Hujan masih mengguyur saat aku sampai di depan apartemen, tubuhku sudah basah kuyup dari kepala hingga ujung kaki. Aku mengeratkan jaket tipisku yang sudah tidak lagi berguna untuk menahan dingin. Napasku terengah-engah setelah berjalan cukup jauh hanya untuk mendapatkan tumpangan. Semua ini gara-gara Ethan!
Aku menggerutu sambil meremas rambutku yang basah. Bayangan Ethan yang pergi tanpa menoleh sedikit pun masih membakar emosiku. Aku ditinggalkan begitu saja di tengah jalan tanpa kendaraan, tanpa ponsel yang bisa digunakan, dan tanpa siapa pun yang bisa diandalkan. Tidak ada taksi atau bus yang lewat di daerah itu, dan aku harus berjalan sejauh beberapa kilometer sebelum akhirnya ada mobil yang berbaik hati memberiku tumpangan.
“Aku akan membunuhnya,” gerutuku pelan, menggigit bibir sambil mengacungkan kepalan tangan ke udara.
Dengan langkah berat, aku menyeret tubuhku ke depan pintu apartemen. Tidak ada suara apa pun dari dalam. Sepertinya Ethan belum pulang.
Aku mendekatkan tangan ke pintu, berniat mengetuk dengan brutal—aku ingin dia tahu betapa menyebalkannya perbuatannya! Tapi pada akhirnya, aku hanya menggantung tanganku di udara. Tidak perlu membuat keributan. Aku masih punya cara lain untuk membalasnya.
Begitu masuk ke dalam apartemen, keheningan langsung menyambutku. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada bau kopi atau kue dari dapur, tidak ada tanda-tanda kehidupan sama sekali. Aku melepas jaket basahku dan melemparkannya begitu saja ke lantai.
“Bagus,” gumamku sambil tersenyum miring.
Sepertinya ini waktu yang tepat untuk membalas dendam. Aku akan mengacaukan semua aturan konyol yang Ethan tetapkan di rumah ini!
Langkah Pertama: Mengacaukan Dapur yang Terlalu Rapi
Aku berjalan ke dapur dan menyalakan lampu, mengamati sekeliling. Dapur ini selalu terlihat sempurna—piring tersusun rapi, meja bersih tanpa noda, dan semua peralatan ditempatkan sesuai posisinya. Itu terlalu membosankan.
Aku mulai menarik keluar beberapa peralatan dapur dan meletakkannya di sembarang tempat. Panci aku letakkan di lantai, spatula aku gantungkan di rak bumbu, dan mangkuk aku tumpuk dengan asal. Aku bahkan membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan makanan hanya untuk dibiarkan berantakan di meja. Aku tersenyum puas melihat dapur yang kini tidak lagi sempurna.
Langkah Kedua: Melanggar Aturan Tentang Sepatu
Ethan selalu menuntut rumah ini tetap bersih, termasuk aturan wajib melepas sepatu di depan pintu. Aku dengan sengaja berjalan ke ruang tengah dengan sepatu yang masih penuh lumpur, meninggalkan jejak kotor di lantai kayu yang mengilap.
Aku tertawa kecil. “Ayo lihat, Ethan, bagaimana rasanya hidup tanpa aturan!”
Langkah Ketiga: Sofa Favorit Ethan? Aku yang Kuasai!
Aku berjalan ke ruang tengah dan langsung menjatuhkan diri ke sofa. Ethan punya aturan tak tertulis bahwa sofa ini adalah tempat suci baginya. Aku tidak peduli. Aku menghempaskan tubuhku ke sana, membiarkan sisa-sisa air hujan dari rambutku meresap ke bantal.
Karena tubuhku terasa sangat lelah, aku menarik selimut dan bergelung di sofa, menikmati kekacauan yang telah aku buat. Tidak butuh waktu lama sebelum mataku mulai terpejam.
Ethan Pulang
Aku tidak tahu berapa lama aku tertidur, tetapi suara pintu yang terbuka perlahan membuatku sedikit tersadar. Namun, tubuhku terlalu nyaman untuk bergerak, jadi aku tetap bergelung di sofa tanpa membuka mata.
Ethan berdiri di ambang pintu, mengamati apartemen yang telah berubah total dari biasanya. Dapur berantakan, lantai penuh jejak sepatu kotor, dan yang paling mencolok—aku tidur dengan nyaman di sofanya.
Bukannya marah, Ethan justru mendesah pelan. Ia berjalan ke dapur, mengamati kondisi kacau balau yang aku ciptakan. Tangannya terangkat ke pelipis, seolah mencoba memahami apa yang terjadi.
Dengan langkah tenang, ia berjalan ke arah sofa, berdiri tepat di sampingku. Aku masih pura-pura tidur, meskipun aku bisa merasakan tatapannya yang intens. Aku menunggu—menunggu suara kemarahan, ocehan soal betapa aku tidak tahu aturan, atau mungkin teguran dingin khas Ethan. Tapi tidak ada.
Sebaliknya, Ethan justru berjongkok di samping sofa, mengamati wajahku. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat. Sekilas, rasanya seolah dia sedang mempelajari ekspresiku.
“Kau terlihat damai saat tidur,” gumamnya pelan.
Aku hampir tersentak, tetapi tetap berpura-pura tidur.
Ethan menghela napas lagi, lalu bangkit berdiri dan berjalan ke dapur. Aku mengintip sedikit dari balik kelopak mata, dan melihatnya mulai merapikan kekacauan yang aku buat.
Aku terdiam. Aku sudah mempersiapkan diriku untuk menghadapi kemarahan Ethan. Aku ingin melihatnya frustrasi dan kesal. Tapi ini? Dia bahkan tidak berkata apa pun, tidak mengomel, tidak menegurku.
Aku tidak tahu harus merasa lega atau justru semakin kesal.
Di bawah cahaya lampu ruang tamu yang temaram, aku kembali menutup mataku. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan Ethan malam ini, tapi satu hal yang pasti—rencana balas dendamku gagal total.
**
Aku terbangun ketika mendengar suara gemerisik dari dapur. Samar-samar, aku bisa mencium aroma kopi yang familiar. Tubuhku masih terasa sedikit kaku, dan aku butuh beberapa detik untuk menyadari di mana aku berada.
Saat aku membuka mata, yang pertama kulihat adalah Ethan yang sedang berdiri di dapur dengan ekspresi tenang. Tangannya bergerak lincah merapikan sisa kekacauan yang aku buat, seolah itu bukan masalah besar.
Aku mengerjap, lalu duduk di sofa dengan perasaan bingung. “Kau pulang,” gumamku, suaraku masih serak karena baru bangun.
Ethan menoleh sebentar, lalu kembali fokus pada cangkir kopi yang sedang ia tuang. “Tentu saja. Ini rumahku.”
Nada suaranya datar, tidak ada kemarahan, tidak ada teguran, bahkan tidak ada tanda-tanda frustrasi. Seakan-akan dia sama sekali tidak peduli dengan keonaran yang aku buat di apartemen ini.
Aku mengerutkan kening, merasa aneh dengan reaksinya. “Kau tidak akan berkata apa-apa soal ini?” tanyaku, melirik ke arah lantai yang masih sedikit kotor.
Ethan mengangkat bahu. “Tidak ada gunanya.”
Aku memiringkan kepala. “Apa maksudmu?”
Dia meletakkan cangkirnya di meja dapur dan menatapku. “Aku bisa marah dan memarahimu sekarang, tapi itu tidak akan mengubah fakta kalau kau tetap akan melakukan apa yang kau mau.”
Aku menggigit bibir, sedikit tidak nyaman dengan bagaimana dia mengatakan itu seolah-olah aku adalah anak kecil yang suka membangkang.
“Tapi ini rumahmu. Aku pikir kau akan setidaknya… aku tidak tahu, mengomel atau mengusirku?” Aku mencoba memancing reaksi darinya.
Ethan hanya menatapku beberapa detik sebelum berjalan mendekat. Ia mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahku, membuat jarak kami semakin dekat. “Kenapa? Kau ingin aku mengusirmu?”
Aku menelan ludah. Aku tidak menyangka dia akan membalikkan pertanyaan itu kepadaku.
“Tentu saja tidak,” jawabku cepat.
Ethan menyeringai kecil, lalu kembali ke dapur dan mengambil cangkir kopinya. Ia berjalan melewatiku dan duduk di kursi dekat jendela, menyesap kopi tanpa terburu-buru.
Aku mengamatinya, mencoba memahami jalan pikirannya. Tidak marah. Tidak kesal. Tidak bereaksi seperti yang kuharapkan.
Keheningan di antara kami membuatku semakin gelisah.
Aku bangkit dari sofa dan berjalan ke dapur, mengambil gelas lalu mengisinya dengan air. “Jadi… kau benar-benar tidak akan membahasnya?” tanyaku, menoleh ke arahnya.
Ethan hanya mengangkat alis, lalu menyesap kopinya lagi. “Aku lelah, Sophia.”
Aku terdiam.
“Aku lelah berdebat. Aku lelah bertengkar denganmu tentang hal-hal kecil. Aku tahu kau melakukan ini untuk membalas dendam karena aku meninggalkanmu di jalan tadi. Aku mengerti,” katanya dengan nada tenang.
Aku mencengkeram gelas di tanganku, tidak tahu harus merespons bagaimana.
“Tapi kau bisa bermain semaumu, Sophia. Aku tidak akan masuk ke dalam permainan itu.”
Aku menatapnya, mencari tanda-tanda kebohongan di matanya, tapi yang aku lihat hanyalah kelelahan yang jujur.
Aku mendesah pelan. Rasanya seolah-olah aku baru saja mencoba memprovokasi tembok batu. Ethan terlalu tenang, terlalu tidak terpengaruh, dan itu justru membuatku semakin frustrasi.
“Baiklah,” gumamku akhirnya. “Kalau begitu, aku akan pergi tidur.”
Aku meletakkan gelas di wastafel dan berjalan melewati Ethan tanpa melihatnya lagi. Tapi sebelum aku masuk ke kamar, aku mendengar suaranya yang tenang memanggilku.
“Sophia.”
Aku berhenti, tapi tidak menoleh.
“Apa?”
Ada jeda beberapa detik sebelum dia berbicara lagi. “Jangan tertidur di sofa lagi. Kau bisa masuk angin.”
Aku mengerutkan kening, tapi akhirnya hanya mendengus kecil sebelum melanjutkan langkahku ke kamar.
Ketika aku menutup pintu, aku menyadari sesuatu.
Aku tidak tahu kenapa, tapi kata-katanya barusan terasa lebih hangat dibandingkan apapun yang pernah dia katakan sebelumnya.
Dan itu jauh lebih mengganggu daripada kemarahannya.