2. Pria yang Angkuh

905 Words
Masih dalam suasana yang meriah namun menegangkan bagi seorang Sheila. Bagaimana tidak? Rangga merasa emosi saat ia menatap terlalu lama pria lumpuh di ujung ruangan ini. “Sheila,” “Ya, Mas,” Sheila menoleh ke arah suaminya, pria itu menatapnya dengan tatapan … sedikit tajam. Ia heran. “Ada apa?” "Aku akan pergi menyambutnya. Tunjukkan padanya siapa yang punya segalanya," kata Rangga, beranjak dari sisi Sheila untuk berhadapan dengan pria yang mungkin menjadi musuhnya. Rangga mendekati meja Renaldo dengan langkah pasti. "Selamat datang di pernikahanku yang megah ini, Tuan Hutomo. Aku sangat terkejut Anda datang. Aku pikir Anda sibuk mengurus proyek Anda yang macet." Renaldo meletakkan gelasnya dengan tenang. Ia memiliki wajah yang dingin dan terkontrol—topeng yang nyaris tak pernah retak. "Selamat, Tuan Aditama. Pesta yang mewah. Dan ya, perusahaan ku memang sedang sibuk. Sibuk mempersiapkan kehancuran proyek Anda." Rangga tertawa sinis. "Ancaman yang lucu, Tuan. Anda seharusnya tidak terlalu banyak bergerak. Mungkin akan lebih melukai kondisi Anda." Tiba-tiba, mata Renaldo beralih, melewati bahu Rangga. "Tuan Aditama," kata pria lumpuh itu, suaranya serak dan mengandung daya tarik tersendiri. "Disini, aku hanya datang untuk memberi selamat kepada Nyonya Aditama. Istri Anda sungguh cantik. Jaga dia dengan baik. Tidak semua hal bisa dibeli dengan kekayaan, termasuk kesetiaan." Kalimat terakhir itu seperti sengatan listrik yang menusuk harga diri Rangga. Rangga berbalik dan melihat Sheila berdiri tidak jauh, wajahnya pucat. Renaldo telah berhasil menanamkan keraguan di malam kebahagiaannya. Rangga mengepalkan tangannya tanpa terlihat oleh siapapun. Ia merasa geram dengan ucapan pria lumpuh di hadapannya tadi. Rangga pun kembali ke tempat yang tadi bersama Sheila, ia mencengkeram lengan istrinya erat-erat. "Dengar, Sheila. Aku peringatkan kamu, mulai hari ini," Rangga berbisik tajam, matanya membara, ia geram juga pada Sheila yang secara terang-terangan menatap tanpa kedip pada pria lain, apalagi pada musuhnya. "Dengarkan aku! Jangan pernah beri pandangan seperti itu lagi pada siapapun. Terutama padanya. Malam ini aku akan belajar bahwa kamu adalah milikku, dan aku akan menuntut hak milikku. Setiap perjanjian pernikahan harus dipenuhi. Di hadapan publik, dan sebentar lagi di ranjang." Tawa sinis nya menggema di telinga Sheila saat Rangga menyeretnya keluar dari ballroom yang dingin, menuju suite pengantin yang penuh dengan janji kekecewaan yang akan segera terungkap. Kontrak pernikahan itu baru saja dimulai, dan Sheila sudah merasa dirinya mulai hancur berkeping-keping di tangan suaminya yang angkuh. ** Di malam itu, saat pesta hampir selesai, Rangga memang tidak menyeret Sheila, tapi cengkeramannya yang kuat pada lengan gadis itu sudah cukup menjelaskan, ini bukan lagi dansa, melainkan sebuah paksaan karena sebuah perjanjian. Mereka memasuki suite pengantin termewah di hotel bintang tujuh itu. Cahaya lampu gantung kristal yang lembut gagal menghangatkan suasana yang kini membeku oleh ketegangan. Rangga menutup pintu dengan satu hentakan keras yang bergema di keheningan. Kehadiran para pelayan yang telah menyiapkan sampanye dan stroberi bertabur emas seolah-olah menjadi saksi bisu kegagalan kebahagiaan. "Lepaskan gaunmu," perintah Rangga, suaranya kini kasar, meninggalkan semua kepura-puraan yang ia tampilkan di depan tamu. Ia melepaskan dasi sutra, melemparkannya ke sofa beludru seolah itu benda tak berharga. Sheila berdiri membeku, masih mengenakan gaun sutra yang mewah itu. Di mata Rangga, sang suami, ia tidak melihat gairah seorang suami, melainkan sebuah keangkuhan. Rangga tidak melihatnya sebagai wanita, melainkan sebagai penghias yang kini harus ia nikmati, hanya karena telah membayar harganya. Sheila diam saja, ia masih bingung. Malam ini, ia juga belum siap meskipun Rangga bilang ia harus benar-benar siap. "Sheila, aku bilang lepaskan," ulang Rangga, kini mendekat dengan langkah pelan namun menegangkan. Matanya gelap, tidak mencerminkan cinta, melainkan hak. Rangga seolah meminta haknya karena telah … membelinya. "Kamu tahu apa yang tertulis dalam kontrak, 'kan? Kewajiban suami-istri." Sheila merasakan tenggorokannya tercekat. Ia tahu. Dia setuju. Dia tahu apa yang akan menjadi kewajibannya. Tetapi, menghadapi kenyataan dimana suaminya menuntut hak tanpa pernah menanamkan rasa, jauh lebih menyakitkan daripada yang ia bayangkan. "Aku bisa melakukannya sendiri," bisik Sheila, suaranya nyaris hilang. Rangga hanya tersenyum sinis. "Tidak perlu. Itu tugas yang akan aku nikmati." Dengan gerakan cepat, Rangga menarik resleting gaun Sheila. Suara gesekan logam yang membelah kain sutra terasa begitu bising di telinga Sheila, seolah itu adalah suara kontrak yang terkoyak. Gaun itu meluncur ke lantai, meninggalkan Sheila hanya berbalut pakaian dalam satin dan penuh ancaman yang menusuk. Tubuhnya gemetar, bukan karena hasrat, melainkan karena dinginnya udara dan kekosongan hatinya. Rangga mendekapnya dari belakang, bibirnya menyentuh lehernya. "Kamu harus belajar, Sheila. Jangan pernah tatap pria lain, terutama musuhku, dengan pandangan memohon seperti itu. Kamu hanya boleh memohon padaku." Ia membalik tubuh Sheila, memaksa gadis itu mendongak. Di matanya, Sheila melihat refleksi kemarahan Rangga terhadap pria lumpuh itu. Sheila merasa bahwa ia hanyalah pelampiasan dari harga diri Rangga yang terluka. “Hei, jangan diam saja, Sayang. Aku butuh perlawanan seperti gerakan atau sikap manja darimu, istriku sayang,” bisik Rangga dengan suara penuh nafsu. Rangga menunduk, tangannya menyentuh kedua pipinya dan mulai mendekatkan wajahnya. Sheila merasakan saat Rangga menciumnya. Ciuman itu cepat, keras, dan menuntut—karena ia telah menjadi miliknya. Tangan Rangga menjelajahi tubuh Sheila, bukan untuk memberi kenikmatan, melainkan untuk menegaskan bahwa setiap inci tubuh gadis itu kini berada di bawah kendalinya. Malam itu menjadi mimpi buruk yang panjang. Ya, Sheila merasa ia sangat tak berharga, harus pasrah dan menikmati tanpa mengeluh. Rangga menggigit bibirnya, penuh bersemangat sehingga bibir Sheila menjadi berdarah. “Aw, sakit,” Rangga tersenyum puas. Ia bukannya minta maaf malah semakin beringas. Sheila merasa sesak, ia menahan napas karena bibirnya penuh dengan hisapan lidah Rangga yang memasuki langit-langit bibirnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD