Wulan masih tidak dapat menatap Bastian. Setiap kali ia menatap Bastian, ia selalu teringat dengan kejadian malam itu. Malam di mana ia menyerahkan mahkotanya pada laki-laki yang bahkan baru ia kenal beberapa bulan belakangan ini. Wulan mendengus kesal menyesali apa yang ia perbuat. ‘Aku menjaganya selama ini. Kenapa dengan mudah kuberikan padanya?’ batin Wulan kesal. Saat ini Wulan sudah berada di kamarnya. Ia bahkan memutuskan untuk tidak makan malam karena tidak ingin bertemu Bastian di ruang tengah. Wulan menghabiskan malamnya dengan melamun, tiba-tiba ia teringat akan ibunya. Air mata menetes di pipi Wulan tanpa permisi. “Saat ini Ibu sedang berusaha melawan penyakitnya, namun kau berbuat hal tidak senonoh, di mana sebenarnya pikiranmu, Wulan?” ujarnya lirih. Ia mengusap wa

