10

1204 Words
Adrian sampai dirumah bersama Stephanie. Stephanie turun dari mobil langsung lari masuk kerumah Adrian, meninggalkan Adrian sendiri yang sedang mengambil koper dari bagasi mobilnya. "Steph, koper kamu...!" Teriak Adrian, yang ternyata Stephanie sudah hilang dari pandangannya. "Tuh anak, cepet banget sih ilangnya." Gerutu Adrian sambil menarik koper Stephanie yang super besar membawanya masuk kedalam rumah. "Astaga, bawa baju berapa sih ni anak, jangan-jangan selemarinya lagi dia bawa, huft!" Adrian masih menggerutu karena beban berat yang hampir tidak sanggup lagi dia bawa, secara, untuk masuk ke dalam rumahnya harus menaiki beberapa anak tangga. "Ide siapa lagi nih bikin tangga sebanyak ini, gue rubuhin juga nih tangga, liat saja, siapa suruh nyusahin gue." Adrian menarik nafas panjang sebelum menaiki tangga terakhir untuk sampai ke pintu masuk rumahnya. Dan menghembuskan nafas dengan kencang setelah berhasil sampai di depan pintu. "Tanteee..!" teriak Stephanie dengan kencang memanggil mama Adrian yang membuat mama Adrian terkejut dan langsung menoleh ke arah pintu. Stephanie berlari ke arah mama Adrian dan langsung memeluknya. Mama Adrian masih bingung, dia melepas pelukan Stephanie, menatap Stephanie lekat dari atas sampai bawah. "Stephanie!" teriak Mama Adrian heboh setelah sadar siapa yang ada didepannya, dan memeluknya lagi. "Astaga, Steph, kamu sama siapa kesini? kok nggak ngabarin tante dulu?" "Stephanie sama Ryan, mah." Kata Adrian yang sudah sampai di dalam rumah, tapi tidak didengar oleh mamanya. "Sengaja, tante. Mau bikin surprise." jawab Stephanie cekikikan. "Ya ampun, kamu sendirian aja? Mama kamu nggak ikut?" tanya mama Adrian lagi. "Nggak, tante, Mama lagi honeymoon sama suami barunya." Jawab Stephanie dengan entengnya. "What? Mama kamu menikah lagi? Tante kok ngga dikasih tau?" Sebenarnya mama Adrian tidak terkejut mendengar kabar pernikahan adiknya, karena ini bukan pernikahannya yang kedua atau ketiga kalinya untuk adiknya itu . "Ini aku kesini mau ngabarin, hehe." "Ya sudah masuk yuk, kita ngobrol di dalam." Mama Adrian menggandeng Stephanie masuk ke dalam, meninggalkan Adrian sendiri, seperti orang tidak dianggap. "Mah, Ryan balik kantor lagi, ya." pamit Adrian pada mamanya, yang lagi-lagi tidak didengar. "Steph, koper kamu aku taruh sini, ya." Kali ini Adrian bicara pada Stephanie, yang juga tidak mendapat jawaban. Adrian menarik nafasnya, dan menghembuskan lagi dengan kencang. "Oke." jawabnya dalam hati. Lalu melangkah keluar menuju mobilnya. Di dalam, mama Adrian mengajak Stephanie duduk di teras samping rumah, setelah sebelumnya meminta ART alias Asisten Rumah Tangga nya membuatkan minuman untuk mereka berdua. "Om mana, tan? kok ngga kelihatan?" Tanya Stephanie sambil celingukan. "Om dikamar, lagi tidur siang." jawab mama Adrian. "By the way, kamu janjian sama Ryan mau bikin surprise buat tante?" tanya mama Adrian setelah mereka duduk. "Nggak ko, tan. Ryan juga nggak tahu aku dateng. Jadi tadi dari bandara aku langsung ke hotel nemuin Ryan." Stephanie menjelaskan. "Ooh pantas, kamu bisa kesini sama dia." "Tapi tadi kita mampir restoran dulu sih, tan, soalnya aku usa kelaperan." Beberapa saat kemudian ART datang membawa satu teko teh, dan dua cangkir kosong, lalu diletakannya di atas meja teras . "By the way juga, aku tadi ketemu sama calon pacarnya Ryan lho, tan." Kata Stephanie tiba-tiba. Mama Adrian yang sedang menuang teh dari teko ke dalam cangkir terkejut, dan menumpahkan sedikit tehnya ke meja. "Calon pacar? Maksud kamu?" tanya mama Adrian bingung. "Iya, calon pacar, orang yang disukai Ryan, tante." jawab Stephanie sambil mengelap teh yang ditumpahkan mama Adrian dengan tisu. "Ooh, Ryan pernah bilang sih, tapi belum pernah dikenalin ke tante." "Ya mungkin karena mereka belum pacaran, tante. Nanti kalau mereka sudah jadian juga pasti dibawa kesini, dikenalin ke tante." "Terus, orangnya gimana?" Tanya Mama Adrian. "Orangnya? Siapa?" Stephanie mengerutkan keningnya. "Orang yang disukai Adrian, yang tadi kamu bilang." Mama Adrian mengambil cangkir tehnya, dan meneguknya sekali. "Ooh... Orangnya, cantik, anggun, terlihat masih seperti gadis walaupun sudah punya dua anak..." "Uhuk-uhuk!" Mama Adrian terkejut sampai tersedak. "Pelan-pelan, tan, minumnya." Kata Stephanie sambil menepuk-nepuk punggung tantenya pelan. "Apa kamu bilang? punya dua anak? perempuan itu janda maksud kamu?" Tanya mama Adrian sambil membolakan matanya. "Single mother, tan." Stephanie membenarkan istilahnya. Mama Adrian masih mengelus dadanya yang sakit karena batuk setelah tersedak tadi. "Menurut cerita Ryan sih, suaminya meninggal tiga tahun yang lalu, jadi bukan salah dia jadi janda kan, tan?" Cerita Stephanie pada mama Adrian persis seperti yang sudah Adrian ceritakan sebelumnya padanya, saat perjalanan pulang tadi dari restoran. "Ya tetap saja statusnya janda." "Memangnya ada yang salah dengan single mother? Mama aku juga single mother, dia juga barusan menikah lagi dengan laki-laki yang umurnya jauh lebih muda, bahkan bisa dibilang laki-laki itu lebih mirip jadi kakak aku daripada papa tiri aku." Mama Adrian terdiam mendengar cerita keponakannya. Kamu memijit keningnya karena tiba-tiba merasa pusing. "Cinta tidak mengenal usia tante, yang paling penting itu kenyamanan. Single mother apalagi yang lebih tua, biasanya membuat si laki-laki merasa nyaman bersama wanita yang lebih dewasa." Stephanie menambahkan sambil menorehkan senyuman untuk tantenya yang mendadak berubah pucat. Dia menepuk punggung tantenya untuk menenangkannya. Mama Adrian Masih terdiam membayangkan apa yang akan terjadi dengan anak semata wayangnya jika menikah dan langsung menjadi seorang ayah. Diapun semakin kuat memijit keningnya. Sementara dirumah Marcela. Terlihat Marcela sedang di dapur dengan pakaian andalannya, daster. Dia berdiri di depan oven, dengan pandangan kosong. Tak lama alat pemanggang roti itu berbunyi, tanda kue yang sedang dipanggangnya sudah matang. Marcela membuka oven dan mengambil loyang yang ada di dalamnya. "Auw!" pekik Marcela. Ternyata dia menyentuh loyang dengan tangan kosong, tanpa sarung tangan anti panas. "Astaga, kemana sih pikiranku?" Kata Marcela menyalahkan pikirannya yang dari tadi sepertinya sedang tidak ada ditempatnya. Dia membasahi jarinya yang terkena panas dengan air mengalir dari wastafel. Setelah bertemu dengan Adrian yang sedang menggandeng perempuan lain, dia tidak bisa fokus mengerjakan apapun. "Apa yang kamu pikirin sih, cel? Memang apa salahnya Adrian menggandeng perempuan lain, toh dia bukan siapa-siapa kamu juga." Bisik Marcela. Dia memakai sarung tangan anti panas dan mengambil loyang dari oven. Lalu meletakkannya di meja makan. Diapun duduk di dikursi makan. Lalu pikirannya melayang lagi entah kemana. "Tapi kenapa dia lakuin itu ke aku? kalau memang dia punya perempuan lain, kenapa dia bilang kalau dia cinta sama aku." Bisik Marcela lagi. Lalu dia tersadar, dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Huh, ngapain sih masih mikirin dia, mendingan urusin nih kue, cel, bentar lagi mau diambil sama orangnya yang sudah pesan." Marcela mengingatkan dirinya sendiri. Dan menyibukkan diri dengan pesanan kue yang tinggal dipacking. Lima belas menit kemudian, bel berbunyi, seseorang datang bertepatan dengan selesainya Marcela mengepak kuenya. Dia melirik jam di dinding. Pasti ini orangnya yang mau mengambil kue, katanya dalam hati. Marcela membuka pintu, dan benar, yang datang adalah pelanggan Marcela yang hendak mengambil pesanan kue nya. "Kue saya sudah jadi, mbak?" Tanya seorang ibu-ibu yang berdiri dihadapan Marcela. "Sudah, bu. Ini." Jawab Marcela sambil menyerahkan bungkusan kue dari tangannya. "Wah, terima kasíh banyak ya, mbak." Kata Ibu itu terlihat senang menerima bungkusan kuenya. "Saya yang terimakasih, bu. Ibu sudah beberapa kali pesan kue di saya." Jawab Marcela . "Memang kue bikinan mbak Cela enak kok, anak saya suka, minta belikan terus." "Syukurlah kalau suka, bu. Saya senang dengarnya." "Iya, mbak, besok paling kalau sudah habis saya pesan lagi, mbak." Kata ibu itu sambil menyerahkan uang untuk membayar kue pesanannya. "Dengan senang hati, bu." Jawab Marcela menerima uang dari ibu itu dengan senyuman lebar. "Kalau gitu, saya permisi ya, mbak, terimakasih." "Iya, bu, sama-sama."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD