4

1079 Words
Obrolan setelah makan malam semakin seru. Tak terasa malam semakin larut. Marsha terlebih dahulu berpamitan untuk pulang, karena memang jarak rumahnya yang paling jauh dibandingkan dengan Marcela. "Pah, Marsha mau pamit duluan ya, biar nggak kemaleman nanti sampai rumah." Pamit Marsha, lalu mencium tangan papanya. "Oh, iya, sayang. Hati-hati yaa." jawab papanya sambil memeluk Marsha. "Saya pamit ya, pa. Sekali lagi selamat ulang tahun, sehat terus ya, pa." Susul Faisal yang juga mencium tangan papa mertuanya. "Terimakasih doanya, Fais." jawab papa Mario yang juga memeluk menantunya itu. Faisal dan Marsha pun berpamitan pada semua. Tak lupa juga mencium kedua keponakannya yang sedang asik bermain. Setelah Marsha dan Faisal pergi, Marcela juga berpamitan, karena duo Rei sudah tampak lelah, apalagi Reifan, yang sudah mulai rewel karena mengantuk. "Cela juga pamit ya, pa. Reifan uda ngantuk nih kayaknya." "Kamu pulang sama siapa? Diantar Mario?" tanya papanya. "Iya, pah." jawab Marcela yang lalu mencium tangan papanya. "Apa nggak sebaiknya tidur sini aja, Cel? sudah malam, kasihan anak-anak." Pinta Mamanya. "Besok kan mereka harus sekolah, mah." jawab Marcela juga lalu mencium tangan mamanya. "Bentar, kak. Aku ambil jaket dulu." Mario bergegas menaiki tangga ingin mengambil jaket dikamarnya di lantai dua. Tapi segera dicegah Adrian. "Biar aku saja yang nganter kak Cela pulang, kan sekalian satu arah." Kata Adrian sambil menatap Mario penuh harap. Mario yang menyadari tatapan memohon Adrian, memundurkan langkahnya. "Terserah kak Cela sih akunya." jawab Mario. Adrian terlihat lega. "Hm, nggka papa Adrian, biar diantar Mario saja, kasihan kamunya, nanti kemalaman." Jawab Marcela yang terlihat agak gugup. Dia hanya tidak ingin Adrian mengira bahwa dia memberi harapan pada Adrian. "Oh, jadi kalau aku yang ngantar, kakak nggak kasihan sama aku?" Kata Mario, yang masih membantu Adrian agar kakaknya bersedia pulang bersama sahabatnya itu. "Bukan gitu, Mar. Kakak cuma nggak mau merepotkan Adrian. Kamu kenapa jadi sensitive gitu sih?" Jawab Marcela yang bingung dengan sikap adiknya yang tidak seperti biasanya. "Nggak merepotkan sama sekali, kak. Ayo kita pulang, biar anak-anak bisa cepat istirahat dirumah." jawab Adrian langsung menggendong Reifan yang sudah tidak bisa menahan kantuknya. "Ya sudah, diantar Adrians aja, sayang. Kan satu arah juga." Kata mamanya yang membuat Marcela terpaksa menurut. "Ya udah kalau gitu. Cela pamit ya, mah." Marcela mencium tangan mamanya. "Reihan, ayo salim dulu sama oma, Opa." Kata Marcela sambil nenggandeng Reihan yang juga sudah terlihat mengantuk. Reihan pun salim pada oma, opanya dengan langkah gontai. Disusul dengan Adrian dengan Reifan yang sudah tertidur digendongannya, dengan posisi kepala dipundak Adrian. Mario mengantar mereka sampai ke mobil Adrian, membukakan pintu penumpang belakang, agar Adrian bisa membaringkan Reifan dikursi mobilnya. Disusul dengan Reihan yang terlihat langsung memposisikan tubuhnya berbaring agar bisa tidur. "Kakak pulang dulu ya, Mar." Pamit Marcela, yang dianggukki Mario, kemudian masuk ke mobil Adrian, duduk di kursi penumpang depan. Mario membantu menutup pintu Marcela. "Thanks ya, bro." Kata Adrian sebelum masuk ke mobilnya, mengedipkan sebelah matanya. "Hati-hati, nggak usah ngebut. Awas saja kalau mereka kenapa-kenapa." Ancam Mario. "Siap, bos." jawab Adrian mantap. Diapun segera melajukan mobilnya. "Ya, benar. Untuk saat ini gue bosnya." Kata Mario dalam hati sambil tersenyum puas. Lalu masuk kembali ke dalam rumah setelah mobil Adrian keluar dari gerbang. Di dalam mobil Adrian mencuri-curi pandang ke arah Marcela. Sambil bertanya-tanya kenapa Marcela hanya diam selama perjalanan. "Apa AC nya terlalu dingin?" Tanya Adrian berusaha memecahkan keheningan. "Nggak kok." jawab Marcela. Kemudian diam lagi. Membuat Adrian frustasi, dan berfikir apa mungkin Marcela marah padanya, apa tidak suka jika dia mengantarnya pulang. 20 menit perjalanan dalam keheningan. Merekapun sampai rumah Marcela. Mereka turun dari mobil. Marcela membuka pintu belakang, ingin manggendong Reihan. "Biar aku saja, kak. Kakak buka pintunya aja, biar aku yang bawa masuk anak-anak." Cegah Adrian. Marcela pun menuruti kata Adrian. Dia membuka pintu, masuk dan langsung menuju kamar duo Rei. Membuka pintu kamar, menyiapkan kasur yang hendak ditiduri anak-anaknya. Adrian masuk menggendong Reihan terlebih dahulu, dan menidurkannya dikasur. Lalu beranjak keluar lagi, gantian menggendong Reifan dari mobil, dan membawa masuk ke kamar, menidurkannya di sebelah kakaknya, Reihan. Lalu mengusap kepala dua anak yang sudah tertidur lelap itu. Marcela memandang Adrian dengan seksama. Bertanya-tanya dalam hati, apa benar Adrian tulus menyayangi kedua anaknya. Adrian menatap Marcela. Marcela panik karena ketahuan sedang menatap Adrian, lalu membuang pandangannya ke arah lain. "Hm, aku pamit ya, kak. Kakak juga istirahat, sudah malam." Kata Adrian. "Eh, oh, ya." jawab Marcela gugup. "Terimakasih banyak ya, Yan. Aku selalu ngerepotin kamu." "Adrian tersenyum. Lagi-lagi Marcela membuang pandangannya ke arah lain. Karena tidak sanggup melihat ketampanan Adrian yang bertambah dua kali lipat karena senyumannya, dan membuat hatinya berdegup tidak beraturan. "Kak, asal kak Cela tahu. Aku melakukan semua ini, ada maksudnya, dan aku rasa kakak sangat mengetahui apa maksudku." jawab Adrian. Masih dengan senyumannya. Marcela menatap Adrian, mengerutkan keningnya karena bingung. "Boleh aku minta tolong, kak?" tanya Adrian tiba-tiba dengan wajah yang berubah menjadi serius. "Tolong apa?" Marcela tambah bingung. "Tolong buka hati kakak buat aku." Marcela terkejut mendengar ucapan Adrian. "Itu maksud aku. Aku hanya ingin kak Cela membuka hati buat aku, dan mengizikan aku masuk. Karena aku..." Adrian sengaja menggantungkan kata-katanya, dan maju beberapa langkah mendekati Marcela dengan wajah yang masih serius dan tatapan mata yang tajam. Marcelapun semakin panik. Tubuhnya bergetar. Adrian pun menghentikan langkahnya. "Aku tulus mencintai kakak." Adrian melanjutkan kata-katanya yang tadi masih menggantung. Marcela sangat terkejut. Hatinya bergetar hebat. Adrian kembali tersenyum. "Astaga, bisa nggak sih berhenti tersenyum, rasanya kakiku sudah tidak kuat menopang tubuhku sendiri karena tidak sanggup lagi melihat senyummu." bisik Marcela dalam hatinya. "Ya sudah aku pamit ya, kak. Aku harap kakak bisa mengerti maksudku, dan menerima permintaanku." kata Adrian membuyarkan lamunan Marcela. "Adrian... aku..." "Ssstt. jangan dijawab sekarang. Tolong pikiran lagi baik-baik. Setidaknya, biarkan aku tetap dekat dengan duo Rei, karena mereka sudah terlanjur masuk ke dalam hati aku, dan kalian, selalu ada dipikiranku." jawab Adrian yang membuat Marcela tidak bisa melanjutkan ucapannya. Adrian melangkah keluar. Masuk mobil. Da melajukan mobilnya. Marcela menarik nafas lega. Dia menata nafasnya yang sejak tadi serasa terhimpit membuatnya tidak bisa bernafas karena berhadapan dengan Adrian. Dia menjatuhkan tubuhnya di sofa. Marcela mulai mengingat setiap kata-kata Adrian tadi padanya. Di satu sisí, hatinya luluh melihat perlakuan Adrian pada dua anaknya yang memang terlihat sangat tulus. Tapi di sisí lain, dia tidak mau membuka hatinya karena dia tidak mau melupakan almarhum suaminya. Marcela memijit keningnya karena kepalanya mulai terasa berat. Dia memejamkan matanya. Dan tanpa terasa air mata mengalir ke kedua pipinya. Tiba-tiba dia merasa bersalah pada suaminya yang telah tiada. "Maafkan aku, mas" katanya dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD