Pagi ini aku bangun dengan perasaan sedikit lebih baik dibanding kemarin. Itu semua berkat cerita Daren yang mengejutkan. Paling tidak, aku sudah mengetahui seluk beluk pria dingin di rumah ini. Jadi aku bisa mengantisipasi bahwa aku tidak boleh keluar batas untuk menghadapinya.
Aku berjalan ke dapur, mengenakan piyama dan kaus kaki tebal, lalu membuka kulkas untuk mengambil s**u. Aku juga mengambil roti dan selai kacang—sarapan sederhana, tetapi cukup untuk mengisi perut sebelum aku mulai menulis.
Aku mengoleskan selai dengan asal, tak peduli kalau sebagian menempel di piring atau pinggir meja. Aku hanya ingin cepat-cepat makan. Namun, sebelum sempat menggigit roti itu, suara Ethan terdengar dari belakang.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
Aku menoleh dan menemukan Ethan berdiri di ambang pintu dapur, mengenakan sweater gelap dan celana santai. Rambutnya masih agak berantakan, tanda bahwa dia baru bangun tidur. Tapi ekspresinya? Oh, jelas tidak santai.
“Makan?” jawabku ragu, mengangkat roti di tanganku.
Ethan menghela napas panjang, lalu berjalan mendekat. Dia melirik meja yang sekarang dipenuhi remah roti dan sisa-sisa selai kacang, lalu tatapannya beralih padaku.
“Kamu tidak bisa makan dengan lebih… rapi?” tanyanya, suaranya terdengar seperti seseorang yang baru saja menemukan kekacauan di dapur restoran mahalnya.
Aku mendengus. “Aku hanya membuat sarapan, bukan melakukan operasi bedah.”
Ethan mengusap wajahnya, lalu tanpa berkata apa-apa, dia mengambil kain lap dan mulai membersihkan meja. Aku memandangnya dengan rasa bersalah… dan sedikit geli.
“Aku bisa membersihkannya sendiri, tahu,” ujarku.
Dia tidak menatapku. “Ya, tapi melihat caramu makan, aku tidak yakin.”
Aku mendecak kesal. “Kamu terlalu perfeksionis.”
“Dan kamu terlalu berantakan.”
Kami saling berpandangan, lalu aku akhirnya terkikik. Rasanya lucu saja—betapa kecilnya hal yang kami perdebatkan. Namun, Ethan tetap dengan wajah seriusnya, seolah-olah kekacauan kecil ini adalah sesuatu yang harus segera diperbaiki.
Aku mengangkat tanganku sebagai tanda menyerah. “Oke, oke, lain kali aku akan lebih rapi.”
Ethan menatapku skeptis, tapi tidak mengatakan apa-apa. Setelah beberapa detik, dia hanya menggeleng pelan sebelum kembali ke meja makan dan menuangkan kopi untuk dirinya sendiri.
Aku tersenyum kecil. Mungkin, hanya mungkin, aku bisa sedikit bersenang-senang mengganggunya dengan kebiasaanku yang ‘berantakan’.
**
Setelah kejadian pagi tadi, aku berpikir untuk memberikan sedikit waktu sebelum membahas sesuatu yang lebih serius. Tapi, semakin lama aku menunggu, semakin kesal rasanya. Aku butuh kepastian tentang pencarian pemilik properti itu. Kami tidak bisa tinggal di rumah ini tanpa kejelasan sampai kapan pun.
Aku berjalan ke ruang tamu dan menemukan Ethan sedang duduk di sofa, membaca sesuatu di ponselnya. Dia tampak santai, seperti tidak ada beban sama sekali.
Aku berdiri di hadapannya dengan tangan terlipat. “Ethan, kapan kita pergi mencari pemilik properti itu?” tanyaku langsung.
Ethan menurunkan ponselnya dan menatapku dengan ekspresi datar. “Kenapa mendadak?”
Aku mengerang frustrasi. “Bukan mendadak. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya. Kamu bilang akan membantu, jadi aku ingin tahu kapan kita bisa pergi.”
Dia menyandarkan punggungnya ke sofa. “Aku sibuk,” katanya singkat.
Mataku menyipit. “Sibuk apa?”
Ethan mengangkat bahu, tidak memberikan jawaban konkret.
Aku menahan diri agar tidak meledak. “Jadi, kapan kamu bisa meluangkan waktu?”
Dia berpikir sejenak sebelum menjawab dengan nada santai, “Nanti kalau ada waktu.”
Aku terdiam. Mencoba memproses kata-kata itu.
“Kalau ada waktu?” ulangku dengan nada tajam. “Itu bukan jawaban, Ethan.”
Dia hanya mengangkat bahu lagi.
Aku mengepalkan tangan di sisi tubuhku. “Kamu bilang akan membantuku, tapi sekarang kamu menghindar. Apa kamu memang tidak berniat membantu sejak awal?”
Ethan mengangkat alis. “Aku tidak pernah berjanji apa pun.”
Aku membelalak, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. “Jadi, maksudmu selama ini aku hanya berharap sia-sia?”
Dia tetap tenang, seperti biasa. “Aku hanya bilang akan melihat situasinya. Itu bukan janji.”
Darahku mendidih. “Oh, bagus. Benar-benar bagus,” gumamku, suaraku penuh sarkasme. “Aku harusnya tahu kalau kamu tidak bisa diandalkan.”
Tanpa menunggu tanggapan darinya, aku berbalik dan berjalan menuju kamarku. Aku tidak peduli kalau tindakanku terlihat kekanak-kanakan, tapi aku terlalu kesal untuk memikirkan itu sekarang.
Begitu sampai di kamar, aku membuka pintu dengan kasar dan membantingnya hingga terdengar suara keras yang menggema di seluruh rumah.
Aku berharap itu cukup untuk membuat Ethan tahu bahwa aku benar-benar marah.
**
Aku berdiri di depan sebuah ruko tua yang terletak di kawasan yang cukup padat. Bangunan itu terlihat usang, dengan plang berbahasa asing yang bahkan tidak bisa kupahami. Sebagian besar toko di sekitar sini tampaknya digunakan sebagai tempat tinggal sementara bagi para pekerja imigran.
Perasaan tidak nyaman mulai menjalari tubuhku sejak aku turun dari taksi. Jalanan sempit dipenuhi oleh orang-orang yang berbicara dalam bahasa yang tidak kumengerti, dan tatapan mereka membuat bulu kudukku berdiri. Namun, rasa penasaran dan kekesalanku pada Ethan jauh lebih besar daripada rasa takut ini. Aku sudah sampai sejauh ini, tidak mungkin aku berbalik sekarang.
Dengan langkah mantap, aku memasuki ruko yang sesuai dengan alamat di catatanku. Aroma makanan asing bercampur dengan bau rokok segera menyergap indra penciumanku. Beberapa pria yang duduk di dalam menoleh ke arahku, menatapku dengan minat yang terlalu mencolok. Aku menundukkan kepala dan mencoba mengabaikan mereka, fokus pada tujuanku.
Di tanganku, aku menggenggam selembar foto. Gambar seorang pria dengan wajah keras dan ekspresi serius. Dia adalah pemilik properti tempatku tinggal, atau setidaknya itulah yang kudapatkan dari penyelidikan awal. Jika aku bisa menemuinya, mungkin aku bisa mendapatkan kejelasan tentang status rumah yang kutempati saat ini.
Aku menemukan tangga kecil di ujung ruangan dan menaikinya menuju lantai dua. Di sini, suasananya lebih ramai. Lorongnya sempit dengan pintu-pintu kamar yang berjejer di sisi kanan dan kiri. Beberapa orang berdiri di sepanjang lorong, berbicara dengan suara rendah.
Aku melangkah pelan, mataku menyapu wajah-wajah mereka, mencoba mencocokkan dengan foto di tanganku. Semakin jauh aku melangkah, semakin terasa bahwa aku sudah masuk terlalu dalam.
Beberapa pria yang sedang berbicara di sudut lorong menoleh ke arahku. Tatapan mereka tidak lagi hanya sekadar penasaran, tetapi lebih dari itu. Aku bisa merasakan ketertarikan yang tidak wajar dalam sorot mata mereka.
Jantungku mulai berdetak lebih cepat. Aku menelan ludah dan mencoba menenangkan diri. Aku tidak boleh panik. Aku hanya perlu bertanya, lalu pergi.
Namun, sebelum aku bisa mengambil langkah lebih jauh, seorang pria bertubuh tinggi tiba-tiba muncul dari salah satu kamar dan berdiri tepat di depanku. Dia memiliki perawakan besar, dengan lengan penuh tato dan ekspresi yang membuatku semakin tidak nyaman.
“Hei, cantik. Apa yang kau lakukan di sini sendirian?” tanyanya dalam bahasa Inggris dengan aksen berat. Senyumannya lebar, terlalu ramah untuk terasa tulus.
Aku mundur selangkah. “Aku… hanya mencari seseorang,” jawabku, berusaha terdengar percaya diri meskipun suaraku sedikit gemetar.
Pria itu tertawa kecil. “Siapa yang kau cari? Mungkin aku bisa membantumu.”
Aku mengangkat foto di tanganku, berharap dia mengenali pria yang kucari. Namun, alih-alih melihat foto itu, matanya tetap tertuju padaku.
“Kau tersesat?” tanyanya lagi, suaranya lebih pelan, tetapi tetap membuat bulu kudukku meremang.
Aku mulai merasa bahwa ini bukan tempat yang aman. Mataku melirik ke belakang, tetapi lorong sempit ini sudah penuh dengan orang.
Aku harus keluar dari sini. Segera.
Namun, sebelum aku bisa melangkah pergi, pria itu mendekat, menghalangi jalanku. Aku merasakan ketegangan menyebar ke seluruh tubuhku.
Jangan panik. Jangan tunjukkan ketakutan.
Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mencari jalan keluar, tetapi pria itu justru semakin mempersempit ruang gerakku.