Perburuan Yang Sia-sia

1320 Words
Kamu tersesat, Miss?” tanyanya dalam bahasa Inggris dengan aksen yang cukup kental. Aku menelan ludah, berusaha mencari jalan keluar lain. “Aku hanya mencari seseorang. Tapi… sepertinya aku salah tempat.” Pria itu melangkah lebih dekat. “Kenapa buru-buru pergi? Kau datang ke sini sendirian?” Aku mundur selangkah, merasa semakin terpojok. Aku bisa merasakan beberapa orang di belakangku mulai bergerak mendekat. Tanganku meremas erat ponsel di saku jaket, bersiap untuk menelepon seseorang—siapa pun yang bisa membantuku keluar dari sini. Namun sebelum aku sempat melakukan apa pun, suara berat dan tegas terdengar dari bawah. “Dia bersamaku.” Aku hampir tak percaya dengan apa yang kudengar. Aku menoleh ke arah tangga dan melihat sosok yang sangat familiar berdiri di sana—Ethan. Aku tidak pernah merasa lebih lega dalam hidupku dibandingkan saat ini. Ethan menaiki tangga dengan langkah mantap. Tatapannya tajam dan dingin saat melihat pria yang berdiri di depanku. “Minggir,” ucapnya dengan nada rendah, tapi penuh ancaman. Pria itu tampak ragu sesaat, namun akhirnya mengangkat kedua tangannya dengan sikap menyerah. “Tenang saja, Bro. Aku hanya bercanda.” Ethan tidak membalas, hanya menatapnya tajam sebelum menarik lenganku dan membawaku menuruni tangga dengan langkah cepat. Aku hanya bisa mengikuti tanpa berkata apa-apa, masih terlalu syok dengan apa yang baru saja terjadi. Begitu kami sampai di luar, Ethan langsung melepaskan tanganku dan berbalik menatapku. Ekspresinya penuh kemarahan. “Apa yang kau pikirkan?!” suaranya rendah, tapi jelas mengandung emosi yang ditahan. “Datang ke tempat seperti ini sendirian? Apa kau tidak punya insting bahaya?” Aku masih mencoba mengatur napasku yang berantakan. “Aku hanya ingin mencari orang yang bisa memberi tahu kita tentang rumah itu.” Ethan mengusap wajahnya dengan frustrasi. “Dan kau pikir masuk ke lingkungan seperti ini tanpa bertanya lebih dulu adalah ide bagus?” Aku menggigit bibir, merasa sedikit bersalah, tapi juga kesal. “Aku bertanya padamu, kan? Tapi kau tidak memberiku jawaban!” Ethan terdiam sejenak, seolah tidak bisa membantah. Tapi kemudian dia menghela napas berat. “Lain kali, jangan pernah lakukan ini lagi. Kalau kau ingin pergi ke tempat seperti ini, aku akan ikut.” Aku menatapnya, agak terkejut dengan pernyataannya. “Jadi, kau mau membantuku mencari orang itu?” Ethan mendesah, menatapku dengan ekspresi letih. “Aku tidak ingin harus menyelamatkanmu setiap saat. Itu saja.” Aku ingin membalas, tapi akhirnya aku hanya mengangguk pelan. Mungkin untuk pertama kalinya sejak tinggal bersama, aku melihat Ethan sebagai seseorang yang bisa diandalkan. ** Aku duduk di salah satu sudut coffee shop kecil di seberang ruko, memperhatikan Ethan yang kembali masuk ke dalam bangunan itu. Tanganku memegang cangkir kopi yang mulai mendingin, tapi pikiranku masih berputar-putar memikirkan kejadian tadi. Rasa cemas masih tersisa di dadaku, meskipun Ethan berhasil membawaku keluar dari sana tanpa masalah lebih lanjut. Tapi aku tetap ingin tahu. Aku tidak bisa pergi begitu saja tanpa mendapatkan jawaban. Aku melirik ke arah pintu ruko, menunggu Ethan kembali. Sejujurnya, aku tidak menyangka dia akan repot-repot membantuku sejauh ini. Ethan bukan tipe pria yang suka terlibat dalam masalah orang lain—setidaknya, itu kesan yang kudapat darinya selama ini. Tapi sekarang, dia malah bersedia masuk kembali ke tempat yang baru saja dia selamatkan aku darinya. Aku menghembuskan napas panjang, berusaha menenangkan diri. Tak sampai lima belas menit, Ethan sudah kembali. Langkahnya cepat, ekspresinya tetap seperti biasanya—dingin dan tanpa emosi. Begitu memasuki coffee shop, dia menatapku sekilas dan menggelengkan kepala, memberi tanda sebelum aku sempat bertanya. Tidak ada. Aku menegakkan tubuhku. “Kau yakin? Mungkin dia bersembunyi atau—” “Aku sudah memastikan.” Ethan menarik kursi di hadapanku dan duduk dengan tenang. “Dia tidak ada di sana.” Aku mendesah, merasa sedikit kecewa. “Jadi, ini semua sia-sia?” Ethan menatapku sekilas sebelum mengambil cangkir kopinya. “Bersabarlah. Kita akan menemukan jawabannya, tapi tidak dengan cara sembrono seperti ini.” Aku mengerucutkan bibir, tidak sepenuhnya puas dengan jawaban itu, tapi tidak bisa membantah. Pada akhirnya, kami hanya menikmati kopi masing-masing tanpa berbicara lebih lanjut. Aku memperhatikan Ethan yang duduk di hadapanku. Dia tampak santai, meskipun situasinya tidak menyenangkan. Aku bertanya-tanya, bagaimana dia bisa tetap setenang itu sementara aku hampir meledak karena rasa penasaran dan frustrasi? Tapi mungkin, itu perbedaan kami. Ethan adalah seseorang yang berpikir sebelum bertindak, sementara aku cenderung impulsif. Ketika kami akhirnya beranjak dan menuju kasir untuk membayar, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Begitu aku mengeluarkan dompet, selembar foto yang sejak tadi kusimpan ikut terjatuh di meja kasir. Aku buru-buru meraihnya, tapi kasir—seorang pria paruh baya—sempat melihatnya. Dia mengerutkan kening. “Orang ini…” Aku langsung menoleh tajam. “Anda mengenalnya?” Kasir itu mengambil fotonya sejenak, memperhatikannya dengan seksama sebelum mengangguk. “Dia tinggal di ruko seberang selama beberapa waktu, tapi beberapa minggu yang lalu dia pindah.” Aku hampir tidak bisa menahan keterkejutanku. “Pindah? Ke mana?” Kasir itu menggeleng. “Saya tidak tahu. Tapi dia pergi dengan cukup tergesa-gesa, seperti menghindari sesuatu.” Aku mengepalkan tangan. Jadi, orang-orang di sana tadi berbohong padaku. Mereka bilang tidak mengenalnya, padahal pria ini benar-benar pernah tinggal di sana. Aku merasakan gelombang kekecewaan bercampur kemarahan. “Jadi, tidak ada cara untuk mengetahui ke mana dia pergi?” Kasir itu terlihat ragu sejenak. “Mungkin seseorang di lingkungan ini tahu, tapi saya tidak bisa memastikan.” Aku melirik Ethan yang sejak tadi diam. Dia hanya menatapku dengan ekspresi yang sulit ditebak, lalu tanpa berkata apa-apa, dia mengulurkan uang ke kasir untuk membayar kopi kami. Aku mendesah panjang. Meskipun ini bukan jawaban yang kuharapkan, setidaknya sekarang aku tahu satu hal pasti—pria itu benar-benar ada. Aku tidak akan menyerah sampai menemukannya. Kami berjalan menuju mobil Ethan, dan sepanjang jalan, aku terus berbicara, meski tahu dia tidak memberi respon. Setiap kata yang aku ucapkan seolah-olah hanya menghilang di udara, tidak ada tanggapan sama sekali. Aku merasa seperti berbicara kepada udara. “Kenapa kamu tidak coba bertanya lagi pada pria itu? Satu pertanyaan aja, Ethan. Kita bisa dapat informasi lebih, kan?” ucapku dengan nada tak sabar. Ethan hanya melangkah lebih cepat, tidak memberi petunjuk bahwa dia mendengarkan. Langkahnya yang tenang seakan tidak terganggu oleh kata-kataku. Rasanya semakin frustasi, aku mulai merasa diabaikan. “Jadi, kita cuma berhenti di sini? Tanpa hasil, tanpa tindakan lebih lanjut?” Aku hampir tidak percaya dengan sikapnya yang dingin. “Kamu nggak peduli, ya? Kenapa kamu harus jadi begini?” Namun, dia tetap diam. Setiap kata yang aku lontarkan hanya membuatku semakin kesal. Tidak ada upaya untuk berbicara atau merespons. Aku merasa seperti aku saja yang terjebak dalam kerumitan ini, sementara Ethan hanya ingin segera selesai dan pergi. Aku tidak bisa lagi menahan rasa kecewa yang menghujam hatiku. Perlahan, aku mulai merajuk, langkahku semakin terhenti seiring perasaan yang semakin meluap. “Ya sudah, kalau kamu nggak mau bantu, aku cari cara lain,” kataku dengan nada rendah, tetapi tetap jelas terdengar ketegasan dalam suara itu. Tidak ada reaksi dari Ethan. Bahkan ketika kami sampai di mobil, dia hanya membuka pintu tanpa berkata apa-apa, seolah-olah aku tidak ada di sana. Aku merasa semakin marah, namun ada perasaan malu yang ikut menyelubungi diriku. Kenapa aku harus merajuk seperti ini? Ketika aku hendak masuk ke mobil, Ethan sudah duduk di kursinya dan menyalakan mesin tanpa memberi tanda sedikit pun untuk menawarkan tumpangan. Aku berdiri terdiam di luar, menatapnya dengan perasaan yang campur aduk—kesal, malu, dan sedikit bingung. Dengan gerakan cepat, Ethan mulai menarik mobil, tidak menghiraukan keberadaanku di luar. Tanpa kata-kata, dia meninggalkanku di sana, dan aku hanya bisa menyaksikan mobil itu menjauh, meninggalkanku tanpa kesempatan untuk mengatakan apapun lagi. Perasaan kekecewaan itu merayap masuk, dan aku hanya bisa menatap mobil yang semakin menjauh. Aku ingin berlari mengejarnya, meminta maaf, atau setidaknya menjelaskan perasaanku. Tapi gengsi menahan langkahku. Aku tidak akan meminta maaf begitu saja. Itu bukan cara aku. Aku tetap berdiri di sana, terdiam di tengah sepi, merasakan bagaimana kenyataan bahwa aku ditinggalkan begitu saja semakin memukul hatiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD