Ethan, Duda?

1085 Words
Aku menatap layar laptop dengan penuh keraguan. Di hadapanku, email dari editor masih terbuka. Tawaran menulis novel dewasa dengan bayaran besar terdengar menggiurkan, terutama jika itu bisa membantuku keluar dari rumah Ethan lebih cepat. Tapi ada satu masalah besar—aku sama sekali tidak tahu bagaimana menulis cerita seperti itu! Aku selalu menulis misteri. Kejar-kejaran dengan pembunuh, teka-teki yang harus dipecahkan, plot twist yang mengejutkan—itulah duniaku. Tapi sekarang? Aku harus menulis tentang… hubungan? Kedekatan fisik? Ketegangan antara pria dan wanita? Aku menghela napas panjang dan mulai mengetik balasan. Dear Emily, Saya tertarik dengan tawaran Anda dan ingin mencobanya. Mohon berikan detail lebih lanjut tentang proyek ini. Hormat saya, Shopia Bennett Begitu email terkirim, aku menyandarkan tubuh di kursi dan menatap langit-langit. Aku benar-benar gila. Keesokan harinya, aku menerima balasan dari Emily. Dia mengirimkan beberapa referensi novel dewasa yang bisa k****a untuk memahami gaya penulisan dan cara membangun chemistry antara karakter. Aku membaca beberapa halaman, tapi semakin k****a, semakin aku sadar bahwa aku tidak punya pengalaman yang cukup untuk menulis hal seperti ini. Aku bahkan tidak pernah pacaran. Jadi, bagaimana aku bisa menulis adegan romantis yang intens? Bagaimana aku bisa mendeskripsikan ekspresi seorang pria, sorot matanya, atau bahkan cara dia menyentuh seseorang dengan penuh gairah? Aku menopang dagu, berpikir keras. Aku butuh referensi nyata. Dan saat itulah, mataku secara refleks melirik ke arah dapur, tempat Ethan sedang berdiri. Dia baru pulang kerja, masih mengenakan kemeja yang lengannya tergulung hingga siku. Rambutnya sedikit berantakan, mungkin karena seharian bekerja di dapur toko kuenya. Dia membuka kulkas dengan ekspresi serius, lalu menuangkan air ke dalam gelas. Aku mengernyit. Kenapa aku memperhatikan semua itu? Aku menggelengkan kepala, mencoba mengusir pikiran aneh yang mulai muncul. Tapi semakin aku mencoba tidak memperhatikan, semakin jelas detailnya. Cara Ethan bergerak, cara dia mendesah pelan setelah meneguk air, bahkan cara dia mengerutkan dahi saat melihat memo-memo aturan rumah yang ditulisnya sendiri. Tunggu… Jangan bilang aku baru saja menemukan sumber inspirasiku. Aku menelan ludah. Tidak, ini konyol. Aku tidak mungkin menjadikan Ethan sebagai referensi. Itu akan sangat aneh! Tapi di sisi lain… siapa lagi yang bisa kujadikan contoh? Aku menatap layar laptop, jemariku mulai mengetik. Aku mencoba mendeskripsikan karakter pria dalam novel baruku, dan tanpa sadar, detailnya mulai menyerupai Ethan. “Pria itu memiliki rahang tegas dan sorot mata tajam yang selalu terlihat menilai. Ada sesuatu dalam sikapnya yang dingin dan mengintimidasi, seolah-olah dunia ini hanyalah tempat yang harus dikontrolnya. Bahkan ketika diam, kehadirannya cukup untuk membuat udara di sekitarnya terasa lebih berat.” Aku menatap kalimat itu cukup lama, lalu melirik ke arah Ethan yang masih berdiri di dapur. Ya Tuhan. Aku benar-benar menggunakan Ethan sebagai objek imajinasiku. Aku buru-buru menutup laptop dan berdiri. “Aku mau tidur!” seruku, lalu langsung masuk ke kamar. Ethan menatapku sekilas dengan ekspresi bingung. “Oke?” Aku menutup pintu dengan cepat, lalu mengubur wajah di bantal. Ini akan menjadi pengalaman menulis yang sangat panjang. ** Aku terbaring di tempat tidur, mataku terbuka lebar meski tubuhku berusaha untuk tidur. Tidak ada cara untuk melupakan apa yang aku baca tadi. Novel-novel yang dikirimkan Emily padaku tidak bisa kuhindari begitu saja. Aku merasa terperangkap dalam pikiran yang berputar-putar tentang dunia yang selama ini sangat asing bagiku. Setiap kalimat dalam cerita itu seolah menggelitik rasa penasaran dalam diriku, membuat hatiku berdebar tak karuan. Aku menggulung selimut lebih erat, tetapi rasa panas dingin semakin tak tertahankan. Setiap adegan yang k****a tadi terus berputar di pikiranku, dan aku mulai bertanya-tanya, tentang perasaan yang mungkin belum pernah aku rasakan sebelumnya. Adegan-adegan dalam novel itu terasa sangat hidup dalam benakku, seolah-olah aku bisa merasakannya sendiri. Dan meskipun aku tahu itu hanya imajinasi, ada dorongan kuat dalam diriku untuk mengeksplorasi perasaan-perasaan baru ini. Pikiranku kembali melayang, dan aku teringat kejadian tadi. Ethan yang tampak begitu tenang di dapur, sikapnya yang serius dan penuh perhatian pada setiap detail yang ia buat. Gambaran itu membuatku kembali menulis, kali ini dengan cepat, seolah-olah aku tidak bisa menahan diri. Tanganku menari di atas keyboard, menuliskan setiap pikiran liar yang melintas. Entah kenapa, wajah Ethan dan gestur-gestur kecilnya terus muncul di setiap adegan yang kubuat. Aku tidak bisa menahan perasaan yang tiba-tiba datang. Tapi sebelum aku terlarut lebih jauh, aku merasa aku harus berhenti. Aku menutup laptop dengan cepat, berusaha menenangkan diri. Ternyata, itu bukan jawaban. Aku ingin tidur, tapi pikiranku terus berputar, dan tak ada yang bisa menghentikannya. "Kau gila, Shopia! Tadi pagi kau menggerutu karena sikapnya, sekarang kau malah membuatnya sebagai fantasi hidup!" Ponselku berdering tiba-tiba, memecah keheningan malam yang menyesakkan. Aku terkejut melihat nama Daren di layar. Aku mengangkat telepon dengan sedikit enggan. “Hai, Shopia. Bagaimana kabar penyelidikan tentang pemilik properti itu?” suara Daren terdengar ringan, meskipun aku bisa merasakan sedikit ketegangan di baliknya. Aku menghela napas dan memutuskan untuk menghindari topik itu. “Aku… belum ada perkembangan baru. Masih sama seperti kemarin.” jawabku singkat, berusaha tidak terlarut dalam masalah itu lebih jauh. Daren terdiam sejenak, kemudian tertawa pelan. “Pasti capek banget ya? Tapi sabar aja, kalau perlu, kita bisa cari waktu buat diskusi lebih lanjut.” Aku mengangguk meski dia tidak bisa melihatnya. “Iya, aku tahu. Cuma… ada hal lain yang mengganggu pikiranku sekarang.” “Apa itu?” tanyanya, seolah ingin tahu lebih dalam. Aku ragu sejenak. “Yah… soal Ethan. Tadi pagi… ada kejadian yang bikin aku bingung.” Aku menceritakan sedikit tentang bagaimana Ethan bertindak di dapur, bagaimana reaksinya terhadap kue yang aku sentuh. Daren tertawa kecil, dan aku bisa mendengar sedikit kelegaan dalam suaranya. “Ah, dia memang seperti itu. Ethan memang suka sama segala sesuatunya yang sempurna. Bahkan di toko kue, dia bisa sangat perfeksionis. Mungkin dia cuma khawatir kalau kue itu tak sesuai harapannya.” Aku terdiam mendengarnya, berpikir sejenak. “Perfeksionis ya?” gumamku. “Tapi kenapa dia… begitu keras?” “Sebenarnya,” Daren melanjutkan dengan suara yang sedikit lebih serius, “Ada alasan mengapa dia seperti itu. Ethan itu punya latar belakang yang tak banyak orang tahu. Dia seorang duda, Shopia.” Aku terkejut mendengar pengakuan itu. “Duda?” tanyaku terkejut, merasa ada sesuatu yang hilang dari gambaran tentang Ethan selama ini. Daren mengangguk, meskipun aku tahu dia tidak bisa melihatku. “Iya. Itu alasan kenapa dia mungkin tampak begitu tertutup dan fokus pada segala hal yang dia lakukan. Latar belakang itu cukup mempengaruhi cara dia bersikap.” Aku diam, perasaan campur aduk mulai menguasai diriku. Terkejut, penasaran, dan mungkin sedikit lebih mengerti sekarang. Tapi kenapa, entah mengapa, rasa ingin tahu itu malah semakin kuat. "Bisa ceritakan lebih banyak padaku?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD