Marcela berdiri dari kursi hendak menghampirí kedua anaknya yang sudah selesai makan. Tiba-tiba dia mendengar ada seseorang memanggil namanya.
"Marcela."
Marcela menoleh kebelakang, mencari tahu siapa yang memanggilnya.
"Mas Rizal." Marcela menyebut nama pria yang sedang tersenyum ke arahnya. Diapun membalas senyuman pria itu.
Pria bernama Rizal itu berjalan ke arahnya, dan menjabat tangan Marcela.
"Apa kabar, Cel?" Tanya Rizal masih belum melepaskan jabatan tangannya pada Marcela.
"Baik, mas. Mas sendiri apa kabar?" Marcela masih tersenyum.
"Baik juga. Hai Reihan, Reifan." Rizal berpaling ke arah duo Rei dan menyapa mereka.
"Halo om dokter." jawab Reihan sambil berlari ke arah Rizal, disusul dengan Reifan. Mereka bergantian bersalaman dengan Rizal, tak lupa juga mencium tangannya.
Dari jauh nampak Adrian sedang berdiri menatap Marcela dan anak-anaknya yang sedang berbincang dengan pria yang tampak asing baginya. Diapun berjalan menghampirí mereka, dengan wajah yang terlihat tidak senang, karena Marcela terus tersenyum saat menatap pria lain selain dirinya.
"Sudah lama sekali kita tidak bertemu, ya. Kalian sudah besar sekali rupanya." Kata Rizal menekuk satu kakinya untuk mensejajarkan tubuhnya agar sama tinggi dengan Reihan dan Reifan.
"Om dokter mau periksa siapa disini? Siapa yang sakit, om?" tanya Reifan dengan wajah menggemaskannya.
"Om nggak mau periksa siapa-siapa disini, Reifan." jawab Rizal sambil mengacak-ngacak rambut Reifan gemas.
"Terus om mau ngapain disini?" gantian Reihan bertanya.
"Om mau makan dong, sama kaya kalian, om juga mau makan udang goreng" jawab Rizal gantian mengacak-ngacak rambut Reihan.
"Oya, kalian sama siapa kesini, bertiga saja? Tanya Rizal dengan posisi sudah berdiri lagi menghadap Marcela.
"Ehem." Adrian yang tiba-tiba sudah berdiri disamping Marcela berdehem.
"Oh, kita kesini sama Adrian. Kenalkan, mas." jawab Marcela sambil menunjuk Adrian. Adrian pun mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Rizal, dan langsung disambut oleh Rizal. Mereka bersalaman. Rizal menatap Marcela dengan wajah yang tampak penuh tanya.
"Adrian ini temannya Mario, adik aku, ingat kan?" jawab Marcela yang sadar dengan tatapan tanya Rizal.
"Oh iya, Mario, aku ingat." jawab Rizal yang kembali menatap Adrian kali ini dengan senyuman.
"Kita pulang sekarang, sudah malam, duo Rei kayaknya juga sudah mengantuk." Kata Adrian pada Marcela. Sebenarnya dia tidak ingin melihat Marcela dan Rizal berlama-lama saling menatap. Dia juga tidak suka kenapa Marcela harus repot-repot menjelaskan siapa dia didepan pria lain.
"Iya." jawab Marcela. "Reihan, Reifan, pamit dulu sama om Rizal." pinta Marcela pada duo Rei.
Duo Rei pun bergantian bersalaman lagi dengan Rizal dan juga mencium tangannya.
"Bye om dokter." pamit Reihan dan Reifan.
"Bye juga duo Rei." jawab Rizal.
Adrian juga bersalaman lagi dengan Rizal.
"Kami duluan ya, Pak." Pamit Adrian yang langsung meraih tangan duo Rei untuk menggandengnya.
"Oh, ya silahkan." Jawab Rizal.
"Aku pamit duluan ya, mas." Kata Marcela sambil menjabat tangan Rizal.
"Iya, hati-hati ya. Oh ya, kapan-kapan kita bisa makan bersama ya, lunch mungkin." ajak Rizal.
Adrian yang sudah melangkah tiba-tiba berhenti mendengar pertanyaan Rizal, dan berbalik menatap kedua orang itu, dia menunggu jawaban apa yang akan diberikan Marcela pada pria itu.
"Boleh, mas." jawab Marcela dengan mudah.
Adrian menganga mendengar jawaban Marcela.
"Oke, aku akan kabarin kamu kalau aku tidak ada jadwal praktek di siang hari." Kata Rizal.
Marcela hanya mengangguk. Lalu berjalan menyusul Adrian dan kedua anaknya yang sudah terlebih dahulu sampai di parkiran.
Dalam perjalanan Adrian mencuri-curi pandang pada Marcela. Marcela yang sadar akan tingkah Adrian, memutar tubuhnya menghadap Adrian.
"Ada apa?" tanya Marcela membuat Adrian terkejut.
"Eh, kenapa?" tanya Adrian gugup.
"Kamu kok ngeliatin aku terus, ada apa?"
"Oh, nggak papa." jawab Adrian berusaha menyembunyikan perasaanya.
"Yas udah kalau ngga ada apa-apa? Lihat jalan." kata Marcela menyuruh Adrian.
Adrian menatap kedepan sesuai instruksinya Marcela. Tapi sesuatu terus mengganjal dihatinya. Rasa penasaran tentang pria yang tadi bertemu di restoran benar-benar mengganggunya.
"Hmm, tadi itu siapa?" Adrian akhirnya bertanya karena tidak sanggup menahan rasa penasarannya.
Marcela tersenyum, seolah tahu apa yang ada dibenak Adrian dari tadi. Pasti bertanya-tanya siapa Rizal.
"Rizal?" tanya Marcela memastikan.
"Hm." jawab Adrian singkat.
"Rizal itu teman almarhum suamiku. Dia juga dokter anak, dokter nya anak-anak kalau mereka sedang sakit." jawab Marcela menjelaskan.
"Oh." Adrian membalas singkat.
"Kenapa?" tanya Marcela.
"Nggak papa sih. Kok kelihatannya kamu dekat banget sama dia, Duo Rei juga." kata Adrian dengan nada cemburu.
"Ya iyalah, kami memang dekat dulu. Tapi semenjak suamiku meninggal, kami jarang bertemu, hanya bertemu saat memeriksakan Reihan atau Reifan saat mereka sakit." jawab Marcela dengan polosnya, dia tidak tahu bahwa hati Adrian sudah terbakar api cemburu.
"Sedekat itu, sampai kamu harus repot-repot menjelaskan siapa aku padanya?" tanya Adrian dengan nada sedikit meninggi.
"Kenapa memangnya? ada yang salah?" Tanya Marcela masih dengan kepolosannya.
"Ya iyalah. Kamu bikin aku cemburu tau nggak?" jawab Adrian kesal.
"Hah?" Marcela terkejut mendengar Adrian terang-terangan mengucap kata cemburu.
Susana menjadi canggung. Mereka hanya diam selama perjalanan. Sedangkan duo Rei sudah terlelap memasuki alam mimpi mereka.
Mereka sampai dirumah Marcela.
"Kamu buka pintu saja, biar anak-anak aku yang gendong" titah Adrian.
Marcela masuk membuka pintu depan, dan langsung menuju kamar duo Rei, menyiapkan kasur untuk kedua anaknya. Adrian menggendong Reihan terlebih dahulu, meletakkan di kasur, lalu keluar lagi menuju mobil. Tak lama kembali lagi menggendong Reifan, dan meletakkan nya disebelah Reihan. Lalu keluar setelah mengelus kepala duo Rei secara bergantian. Marcela menyelimuti mereka berdua, dan menyusul Adrian keluar.
Adrian berdiri di dekat pintu, menunggu Marcela karena dia mau berpamitan pulang. Marcela menghampirí Adrian.
"Adrian, terimakasih banyak ya untuk hari ini." Kata Marcela sambil tersenyum.
"Sama-sama. Aku juga senang bisa main sama duo Rei." jawab Adrian.
"Duo Rei juga pasti seneng banget hari ini."
Jantung Adrian sudah tidak karuan melihat senyuman Marcela. Dia sebenarnya tidak ingin cepat-cepat pulang, tapi dia sadar bahwa dia harus segera pulang jika tidak ingin digrebek oleh warga.
"Hm, apa aku boleh minta segelas air, sepertinya aku haus." pinta Adrian. Sebenarnya dia hanya sedikit mengulur waktu.
"Tunggu sebentar, aku ambilkan." Marcela berjalan menuju dapur.
Tiba-tiba semua lampu padam, keadaan menjadi gelap gulita.
Terdengar sesuatu yang pecah dari arah dapur.
"Marcela!" teriak Adrian, dia mengambil ponselnya untuk menyalakan senter, lalu berlari menuju dapur.
"Aku nggak papa, cuma gelas saja yang jatuh, kamu jangan kesini, banyak beling." kata Marcela memperingati Adrian.
Lampu menyala lagi. Benar juga, terlihat beling berserakan karena satu gelas pecah.
"Sudah, kamu duduk disana saja, biar aku yang bersihin." titah Adrian. Marcela menurut, dia duduk di sofa ruang televisi.
"Auw!" pekik Adrian.
Marcela berlari untuk melihat keadaan Adrian. Dia melihat darah berceceran dari jari tangan Adrian.
"Kamu nggak papa?" Tanya Marcela panik.
"Nggak papa, udah kamu disana aja!"
"Nggak papa gimana? darahnya banyak banget gitu."
Marcela menarik tangan Adrian ke arah sofa, dan menyuruhnya duduk. Dia kembali ke dapur mengambil kotak P3K, dan kembali duduk bersama Adrian. Marcela meraih tangan Adrian untuk mengobati lukanya, memberi obat merah, dan meniupnya sesekali. Adrian menatap Marcela tanpa berkedip. Jantungnya berdebar kencang sekali karena berada tepat dihadapan Marcela dengan jarak sedekat ini.
"Sepertinya lukanya dalam sekali, aku perban ya?" tanya Marcela pada Adrian tanpa melihat wajah Adrian.
"Hm." jawab Adrian singkat. Dia sangat gugup sampai bicarapun susah.
Marcela memerban luka Adrian.
"Sudah." kata Marcela sambil meletakkan tangan Adrian yang sudah diperban ke pangkuan Adrian.
Adrian terkejut. Memalingkan wajahnya ke arah tangannya yang sedari tadi dipegang Marcela.
"Hm... Terimakasih. Aku...pamit pulang...dulu." Kata Adrian terbata. Dan langsung berlari keluar menuju mobil.
Marcela mengerutkan keningnya, heran dengan tingkah Adrian.
Diluar Adrian masuk kedalam mobilnya. Menutup pintu. Lalu membuang nafas dengan kencang, dan mengatur nafasnya kembali. Karena entah kenapa sepertinya dia kehabisan stok oksigen saat dihadapan Marcela tadi.