Adrian ikut turun dari mobil, tapi hanya menunggu Mario sambil berdiri disamping mobilnya.
"Om Rian!" Teriak anak kecil yang sedang berlari ke arahnya. Adrian yang sedang bersandar di mobil menoleh, dan membuka lebar kedua tangannya menunggu anak itu masuk kepelukannya.
"Om iyan mau kerumah Reifan ya?" tanya anak yang bernama Reifan itu. Adrian menggendong Reifan, dan Reifan melingkarkan tangannya di leher Adrian.
"Om Ryan mau anter Reifan pulang." jawab Adrian.
"Om Ryan, mau main kerumah ya? Asik. Nanti kita bikin robot kayak kemrin ya, Om" Kali ini Reihan yang bersuara. Adrian tersenyum dan mengelus rambut Reihan.
"Om Ryan nggak bisa main, boy, karena habis antar kalian Om harus balik ke kantor lagi, kan ini masih siang, belum pulang kerja." jawab Adrian.
Duo Rei kompak memanyunkan bibir nya.
"Om Ryan sama om Mario tadi suruh bunda jemput kalian. ayo kita pulang, sudah ditunggu bunda" kata Mario sambil menggiring mereka masuk mobil.
Perjalanan dari rumah ke sekolah memakan waktu 15 menit. Memang lumayan jauh. Tapi hanya sekolah itu yang akreditasinya bagus dibandingkan sekolah lainnya di daerah rumah Marcela. Walaupun Marcela bukan orang kaya, tapi dia tetap menginginkan pendidikan yang terbaik untuk kedua anaknya. Reihan anak pertama yang sekarang sudah masuk kelas 1 SD. Sedangkan si bungsu Reifan lihat kakaknya sekolah diapuun juga ikut minta sekolah. Akhirnya Marcela pun memasukkan Reifan ke Playgroup yang memang jadi satu dengan SD Reihan.
"Assalamualaikum." Teriak dua bocah itu memasuki rumah. Marcela yang mendengar suara anak-anaknya langsung berdiri dan berjalan keluar dari dapur menghampiri mereka.
"Waalaikumusalam. Anak bunda udah pulang." jawab Marcela.
Dua bocah itu berhamburan lari ke arah Marcela, berebut memeluk bundanya.
"Dasar anak nakal. Turun main turun saja, tasnya pada ditinggal dimobil." Gerutu Mario sambil menenteng dua tas ransel milik keponakannya.
"Marío, kamu naik mobil? Mobil siapa? Memang motor kamu kenapa?" tanya Marcela heran, Mario kan hanya punya motor.
Belum sempat Mario menjawab, Adrian menyusul masuk kedalam rumah.
"Loh, Adrian. Ya ampun, Mario. Kamu kok nyuruh Adrian ikut jemput anak-anak sih. Maaf ya, Yan. Jadi ngerepotin kamu." Kata Marcela tidak enak hati.
"Bukan aku, kak.."
"Nggak papa kak, lagian kan ini jam makan siang juga, jadi nggak repot" potong Adrian sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Jadi kalian belum makan siang? Makan siang disini aaja, tapi ya lauknya seadanya." ajak Marcela.
"Ga usah, kak."
"Boleh, kak. Aku mau makan masakan kakak." lagi-lagi Adrian memotong kata-kata Mario.
Mario hanya menggelengkan kepala. Merekapun masuk keruang makan.
Marcela menyiapkan makanan di meja, sup ayam kesukaan duo Rei, dan ada udang goreng dan sambal terasi. Mario membantu menyiapkan piring dan sendok.
"Reihan, Reifan. sudah ganti bajunya? ayo kita makan bareng." ajak Marcela.
"Yeay, makan bareng om Rian." Teriak Reihan girang.
"Reifan mau disuapin om Rian." Rengek Reifan.
"Reifan, suapin bunda aja ya, Om Rian kan juga mau makan." Kata Marcela
"Nggak papa, kak. Sini Om Rian suapin." kata Adrian menepuk pahanya, menyuruh Reifan duduk dipangkuannya.
"Carmuk tuh, cari muka." ledek Mario.
Adrian tidak menghiraukannya. Dia fokus menyuapi Reifan. Marcela yang melihatnya hanya tersenyum.
Marcela bukannya tidak tahu tentang perasaan Adrian. Tapi dia hanya tidak mau menghiraukannya. Karena dia hanya menganggap, Adrian hanyalah adiknya seperti Mario. Diam-diam Mario memperhatikan kakaknya yang sedang tersenyum melihat kedekatan Adrian bersama anak-anaknya, dengan wajah merona.
Hotel Atmaja Jakarta, sore harinya.
Seseorang mengetuk pintu ruangan Adrian.
"Ya." jawab Adrian dengan mata masih didepan laptopnya.
Mario membuka pintu dan hanya menampakkan kepalanya.
"Masih ada lagi yang lo butuhin, Pak? Kalau sudah tidak ada saya mau pulang." Kata Mario. Mario adalah asisten pribadi Adrian, yang memang mewajibkan dia harus selalu ada didekat Adrian selama jam kantor.
Adrian melirik jam ditangannya. Jam memang sudah menunjukkan pukul 5 sore, jam pulang kantor.
"Buru-buru amat. Duduk sini dulu napa, temenin gue bentar." kata Adrian sambil memajukan dagunya ke arah
kursi kosong didepannya.
Mario pun masuk. Baru saja akan duduk, hape disakunya bergetar. Ada nama "Mama" di layar hapenya.
"Halo ma." jawab Mario yang ternyata mamanya yang menelpon.
Via telepon.
Mama
"Mario, besok hari Minggu kamu nggak ada acara kan?"
Mario
"Belum ma, kenapa memangnya?"
Mama
"Hari Minggu besok kan ulang tahun papa. Mama pengen kita semua kumpul dirumah. Mama sudah bilang Cela, dia akan membuat kue ulang tahun untuk papa. Marsha juga sudah mama kabari, dia akan datang bersama Faisal. Jadi mama harap kamu juga tidak membuat rencana di Hari Minggu besok."
Mario
"Iya, Ma. Mario ngga ada acara kok, jadi Mario bisa ikut kumpul dirumah."
Mama
"Syukurlah. Oya, ajak Adrian juga ya, biar tambah ramai."
Mario melirik Adrian, yang ternyata Adrian memperhatikannya dengan serius dari tadi.
Mario
"Iya, Ma. Mario coba ajak Adrian besok."
Adrian yang disebut namanya semakin ingin tahu apa sedang mereka bicarakan.
Mama
"Oke, sayang. Hati-hati pulangnya ya."
Mario
"Siap, Ma."
"Kenapa mama lo? kok nama gue disebut-sebut." Tanya Adrian yang penasaran dari tadi.
"Mama nyuruh ngajak lo ke acara ultah papa besok Minggu dirumah gue. Tapi gue..."
"Oke, gue pasti dateng." jawab Adrian mantap. Padahal Mario belum menyelesaikan kata-katanya.
"Semangat amat lo."
"Pasti dong, kan bisa ketemu calon istri gue." jawab Adrian lagi-lagi dengan mantap.
Mario menatap menyelidik tepat dimata Adrian. Lumayan lama, tanpa kata-kata. Sampai Adrian salah tingkah dibuatnya.
"Apaan sih? liatinnya gitu amat." Kata Adrian merasa risih.
"Lo serius suka sama kak Cela?" Tanya Mario memastikan sahabatnya tidak sedang bercanda.
Adrian gantian menatap Mario dengan serius, tepat dimata Mario.
"Mar, lo tau gue kan? Gue ngga pernah main-main sama perempuan. Sekali gue udah sayang, gue akan lakuin apa saja buat mendapatkannya. Dan sekali gue sudah mendapatkannya, gue nggak akan pernah tinggalin. Kecuali..." Adrian menghentikan perkataannya. "Mereka yang mau ninggalin gue. Gue ngga bisa maksa." Lanjutnya.
Mario memejamkan matanya sejenak. Dia memang tahu betul sahabatnya seperti apa jika sudah menyukai perempuan. Bukan sekali atau dua kali Adrian selalu ditinggalkan perempuan yang dia sayangi. Entah kenapa nasibnya seperti itu, padahal Adrian adalah laki-laki sempurna. Tampan, pintar, sukses, dan yang jelas dia seorang CEO hotel bintang lima yang terkenal di Jakarta. Dengan umur yang masih muda, dia bisa membuka beberapa cabang hotelnya di beberapa kota di Indonesia. Mungkin karena sifatnya yang possessive, yang membuat para wanita itu kabur. Iya benar. Adrian adalah tipe pria yang sangat possessive.
"Mar, lo denger gue ngomong nggak sih?" tanya Adrian membuyarkan lamunannya.
"Tapi kak Cela bukan gadis yang sama seperti mantan-mantan lo dulu. maksud gue, lo tau kan kak Cela..."
"Janda?" potong Adrian.
Mario mengangguk.
"Gue nggak pernah mandang status saat hati gue sudah terpaut. Memang apa yang salah dengan janda? Gue juga sudah terlanjur sayang sama duo Rei. Nggak ketemu mereka beberapa hari saja sudah bikin gue kangen." Kata Adrian sambil tersenyum membayangkan dua bocah kecil yang selalu berlari untuk memeluknya saat mereka bertemu
.
"Itu menurut pandangan lo. Apa lo yakin kedua orang tua lo juga berpikiran yang sama kaya elo"?
Adrian terdiam mendengar pertanyaan Mario. Iya, dia belum pernah membicarakan tentang Marcela dengan orang tuanya.
"Menurut gue, kalau lo memang serius mencintai kak Cela, lo harus membicarakan ini dengan serius bersama orang tua lo. Dan kalau orang tua lo nggak masalah, gue bakal dukung lo seratus persen." Kata Mario. Berharap Adrian memang tidak main-main dengan kakaknya.
"Serius, lo?" tanya Adrian dengan mata membola.
"Gue serius. Gue akan bantu lo nyuruh kak Cela buka hatinya buat lo."
"Thanks, bro. Lo memang yang terbaik. Gue bakal buktiin kalo gue serius mencintai kakak lo." jawab Adrian.
Dan pembicaraan mereka berakhir dengan pelukan ala laki-laki.