"Syukurlah,mulai besok kamu sudah bisa mulai kerja ya, Cel."
Rizal dan Marcela sedang berada di pelataran parkir sebuah ruko. Mereka menemui sepupu Rizal yang mempunyai toko roti di salah satu ruko itu. Pertemuan mereka berjalan lancar, setelah satu jam berbincang, berkenalan dan membicarakan beberapa tugas yang harus Marcela kerjakan, mereka pun pamit, karena sudah jam nya juga duo Rei pulang sekolah. Kebetulan toko roti milik sepupu Rizal tidak terlalu jauh dari sekolahan duo Rei.
"Iya, mas. Terimakasih banyak ya, sudah mengenalkan aku sama sepupu kamu." Jawab Marcela dengan raut bahagia.
"Sama-sama, tidak perlu sungkan. Aku juga tahu kamu, roti bikinan kamu memang tidak kalah dengan yang dijual di toko-toko roti di luar sana, jadi aku yakin kalau sepupu aku pasti mau menerima kamu." Rizal tersenyum tulus pada Marcela. "Kita pulang sekarang?"
"Hm, kebetulan sebentar lagi jam pulang sekolah anak-anak, jadi aku mau jemput mereka sekalian."
"Oh, ya sudah, Ayo." Rizal mengeluarkan kunci mobil dari sakunya, lalu menekan tombol buka kunci.
"Nggak usah, mas. Aku naik ojek aja, nggak jauh kok dari sini." Tolak Marcela merasa tidak enak, karena Rizal sudah menjemputnya dirumah, dan mengantarnya menemui sepupu Rizal, Marcela merasa akan sangat merepotkan kalau harus mengantarnya lagi menjemput duo Rei.
"Kenapa naik ojek? Aku masih punya banyak waktu kok."
"Nggak usah, mas. Aku sudah banyak merepotkan mas Rizal hari ini."
"Aku tidak merasa direpotkan, ayo masuk." Jawab Rizal, dan menyuruh Marcela masuk ke dalam mobilnya. Marcela pun akhirnya masuk ke dalam mobil Rizal, karena tidak mau berdebat panjang dengan Rizal.
Saat keluar dari pelataran ruko, ponsel Marcela berbunyi. Dia mengambil ponselnya dari dalam tas, menatap layar dan membaca nama yang tertera di layar ponselnya, lalu mengangkatnya.
"Halo, iya, bu." Raut wajah Marcela langsung berubah mendengar kabar dari seseorang yang menelponnya. "Iya, bu, ini saya sudah perjalanan kesana kok, terimakasih, bu." Marcela menutup telponnya.
"Kenapa,Cel?" Tanya Rizal yang melihat wajah panik Marcela.
"Reifan, mas...Kata gurunya Reifan...badannya panas, dan...muntah-muntah." Marcela menjawab dengan terbata. Tanpa pikir panjang Rizal langsung melajukan mobilnya lebih kencang. Karena jarak yang tidak terlalu jauh, tidak butuh waktu lama untuk sampai ke sekolah duo Rei.
"Aku tunggu disini, kamu jemput Reifan, setelah itu kita bawa ke rumah sakit. Kata Rizal.
Marcela masuk ke dalam, dan menjemput Reifan. Rizal masih menunggu di dalam mobil. Beberapa meniit kemudian Marcela keluar menggendong Reifan dan masuk kembali ke dalam mobil Rizal. Rizal melajukan mobilnya ke rumah sakit tempatnya praktek. Marcela sempat menelpon Mario untuk minta tolong menjemput Reihan, karena dia terburu-buru membawa Reifan kerumah sakit.
Hotel Atmaja Jakarta.
Adrian sedang di dalam ruangannya bersama Stephanie, yang baru saja datang menemui Adrian untuk mengajak Adrian makan siang serta menemaninya berbelanja sedikit kepeluannya di mall. Adrian pun menyetujui karena memang hari ini kerjaannya tidak terlalu padat.
"Ayo berangkat sekarang, nanti keburu macet." Ajak Adrian yang sudah berdiri dari kursinya, dan hendak berjalan keluar. Stephanie ikut berdiri, da berjalan di belakang Adrian. Tiba-tiba pintu terbuka dengan kasar, Mario masuk dengan wajah panik.
"Mario, bisa santai nggak sih?" Adrian setengah geram karena kaget melihat Mario tiba-tiba masuk ke dalam ruangannya.
"Sory, yan. Gue ijin bentar jemput Reihan, ya."
"Memang Kak Cela nggak bisa jemput?" Tanya Adrian.
"Kak Cela bawa Reifan kerumah sakit."
"Reifan sakit?" Adrian ikut panik.
"Iya, badannya panas, muntah-muntah. Gue berangkat ya."
"Eh, tunggu, rumah sakit mana?" Adrian menahan Mario.
"Pelita Bunda." Mario langsung berlari setelah menjawab pertanyaan Adrian.
Adrian menatap Stephanie. Stephanie sepertinya paham maksud tatapan Adrian.
"Steph, sepertinya kita tunda dulu ya ke mall nya."
Stephanie tersenyum. Dia menepuk pundak Adrian.
"It's oke. Yaudah sana, susul dia ke rumah sakit." Jawab Stephanie.
"Thanks, Steph." Adrian langsung keluar dari ruangan dengan tergesa.
"You are so sweet, Ryan." Bisik Stephanie dalam hati, sambil tersenyum melihat tingkah sepupunya.
Rumah Sakit Pelita Bunda.
Rizal selesai memeriksa Reifan di ruang IGD.
"Reifan kenapa, mas?" Tanya Marcela dengan raut wajah yang masih terlihat ketakutan.
"Reifan ada infeksi pencernaan. Kita tunggu hasil lab nya dulu ya, mudah-mudahan tidak apa-apa." Jawab Rizal sambil mengelus kepala Reifan.
"Makasih ya, mas."
"Sama-sama. Oya, Cel, aku ke ruanganku dulu, ya. Nanti aku hubungi kamu kalau hasil lab sudah keluar, sementara Reifan biar istirahat disini dulu." Jawab Rizal sekaligus pamit pada Marcela. Karena jam prakteknya akan segera di mulai.
Marcela memandang Reifan yang terbaring lemah di kasur. Mengelus lembut kepala Reifan, dan menciumnya.
"Bunda, perut Reifan sakit." Reifan mengelus sambil memegang perutnya, dan air mata yang mengalir di pipinya.
"Sabar ya, nak. Sebentar lagi pasti sembuh, kan sudah diperiksa sama om dokter." Kata Marcela menenangkan Reifan, sambil menghapus air matanya.
Adrian sampai di rumah sakit dan langsung menuju IGD. Dia berkeliling mencari Reifan dan Marcela. Langkahnya berhenti saat menemukan sosok Marcela di sudut ruangan. Diapun lansung menghampirí mereka.
"Cel." Adrian memanggil Marcela yang sedang menenangkan Reifan. Marcela terkejut melihat Adrian yang sudah ada dihadapannya.
"Adrian. Kamu sedang apa disini?"
"Mario bilang Reifan sakit. Jadi aku langsung kesini." Jawab Adrian. Dia mendekati Reifan, mengelus kepalanya. Reifan mambuka matanya, melihat Adrian.
"Om Ryan." Reifan memanggil Adrian dengan pelan.
"Hai, boy. Yang kuat, ya. Reifan kan anak hebat." Kata Adrian.
"Reifan kuat kok, om." Jawab Reifan masih dengan nada lemas.
"Good boy." Adrian mengusap pipi Reifan.
Marcela menatap Adrian ambil tersenyum. Dia terkesima melihat Adrian dengan lembut menenangkan Reifan.
Adrian menatap Marcela, dan melihat Marcela sedang menatap dirinya. Marcela yang ketahuan oleh Adrian sedang menatap dirinya, langsung membuang pandangannya ke arah lain. Adrian tersenyum melihat tingkah Marcela.
"Aku beli makanan dulu ya, kamu pasti belum makan kan?" Tanya Adrian.
"Oh, iya " jawab Marcela yang masih terkejut karena Adrian tiba-tiba mengajaknya bicara.
"Om Ryan cari makanan dulu buat bunda ya sayang, nanti om kesini lagi." Adrian pamit pada Reifan.
Reifan mengangguk pelan. "Jangan lama-lama ya, om." Pinta Reifan.
"Oke, boy." Jawab Adrian sambil mengelus tangan Reifan.
Lalu Adrian berjalan keluar. Marcela melihat kepergian Adrian, sampai Adrian menghilang dari pandangannya.
Apa yang Adrian lakukan disini. Kenapa dia sangat perduli pada Reifan. Kenapa dia perduli pada kami kalau dia sudah punya pacar. Untuk apa dia melakukan ini, bagaimana kalau pacarnya tahu apa yang sedang Adrian lakukan sekarang. Marcela mengoceh tidak jelas di dalam hati. Lalu dia membuang nafas panjang, sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Bunda kenapa?" Tanya Reifan melihat bundanya yang terlihat gelisah.
"Nggak papa sayang. Sudah, kamu istirahat, ya." Marcela menarik ke atas selimut Reifan.