Satu malam. Hanya satu malam di bawah atap yang sama dengan Ethan Cross, dan aku sudah ingin menjerit.
Semua bermula ketika aku iseng mencicipi cake stroberi di meja dapur pagi ini. Aku hanya menyentuh sedikit, sungguh, hanya dengan ujung jariku. Tapi reaksi Ethan sungguh di luar dugaan.
Tanpa mengatakan apa-apa, dia mengambil cake itu, membuangnya ke tempat sampah, lalu mencuci tangannya seakan aku baru saja menyebarkan virus mematikan.
Dan hanya itu. Tidak ada kata-kata, tidak ada penjelasan, hanya ekspresi dingin dan tatapan seolah aku adalah gangguan di rumahnya.
Sejak kejadian tadi, aku memutuskan untuk menghindarinya.
Aku tidak berani keluar bahkan hanya untuk mengambil air. Padahal aku harus berangkat kuliah jam delapan, tapi aku ragu-ragu untuk melangkah keluar. Aku tidak mau berhadapan dengan pria menyebalkan itu dalam kondisi perut kosong dan mood buruk!
Aku berbaring di tempat tidur sambil menggerutu pelan.
“Kenapa sih dia sekaku itu? Oke, aku memang menaruh jari di cake-nya, tapi itu bukan dosa besar, kan? Toh, aku juga bisa makan bagian yang aku sentuh… atau mungkin dia memang sengaja mencari alasan untuk membuatku merasa tidak nyaman di sini?”
Aku mendesah kesal. Aku tahu sejak awal bahwa berbagi rumah dengan pria seperti Ethan tidak akan mudah, tapi aku tidak menyangka dia akan sesensitif ini soal makanan.
Aku menajamkan pendengaranku, berharap bisa menangkap suara-suara dari luar kamar.
Hening.
Lalu, suara pintu depan terbuka.
Aku menahan napas.
Kemudian, suara pintu tertutup.
Aku tetap diam beberapa detik, memastikan benar-benar tidak ada suara langkah kaki di luar. Setelah yakin Ethan sudah pergi, aku akhirnya keluar dari kamar dengan hati-hati.
Rumah ini terasa lebih nyaman tanpa kehadirannya. Aku melangkah menuju dapur, berniat membuat kopi untuk menenangkan pikiranku. Namun, saat aku membuka kulkas, sesuatu menarik perhatianku.
Sebuah memo kecil berwarna kuning tertempel di pintu kulkas.
“Makanan kita harus dipisah. Jangan menyentuh punyaku. – E.”
Aku mengerjap, memastikan aku tidak salah lihat. Memo? Serius?
Aku menoleh ke meja dapur, lalu ke pintu lemari. Ada lagi memo tertempel di sana.
“Cuci peralatan makan yang kamu pakai. Jangan tinggalkan di wastafel. – E.”
Aku mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. Dengan jantung sedikit berdebar, aku berjalan ke ruang tamu. Benar saja, memo lain tertempel di dinding dekat televisi.
“Jika menyalakan TV, pastikan volumenya tidak terlalu keras. Aku butuh ketenangan saat pulang kerja. – E.”
Aku menatap sekeliling dengan perasaan tidak percaya. Aku mulai berjalan lebih jauh ke bagian lain rumah, menemukan lebih banyak memo yang tersebar di mana-mana.
Di kamar mandi:
“Jangan lupa membersihkan wastafel setelah cuci muka. Aku tidak suka ada air berserakan. – E.”
Di meja makan:
“Jangan tinggalkan piring kotor di sini. – E.”
Bahkan di rak sepatu dekat pintu:
“Pastikan sepatu ditaruh dengan rapi. Aku tidak mau ada yang berantakan. – E.”
Aku mengangkat tangan, menekan pelipis.
“Astaga… pria ini benar-benar gila.”
Aku tidak tahu harus tertawa atau menangis. Aku baru tinggal di sini satu malam dan dia sudah meninggalkan aturan sebanyak ini?
Aku tahu dia tipe perfeksionis, tapi aku tidak menyangka akan seperti ini.
Aku menjatuhkan diri ke sofa, menatap memo-memo itu dengan frustasi.
Aku ingin berteriak.
Tapi yang lebih membuatku kesal adalah fakta bahwa aku tidak bisa melakukan apa-apa. Aku butuh tempat tinggal untuk sementara waktu, dan Ethan punya hak yang sama atas rumah ini.
Aku menghela napas panjang.
“Aku bisa bertahan… aku bisa bertahan…” gumamku, lebih kepada diri sendiri.
Tapi dalam hati, aku bertanya-tanya, bisakah aku benar-benar bertahan tinggal seatap dengan pria gila aturan ini?
**
Sesampainya di kampus, aku langsung mencari Ningning. Hari ini benar-benar buruk, dan aku butuh tempat untuk mengeluh.
Aku menemukannya di sudut kafe dekat perpustakaan, seperti biasa, dengan laptop terbuka dan es kopi di tangannya. Begitu melihatku, dia mengangkat alis.
“Kenapa wajahmu kusut begitu?” tanyanya sebelum aku sempat duduk.
Aku mulai menceritakan semua yang terjadi sejak pagi—bagaimana dia membuang cake stroberi di depan mataku, bagaimana dia meninggalkan memo-memo peraturan di seluruh rumah. Ningning mendengarkan dengan ekspresi campuran antara simpati dan geli.
“Wow, pria itu benar-benar… perfeksionis, ya?”
Aku mengangkat kepalaku, menatapnya serius. “Perfeksionis? Dia lebih seperti diktator!"
Ningning mendengarkanku dengan ekspresi prihatin. “Aku tahu kau mengalami kesulitan, tapi aku tidak menyangka akan seburuk ini.”
“Ya, ini benar-benar mengerikan,” gumamku, mengaduk-aduk cappuccino di depanku. “Aku bahkan tidak bisa merasa nyaman di rumah sendiri.”
Ningning menyesap kopinya, lalu menatapku dengan ekspresi serius. “Kalau begitu, kenapa tidak pulang saja ke rumah orang tuamu?”
Aku menghela napas dan menggeleng. “Aku sudah memutuskan untuk hidup mandiri, Ning. Aku tidak bisa kembali hanya karena masalah seperti ini.”
"Ningning, aku nggak tahan tinggal di sana. Aku butuh tempat lain.”
Aku menatapnya penuh harap.
“Kau tahu kan maksudku?”
Ningning menatapku balik. “Maksudmu?”
Aku mengedipkan mata, memasang ekspresi memelas. “Izinkan aku tinggal bersamamu.”
Dia terbatuk, hampir tersedak kopinya. “Apa?”
Aku langsung menggenggam tangannya. “Tolong, Ning! Aku janji tidak akan merepotkan. Aku bisa bayar setengah sewa, aku bisa masak, aku bahkan bisa jadi alarm hidup kalau kau butuh seseorang untuk membangunkanmu di pagi hari! Aku bisa—”
Ningning menepuk tanganku, memotong rayuanku. “Aku tinggal dengan pacarku sekarang, Shopia.”
Aku membeku. “Apa?”
Dia mengangkat bahu. “Aku sudah pindah beberapa minggu yang lalu. Aku pikir kau tahu.”
Aku mengerjap beberapa kali, mencoba mencerna kata-katanya. “Tunggu, kau sekarang tinggal satu apartemen dengan Jayden?”
“Ya,” jawabnya ringan. “Kami memutuskan untuk tinggal bersama.”
Aku terdiam, merasa sedikit tertampar kenyataan. Selama ini, aku terlalu sibuk dengan urusanku sendiri sampai tidak menyadari bahwa Ningning sudah mengambil langkah besar dalam hidupnya.
Aku mendesah pelan. “Jadi… aku benar-benar tidak punya tempat lain untuk dituju?”
Ningning menatapku dengan ekspresi prihatin. “Maaf, Shopia. Aku ingin membantu, tapi kau tahu sendiri bagaimana situasinya.”
Aku menyandarkan diri ke kursi, menatap langit-langit dengan putus asa. “Lalu apa yang harus kulakukan?”
Ningning berpikir sejenak sebelum berkata, “Kalau kau benar-benar ingin pindah, mungkin kau bisa mencari pekerjaan paruh waktu untuk menambah penghasilan.”
Aku mengerutkan dahi. “Aku sudah sibuk dengan tulisan-tulisanku. Kalau aku bekerja paruh waktu, kapan aku akan menulis?”
“Tapi kau juga tidak bisa terus tinggal dengan pria yang membuatmu frustrasi setiap hari, kan?” Ningning menatapku tajam.
Aku terdiam, tidak bisa membantah. Dia benar.
Dengan berat hati, aku mengangguk. “Baiklah. Aku akan mencari pekerjaan paruh waktu.”
Ningning tersenyum puas. “Nah, itu baru Shopia yang kukenal!”
Setelah menghabiskan waktu di kampus, aku pulang lebih awal. Saat aku tiba di rumah—yang untungnya masih kosong karena Ethan belum pulang—aku langsung merebahkan diri di tempat tidur, mencoba menghilangkan kelelahan.
Ponselku bergetar, menandakan ada pesan masuk.
Aku meraihnya dan melihat sebuah email dari seorang editor yang namanya cukup familiar.
Aku mengerutkan dahi, lalu mulai membaca isi email tersebut.
Subject: Tawaran Menulis No-vel Dewasa
Halo, Shopia.
Kami sudah lama mengikuti karyamu dan sangat mengagumi kemampuanmu dalam menulis novel misteri. Namun, kali ini kami ingin menawarkan sesuatu yang berbeda. Kami sedang mencari penulis untuk proyek novel dewasa, dan kami pikir kau memiliki gaya penulisan yang cocok untuk genre ini.
Jika kau tertarik, kami akan membayar dengan jumlah yang cukup besar untuk proyek ini. Silakan pikirkan baik-baik dan beri tahu kami jika kau berminat.
Hormat kami,
Emily Carter
Senior Editor, Blue Moon Publishing
Aku terdiam, membaca ulang email itu untuk memastikan aku tidak salah lihat.
No-vel dewasa?
Aku selalu menulis cerita misteri. Aku tidak pernah sekalipun berpikir untuk mencoba genre lain, apalagi yang satu ini.
Tapi bayaran besar…?
Aku menggigit bibir, merasa bimbang. Ini bukan sekadar masalah genre, tetapi juga soal reputasiku sebagai penulis. Jika aku mengambil tawaran ini, akankah itu berdampak pada karierku ke depan?
Aku mendesah, meletakkan ponsel di sampingku.
Aku harus benar-benar memikirkan ini dengan matang.