3. Sisi Kelam Hidupnya

1006 Words
Sheila merasa kewalahan, Rangga tidak memberinya ruang bahkan waktu untuk sekedar bernapas. Rangga terlihat sebagai pria yang mahir dalam aksinya, tapi miskin dalam perasaan. Gerakannya liar dan cepat, tapi hanya fokus pada kepuasannya sendiri dan penyelesaian tuntutan perjanjian dalam kontrak. Bagi Rangga sendiri, keintiman merupakan sebuah pernyataan yang mendominasi, menjadi bukti bahwa ia, pria yang 'beruntung' dan 'berkuasa'. Ia menyelesaikan 'tugasnya' dengan arogansi seolah seorang raja yang mengambil apa yang menjadi miliknya. Ketika semuanya berakhir, Rangga bangkit, seolah baru saja menyelesaikan rapat dewan direksi yang melelahkan. Ia tidak mengucapkan kata-kata manis, tidak memberikan pelukan, bahkan tidak melihat apakah Sheila baik-baik saja. Sedangkan Sheila sendiri, ia baru melakukannya, baru pertama kali, dan rasanya sangat sakit. Benar-benar sakit. Kakinya terasa ngilu apalagi bagian yang paling sensitif, ia meringis menahan sakit. Hampir saja tidak bisa bergerak. Namun, ia berusaha untuk tidak memperlihatkan rasa sakitnya. Rangga tidak akan mau tahu dan memang begitu sifatnya. “Aduh,” rintihnya. Rangga tak menoleh ke arahnya, hanya membenahi pakaiannya saja. Pria itu sangat cuek, hanya menjadi suami yang tertera di atas kertas. "Jangan lupakan tugasmu," gumamnya, menarik selimut sebatas pinggangnya. "Besok ada pertemuan. Berlakulah seperti istri yang bahagia." katanya lagi. Sheila memilih berbaring di sisi tempat tidur yang lain, merasakan sakit fisik dan emosional yang jauh lebih dalam. Ia memejamkan mata, membiarkan air mata sunyi mengalir di pelipisnya, membasahi bantal sutra. Rasanya sangat sakit, ia tak bisa menahannya lagi. Tangannya meremas perutnya yang bergejolak. Ia ingin muntah tapi sepertinya bukan untuk muntah atau mengeluarkan sesuatu. Di kamar suite mewah yang dibayar mahal, dikelilingi oleh semua kekayaan dan kemewahan yang ia inginkan, Sheila menemukan dirinya sangat sendirian dan sangat kecewa. Malam itu, di ranjang pernikahannya sendiri, ia tahu. Kontrak ini bukan hanya mengikatnya secara hukum, tetapi juga menguras habis jiwanya. Ia merasa kecewa, pernikahan ini benar-benar telah merenggut kebahagiaannya. Rangga bukan cuma angkuh tapi dia tak memiliki perasaan. ** Pagi ini, Sheila terbangun dengan rasa sakit yang ada di sekujur tubuh, lebih-lebih di hatinya. Sinar matahari pagi menembus tirai sutra tebal, memancarkan debu-debu emas yang menari di udara kamar suite. Rangga sudah tidak ada di sampingnya. Pria itu mungkin sudah pergi. Tempat tidur di kamar ini cukup rapi kecuali yang sedang ia tempati. Mungkin dia memang telah keluar dan tak mempedulikannya. Yang ia lihat hanya ada surat di atas meja kamar ini. Ia meraihnya sambil merasakan nyeri di beberapa bagian tubuhnya. ‘Untuk Sheila istriku tercinta, aku harus ke kantor lebih awal. Jangan lupa, kita ada makan siang formal dengan kolega. Pakai gaun terbaikmu, Sheila. Jaga penampilan, aku mengandalkanmu. Dan kamu adalah aset berhargaku- Rangga.’ Aset. Kata itu terasa dingin dan merendahkan, mengulang kembali status dirinya dalam pernikahan ini. Ia bangkit perlahan, menuju kamar mandi mewah nan sangat lengkap, mencoba menghapus sisa-sisa malam yang terasa lebih seperti pemaksaan daripada sebuah keromantisan. Sambil merendam diri di bak mandi, pikirannya berkelana mundur, kembali ke momen paling berharga dalam hidupnya, awal mula kontrak yang mengikatnya ini. Flashback On Sheila Rosemarie bukanlah Nyonya Aditama yang bergelimang kemewahan. Ia adalah seorang mahasiswi putus kuliah yang terpaksa melakukan pekerjaan apa saja—termasuk memungut botol-botol plastik bekas—untuk membantu melunasi tumpukan hutang orang tuanya. Ia memang sempat kuliah tapi karena kendala biaya, semua pupus dan ia tak melanjutkan lagi. Lalu setelah tak bisa kuliah lagi, ia melamar pekerjaan dan diterima di sebuah toko kelontong. Tapi sambil bekerja ia juga mencari botol-botol bekas setiap hari libur kerjanya. Ia memanfaatkan waktu dengan sebaiknya karena ibunya yang juga mengajarkannya untuk bisa menjual boto bekas jika waktunya memungkinkan. Dari sinilah ia bertemu dengan Rangga Aditama yang kini menjadi suaminya. Suatu sore yang terik, di depan gedung megah Aditama Corp, saat sedang fokus menyortir sampah daur ulang di tempat sampah yang mengkilap, tangannya kotor oleh remah-remah debu kota. Tiba-tiba, suara deru mesin mobil mewah Rolls-Royce Phantom berhenti tepat di belakangnya. Jendela mobil itu terbuka. Di dalamnya, duduk seorang pria yang terkenal angkuh dan juga arogan. Tapi sebagai orang biasa, Sheila tidak tahu bahkan tidak mengenalnya. Dialah Rangga Aditama, sang CEO yang sedang dalam perjalanan pulang. Rangga melihatnya, tapi seharusnya pria itu jijik padanya. Bukannya jijik atau benci, tetapi justru terpikat. Di tengah debu dan sampah, wajah cantik Sheila bersinar dengan aura kepolosan yang tidak tersentuh. Rangga melihat kecantikan liar, murni, yang belum ternoda oleh keserakahan dunia. Kecantikan itu, pikir Rangga, merupakan hal yang sempurna. "Hei! Gadis!" panggil Rangga. Sheila menoleh, kaget dan malu setengah mati melihat sang CEO tampan menatapnya dengan tatapan intens yang sulit diartikan. Rangga memerintahkan pengawalnya memanggil Sheila ke kantornya. Sheila yang bingung sekaligus takut, hanya menurut saja ketika ia diminta masuk ke kantor sang CEO. Ruang kerja yang ia masuki terasa sebesar istana, dengan pemandangan kota yang terhampar di bawah kakinya. Pria itu, ada di dalam ruangan tengah duduk dan merokok. "Siapa namamu?" tanya Rangga, sambil menyilangkan tangan. "Namaku? Ehm …. Sheila Rosemarie.” Lalu ia ditanya-tanya, dimana tempat tinggalnya dan apa saja yang menjadi keluhannya. Tak lama setelah pertemuan itu, ternyata Rangga mencari tahu tentang kehidupannya. Setelah mendengar latar belakangnya yang serba kekurangan dan hutang orang tuanya yang menggunung, hasrat Rangga muncul. Ini adalah kesempatan sempurna untuk membeli sebuah 'kesempurnaan'. Ia tidak hanya membeli kecantikan seorang gadis, tapi ia juga membeli keputusasaan. "Aku akan melunasi semua hutang orang tuamu, membelikan mereka rumah yang layak. Aku akan memberimu kartu tanpa batas," kata Rangga tanpa basa-basi. “Apa, Tuan, yang benar?” “Ya, aku sungguh-sungguh. Jangan panggil aku Tuan. Panggil aku, Mas atau Rangga saja,” ucap Rangga kala itu. “Tuan yakin?” “Sangat yakin,” jawabnya penuh semangat. "Sebagai gantinya, kamu harus menikah denganku. Pernikahan kontrak. Setidaknya untuk dua tahun." Sheila terkejut, bingung, tetapi mata Rangga—yang penuh keyakinan dan sedikit keangkuhan—menghipnotisnya. Tawaran itu seperti tali penyelamat emas yang muncul dari jurang kehancuran. "Aku... aku harus apa?" tanya Sheila, suaranya bergetar. Rangga tersenyum—senyum seorang predator yang tahu mangsanya tidak punya pilihan lain. "Kamu hanya perlu menjadi istriku yang cantik. Di depan umum. Dan, tentu saja, memenuhi kewajiban di ranjang. Aku menyukai tatapan polosmu, Sheila. Jangan pernah ubah itu." Flashback Off.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD