12

1078 Words
Setelah beberapa jam, Rizal datang membawa hasil lab Reifan. "Syukurlah hasil lab Reifan baik-baik saja. Jadi Reifan bisa istirahat di rumah." Kata Rizal sambil menyerahkan hasil lab kepada Marcela. "Syukurlah, berarti Reifan sudah boleh pulang ya, mas?" Tanya Marcela. "Iya, boleh. Tapi Reifan janji ya, harus istirahat di rumah, dan minum obat yang teratur." Kata Rizal pada Reifan yang duduk di pangkuan Adrian. Reifan mengangguk. Rizal melirik sebentar ke arah Adrian. Lalu menyerahkan resep obat pada Marcela. "Ini resep obat buat Reifan, diminum teratur selama tiga hari. Kalau sudah tiga hari masih sakit bisa kontrol lagi lansung ke poli anak saja, ya." Rizal menjelaskan pada Marcela. Adrian juga nampak memperhatikan setiap ucapan Rizal. "Iya. Makasíh banyak, mas." Jawab Marcela. "Sama-sama." Rizal berpaling menatap Reifan. "Cepat sembuh ya, sayang." Rizal mengelus kepala Reifan. Adrian menatap Rizal dengan tatapan tajam. Rizal yang sadar ditatap oleh Adrian menoleh pada Adrian. "Anda temannya Mario, kan? Bisa kebetulan disini?" Tanya Rizal pada Adrian. "Tidak, bukan kebetulan. Memang sengaja kesini setelah mendengar kabar Reifan sakit." Jawab Adrian dengan tegas. Rizal memandang Adrian sambil mengerutkan keningnya. Seperti mencerna perkataan Adrian. Lalu memandang Marcela. Seakan menanyakan maksud dari ucapan Adrian pada Marcela. Marcela yang dipandang oleh Rizal dengan tatapan penuh tanya, mendadak salah tingkah, karena bingung mau jawab apa. "Hm, aku tebus obat dulu ya." Lalu menoleh pada Reifan. "Reifan tunggu disini dulu sebentar ya, bunda mau ambil obat dulu." Reifan mengangguk. Marcela langsung berbalik dan berjalan keluar. Adrian dan Rizal saling manatap. Rizal melihat Reifan yang duduk dipangku Adrian dan memeluk Adrian dengan erat. "Reifan sangat nyaman sekali dengan Anda. Kalian terlihat sangat dekat ya." Rizal berkata pada Adrian. "Ya, seperti yang anda lihat." Jawab Adrian santai, dan membalas pelukan Reifan. "Kalau begitu, saya pamit dulu ya, mau kembali ke ruangan saya." Kata Rizal sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Adrian. "Oh ya, silahkan. Terimakasih banyak, dok." Jawab Adrian sambil meraih tangan Rizal dan bersalaman dengannya. "Memang sudah tugas saya." Rizal tersenyum. "Reifan, om pergi dulu ya, Reifan jangan lupa minum obat ya, biar cepet sembuh." Kata Rizal mengusap kepala Reifan. Lalu menatap Adrian lagi. "Tolong sampaikan salam saya pada Marcela." Adrian hanya mengangguk. "Terimakasih om dokter, dada..." Kata Reifan sambil melambaikan tangannya. "d**a Reifan." Rizal meninggalkan ruangan IGD. Beberapa menit kemudian, Marcela datang membawa kantung plastik berisi obat untuk Reifan yang tadi diresepkan oleh Rizal. "Sudah obatnya?" Tanya Adrian. "Sudah. Hm... Dokter Rizal Mana?" Tanya Marcela sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. "Sudah kembali ke ruangannya." Jawab Adrian. "Oh." "Kita pulang sekarang?" Tanya Adrian. "Iya, ayo." Jawab Marcela, dia hendak mengambil Reifan dari gendongan Adrian. "Biar aku saja." Kata Adrian. Lalu berjalan sambil menggendong Reifan. Marcela pun berjalan mengikuti Adrian dari belakang. Sampai dirumah. Adrian menggendong Reifan yang masih tertidur, membawa masuk ke kamar dan menidurkannya. Marcela ke dapur mengambil segelas air putih, dan membawa ke kamar Reifan beserta obat. "Apa nggak sebaiknya nanti aja nunggu dia bangun, kasihan kalau dibangunin." Kata Adrian melihat Reifan tidak tega. "Ya sudah kalau begitu. Aku ambilkan minum saja buat kamu ya." Kata Marcela. Adrian tersenyum dan mengangguk. Lalu berjalan keluar mengikuti Marcela. Adrian duduk di ruang tengah, menunggu Marcela. Tak lama Marcela datang dengan membawa satu cangkir teh hangat. Lalu duduk di samping Adrian. "Diminum, yan." "Makasih." Adrian mengambil cangkir teh yang dibuat Marcela, dan meminumnya. "Oya, Reihan dimana?" "Mario bawa Reihan kerumah papa, nanti malam mungkin Reihan baru diantar pulang." Jawab Marcela. "Hmm, Adrian...Terimakasih ya, kamu sudah antar kami pulang. Aku merasa selalu merepotkan kamu."Kata Marcela sambil menunduk. "Aku tidak pernah merasa direpotkan. Malah aku mau minta sama kamu, kalau terjadi seperti ini lagi, jangan sungkan menghubungi aku, kapanpun itu." Marcela mengangkat wajahnya, memandang lekat pada Adrian. "Bagaimana aku bisa menghubungi kamu, kamu kan bukan siapa-siapa, jelas aku sungkan minta tolong sama kamu." Kata Marcela, entàh apa yang merasukinya hingga dia bisa berkata seperti itu. "Maksud kamu apa? Aku sudah menganggap Mario seperti keluargaku sendiri, begitu juga kamu dan keluarga kamu juga." Kata Adrian menggebu. Dia tidak terima dibilang bukan siapa-siapa. "Maksud aku, jangan terlalu dekat dengan aku dan anak-anakku, kamu juga harus memikirkan perasaan pacar kamu." "Pacar?" Adrian bingung dengan apa yang sedang dikatakan Marcela. "Iya, pacar kamu." "Pacar yang mana? Kamu ngomong apa sih?" Adrian berusaha mencerna perkataan Marcela. "Yang di restoran." Marcela mengingatkan Adrian. Adrian memutar otaknya. Mengingat- ingat kembali, restoran apa yang dimaksud Marcela. "Perempuan yang menggandeng kamu waktu kita ketemu di restoran, itu pacar kamu kan?" Adrian memutar kedua bola matanya, lalu dia mengingat saat dia bertemu dengan Marcela dan Rizal. "Stephanie maksud kamu?" Tanya Adrian. "Entahlah, aku juga tidak tahu namanya." Jawab Marcela dengan wajah kesal. "Ooh, iya itu Stephanie, sepupu aku yang baru datang dari Inggris." Jawab Adrian sambil meminum teh nya lagi. "Sepupu? Jadi dia sepupu kamu?" Tanya Marcela lalu dengan cepat menutup mulutnya dengan tangannya sendiri. "Hmm.. kenapa? Adrian menaruh cangkirnya kembali ke meja. "Tunggu deh, jangan bilang kamu cemburu?" Tanya Adrian sambil menyeringai. Marcela memutar tubuhnya membelakangi Adrian. "Si...siapa yang cemburu?" Marcela merasa malu sendiri. Adrian menarik lengan Marcela agar menghadap padanya. Marcela mau tak mau kembali menghadap Adrian. Adrian melihat semburat merah diwajah Marcela. "Hihihii... Kamu lucu kalau lagi cemburu." Adrian menggoda Marcela. Wajah Marcela semakin memanas dan terlihat tambah memerah. "Aku nggak cemburu, siapa yang cemburu?" Marcela memalingkan wajahnya lagi. "Hahahaa.. nggak papa sih, kalau cemburu, aku suka." Adrian semakin menggoda Marcela. Dan semakin gemas melihatnya. Marcela bangkit dari duduknya karena tidak bisa menahan malunya lagi. Dia sadar sudah semerah apa wajahnya. Tapi Adrian dengan sigap menahan tangan Marcela dan tidak sengaja menariknya, hingga Marcela terduduk dipangkuannya. Marcela terkejut. Begitu juga dengan Adrian. Wajah mereka sekarang sudah sangat dekat. Adrian merasa jantungnya seperti akan melompat keluar. Marcela juga tidak tahu apa yang dia rasakan, bahkan dia sudah tidak bisa merasakan detak jantungnya lagi. Beberapa detik mereka terdiam. Entah apa jantung mereka masih berada ditempatnya masing-masing atau tidak. Marcela tersadar, serta merta berdiri dan menjauh dari Adrian. Adrian pun terlihat salah tingkah. Dan memalingkan wajahnya dari Marcela. "Ehem." Adrian berdehem menghilangkan kegugupannya. Lalu berdiri. "Sudah sore, aku pamit pulang ya." Kata Adrian. Marcela menoleh pada Adrian. "Hmm... Iya sudah sore." Adrian melangkah, tapi dia tersandung meja, dan hampir terjatuh. Marcela dengan spontan memegang tangan Adrian. Lalu saat Adrian menatapnya, Marcela langsung melepaskan tangannya. "Aku nggak papa kok." Kata Adrian.Ya Tuhan, nggak bisa nih lama-lama lagi disini. Pikir Adrian. "Aku pulang dulu ya." Kata Adrian. Marcela belum sempat menjawab, Adrian sudah melesat keluar rumah. Marcela menggaruk kepalanya, dan sesaat kemudian tersenyum sendiri menyadari kekonyolannya bersama Adrian.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD