Mario sudah sampai di sekolah duo Rei. Hari ini Marcela lagi-lagi minta tolong Mario menjemput mereka karena sedang banyak pesanan kue. Dari jauh terlihat dua anak laki-laki yang berlari ke arahnya.
"Om Mario!" teriak Reihan dari jauh.
"Nggak usah lari, nanti jatuh." Kata Mario saat dua anak itu sudah sampai di depannya.
"Bunda mana?" tanya Reifan.
"Bunda lagi bikin kue, jadi om yang jemput. Yuk kita pulang." jawab Mario nenggandeng Reifan menuju pintu mobil.
"Aku mau beli es krim dulu, om." Rengek Reihan.
"Aku juga mau, om." tambah Reifan dengan wajah memohon.
Duo Rei memang selalu minta pajak es krim setiap kali dijemput oleh Mario. Tapi Mario tidak pernah marah, dia selalu menuruti permintaan duo keponakannya itu.
"Oke. Tapi janji selesai makan es krim langsung pulang ya, soalnya om harus kerja lagi." Mario membuat kesepakatan.
"Oke!" jawab mereka kompak sambil menaruh telapak tangannya di pelipis mata membuat sikap hormat.
Mereka pun berjalan ke arah kedai es krim yang terletak tidak jauh dari sekolah. Sampai disana Mario langsung memesan es krim pilihan duo Rei. Tak lama es krim pesenan mereka datang. Kedua bocah itu tampak antusias melahap es krim yang ada di depannya.
"Om Mario, apa kita bisa naik gajah di kebun binatang?" Tanya Reifan tiba-tiba dengan mulut belepotan es krim.
"Wah, om nggak tahu tuh. Setahu om, di kebun binatang memang ada gajah, tapi om nggak tahu gajahnya bisa dinaikin apa nggak." jawab Mario. Dia memang tidak tahu karena diapun belum pernah ke kebun binatang seumur hidupnya.
"Tapi Alena katanya kemarin habis naik gajah. Alena tadi bawa poto dia naik gajah. Reifan juga mau naik gajah, om."
"Alena itu siapa?" Tanya Mario. Alih-alih menjawab rengekan Reifan, dia malah penasaran dengan nama yang disebut oleh keponaka kecilnya.
"Alena itu pacarnya Reifan, om." Reihan menjawab dengan tertawa menggoda adiknya.
"Bukan! Alena bukan pacar Reifan!" Elak Reifan. "Reifan kan masih kecil, nggak boleh pacar-pacaran ya, om?" Tanya Reifan dengan polosnya, membuat Mario gemas.
"Hahahaha... iya kak Reihan, benar kata Reifan, masih kecil belum boleh pacaran." Kata Mario membela Reifan.
"Reifan mau naik gajah, om." Rengek Reifan lagi. ternyata dia masih ingat topik pembicaraan yang sebelumnya.
"Oke, kita ke kebun binatang besok Minggu, gimana?"
"Oke! jawab duo Rei kompak. "Asiiîk, aku naik gajah!" teriak Reifan kegirangan.
"Tapi bilang bunda dulu ya, boleh apa ngga?" Mario mengingatkan.
"Siap, om." jawab mereka kompak lagi.
Hari Minggu tiba. Marcela dan anak-anaknya sudah berada dirumah papanya, karena dari semalam mereka menginap disini, agar Mario juga tidak perlu repot menjemput mereka. Toh memang hampir setiap malam minggu Marcela dan anak-anaknya menginap disini, atas permintaan papa Marcela sendiri agar dia bisa selalu dekat dengan cucu-cucunya.
Duo Rei sudah siap untuk berangkat ke kebun binatang seperti yang dijanjikan oleh Mario. Begitu juga Marcela yang sedang mempersiapkan bekal dan baju ganti untuk kedua anaknya. Mario turun dari lantai du
a.
"Sudah siap, guys? tanya Mario yang sudah berdandan rapi dengan celana jins dan kaos casual.
"Siap, om!" jawab duo Rei kompak.
"Mario!" Teriak Mama Mario yang berlari ke arah mereka.
"Kenapa, mah? Ko panik gitu?" Tanya Mario. Marcela pun menyusul mereka, karena dia juga bingung melihat mamanya yang panik.
"Tante Nisa masuk rumah sakit. Mama mau lihat keadannya sekarang, kamu bisa anter mama kan?" Tanya Mama Mario sambil sesenggukan.
"Di Bandung, mah?" Tanya Mario memastikan. Mamanya hanya mengangguk. Mario bingung, karena dia sudah berjanji dengan dua keponakannya untuk pergi ke kebun binatang. Sedangkan dia juga tidak tega melihat mamanya yang sedang panik karena adiknya yang tinggal di Bandung tiba-tiba masuk rumah sakit. Mario menatap Marcela.
"Sudah nggak papa, Mar. Kamu antar Mama saja ke Bandung. Nanti biar Kakak yang bicara sama duo Rei." Kata Marcela menenangkan Mario.
"Tapi, kak..."
"Nggak papa, kasihan mama, kamu kan tahu sendiri papa juga sudah nggak bisa nyetir sendiri, apalagi jarak jauh."
"Ya sudah kalau gitu, kak. Tolong bilang duo Rei aku minta maaf ya, kita ganti minggu depan perginya." Kata Mario yang tidak tega dengan dua keponakannya.
"Maaf ya, Cel, acara kalian harus dipending dulu, mama benar-benar harus melihat keadaan tante Nisa sekarang." Kata Mamanya sambil megang pundak Marcela.
"Iya nggak papa, mah. Tante Nisa lebih penting."
Marcela menggandeng tangan mamanya berjalan keluar menuju mobil, karena mamanya terlihat lemas dengan berita adiknya. Diapun kembali masuk rumah setelah mamanya dan Mario pergi. Dia melihat kedua anaknya yang sedang duduk dengan wajah sedih. Marcela menghampirí mereka.
"Anak bunda kok mukanya sedih gitu sih, nanti gantengnya hilang lho" Marcela mencoba menghibur mereka.
"Om Mario jahat. Kan sudah janji mau naik gajah, malah pergi sama oma." Kata Reifan dengan mata berkaca-kaca.
"Om Mario nggak jahat sayang, Om Mario harus nganter oma dulu ke rumah sakit."
"Cucu opa jangan sedih dong, nanti opa ikut sedih." Kata papa Marcela yang baru keluar dari kamar. "Gimana kalau main sama opa aja, kita main di kolam, kita kuras kolam yuk, nanti Reifan sama Reihan yang nangkapin ikannya." Papa Marcela ikut mencoba menghibur.
Dengan langkah gontai duo Rei mengikuti langkah opanya menuju kolam ikan. Dalam hitungan menit, mereka sudah lupa dengan kekecewaan mereka karena disibukkaan dengan menangkap ikan. Marcela pun lega melihat kedua anaknya yang sudah bisa tertawa lagi.
Beberapa saat kemudian bel rumah berbunyi. Marcela membuka pintu. Betapa terkejutnya dia melihat sosok Adrian yang ada di depan pintu.
"Adrian?"
"Halo, kak?" Sapa Adrian diiringi senyum manisnya.
Marcela masih tidak percaya melihat Adrian, setelah satu minggu yang lalu Adrian menyatakan perasaanya padanya, dia masih belum siap lagi bertemu dengan Adrian.
"Kamu cari Mario?" Dia baru saja pergi sama Mama." Tanya Marcela yang berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Aku tahu. Aku kesini karena Mario yang minta." jawab Adrian.
"Mario yang minta. Untuk apa?" Tanya Marcela bingung.
Adrian tidak menjawab, dia langsung melangkah masuk melewati Marcela begitu saja, sedangakan Marcela masih terdiam diambang pintu.
Adrian menghampirí duo Rei yang sedang asik menangkap ikan di kolam. Marcela mengikuti dari belakang.
"Halo, om." Sapa Adrian ke papa Marcela.
"Adrian, kamu datang?" Adrian pun mencium tangan papa Marcela.
"Iya, om."
"Mario baru saja pergi sama mamanya." Kata papa Marcela.
"Hm, saya kesini mau jemput duo Rei, om. Tadi Mario yang minta saya menggantikan dia untuk menemani duo Rei ke kebun binatang" kata Adrian menjelaskan.
"Ooh gitu? Ya sudah kalian berangkat, nanti keburu siang." Kata papa Marcela yang langsung mengizinkan.
"Om Rian!" Teriak duo Rei.
"Hai, boy's." Adrian menangkap dua anak laki-laki yang berlari ke arahnya.
"Om Ryan mau jemput kita?" tanya Reifan antusias.
"Iya, katanya Reifan mau naik gajah? jadi nggak?" Jawab Adrian.
"Asik. Ayo bun, kita pergi naik gajah sama om Ryan saja."
Adrian menatap Marcela. Menunggu Marcela yang tampak masih berfikir. Marcela masih belum siap berhadapan lagi dengan Adrian, dia sebenarnya berniat menjauhi Adrian, karena takut hatinya luluh melihat sikap Adrian yang terlalu baik padanya dan kedua anaknya. Dia belum siap membuka hatinya.