Tapi kamu harus berjanji, sepulang dari sini. Kamu akan menceritakan semuanya dengan detail, tanpa ada yang kamu tutupi lagi, mas?" Mas Irfan mengangguk. Ia memang nampaknya sangat lelah. Sebaiknya aku memang berhenti membahas ini disini. Biarlah dia fokus pada kesembuhan adik bungsunya. ___ Setelah empat hari, Bunga diperbolehkan pulang kerumah. Keadaannya masih sama saja, hanya saja saat ini, ia sudah bisa diajak komunikasi sedikit demi sedikit. Setelah sampai dirumah, aku segera menghubungi mama. Mama bilang, kak Fahri sudah pulang kerumah, tidak ada luka yang serius. "Mas, aku kerumah mama ya." "Kita baru saja sampai, kamu bantu ibu dulu ya? Merawat Bunga," pintanya. "Kemarin kamu bisa menyuruh bik Minah untuk merawat Bunga, saat ini juga lebih baik panggil bik Minah. Aku ingin melihat kondisi kak Fahri, mas!" "Begitu kamu bersikap pada suamimu!" Bentak ibu. Aku yang begitu kesal, langsung berlalu meninggalkan mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD