3

1129 Words
Hari Minggu yang ditunggu tiba. Adrian berdiri di depan cermin menatap penampilannya. Kemeja casual warna putih dipadu dengan celana jins biru muda. Membuatnya tampak sempurna ditambah wajahnya yang memang sudah tampan dari dulu. Dia memutar-mutar badannya, memastikan lagi tidak ada yang kurang. Lalu menyemprotkan parfum kesukaannya ke seluruh tubuh. Menatap sekali lagi ke cermin. "Perfect." batinnya. Adrian menuruni tangga karena letak kamarnya di lantai dua. Sampai di ruang keluarga, dia mendapati kedua orang tuanya sedang bersantai. "Wah, lagi santai nih." Sapa Adrian. Mama Adrian yang mendengar suara anaknya langsung menoleh ke arah Adrian. "Mau kemana anak mama jam segini sudah ganteng?" tanya Mama Adrian sambil menggoda. "Biasa mah, anak muda, mau ketemu pujaan hati dong." jawab Adrian Papa Adrian hanya melirik ke arah Adrian. Lalu melanjutkan membaca kembali. "Kapan kamu mau bawa kerumah pacar kamu? Mama sama papa kan juga mau kenal." Tanya mama Adrian masih terus menggoda anaknya. "Sabar mah, nanti pasti Ryan kenalin sama mama." "Kalau memang sudah siap, langsung menikah, papa nggak mau kamu main-main sama perempuan." Kata papa Adrian tiba-tiba. "Papa kenapa buru-buru sih, Ryan kan masih muda pah, biarkan dia bertemu dengan banyak wanita, biar dia memilih mana yang cocok." Jawab mama Adrian tidak terima. "Adrian masih muda, tapi kita semakin tua mah. Papa mau merasakan punya cucu. Kalau Adrian kelamaan mencari yang cocok, nanti papa keburu nggak kuat nggendong cucu." jawab papa Adrian. "Tenang pa, sepertinya Ryan sudah menemukan yang cocok. Sebentar lagi pasti Ryan bawa kerumah." Adrian menjawab dengan senyum penuh percaya diri. "Kamu serius, Yan?" tanya mama Adrian dengan heboh. "Bawa kemari, papa pengen kenal dengan calon mantu papa" Tegas papa Adrian lagi. "Siap pah. Nanti Adrian bawa kesini calon mantu papa, plus calon cucu papah. Bye mah, pah, Adrian berangkat, Assalamualaikum." Jawab Adrian sambil berjalan keluar. Papa Adrian menatap Mama Adrian. "Kenapa pah?" Tanya mama Adrian yang heran melihat wajah suaminya bingung. "Mama ngga dengar tadi Adrian bilang apa?" Mama Adrian tampak bingung dengan pertanyaan suaminya. Sepertinya memang dia tidak terlalu memperhatikan ucapan anaknya. "Dia bilang mau bawa calon mantu kita plus calon cucu kita, Mah!" "APA?!" Mama Adrian mulai sadar. "Dasar anak nakal. Awas aja dia berani macam-macam sama anak perempuan orang." Kata Papa Adrian geram sambil meremas majalah yang sedang ia baca. "Sabar pah, mungkin dia cuma bercanda." Kata mama Adrian dengan senyum terpaksa menenangkan suaminya. Adrian yang tahu bahwa kedua orang tuanya tidak menyadari ucapannya tertawa sendirí. Setelah satu jam perjalanan, Akhirnya sampai juga di kediaman orang tua Mario. Pintu pagar dibuka oleh seorang satpam. Rumah orangtua Mario memang bisa dibilang besar. Mario dan kakak-kakaknya adalah anak orang kaya. Papa Mario pensiunan dari kepolisian dengan jabatan yang lumayan tinggi. Itu kenapa Adrian sangat salut dengan Marcela yang memilih hidup mandiri tanpa bantuan orangtuanya. Mobilnya memasuki halaman rumah Mario, dengan lahan parkir yang luas. Sudah ada satu mobil disana, pasti mobil Faisal, suami Marsha yang juga rekan bisnisnya. Ada dua mobil lagi yang terpakir di dalam garasi. Adrian juga salut dengan Mario yang masih mengendarai motor kemana-mana padahal ada dua mobil menganggur dirumahnya. Keluarga yang kaya tapi hidup dengan sederhana. Tidak ada yang manja dan sombong. Sungguh hebat orangtua Mario mendidik anak-anaknya. Adrian memasuki rumah yang bisa dibilang besar tapi cukup sederhana di dalamnya. "Om Rian!" Teriakan si kecil Reifan sontak membuat semua orang menoleh ke arah pintu masuk. Reifan berlari ke arah Adrian, dan segera ditangkap olehnya. "Hai boy." Sapa Adrian pada Reifan sambil mengelus rambut Reifan di dalam gendongannya. Adrian melanjutkan langkahnya menuju kemana semua orang sedang berkumpul. Di ruang keluarga. "Adrian, kemana saja kamu, nak? sudah lama sekali tidak main kesini." Mama Mario menghampirí Adrian dan memeluknya. Adrian memang dulu sering sekali main kerumah Mario, sejak dia dan Mario masih sekolah SMA. Dia cukup mengenal kedua orang tua Mario. Dia hanya tahu Mario punya dua kakak perempuan, tapi tidak pernah bertemu dengan keduanya, karena Marcela dan Marsha saat itu sedang kuliah di Bandung dan tinggal bersama neneknya disana. "Mama yang bener saja, Adrian itu sekarang seorang bos mah, mana ada waktu buat main-main." Mario yang tiba-tiba datang dari arah dapur menjawab pertanyaan mamanya untuk Adrian. "Maaf tante, sejak papa serahin semua tugas-tugasnya ke Ryan, Ryan jadi ngga bisa sering-sering main kayak dulu." Elak Adrian. "Memangnya papa kamu sudah pensiun?" tanya Mama Mario lagi. "Belum sih tante, tapi memang niatnya gitu. Katanya papa mau menikmati masa tua, jadi sekarang Adrian yang menggantikan papa." jawab Adrian. "Mah, orang baru dateng kok sudah diberondong banyak pertanyaan, belum juga disuruh duduk." sela papa Mario. "Oh iya, sampai lupa menyapa om. Apa kabar, om? "Baik, nak. Kok datang sendirian saja?" jawab papa Mario sambil menyindir. "Hehe.." Adrian hanya tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "By the way, selamat ulang tahun ya, om. sehat selalu." Adrian mengalihkan pembicaraan. "Terimakasih. Ayo duduk." Adrian bergabung dengan yang lain. Dia juga menyapa Faisal dan Marsha yang sudah duduk di sofa. Dia mengedarkan pandangan nya ke segala penjuru rumah. Mencari seseorang yang ingin sekali dia lihat malam ini, karena memang ini tujuannya datang kesini, bertemu Marcela. "Cari siapa, bro? Bisik Mario yang membuat kaget Adrian. "Ngagetin aja, lo. Kak Cela mana?" Belum sempat Mario menjawab Marcela datang dari arah dapur membawa kue ulang tahun untuk papanya bersama Reihan. "Nah, ini dia kue nya sudah datang, ayo kita mulai sekarang acaranya." Teriak Marsha membuat semua orang menoleh pada Marcela. Merekapun berkumpul di tengah-tengah ruang keluarga mengelilingi papa Mario yang sedang berulang tahun. "Ayo tiup lilinnya, pah." Kata Marcela dengan kue masih ditangannya. Papa Mario mulai meniup lilinnya setelah sebelumnya menutup mata sejenak dan memanjatkan doa. Tepuk tangan terdengar setelah lilin padam. Papa Mario terlihat bahagia karena bisa berkumpul dengan semua anak-anak dan cucunya. Semua mata tertuju pada papa Mario yang tampak serius memotong kue ulang tahunnya. Kecuali Adrian yang tidak bisa melepaskan pandangannya pada Marcela yang malam ini tampak cantik dengan gaun warna abu-abunya. Mereka pun melanjutkan pesta dengan menyantap makan malam yang sudah disediakan mama Mario. Adrian duduk ditengah-tengah duo Rei yang berebut minta disuapi olehnya . "Reihan, sini makan sendiri, bunda ambilin ya." Kata Marcela yang tidak enak hati melihat anak-anaknya mengganggu Adrian. "Reihan mau disuapin om Ryan, bun." rengek Reihan. "Kalau gitu Reifan aja ya bunda suapin." pinta Marcela pada bungsunya. "No no, Reifan juga mau disuapin om iyan." jawab Reifan dengan menggoyangkan telunjuknya. "Nggak papa, kak. Biar mereka makan sama aku." jawab Adrian sambil tersenyum dengan manisnya. "Kayaknya Adrian sudah siap nih jadi pahmud." Goda Marsha yang melihat Adrian sangat telaten menyuapi duo Rei. "Pahmud? Apa itu?" tanya Faisal polos. "Papah muda." jawab Marsha lalu tertawa. "Uhuk uhuk!" Adrian tiba-tiba tersedak mendengar jawaban Marsha. "Santai, bro. Minum nih." Mario menyodorkan gelas dengan air putih. Adrian lalu meminumnya sampai habis. Semua orang tertawa melihat tingkah Adrian. Lagi-lagi Mario diam-diam memandang pada kakaknya, Marcela, yang pipinya sudah merona. Mario pun tersenyum melihatnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD