8

1013 Words
Ponsel Marcela berkedip saat dia sedang mengadon kue di dapur. Dia membuka satu pesan chat dengan tangan satunya yang sedang tidak sibuk. Via chat ~Mas Rizal~ "Hai, Cel.. Ada waktu siang ini? aku mau ajak kamu sama duo Rei makan siang?" Marcela mengerutkan keningnya sejenak. Dia mengingat pertemuannya dengan Rizal beberapa hari lalu, dan Rizal memang berjanji mau mengajaknya dan duo Rei makan siang. Lalu dia tersenyum dan membalas chat dari dokter Rizal. ~Marcela~ "Boleh, mas. Mau makan dimana? Nanti setelah jemput anak-anak aku susul kesana." Dalam hitungan detik ponsel Marcela berkedip kembali. ~Mas Rizal~ "Aku jemput kerumah aja." Bales Rizal singkat. ~Marcela~ "Oke. Jam 11 siang anak-anak sudah sampai rumah." ~Mas Rizal~ "Oke, see u soon." Marcela mempercepat kegiatannya membuat kue. Untung ini hanya kue brownies biasa, tidak sampai setengah jam juga sudah jadi. Dia melirik jam di dinding, menunjukkan pukul 09.30. Masih banyak waktu, pikirnya. Jam 11.00 siang duo Rei sudah sampai rumah, setelah sebelumnya Marcela menjemput mereka. Marcela langsung menggantikan baju mereka. "Kita mau kemana, bun?k pakai baju bagus?" Tanya Reihan yang sudah mulai mengerti perbedaan baju untuk dirumah dan baju untuk pergi. "Sebentar lagi mau dijemput om dokter, mau diajak makan siang sama om dokter." jawab Marcela. "Om dokter, bun? Asik. Kita mau makan dimana, bun?" "Belum tahu, nanti kita tanya kalau om dokter sudah sampai sini ya." jawab Marcela sambil mengancingkan baju yang sudah dikenakan Reihan. Lalu mengambil baju satu lagi,dan memakaikannya pada Reifan. "Reifan mau makan fried chiken." Celetuk Reifan. Marcela hanya tersenyum melihat tingkah Reifan yang sedang berusaha mengancingkan bajunya sendiri. "Assalamualaikum." Terdengar suara salam dari depan rumah. Duo Rei berhamburan keluar menyambut seseorang yang baru saja datang itu. "Om dokter..!" teriak mereka berdua. Rizal menekuk satu kakinya, berjongkok dihadan di Rei. "Wah, sudah ganteng kalian? Memangnya mau kemana?" tanya Rizal menggoda dua anak didepannya. "Katanya om mau ngajak kita makan?" Jawab Reihan. "Masak? Kata siapa?" Goda Rizal lagi sambil pura-pura bingung. "Kata bunda tadi? ya kan, bun?" Kali ini gantian Reifan yang menjawab. "Hahaha. Iya, om mau ngajak kalian makan." Kata Rizal sambil mengacak-ngacak rambut dua anak itu. Rizal berdiri menggandeng tangan duo Rei. "Yuuk, kalian pasti sudah lapar kan? Ajak Rizal. "Yeeeay...!" Duo Rei teriak kegirangan. Marcela terenyum melihat kedua anaknya itu. Mereka pun menaiki mobil Rizal dan langsung menuju restoran yang sudah dipesan Rizal sebelumnya. Hotel Atmaja Jakarta Mario memasuki ruangan Adrian. "Waktunya makan siang, Pak. Sudah nggak ada yang perlu saya kerjakan lagi, kan? Tanya Mario pada Adrian yang masih sibuk dengan kerjaan di laptopnya. Mendengar pertanyaan Mario, dia melirik jam di tangannya. Benar saja, sudah jam makan siang. "Kayaknya sih, nggak. Ya sudah kalau mau makan siang, duluan saja, Mar, gue masih mau nyelesein ini sebentar." kata Adrian yang masih berkutat dengan laptopnya. "Yakin nggak mau bareng?" Tanya Mario memastikan. "Iya, lo duluan saja." jawab Adrian. Mario pun membalikkan badannya, hendak melangkah keluar dari ruangan Adrian. Tiba-tiba Adrian teringat sesuatu. "Eh, bro." panggil Adrian. Mario yang baru saja hendak menutup pintu kembali masuk. "Kenapa lagi?" tanya Mario. Adrian berdiri dan berjalan memutari meja kantornya. Lalu menyandar di depan meja menghadap Mario. "Lo kenal sama dokter Rizal?" tanya Adrian pada Mario, karena dia masih penasaran tentang Rizal, pria yang dia temui beberapa hari kalau di restoran bersama Marcela. "Dokter Rizal?" Mario tampak berfikir. "Dokter Rizal, dokternya duo Rei?" tanya Mario memastikan. "Iya, katanya sih gitu." jawab Adrian dengan nada malas. "Kenal dong, gue kan sering ketemu kalau pas ngantar duo Rei berobat." jawab Mario. "Kenapa emang?" tanya Mario lagi. "Dia dekat banget kayaknya sama kakak lo." Adrian menunjukkan wajah sedih. "Memang dekat." jawab Mario tanpa rasa bersalah. "Kok lo gitu sih jawabnya, memang sedekat apa mereka, sampai dia ngajakin kakak lo makan siang segala." tanya Adrian curiga. "Setahu gue mereka memang sudah beberapa kali makan siang bareng." jawab Mario masih tanpa rasa bersalah. Dia tidak menyadari bahwa sahabatnya sekaligus bosnya itu sudah merah wajahnya. "Kenapa emang? Ooo, gue tau... lo cemburu ya?" Mario menggoda Adrian disertai tawa yang terlihat mengejek Adrian. "Ya iyalah. Gimana nggak cemburu coba, di depan mata gue, dia ngajak Marcela makan siang, mana Marcela nggak ada nolak lagi, pake senyum-senyum pula." Jawab Adrian menggebu-gebu. "Hahaha, emang dimana kalian ketemu?" "Beberapa hari lalu, pulang dari kebun binatang." jawab Adrian lemas. "Hahahaa... selamat bersaing ya, bro." kata Mario sambil menepuk pundak Adrian. Lau pergi meninggalkan ruangan Adrian, dengan Adrian masih berdiri mematung di depan meja kerjanya. Dasar temen nggak ada akhlak, malah ngeloyor pergi. maki Adrian dalam hati. Adrian kembali berjalan ke kursinya lagi, berniat melajutkan pekerjaannya. Terdengar suara pintu diketuk lagi. Adrian menoleh ke arah pintu. "Apa lagi? Mau ngejek gue lagi?" teriak Adrian. Tapi ternyata bukan sosok Mario yang dia lihat di depan pintu, melainkan seorang wanita berambut panjang pirang yang sedang berlari ke arahnya, dan langsung memeluk Adrian. "Ryan... I miss you so much!" teriak gadis itu di dalam pelukan Adrian. Adrian melepaskan pelukan gadis itu, lalu menatap wajah gadis itu dengan seksama. "Stephanie." Ucap Adrian. Lalu menarik kembali gadis itu ke dalam pelukannya. "Kamu kapan sampai di Indonesia?" tanya Adrian. Stephanie mengurai pelukannya dari Adrian. "Jam 10 tadi. Dari bandara langsung kesini." jawabnya. Adrian menatap pintu masuk, benar saja, ada satu koper besar berdiri tegak di depan pintu. "Kenapa nggak bilang? kan bisa aku jemput." "No. Aku memang mau bikin surprise buat kamu." jawabnya lagi sambil tersenyum lebar. "Ya sudah, sekarang aku antar kamu pulang, jangan-jangan papa mama aku juga belum tau kamu pulang?" Stephanie menggelengkan kepalanya. "Dasar cewek nakal." kata Adrian lirih . Tapi masih didengar oleh Stephanie. Stephanie hanya tersenyum dan bergelayutan di lengan Adrian. Adrian terus berjalan sambil menarik koper dengan tangan satunya lagi. Mereka menaiki lift menuju basement tempat dimana mobil Adrian diparkir. "Sebelum pulang, Kita makan dulu boleh? Aku lapar banget." tanya Stephanie. "Kenapa nggak bilang dari tadi? Kan kita bisa makan di restoran hotel." kata Adrian, mereka sudah sampai di parkiran baru Stephanie minta makan. "It's oke. Kita makan di restoran lain saja." Kata Stephanie. Stephanie masuk terlebih dahulu ke dalam mobil. Adrian meletakkan koper Stephanie ke bagasi. Lalu masuk ke mobilnya. Dan melaju keluar dari hotel, menuju restoran terdekat
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD