Mereka dalam perjalanan menuju kebun binatang. Jalanan lumayan padat hari ini, apalagi arah kebun binatang, mungkin karena ini hari Minggu, jadi banyak orang yang mau mengunjungi tempat wisata itu.
Tadi sebenarnya Marcela sempat ragu untuk pergi bersama Adrian, tapi karena Adrian sudah terlanjur menjemput, dan dia juga tidak ingin membuat anaknya kecewa lagi, akhirnya dia memutuskan untuk pergi.
Dan disinilah mereka, sampai di tempat tujuan mereka, setelah terjebak macet selama dua jam perjalanan. Wajah duo Rei yang tadinya kusut karena tidak sabar untuk segera sampai, sekarang berubah menjadi senyuman lebar. Mereka masuk dengan membawa tiket yang telah Adrian beli sebelumnya.
Duo Rei tampak sangat bahagia. Karena ini kali pertama mereka mengunjungi kebun binatang. Mereka terlihat sangat takjub melihat satu per satu binatang yang ada disana. Mereka selalu bertanya tentang binatang-binatang yang mereka belum pernah lihat, dan tak berhenti berkomentar tentang semua binatang yang telah mereka lihat. Adrian dengan sabar menjawab setiap pertanyaan dan komentar-komentar duo Rei. Tidak ada rasa lelah, malah dia sangat gemas dengan dua bocah itu, yang tak pernah lepas dari gandengannya. Marcela tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya pada Adrian. Tanpa dia sadari dia terlihat senyum-senyum sendiri melihat interaksi dua anaknya dengan Adrian, sambil sesekali mengabadikan momen-momen itu dengan kamera ponselnya.
Mereka sampai di tempat habitat burung. Dimana disana bisa berfoto secara langsung dengan berbagai macam burung yang telah dipersiapkan. Reihan membujuk Marcela untuk bisa berfoto dengan burung beo. Dia ingin sekali menyentuh burung beo itu secara langsung.
"Bunda, Reihan mau foto sama burung itu." Rengek Reihan sambil menarik-narik tangan Marcela.
Marcelapun mengiyakan. Mereka mendatangi juru foto disana.
"Pak, anak saya mau foto sama burung beo itu" Kata Marcela pada juru foto.
"Siap, bu."
Pawang burung menaruh burung beo di pundak Reihan.
"Berani kan, dek? berani dong? dia nggak gigit kok." kata pawangnya.
Juru foto mengambil beberapa foto Reihan, dan meminta Reihan memilih satu foto untuk langsung dicetak. Reifan yang melihat hasil foto kakaknya, juga minta difoto seperti kakaknya itu.
"Reifan juga mau foto kayak kak Reihan, tapi sama om Adrian, ya? pinta Reifan pada Adrian.
"Kenapa? Kak Reihan aja nggak papa kok foto sendiri." kata Marcela memberi semangat Reifan agar dia mau difoto sendiri.
"Reifan nggak berani sendiri?" tanya Adrian.
"Reifan nggak mau sendiri, Reifan mau sama om Adrian." rengek Reifan.
"Foto satu keluarga saja sekalian, Pak, buat kenang-kenangan." tiba-tiba juru foto berkata yang membuat Adrian dan Marcela saling menatap.
"Iya, ayok kita foto sama-sama." kata Reifan yang menarik tangan Adrian. Sedangakan Reihan menarik tangan Marcela. Mereka akhirnya foto bersama dengan satu burung di lengan Adrian dan satu lagi di pundak Reihan.
Juru foto menyerahkan dua foto yang sudah dicetak pada Adrian. Satu foto Reihan sendiri, dan yang satu lagi foto mereka bersama. Adrian tersenyum melihat foto mereka bersama. Dia membayangkan jika mereka benar-benar menjadi satu keluarga, ayah, ibu dan, dua anak.
Mereka berjalan kembali menuju kandang gajah, tempat yang sedari tadi ditanyakan oleh Reifan karena dia sudah tidak sabar ingin naik gajah. Benar saja, sudah banyak orang yang mengantri untuk menaiki gajah itu.
"Antrinya banyak, sayang, nggak papa?" Tanya Marcela.
"Nggak papa, bun. Reifan sabar menunggu kok." Jawab Reifan dengan bahasa orang dewasa, yang membuat Adrian gemas dan spontan mengusap-ngusap rambut Reifan.
"Hahahaha. Oke kalau Reifan sabar. Kita antri dari belakang ya." kata Adrian sambil menggendong Reifan di pundaknya.
Hampir setengah jam mereka mengantri, dan akhirnya tibalah giliran mereka.
"Bunda nggak ikut ya, kalian sama om Adrian aja, bunda yang foto." Kata Marcela.
"Kakak saja yang naik sama anak-anak, biar aku yang ambil fotonya." Kata Adrian menyuruh Marcela yang menemani anak-anak.
"Sama kamu aja ya, yan. Aku ribet nanti, kan aku pake rok panjang." Kata Marcela. Adrian menatap Marcela. Benar juga, Marcela mengenakan dress santai panjang, yang sudah pasti susah.
"Oke deh, sama om saja ya naiknya." Adrian menggandeng dua bocah itu untuk menaiki gajah yang sudah siap.
Marcela mengambil beberapa foto dari kamera ponselnya, dia senang sekali melihat anak-anaknya bahagia.
Hari sudah mulai sore. Tak terasa mereka sudah mengitari seluruh area kebun binatang, tanpa ada satupun binatang yang terlewatkan mereka lihat.
"Sudah sore nih, kita pulang yuk."Ajak Marcela.
"Kok pulang sih , bun?" Rengek Reifan.
"Reihan, Reifan, sudah puas kan? sekarang kita pulang yuk, sekalian nanti dijalan kita cari makan, kalian pasti lapar kan?" bujuk Adrian.
"Iya, Reihan lapar, om." Kata Reihan sambil memegangi perutnya.
"Kita pulang ya, Reifan. Kan tadi sudah foto naik gajah, besok Reifan bisa kasíh lihat fotonya ke Alena juga pas disekolahan."
Reifan akhirnya mengangguk. Mereka berjalan menuju pintu keluar, dan segera menaiki mobil.
"Ayo, om. Reihan uda laper banget." kata Reihan yang membuat Adrian terkekeh.
"Oke, Reihan mau makan apa?" Tanya Adrian.
"Udang goreng!" jawab Reihan, dan Reifan juga ikut menjawab. Diikuti tawa Adrian dan Marcela karena jawaban kompak dua bocah itu.
Tak lama Adrian menemukan sebuah restoran seafood saat perjalanan pulang. Diapun memasuki restoran itu dan memarkirkan mobilnya. Mereka turun dari mobil, duo Rei berlarian masuk ke restoran.
"Berapa orang, pak?" tanya salah satu pelayan pada Adrian .
"Empat orang, mas." jawabnya.
Merekapun duduk mengitari disalah satu meja bundar di dekat jendela. Tak lama semua pesanan mereka siap dihidangkan di meja mereka. Marcela mengupaskan udang goreng untuk kedua anaknya. Melihat Marcela yang repot menyiapkan makanan untuk duo Rei, Adrian dengan spontan mengambilkan nasi dan udang yang sudah dikupasnya terlebih dahulu ke piring Marcela. Dan juga beberapa lauk lainnya.
"Nggak usah repot Adrian, kamu makan saja dulu." Kata Marcela yang sungkan dengan tindakan Adrian kepadanya.
"Nggak papa, kamu juga sambil makan ya, pasti lapar juga kan? Secara ini sudah sore, kita melewatkan makan siang." Kata Adrian tak lupa disertai senyum manisnya.
Marcela hanya tersenyum pada Adrian. Tampak sesekali Adrian juga membantu Marcela menyuapi Reifan.
Makan sore merekapun selesai. Adrian beranjak menuju kasir untuk membayar.
"Adrian, biar aku saja yang bayar." kata Marcela mencegah Adrian ke kasir. Karena dari tadi selalu Adrian yang mengeluarkan uang. Marcela jadi sungkan kalau makan di restoran ini Adrian juga yang membayar.
"Apaan sih, kak. Sudah kamu tunggu disini aja, Reihan juga belum habis itu minumannya." kata Adrian sambil menunjuk Reihan yang masih santai menyeruput es tehnya.
"Tapi..."
"Nggak papa, kak. Aku yang malu kalau sampai kamu yang bayar, kan aku yang mengajak kalian."Kata Adrian menenangkan Marcela.
Marcela menyadari sesuatu. Adrian mulai menyebutnya dengan kata "Kamu". Padahal sebelumnya dia menyebut Marcela dengan kata "Kakak".
Setelah membayar di kasir. Adrian masuk ke toilet terlebih dahulu sebelum bergabung kembali ke meja mereka. Lalu seorang pelayan datang ke meja dan menyerahkan sebuah bungkusan kepada Marcela.
"Ini pesanan yang dibungkus, bu." kata pelayan itu.
"Apa ini? saya tidak pesan untuk dibungkus." Kata Marcela.
"Tadi suami ibu yang pesan." jawab pelayan itu.
"Hah?" Marcela tampak bingung.
"Suami ibu lagi ke toilet, katanya suruh serahkan ke ibu." kata pelayan itu lagi. "Saya permisi, bu." pelayan itupun pergi.
Marcela baru sadar. Yang dimaksud suami oleh pelayan itu pasti Adrian. Marcela lalu tersenyum sendiri sambil menatap bungkusan di tangannya.